Survei KedaiKOPI: Mayoritas Pemuda Berniat Memilih pada Pemilu 2029

oleh -113 Dilihat
oleh
Survei KedaiKOPI: Mayoritas Pemuda Berniat Memilih pada Pemilu 2029

Jakarta | Sebanyak 75,8 persen pemuda menyatakan berkomitmen menggunakan hak pilih pada Pemilu 2029. Temuan survei KedaiKOPI ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berniat berpartisipasi dalam proses demokrasi mendatang. Angka tersebut berjalan seiring dengan minat generasi muda terhadap politik, yang tercatat mencapai 64,6 persen. Dengan demikian, perhatian pada urusan politik tidak hanya tampak dalam pernyataan minat, tetapi juga dalam niat untuk menggunakan hak pilih.

Kepala Riset KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, memaparkan hasil survei itu di Jakarta pada Jumat dalam diskusi “Menakar Arah Pemuda: Tantangan Ekonomi, Pekerjaan, dan Preferensi Politik Menuju 2029”. Dalam pemaparannya, Ashma menyoroti bahwa minat pemuda untuk terlibat dalam politik cukup tinggi. Namun, temuan lain memperlihatkan adanya jarak ketertarikan tersebut dan pengalaman mereka terhadap sistem politik saat ini.

Sebanyak 62,7 persen responden merasa aspirasi mereka belum terwakili dalam kebijakan maupun dinamika politik yang berlangsung. Artinya, tingginya minat untuk ikut serta tidak serta-merta berarti para pemuda merasa suara dan kebutuhan mereka telah tercermin dalam pengambilan keputusan. Ashma menyampaikan bahwa kedua hal ini hadir bersamaan: minat untuk terlibat cukup tinggi, tetapi persepsi bahwa aspirasi belum terwakili juga besar. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran penting dalam membaca preferensi politik generasi muda menjelang pemilu.

Temuan ini relevan karena generasi Z dan milenial diprediksi mencakup lebih dari 60 persen pemilih pada pemilu mendatang. Besarnya porsi pemilih muda menjadikan pandangan mereka penting dalam pembahasan arah politik menuju 2029. Komitmen untuk memilih dapat menjadi modal partisipasi, sementara rasa tidak terwakili menunjukkan perlunya perhatian terhadap aspirasi mereka. Survei ini menggambarkan dua sisi keterlibatan pemuda: keinginan untuk berpartisipasi dan penilaian kritis atas sejauh mana politik serta kebijakan saat ini mampu memuat suara mereka. Keduanya memberi konteks bagi upaya memahami hubungan generasi muda dengan pemilu dan proses politik secara lebih luas.

Preferensi terhadap figur pemimpin dalam survei KedaiKOPI menunjukkan kecenderungan pemuda memilih sosok dengan latar profesional dan teknokrat. Sebanyak 48,4 persen responden menyatakan pilihan tersebut, sementara 27,7 persen memilih mantan politisi dan 10,1 persen memilih aparat pemerintahan atau TNI/Polri. Ashma menilai hasil ini mencerminkan anggapan pemuda bahwa profesional dan teknokrat lebih pantas memimpin. Kecenderungan itu hadir bersamaan dengan perhatian responden terhadap persoalan sehari-hari maupun tata kelola negara. Temuan tersebut memberi gambaran bahwa pertimbangan pemilih muda tidak hanya terkait figur, tetapi juga kapasitas kepemimpinan dan kemampuan menjawab kebutuhan publik.

Isu pembukaan lapangan kerja menjadi perhatian terbesar, disebut oleh 21,6 persen responden. Selain itu, pemuda menyoroti peningkatan kesejahteraan di tengah kenaikan harga kebutuhan, stabilitas ekonomi, transparansi pemerintahan, serta pemberantasan korupsi. Kebebasan sipil dan kondisi demokrasi juga masuk dalam isu yang dinilai penting. Ragam perhatian tersebut memperlihatkan bahwa agenda ekonomi berjalan berdampingan dengan tuntutan terhadap akuntabilitas dan perlindungan hak. Bagi calon pemimpin, temuan ini menandakan perlunya menawarkan kebijakan yang konkret, baik untuk memperluas kesempatan kerja dan menjaga daya beli maupun untuk memastikan pemerintahan yang terbuka serta demokratis.

Dalam hal penyampaian aspirasi, 65,9 persen responden menilai demonstrasi sebagai cara paling efektif, sedangkan 51,6 persen menganggap kanal pengaduan resmi pemerintah juga efektif. Lili berpandangan bahwa pemuda tertarik pada politik, tetapi keraguan mengenai apakah suara mereka didengar dan dapat menghasilkan perubahan bisa mendorong mereka turun ke jalan. Menurutnya, demonstrasi merupakan bentuk kepedulian politik, bukan semata-mata penolakan terhadap proses formal. Aksi tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi bagi lembaga politik: memperluas ruang partisipasi dan memperkuat komunikasi dengan generasi muda. Dengan demikian, respons terhadap aspirasi pemuda perlu membuka jalur yang mudah diakses, menindaklanjuti masukan secara jelas, serta membangun kepercayaan bahwa keterlibatan publik dapat memengaruhi keputusan.

