JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Pasar prediksi di Amerika Serikat mulai memasuki wilayah yang selama ini identik dengan bursa saham. Platform seperti Polymarket dan Kalshi kini menawarkan kontrak yang memungkinkan pengguna berspekulasi mengenai pergerakan saham perusahaan besar, termasuk Tesla dan Apple. Produk tersebut tidak selalu berbentuk kepemilikan saham atau opsi konvensional, melainkan taruhan atas kemungkinan suatu harga mencapai tingkat tertentu, naik atau turun, maupun bergerak sesuai hasil sebuah peristiwa korporasi.
Sebelumnya, kedua platform itu lebih dikenal sebagai tempat mempertaruhkan hasil pertandingan olahraga, pemilu, serta berbagai perkembangan politik dan operasi militer. Namun, dalam setahun terakhir, cakupan produknya berkembang secara signifikan. Pengguna kini dapat menemukan puluhan ribu kontrak yang berkaitan dengan saham, kinerja perusahaan, publikasi data ekonomi dan keuangan, serta peristiwa bisnis yang berpotensi memengaruhi harga sekuritas.
Perluasan tersebut membuat pasar prediksi semakin dekat dengan aktivitas investasi, meskipun mekanisme dan status hukumnya berbeda dari perdagangan saham biasa. Nilai sebuah kontrak dapat berubah berdasarkan ekspektasi peserta terhadap laporan pendapatan, keputusan manajemen, peluncuran produk, atau pencapaian target tertentu. Dengan demikian, informasi yang biasanya dianalisis oleh investor saham menjadi dasar bagi transaksi spekulatif di platform digital.
Perkembangan ini menarik perhatian regulator karena aktivitasnya berlangsung di luar mekanisme bursa saham yang telah memiliki aturan mengenai pencatatan, transparansi, pengawasan transaksi, dan perlindungan investor. Pasar prediksi dapat memberikan cara baru untuk mengukur sentimen publik terhadap perusahaan, tetapi juga berpotensi memperluas spekulasi tanpa standar pengawasan yang sama. Ketika kontrak menyangkut emiten besar dan peristiwa yang dapat menggerakkan harga saham, batas permainan berbasis prediksi, instrumen keuangan, dan aktivitas pasar menjadi semakin sulit dibedakan.
Meski nilai pasar prediksi berbasis saham masih kecil dibandingkan pasar saham Amerika Serikat secara keseluruhan, pertumbuhannya mulai menimbulkan pertanyaan serius mengenai perlindungan investor. Produk ini memungkinkan peserta mengambil posisi berdasarkan arah atau hasil pergerakan sekuritas, tetapi beroperasi melalui jalur yang berbeda dari perdagangan saham konvensional. Perbedaan tersebut dapat membuka ruang bagi spekulasi terhadap saham dan instrumen terkait di luar sejumlah aturan yang selama ini dirancang untuk melindungi investor.
Dalam pasar saham biasa, aktivitas perdagangan berada di bawah pengawasan bursa, lembaga kliring, dan regulator yang memiliki mekanisme untuk mendeteksi manipulasi, konflik kepentingan, serta transaksi yang tidak wajar. Produk prediksi berbasis saham berpotensi menyebarkan aktivitas serupa ke lingkungan dengan struktur pengawasan yang belum sepenuhnya jelas. Risiko ini menjadi lebih besar apabila kontrak dipasarkan kepada investor ritel yang belum memahami perbedaan investasi, lindung nilai, dan taruhan spekulatif.
Sejumlah pakar hukum memperingatkan bahwa ekspansi yang cepat dapat memengaruhi perdagangan saham yang menjadi acuannya. Pelaku pasar mungkin menggunakan informasi atau posisi dalam kontrak prediksi untuk memengaruhi ekspektasi, harga, atau volume perdagangan di pasar utama. Karena kedua aktivitas tersebut dapat berlangsung pada platform berbeda, regulator juga berpotensi menghadapi kesulitan ketika harus menghubungkan pola transaksi, mengidentifikasi pihak yang terlibat, dan menilai apakah suatu pergerakan merupakan spekulasi biasa atau bentuk manipulasi.
Yesha Yadav dari Vanderbilt University Law School menilai perkembangan ini sebagai batas baru bagi struktur pasar dan contoh inovasi yang sangat agresif. Menurutnya, kemunculan produk tersebut tidak semestinya dibiarkan berkembang lebih cepat daripada kerangka pengawasannya. Ia mendorong regulator untuk segera mengambil tindakan, termasuk memperjelas kewenangan, menetapkan standar transparansi, dan memastikan koordinasi pengawas pasar prediksi dan lembaga yang mengawasi bursa. Langkah awal yang cepat dapat membantu mencegah celah regulasi berubah menjadi sumber risiko sistematis.
