Jakarta | Industri laptop global diperkirakan menghadapi tekanan yang lebih serius pada 2027. Persoalan utama bukan lagi semata-mata ketersediaan pasokan, melainkan kenaikan harga berbagai komponen penting yang dapat mengubah struktur biaya produksi. Proyeksi TrendForce menunjukkan bahwa pengiriman laptop dunia berpotensi mengalami koreksi dalam kisaran low-single-digit. Perkiraan tersebut mencerminkan pasar yang mulai kehilangan momentum setelah periode pertumbuhan yang didorong oleh kebutuhan kerja, belajar, dan penggantian perangkat selama beberapa tahun terakhir.
Tekanan dapat meningkat apabila harga unit pemroses pusat (CPU) dan memori DRAM terus bergerak naik. Kedua komponen tersebut memiliki peran penting dalam pembentukan biaya sebuah laptop, sehingga peningkatan harga secara berkelanjutan akan mempersempit ruang produsen untuk mempertahankan harga jual. Dalam kondisi seperti itu, perusahaan kemungkinan meneruskan sebagian atau seluruh tambahan biaya produksi kepada konsumen melalui kenaikan harga eceran. Langkah tersebut dapat menjaga margin, tetapi sekaligus berisiko menekan permintaan.
Kenaikan harga perangkat dapat memengaruhi keputusan pembelian rumah tangga maupun perusahaan. Konsumen yang sebelumnya berencana mengganti laptop lama mungkin memilih menunda pembelian dan memperpanjang masa penggunaan perangkat yang ada. Perubahan perilaku ini dapat membuat penurunan pengiriman lebih dalam daripada perkiraan awal, yakni melebar dari kisaran low-single-digit menuju high-single-digit, atau sekitar 7% hingga 9%, apabila tekanan biaya berlangsung lama.
TrendForce menilai perhatian pasar laptop pada 2027 akan bergeser. Fokusnya tidak lagi terutama pada apakah komponen tersedia, tetapi pada kemampuan konsumen menyerap harga yang lebih tinggi. Pergeseran ini menempatkan produsen pada tantangan ganda: mengelola biaya CPU dan DRAM, sekaligus menjaga agar harga akhir tetap terjangkau. Strategi produk, promosi, serta penentuan spesifikasi kemungkinan menjadi semakin penting untuk mempertahankan minat pembeli di tengah pelemahan permintaan global.
Struktur biaya perangkat menjadi dasar penting untuk memahami tekanan kenaikan harga laptop. Pada kuartal III-2026, gabungan biaya CPU, DRAM, dan SSD telah mencapai 68% dari total bill of materials sebuah laptop mainstream dengan harga sekitar US$900 atau setara Rp16 jutaan. Proporsi ini menunjukkan bahwa perubahan harga pada tiga komponen utama tersebut dapat langsung memengaruhi keseluruhan biaya produksi, bahkan sebelum memperhitungkan layar, baterai, sistem pendingin, rangka, perakitan, distribusi, dan biaya operasional lainnya.
Bagi pemegang merek dan produsen laptop, tingginya kontribusi CPU, DRAM, serta SSD menciptakan dilema bisnis yang sulit dihindari. Ketika harga komponen meningkat, kenaikan biaya tidak mudah diserap tanpa memengaruhi kinerja keuangan. Salah satu pilihan adalah menaikkan harga jual untuk mempertahankan margin keuntungan kotor. Namun, strategi tersebut berisiko menekan permintaan, terutama ketika konsumen semakin sensitif terhadap harga. Sebagian pembeli dapat menunda atau bahkan mengurungkan niat membeli karena menganggap perangkat tidak lagi menawarkan nilai yang sepadan.
Pilihan lain ialah menanggung kenaikan biaya dengan mempertahankan harga pada tingkat sebelumnya. Langkah ini dapat membantu menjaga daya tarik produk dalam jangka pendek, tetapi margin keuntungan kotor akan terus tertekan. Jika berlangsung lama, tekanan tersebut dapat membatasi kemampuan perusahaan untuk membiayai pemasaran, pengembangan produk, layanan purnajual, dan investasi pada generasi perangkat berikutnya.
Produsen juga dapat mempertimbangkan pengurangan spesifikasi, termasuk menurunkan kapasitas RAM atau penyimpanan. Meskipun cara ini berpotensi mengurangi biaya, dampaknya terhadap persepsi konsumen tidak sederhana. Produk dengan kemampuan lebih rendah dapat dinilai kurang kompetitif dibandingkan alternatif lain di kelas harga yang sama. Penghematan komponen akhirnya berisiko mengurangi daya tarik laptop, memperlemah keputusan pembelian, dan menempatkan produsen pada dilema menjaga harga, mempertahankan margin, serta menawarkan spesifikasi yang tetap relevan.
