Pesan Kapolda Metro Jaya kepada Siswa: Disiplin, Peduli, dan Berani Mencari Bantuan

oleh -93 Dilihat
oleh
Pesan Kapolda Metro Jaya kepada Siswa: Disiplin, Peduli, dan Berani Mencari Bantuan

Jakarta | Kapolda Metro Jaya Komjen Pol Dadang Hartanto mengajak para siswa SDN Gunung 01, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, membiasakan sikap tertib, disiplin, dan peduli terhadap sesama sejak dini. Pesan itu disampaikan saat kunjungannya ke sekolah tersebut pada Senin. Dalam kesempatan tersebut, Dadang mendatangi sejumlah ruang kelas, yaitu kelas I C, III A, dan VI C, untuk berinteraksi langsung dengan para siswa.

Kunjungan itu berlangsung dalam suasana dialogis. Dadang berbincang dengan anak-anak mengenai pandangan mereka terhadap polisi serta cita-cita yang ingin diraih ketika dewasa. Para siswa diberi kesempatan menyampaikan pemahaman dan harapan mereka, sementara Kapolda memberikan dorongan agar mereka terus belajar, menghormati orang lain, serta membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.

Di hadapan para siswa, Dadang menekankan bahwa kedisiplinan tidak hanya berkaitan dengan menaati aturan di sekolah. Sikap tersebut juga tercermin dalam kebiasaan datang tepat waktu, mengikuti kegiatan belajar dengan baik, menjaga kebersihan, dan bertanggung jawab atas tindakan sendiri. Kepedulian terhadap teman dan lingkungan juga dinilai penting untuk membentuk karakter yang kuat.

Dadang turut memperkenalkan polisi sebagai sahabat anak. Menurutnya, polisi hadir untuk melindungi dan membantu, sehingga anak-anak tidak perlu merasa takut ketika membutuhkan pertolongan. Mereka didorong untuk berani berbicara kepada orang dewasa yang dipercaya apabila menghadapi masalah, merasa terancam, atau melihat sesuatu yang membahayakan diri dan orang lain.

Pesan tersebut menempatkan sekolah sebagai ruang penting untuk menanamkan keberanian mencari bantuan sekaligus kepedulian sosial. Melalui komunikasi langsung dengan siswa, kepolisian berupaya membangun hubungan yang lebih dekat dengan generasi muda. Kunjungan ke SDN Gunung 01 juga menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti bersikap tertib, disiplin, saling menghargai, dan berani meminta bantuan saat diperlukan.

Dadang menekankan bahwa keselamatan harus menjadi kebiasaan yang dimulai dari hal sederhana, termasuk saat bepergian menggunakan sepeda motor. Setiap siswa wajib memakai helm, baik ketika mengendarai sepeda motor maupun saat dibonceng orang tua menuju sekolah. Kewajiban tersebut bukan semata-mata untuk memenuhi aturan lalu lintas atau menghindari teguran petugas. Helm berfungsi melindungi kepala apabila terjadi benturan, kecelakaan, atau keadaan tidak terduga di jalan. Karena itu, penggunaannya perlu dilakukan dengan benar, terpasang kuat, dan tidak hanya ketika perjalanan berlangsung jauh.

Pesan tersebut mengajarkan bahwa kepatuhan memiliki alasan yang berkaitan langsung dengan keselamatan diri dan orang lain. Siswa juga diharapkan mengingatkan anggota keluarga secara santun apabila ada yang bepergian tanpa perlengkapan keselamatan. Sikap peduli semacam ini menunjukkan bahwa aturan dapat menjadi bentuk perhatian, bukan sekadar pembatas kebebasan.

Selain keselamatan berlalu lintas, Dadang memperkenalkan kebiasaan sosial yang dapat membentuk karakter siswa dalam kehidupan sehari-hari. Mengantre dengan tertib, misalnya, berarti menghargai hak orang lain dan bersedia menunggu giliran. Siswa juga perlu membiasakan diri menghormati teman, guru, orang tua, serta siapa pun yang berada di lingkungan mereka. Ketertiban dan rasa hormat akan membantu menciptakan suasana sekolah yang aman dan nyaman.

Kepedulian dapat diwujudkan dengan menolong teman yang mengalami kesulitan, tanpa menunggu diminta atau mengharapkan imbalan. Jika melakukan kesalahan, siswa perlu berani mengakui dan meminta maaf dengan tulus. Keberanian tersebut bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari tanggung jawab dan kematangan sikap.

Para siswa juga diajak menghargai perbedaan, baik dalam latar belakang, kemampuan, pendapat, maupun kebiasaan. Tidak seorang pun boleh dikucilkan ketika bermain atau beraktivitas bersama. Dengan mengajak semua teman berpartisipasi, siswa belajar membangun persahabatan yang inklusif, adil, dan saling mendukung.

