Peter Thiel Menyerang Kritik AI, Soroti Obama dan Paus Leo XIV

oleh -63 Dilihat
oleh
Peter Thiel Menyerang Kritik AI, Soroti Obama dan Paus Leo XIV

Jakarta | Peter Thiel, bos Palantir Technologies, mengambil sikap yang berseberangan dengan banyak pemimpin teknologi yang menyampaikan kekhawatiran terhadap perkembangan kecerdasan buatan. Dalam rangkaian kuliah mengenai Antikristus yang digelar di Roma, Thiel menyampaikan kritik terhadap cara sejumlah tokoh memandang dan membicarakan AI. Ia menilai bahwa penolakan atau kekhawatiran terhadap teknologi tersebut tidak selalu berdiri semata-mata sebagai pandangan mengenai dampaknya.

Menurut Thiel, sejumlah pengkritik kecerdasan buatan memanfaatkan ketidakpopuleran teknologi itu untuk kepentingan politik. Ia menuduh bahwa sikap kritis terhadap AI dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan popularitas. Dengan demikian, perdebatan mengenai teknologi tersebut, dalam pandangan Thiel, juga berkaitan dengan cara para tokoh membangun dukungan dan penerimaan publik melalui posisi yang mereka ambil.

Tuduhan tersebut diarahkan, lain, kepada mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Paus Leo XIV. Nama keduanya disebut dalam pernyataan Thiel mengenai para pengkritik AI yang dianggap memanfaatkan sentimen publik terhadap teknologi itu. Thiel menempatkan sikap mereka dalam kritiknya terhadap kecenderungan menjadikan ketidakpopuleran kecerdasan buatan sebagai modal politik untuk memperoleh popularitas.

Pernyataan itu memperlihatkan perbedaan posisi yang jelas Thiel dan para pemimpin atau tokoh yang menyuarakan kekhawatiran terhadap AI. Jika para pengkritik menyoroti teknologi tersebut secara negatif, Thiel justru menyerang dasar politik dari kritik itu. Dalam kuliahnya di Roma, ia menegaskan bahwa kecaman terhadap kecerdasan buatan dapat digunakan untuk membentuk citra publik, terutama ketika teknologi tersebut belum memiliki penerimaan luas di tengah masyarakat.

Dalam kuliah yang disampaikan di Roma, Peter Thiel memperluas kritiknya terhadap tokoh politik dan institusi keagamaan yang menurutnya memanfaatkan kecemasan publik tentang kecerdasan buatan (AI). Pernyataan tersebut dikutip pada Jumat, 9 Oktober 2026, dengan Obama dan Paus Leo XIV menjadi dua sasaran utama komentarnya. Thiel menyampaikan penilaian itu sebagai bagian dari argumennya bahwa penolakan terhadap AI tidak selalu didorong oleh gagasan teknologi yang jelas.

Terkait Barack Obama, Thiel menilai mantan presiden Amerika Serikat tersebut mengetahui bahwa Partai Demokrat tidak memiliki gagasan yang memadai. Namun, menurut Thiel, kondisi itu tidak menghalangi Obama untuk mengambil posisi yang menentang AI. Dengan kata lain, Thiel menggambarkan sikap anti-AI sebagai posisi yang tetap dapat digunakan secara politik, bahkan ketika sebuah partai dinilai kekurangan ide atau arah baru. Pernyataan tersebut merupakan penilaian Thiel, bukan fakta yang disepakati secara umum.

Thiel juga mengarahkan kritik kepada Paus Leo XIV. Ia menuduh sang paus menggunakan isu AI untuk mengalihkan perhatian dari skandal pelecehan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh anggota Gereja Katolik. Tuduhan itu disampaikan sebagai bagian dari kritik Thiel terhadap cara isu teknologi dibicarakan oleh figur publik dan lembaga besar. Ia tidak sekadar mempersoalkan pandangan gereja mengenai AI, tetapi mengaitkannya dengan dugaan upaya mengubah fokus pembahasan dari masalah yang jauh lebih serius.

Baik komentar mengenai Obama maupun tuduhan terhadap Paus Leo XIV perlu dipahami sebagai pernyataan Thiel dalam kuliah tersebut. Keduanya tidak boleh diperlakukan sebagai konfirmasi independen atas klaim yang disampaikan. Isi pernyataan itu menunjukkan strategi retoris Thiel: menghubungkan perdebatan mengenai AI dengan kelemahan politik serta kontroversi institusional, sekaligus mempertanyakan motif pihak-pihak yang mengambil sikap kritis terhadap perkembangan teknologi tersebut.