Analisis perusahaan riset blockchain Allium menunjukkan bahwa perluasan pasar prediksi saham telah menarik aktivitas transaksi dalam skala besar. Sejak Polymarket International meluncurkan pasar untuk saham individual pada Oktober tahun sebelumnya, para trader tercatat memasang taruhan dengan nilai gabungan lebih dari US$220 juta. Nilai tersebut tersebar di sekitar 31.000 pasar yang berkaitan dengan ekuitas hingga awal September, memperlihatkan bahwa minat pengguna tidak hanya terkonsentrasi pada sejumlah kecil perusahaan.
Hampir 60 persen dari total nilai taruhan itu berhubungan langsung dengan pergerakan saham individual. Nvidia, Alphabet—perusahaan induk Google—Apple, dan Tesla menjadi emiten yang paling sering dipilih. Popularitas saham-saham tersebut mencerminkan perhatian trader terhadap perusahaan teknologi besar, yang umumnya memiliki likuiditas tinggi, pemberitaan intensif, serta pergerakan harga yang dianggap lebih mudah dipantau. Sisa nilai taruhan ditempatkan pada pasar yang menggunakan ETF atau indeks saham sebagai acuannya.
Mekanisme transaksinya menyerupai kontrak prediksi berbasis hasil biner. Pedagang memilih jawaban “ya” atau “tidak” atas pertanyaan mengenai kemungkinan sebuah saham atau indeks mencapai tingkat harga tertentu pada tanggal yang telah ditentukan. Jika hasil aktual sesuai dengan posisi yang dipilih, kontrak tersebut dapat menghasilkan pembayaran, sedangkan pilihan yang keliru berpotensi kehilangan nilai. Struktur ini memungkinkan pengguna berspekulasi terhadap arah atau pencapaian harga tanpa harus membeli saham secara langsung.
Allium juga menemukan contoh aktivitas dari satu dompet digital yang mencatat volume sekitar US$175.000 melalui kurang lebih 1.300 transaksi saham Apple. Data tersebut menggambarkan bagaimana frekuensi transaksi dapat meningkat ketika pelaku memecah eksposurnya ke banyak kontrak atau tanggal jatuh tempo. Pola semacam ini sekaligus menyediakan gambaran mengenai besarnya keterlibatan pengguna ritel dan intensitas spekulasi dalam pasar prediksi yang berkaitan dengan ekuitas.
Polymarket dan Kalshi menyatakan bahwa mereka memantau potensi pelanggaran dalam aktivitas perdagangan kontrak peristiwa, termasuk transaksi yang dapat melanggar ketentuan hukum atau aturan platform. Kedua perusahaan juga mengatakan bahwa kasus yang teridentifikasi dilaporkan secara rutin kepada otoritas Amerika Serikat dan bahwa mereka berupaya menjaga komunikasi serta kerja sama dengan regulator. Langkah tersebut menjadi penting ketika pasar prediksi mulai menawarkan kontrak yang berkaitan dengan pergerakan saham dan kinerja perusahaan, sehingga batas spekulasi, informasi keuangan, dan aktivitas perdagangan semakin mendapat perhatian.
Polymarket menegaskan bahwa integritas pasar merupakan inti dari operasionalnya. Perusahaan mengklaim memiliki mekanisme untuk mengidentifikasi aktivitas mencurigakan dan mengambil tindakan terhadap pengguna yang dianggap melanggar ketentuan. Dalam operasional internasionalnya, Polymarket juga menyatakan berupaya memblokir pengguna asal Amerika Serikat dari platform tersebut. Pernyataan ini mencerminkan upaya perusahaan untuk mematuhi pembatasan yurisdiksi, meskipun efektivitas pengendalian akses digital tetap menjadi salah satu hal yang akan diawasi.
Securities and Exchange Commission (SEC) tidak memberikan komentar mengenai perkembangan tersebut. Commodity Futures Trading Commission juga tidak menanggapi permintaan komentar. Meski demikian, kedua lembaga sebelumnya menyatakan sedang meninjau aturan yang dapat berlaku terhadap pasar prediksi terkait saham. Peninjauan itu berpotensi menentukan bagaimana kontrak semacam ini diklasifikasikan, diawasi, dan dibatasi, terutama jika produknya memiliki kemiripan dengan derivatif atau instrumen investasi lainnya.
Di tengah perhatian regulator, pasar prediksi terus berusaha menarik investor institusional. Kontrak peristiwa dipasarkan sebagai alternatif lindung nilai terhadap risiko ekonomi dan pasar tradisional, sekaligus sebagai sarana untuk menyampaikan pandangan tentang perusahaan serta kinerja keuangannya. Platform tersebut juga menonjolkan perbedaan dari bursa saham konvensional: transaksi dapat berlangsung selama 24 jam dan tidak selalu mengikuti jam perdagangan reguler. Perkembangan ini dapat memperluas partisipasi, tetapi juga meningkatkan kebutuhan atas transparansi, pengawasan, dan perlindungan investor.