Materi pencegahan perundungan mengingatkan siswa bahwa setiap tindakan yang menyakiti, merendahkan, atau membuat teman merasa tidak aman perlu dihentikan. Perundungan tidak hanya berupa memukul atau melakukan kekerasan fisik. Mengejek penampilan, nama, kemampuan, atau keadaan keluarga seseorang juga dapat melukai perasaan. Mengucilkan teman dari pergaulan, menyebarkan kabar buruk, serta mempermalukan seseorang melalui unggahan, komentar, atau pesan di media sosial termasuk perilaku yang harus dihindari.

Siswa juga diingatkan untuk tidak ikut menertawakan korban, meskipun hanya dianggap sebagai candaan. Tawa, sorakan, atau penyebaran ulang konten yang mempermalukan dapat membuat korban semakin tertekan dan memberi kesan bahwa tindakan tersebut dibenarkan. Jika melihat perundungan, siswa sebaiknya membantu dengan cara yang aman, tidak menghadapi pelaku sendirian, dan segera menyampaikan kejadian kepada guru. Bantuan dapat diberikan dengan menemani korban menjauh dari situasi tersebut atau memastikan ia tidak sendirian.

Bercerita kepada orang dewasa bukan berarti mengadu untuk mencari perhatian. Menyampaikan perundungan merupakan upaya mencari pertolongan agar masalah dapat ditangani dengan tepat dan korban memperoleh perlindungan. Karena itu, anak didorong untuk berbicara kepada orang tua, guru, wali kelas, konselor sekolah, atau orang dewasa lain yang dipercaya ketika mengalami ancaman, tekanan, maupun perlakuan yang membuatnya tidak nyaman.

Kebiasaan meminta bantuan juga penting ketika anak tersesat atau menghadapi kesulitan lain. Dalam keadaan demikian, anak perlu tetap tenang, berada di tempat yang aman, dan mencari orang dewasa yang dapat dipercaya. Guru dan orang tua dapat mengenalkan layanan polisi 110 sebagai salah satu saluran bantuan. Penggunaannya sebaiknya dilakukan dengan pendampingan guru atau orang tua, terutama agar informasi yang disampaikan jelas dan sesuai kebutuhan. Pesan tersebut menegaskan bahwa keberanian bukan hanya menghadapi masalah sendiri, melainkan juga mengetahui kapan dan kepada siapa harus meminta pertolongan.

Dadang mendorong siswa untuk belajar dengan tekun dan membangun kebiasaan yang mendukung perkembangan diri. Membaca lebih banyak dapat memperluas pengetahuan, sementara membuat rangkuman membantu siswa memahami serta mengingat pokok-pokok pelajaran. Pemahaman itu perlu diperkuat melalui latihan secara rutin, baik dengan mengerjakan soal maupun mempraktikkan materi yang telah dipelajari. Di tengah penggunaan teknologi, siswa juga diingatkan untuk membatasi waktu bermain gim agar memiliki kesempatan yang cukup untuk belajar, beristirahat, berinteraksi dengan keluarga, dan melakukan kegiatan positif lainnya.

Kepada kepala sekolah dan guru, Dadang menyampaikan bahwa pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada nilai akademik. Sekolah juga memiliki tanggung jawab membentuk etika, adab, kedisiplinan, dan kepedulian sosial sejak kelas I. Nilai-nilai tersebut akan lebih mudah tertanam melalui keteladanan orang dewasa dan praktik sehari-hari, bukan hanya melalui nasihat di ruang kelas. Sikap menghormati orang lain, membantu teman, menjaga kebersihan, serta berani menyampaikan hal yang tidak benar perlu dibiasakan secara konsisten.

Sekolah diharapkan menyediakan ruang bercerita yang aman bagi siswa. Anak perlu mengetahui kepada siapa mereka dapat menyampaikan ketakutan, konflik, atau pengalaman perundungan tanpa khawatir disalahkan. Setiap laporan harus didengarkan dan ditindaklanjuti secara tepat, dengan mengutamakan keselamatan, pemulihan, serta perlindungan bagi korban. Penanganan yang cepat dan proporsional juga membantu mencegah masalah berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menegaskan pentingnya dukungan guru dan orang tua agar anak merasa aman ketika menyampaikan masalah dan memperoleh bantuan yang sesuai. Komunikasi terbuka di rumah dan di sekolah dapat membantu orang dewasa memahami kebutuhan anak sejak awal. Upaya tersebut diharapkan mempererat kerja sama kepolisian, sekolah, dan keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak, membangun karakter yang kuat, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan peduli.

Baca juga: 28 Hari Pasca Gempa NTT, TNI Sudah Kirim 1.246,251 Ton Bantuan | Tim Penyuluh Alpha Mabes TNI Bersama Siswa Sesko Berikan Wawasan Karhutla kepada Anggota BSSR | Hari Kedua Puluh Lima Penanganan Gempa NTT, TNI Kirim 1.226,182 Ton Bantuan