Peter Thiel dikenal sebagai salah satu tokoh teknologi dan investor yang memiliki hubungan dekat dengan JD Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat. Kedekatan tersebut berawal dari dukungan Thiel terhadap karier politik Vance, termasuk ketika Vance mencalonkan diri sebagai senator. Thiel juga pernah menyampaikan pidato di hadapan para pendukung Vance dan menjadi salah satu figur penting dalam jaringan politik konservatif yang mengitarinya. Hubungan ini membuat pandangan Thiel mengenai teknologi, negara, dan masa depan memperoleh perhatian lebih luas di luar lingkungan Silicon Valley.

Selain membahas teknologi dan politik, Thiel selama bertahun-tahun menulis serta berbicara mengenai konsep Antikristus. Ia tidak selalu menggambarkannya semata-mata sebagai satu sosok tertentu dalam pengertian religius. Dalam penjelasannya, Antikristus juga dapat dipahami sebagai suatu sistem pemerintahan global yang memperoleh kekuasaan dengan memanfaatkan ketakutan masyarakat. Ketakutan itu, menurut kerangka pemikirannya, dapat berkaitan dengan ancaman teknologi, perubahan iklim, perang, atau berbagai krisis lintas negara.

Thiel menaruh perhatian khusus pada kemungkinan bahwa rasa takut terhadap risiko-risiko tersebut mendorong masyarakat menerima pengawasan dan pemerintahan yang semakin terpusat. Dalam skenario demikian, kebijakan yang awalnya ditawarkan sebagai cara untuk melindungi publik dapat berkembang menjadi alat pembatasan kebebasan. Gagasan ini memperlihatkan perpaduan pembacaan religius, kritik politik, dan kekhawatiran terhadap arah perubahan sosial.

Kerangka tersebut relevan ketika Thiel mengkritik sejumlah narasi tentang kecerdasan buatan. Namun, keterkaitan itu perlu dipahami secara hati-hati. Kritiknya terhadap AI tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa teknologi tersebut ia identifikasi sebagai Antikristus atau bahwa keduanya memiliki hubungan sebab-akibat langsung. Yang terlihat adalah kesamaan perhatian terhadap bagaimana ketakutan atas teknologi dan perubahan besar dapat digunakan untuk membenarkan perluasan kekuasaan. Karena itu, pandangan Thiel lebih tepat dibaca sebagai peringatan ideologis mengenai risiko pemusatan kendali, bukan sebagai penjelasan teknis tunggal tentang AI.

Sudut pandang Barack Obama dan Paus Leo XIV memberikan konteks penting terhadap kritik Peter Thiel mengenai perkembangan kecerdasan buatan (AI). Obama disebut mendorong Partai Demokrat menyusun rencana yang lebih komprehensif terkait teknologi tersebut. Dorongan ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi dipandang hanya sebagai isu industri atau inovasi, melainkan sebagai persoalan kebijakan publik yang memengaruhi ekonomi, pendidikan, ketenagakerjaan, keamanan, dan kehidupan demokratis. Menurut pendekatan ini, partai politik perlu memahami peluang AI sekaligus menyiapkan aturan untuk mengantisipasi dampaknya terhadap masyarakat.

Sementara itu, Paus Leo XIV menempatkan AI sebagai tema ensiklik pertamanya, Magnifice Humanitas. Sikap tersebut mencerminkan kekhawatiran Gereja Katolik terhadap perkembangan teknologi yang berlangsung cepat dan belum sepenuhnya diimbangi tanggung jawab sosial. Paus memperingatkan bahwa AI dapat digunakan untuk menyebarkan informasi yang salah, memperbesar ketegangan, serta mendorong konflik. Dalam skenario yang lebih serius, teknologi ini dinilai berisiko membawa dunia menuju perang yang berlangsung lebih lama, terutama apabila pengambilan keputusan strategis semakin bergantung pada sistem otomatis tanpa pengawasan manusia yang memadai.

Paus Leo XIV juga menyerukan agar kepemilikan dan penguasaan data tidak hanya berada di tangan perusahaan swasta. Data, dalam pandangan tersebut, berkaitan dengan kepentingan publik sehingga penggunaannya perlu diawasi melalui kebijakan yang adil dan transparan. Para pembuat kebijakan diminta melindungi hak pekerja yang menghadapi perubahan pola kerja akibat otomatisasi, sekaligus menjaga anak-anak dari paparan, manipulasi, dan risiko lain yang ditimbulkan AI.

Di bidang kebudayaan, Paus menyerukan persatuan para seniman untuk menjaga kreativitas. Kerja sama Gereja Katolik dan komunitas seni diarahkan untuk melindungi sesuatu yang menjadi ciri khas manusia: imajinasi, kepekaan, penilaian moral, serta kemampuan menciptakan makna. Dengan demikian, perdebatan tentang AI tidak hanya menyangkut efisiensi teknologi, tetapi juga masa depan manusia dan nilai-nilai yang hendak dipertahankan.