Survei KedaiKOPI menunjukkan pandangan pemuda terhadap masa depan Indonesia tidak sepenuhnya seragam. Sebanyak 54,4 persen responden optimistis bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 dapat tercapai, sedangkan 45,6 persen menyatakan pesimistis. Perbedaan ini menggambarkan adanya harapan sekaligus keraguan di kalangan generasi muda mengenai arah pembangunan dan kemampuan negara mewujudkan tujuan jangka panjang. Angka optimisme yang lebih besar menandakan bahwa banyak pemuda masih percaya pada potensi Indonesia, tetapi besarnya kelompok yang pesimistis juga menjadi catatan penting. Harapan terhadap masa depan, dengan demikian, tidak dapat dilepaskan dari pengalaman dan kesempatan yang dirasakan anak muda saat ini.

Di sisi lain, rasa memiliki terhadap negara terlihat kuat. Sebanyak 81,5 persen pemuda mengaku bangga menjadi warga Indonesia, dengan skor rata-rata kebanggaan sebesar 7,51. Selain itu, 71,3 persen menilai nilai-nilai Sumpah Pemuda masih relevan dalam kehidupan sekarang. Relevansi tersebut mencakup semangat persatuan dan kerja bersama, termasuk ketika menghadapi persaingan pada era digital. Temuan ini memperlihatkan bahwa identitas kebangsaan tetap bermakna bagi responden, sekalipun tantangan zaman berubah. Kebanggaan dan relevansi nilai sejarah menjadi modal sosial, namun keduanya tidak serta-merta menghapus pertanyaan tentang peluang, kesejahteraan, maupun ruang partisipasi generasi muda.

Perwakilan pemuda Firdarainy Nurul Izzah menekankan bahwa kebanggaan terhadap Indonesia perlu diiringi keyakinan bahwa anak muda mempunyai kesempatan untuk berkembang dan menyampaikan aspirasi. Ia mengingatkan, kebanggaan terhadap negara belum tentu berjalan seiring dengan optimisme mengenai masa depan. Perasaan bangga itu tetap hadir, termasuk saat berinteraksi dengan teman-teman di luar negeri. Namun, bagi sebagian pemuda, masih ada pertanyaan tentang apakah mereka dapat mandiri secara ekonomi dan apakah kritik yang disampaikan benar-benar didengar oleh para pembuat kebijakan. Karena itu, tingginya kebanggaan warga muda sebaiknya dibaca bersama keraguan terhadap prospek ke depan. Kesempatan yang nyata untuk tumbuh, bekerja, dan terlibat dalam pengambilan keputusan dapat membantu menjembatani jarak identitas kebangsaan dan optimisme menuju 2045.

Hasil survei mengenai niat pemuda untuk memilih pada Pemilu 2029 perlu dibaca dengan memperhatikan siapa yang menjadi responden dan bagaimana data dikumpulkan. Informasi metodologi membantu pembaca memahami cakupan temuan, sekaligus membedakan hasil survei dari gambaran tanpa batas mengenai seluruh warga negara. Dalam laporan ini, responden berasal dari kelompok generasi Z dan milenial, dengan rentang usia yang telah ditetapkan. Karena itu, temuan yang disajikan berkaitan dengan kelompok tersebut dan tidak serta-merta menggambarkan pandangan warga di luar rentang usia responden. Keterangan ini menjadi konteks penting ketika menafsirkan angka mengenai niat menggunakan hak pilih.

Pengumpulan data dilakukan secara daring pada 23–29 September 2026. Survei melibatkan 1.213 warga negara Indonesia berusia 17–45 tahun yang berasal dari 36 provinsi. Dengan mencatat waktu pelaksanaan, jumlah responden, rentang usia, serta sebaran provinsi, pembaca memperoleh gambaran dasar mengenai pelaksanaan survei. Periode pengumpulan data menunjukkan kapan jawaban dihimpun, sedangkan jumlah dan cakupan responden menjelaskan lingkup orang yang berpartisipasi. Informasi tersebut merupakan bagian dari keterangan metodologis yang menyertai hasil, bukan ukuran tersendiri atas tingkat kepastian atau kemungkinan perubahan sikap responden. Laporan ini tidak mencantumkan margin of error.

Data survei dibobotkan menggunakan metode iterative proportional fitting. Pembobotan dilakukan berdasarkan enam karakteristik: jenis kelamin, usia, pendidikan, agama, wilayah, dan provinsi. Keterangan ini menjelaskan faktor yang digunakan dalam penyesuaian data, sehingga pembaca dapat mengetahui dasar pembobotan yang dilaporkan.

Baca juga: Memilih Jalan Damai, Empat Anggota OPM Puncak Jaya Serahkan Senjata kepada Pangkoops TNI Habema dan Kembali ke Masyarakat