Forum AICX 2026 di Bali Bahas Tata Kelola AI dan Ketahanan Siber

oleh -344 Dilihat
oleh
Forum AICX 2026 di Bali Bahas Tata Kelola AI dan Ketahanan Siber

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, PT ITSEC Asia Tbk akan menggelar forum eksekutif AI Cybersecurity Exchange (AICX) 2026 di Bali pada 20 Oktober 2026. Forum ini akan membahas tata kelola kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta ketahanan siber, dua aspek yang semakin penting seiring meluasnya pemanfaatan teknologi tersebut di berbagai organisasi. Penyelenggaraan AICX 2026 menjadi bagian dari rangkaian Bali Tech Week 2026.

Kecerdasan buatan kini menjadi perhatian dunia. Perkembangan dan penerapannya mendorong pelaku bisnis di berbagai sektor untuk mempertimbangkan penggunaan AI dalam organisasi. Tren tersebut juga dirasakan di Indonesia, ketika perusahaan mulai melihat teknologi ini sebagai bagian dari upaya mendukung kegiatan dan kebutuhan organisasi. Bersamaan dengan meningkatnya adopsi AI, muncul kebutuhan untuk memastikan bahwa penerapannya berlangsung secara terarah dan memperhatikan aspek keamanan.

Dalam konteks tersebut, AICX 2026 hadir sebagai forum eksekutif yang menempatkan pembahasan mengenai AI dan keamanan siber dalam satu agenda. Fokus pada tata kelola diperlukan agar pemanfaatan kecerdasan buatan dapat dilakukan dengan kerangka yang jelas, sedangkan perhatian terhadap ketahanan siber menjadi penting untuk mendukung organisasi menghadapi berbagai tantangan digital. Kedua topik tersebut menjadi bagian utama pembahasan dalam forum yang diselenggarakan oleh PT ITSEC Asia Tbk.

Pelaksanaan AICX 2026 di Bali juga menempatkan forum ini sebagai salah satu agenda dalam rangkaian Bali Tech Week 2026. Melalui penyelenggaraan tersebut, pembahasan mengenai perkembangan AI, tata kelola, dan ketahanan siber dihadirkan dalam forum eksekutif. Agenda ini berlangsung ketika kecerdasan buatan terus mendapatkan perhatian global dan mendorong pelaku bisnis, termasuk di Indonesia, untuk mengadopsinya dalam organisasi. Forum pada 20 Oktober 2026 tersebut menjadi ruang untuk mengangkat fokus tata kelola AI dan ketahanan siber secara bersamaan.

Forum AICX 2026 di Bali dirancang sebagai ruang dialog yang mempertemukan pemimpin dari pemerintahan, dunia usaha, dan sektor teknologi. Pertemuan lintas sektor ini penting karena perkembangan kecerdasan artifisial tidak hanya memengaruhi cara organisasi bekerja, tetapi juga berkaitan dengan kebijakan publik, daya saing ekonomi, serta keamanan informasi. Dengan melibatkan berbagai kelompok pemangku kepentingan, forum tersebut menyediakan kesempatan untuk menyamakan pemahaman mengenai manfaat, risiko, dan tanggung jawab dalam pemanfaatan teknologi AI.

Agenda utama pertemuan mencakup pembahasan tata kelola AI yang diperlukan agar penerapan kecerdasan artifisial berlangsung secara terarah, bertanggung jawab, dan dapat dipercaya. Para peserta dapat membahas prinsip, pendekatan, serta kerangka pengelolaan yang mendukung inovasi sekaligus memperhatikan dampaknya. Tata kelola menjadi semakin penting ketika AI digunakan dalam berbagai proses pengambilan keputusan dan layanan, sehingga diperlukan pandangan yang selaras pemerintah, pelaku usaha, dan sektor teknologi.

Selain tata kelola AI, AICX 2026 mengangkat strategi keamanan siber sebagai bagian penting dari kesiapan menghadapi perubahan teknologi. Ancaman digital yang terus berkembang menuntut organisasi untuk memperkuat perlindungan data, sistem, dan infrastruktur yang digunakan. Pembahasan dalam forum ini juga diarahkan pada upaya membangun ketahanan siber agar setiap sektor mampu merespons gangguan secara lebih efektif dan menjaga keberlanjutan operasional.

Forum tersebut sekaligus menjadi sarana untuk melihat kesiapan menghadapi teknologi masa depan. Pertukaran perspektif pemimpin pemerintahan, dunia usaha, dan sektor teknologi diharapkan membantu merumuskan langkah yang lebih adaptif terhadap perubahan. Dengan demikian, pertemuan ini tidak berhenti pada pembahasan tren teknologi, tetapi mendorong kesadaran bersama mengenai pentingnya kebijakan, strategi keamanan, dan kapasitas yang memadai untuk menghadapi perkembangan berikutnya.