Kondisi pengiriman laptop pada 2026 tidak dapat langsung dipandang sebagai tanda pemulihan pasar yang berkelanjutan. Pengiriman memang sempat memperoleh dukungan dari membaiknya ketersediaan CPU serta aksi pembelian komponen yang dilakukan produsen pada awal tahun. Langkah tersebut membantu perusahaan memenuhi kebutuhan produksi dan mempertahankan volume pengiriman dalam jangka pendek. Namun, dukungan itu lebih mencerminkan penyesuaian pasokan dan waktu pembelian, bukan kepastian bahwa permintaan akhir telah kembali menguat.
Menurut TrendForce, sebagian besar permintaan penggantian unit yang semestinya muncul pada paruh kedua 2026 dan periode setelahnya telah ditarik lebih awal. Konsumen atau pelanggan korporasi mempercepat pembelian untuk mengantisipasi ketersediaan komponen dan kondisi harga, sehingga sebagian kebutuhan masa depan sudah direalisasikan pada periode sebelumnya. Fenomena pull-forward tersebut dapat menopang pengiriman dalam satu fase, tetapi sekaligus mengurangi ruang pertumbuhan pada periode berikutnya. Karena itu, momentum pembelian laptop diperkirakan melemah setelah kebutuhan yang dipercepat tersebut terserap.
Tekanan terhadap pasar berikutnya juga semakin besar karena stok komponen murah mulai habis. Produsen kemudian perlu menggunakan CPU, DRAM, dan SSD generasi baru yang masuk dengan harga lebih tinggi. Pergantian menuju komponen berbiaya lebih mahal meningkatkan beban biaya produksi, terutama ketika permintaan konsumen tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama. Dampaknya, perusahaan laptop menghadapi pilihan yang tidak mudah: menaikkan harga jual, menerima margin yang lebih rendah, atau menyesuaikan spesifikasi dan konfigurasi produk.
Rangkaian faktor tersebut menunjukkan bahwa pengiriman yang relatif terbantu pada 2026 memiliki keterbatasan sebagai indikator arah pasar. Ketersediaan CPU yang membaik dan pembelian komponen di awal tahun memberikan penyangga sementara, sementara percepatan permintaan justru mengurangi potensi pembelian pada tahap selanjutnya. Pada saat yang sama, kenaikan biaya komponen mempersempit fleksibilitas produsen dalam merespons pelemahan permintaan. Dengan demikian, pasar laptop memasuki periode berikutnya dengan dukungan permintaan yang lebih terbatas dan struktur biaya yang lebih berat.
Tekanan biaya dan ketidakpastian permintaan mendorong produsen laptop menilai ulang strategi relokasi manufaktur. Pemindahan pabrik ke luar China semula dipandang sebagai cara untuk mengurangi risiko geopolitik dan memperkuat diversifikasi produksi. Namun, kenaikan biaya logistik, pengadaan, tenaga kerja, serta pembangunan ekosistem pemasok di lokasi manufaktur baru membuat efisiensi tersebut tidak selalu tercapai. Jarak yang lebih panjang pemasok komponen, fasilitas perakitan, dan pasar tujuan turut meningkatkan kebutuhan inventori serta waktu pengiriman.
Situasi ini membuat sebagian produsen mulai mempertimbangkan pengembalian kapasitas produksi ke China. Negara tersebut masih menawarkan rantai pasok yang lengkap, basis pemasok yang luas, infrastruktur manufaktur matang, dan kemampuan koordinasi yang mendukung produksi berskala besar. Berdasarkan proyeksi TrendForce, porsi produksi laptop global di luar China diperkirakan turun dari sekitar 24% pada 2025 menjadi 21% pada 2026, kemudian berpotensi berada di bawah 20% pada 2027. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa efisiensi operasional kembali menjadi pertimbangan utama dalam penentuan lokasi produksi.
Ketimpangan pasokan komponen juga akan memengaruhi biaya produksi. Pasokan DRAM untuk komputer diperkirakan tetap ketat dan mahal karena kapasitas proses maju lebih banyak diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan server kecerdasan buatan. Sebaliknya, pasokan NAND flash berpotensi membaik pada paruh kedua 2027 setelah kapasitas baru mulai beroperasi. Perbedaan arah ini dapat membuat struktur biaya memori semakin tidak seragam.
Tekanan serupa berpotensi muncul pada PCB, MLCC, dan PMIC akibat persaingan alokasi kapasitas serta kenaikan harga bahan baku. Dalam kondisi tersebut, kemampuan vendor menyeimbangkan harga jual, spesifikasi, dan efisiensi rantai pasok akan menjadi faktor penting bagi keberlangsungan industri komputer pada 2027. Produsen yang mampu mengendalikan biaya tanpa mengorbankan kualitas dan ketersediaan produk akan memiliki posisi lebih kuat menghadapi pasar yang semakin selektif.
Baca juga: Kondisi finansial yang sempat mengalami tekanan juga diyakini berangsur membaik