President Director PT ITSEC Asia Tbk, Patrick Dannacher, menegaskan bahwa AICX 2026 dirancang untuk mendukung pengembangan ekosistem digital Indonesia secara berkelanjutan. Dalam konferensi pers AICX 2026 di Jakarta pada Jumat, 9 Oktober 2026, ia menyampaikan bahwa forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pemerintah, pelaku industri, komunitas teknologi, serta pemangku kepentingan lainnya dalam membahas arah pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI).

Menurut Dannacher, perkembangan AI membawa peluang besar bagi peningkatan produktivitas, inovasi layanan, dan daya saing ekonomi. Namun, pemanfaatannya perlu disertai tata kelola yang jelas agar teknologi tersebut dikembangkan dan digunakan secara aman, transparan, serta selaras dengan kepentingan masyarakat. Karena itu, dialog dalam AICX 2026 tidak hanya berfokus pada kemampuan teknologi, tetapi juga pada tanggung jawab organisasi dalam mengelola data, melindungi privasi, dan memastikan hasil sistem AI dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menjelaskan bahwa forum ini mendorong adopsi AI yang bertanggung jawab sekaligus memperkuat ketahanan digital nasional. Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya risiko siber, termasuk serangan terhadap infrastruktur penting, kebocoran data, dan penyalahgunaan teknologi untuk menghasilkan ancaman yang lebih kompleks. Adopsi AI, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan penguatan keamanan siber, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta kesiapan setiap organisasi dalam menghadapi gangguan digital.

Pernyataan tersebut menempatkan kolaborasi sebagai unsur penting dalam membangun ekosistem digital yang tangguh. Pemerintah dan industri perlu menyusun standar, kebijakan, serta praktik keamanan yang dapat mengikuti perkembangan teknologi, sementara masyarakat membutuhkan literasi digital agar mampu memahami manfaat dan risiko AI. Melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman, AICX 2026 diharapkan membantu Indonesia memanfaatkan AI secara inovatif tanpa mengabaikan aspek etika, keamanan, dan ketahanan digital.

Agenda AICX 2026 tidak berhenti pada pembahasan tata kelola kecerdasan artifisial (AI) dan keamanan siber. Forum ini juga melihat bagaimana teknologi masa depan dapat mengubah cara organisasi mengelola risiko, menjalankan bisnis, serta melayani masyarakat. Salah satu topik yang semakin relevan adalah komputasi kuantum, yaitu teknologi yang berpotensi memproses persoalan tertentu secara jauh lebih cepat dibandingkan komputer konvensional. Perkembangan tersebut dapat membuka peluang baru dalam riset, keuangan, kesehatan, logistik, dan industri, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan serius.

Dalam konteks keamanan, komputasi kuantum berpotensi memengaruhi sistem enkripsi yang saat ini digunakan untuk melindungi data dan komunikasi digital. Karena itu, pemerintah, perusahaan, dan lembaga penelitian perlu mulai mempertimbangkan strategi kriptografi pascakuantum. Pembahasan mengenai kesiapan teknologi, dampak ekonomi, perlindungan privasi, dan perubahan kebutuhan keterampilan menjadi penting agar inovasi tidak menimbulkan kesenjangan baru. Perspektif masyarakat juga diperlukan untuk memastikan bahwa penerapan teknologi berlangsung secara bertanggung jawab, inklusif, dan selaras dengan kepentingan publik.

Rangkaian diskusi tersebut berlangsung dalam konteks Bali Tech Week 2026, festival teknologi yang diselenggarakan pada 19–23 Oktober 2026 di Bali Beach Convention Center, Bali. Kegiatan ini dirancang sebagai ekosistem kolaboratif yang terdiri atas 13 acara dengan tema dan pendekatan yang beragam. Pelaksanaannya melibatkan organisasi lokal, perguruan tinggi, pelaku industri, serta pemerintah, sehingga percakapan tentang teknologi dapat menghubungkan perspektif kebijakan, penelitian, bisnis, dan kebutuhan masyarakat.

Melalui format festival, Bali Tech Week 2026 menyediakan ruang untuk bertukar gagasan, memperkenalkan inovasi, membangun jejaring, dan membahas kesiapan Indonesia menghadapi perubahan teknologi. Peserta yang dapat berpartisipasi mencakup mahasiswa, investor, pendiri perusahaan rintisan, pembuat kebijakan, dan akademisi. Keterlibatan berbagai kelompok ini diharapkan memperkaya dialog sekaligus mendorong terbentuknya kerja sama konkret di bidang AI, keamanan digital, dan teknologi masa depan.