Banjir dari Danau Glasial Terjang Kawasan Pemandian Air Panas di Bhutan

oleh -103 Dilihat
oleh
Banjir dari Danau Glasial Terjang Kawasan Pemandian Air Panas di Bhutan

Jakarta | Banjir bandang melanda kawasan pemandian air panas Gasa Tshachu di Bhutan pada Jumat larut malam, 30 Oktober 2026, setelah Danau Glasial Shintaphu jebol. Aliran air yang datang mendadak menerjang lokasi pemandian tersebut, yang berada di wilayah Gasa. Peristiwa ini merupakan banjir dari danau glasial di Bhutan, bukan kejadian di Indonesia. Informasi awal mengenai musibah itu disampaikan melalui laporan media dan keterangan lembaga penyiaran nasional negara tersebut.

Menurut Bhutan Broadcasting Service (BBS), penyiar nasional Bhutan, tidak ada korban jiwa maupun orang yang dilaporkan terluka akibat banjir itu. Keterangan tersebut menjadi kabar penting setelah air menerjang kawasan yang dikenal sebagai tempat pemandian air panas. Laporan BBS menyatakan nihilnya korban, tetapi informasi yang tersedia dalam laporan awal tidak merinci tingkat kerusakan fasilitas ataupun dampak lain di sekitar lokasi. Karena itu, keadaan kawasan setelah banjir dan kemungkinan penilaian kerusakan masih perlu dibedakan dari informasi yang sudah dikonfirmasi mengenai keselamatan pengunjung dan warga.

Kawasan Gasa Tshachu telah dievakuasi sebelum banjir tiba, menurut laporan surat kabar Kuensel yang dikutip Reuters. Evakuasi lebih awal itu berarti orang-orang di lokasi telah dipindahkan sebelum aliran banjir mencapai kawasan pemandian. Urutan peristiwa ini membantu menjelaskan mengapa, meskipun banjir bandang menerjang lokasi, tidak ada korban jiwa maupun luka yang dilaporkan. Namun, laporan yang dikutip tersebut tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai jumlah orang yang dievakuasi, waktu persis pemindahan, atau pihak yang mengoordinasikannya.

Jebolnya Danau Glasial Shintaphu menjadi pemicu langsung banjir yang mencapai Gasa Tshachu. Peristiwa ini menyoroti risiko yang dapat muncul ketika air dari danau glasial meluap atau dilepaskan secara tiba-tiba menuju kawasan di bawahnya. Dalam kejadian ini, fakta utama yang telah dilaporkan adalah lokasi banjir di Bhutan, evakuasi yang dilakukan sebelum air tiba, serta tidak adanya korban jiwa dan luka menurut BBS. Rincian tersebut menjadi dasar untuk memahami dampak langsung peristiwa, sembari menunggu informasi tambahan mengenai kondisi pemandian dan lingkungan sekitarnya.

Arus banjir yang deras menerjang kawasan pemandian air panas di Desa Laya dan menghanyutkan sejumlah infrastruktur. Besarnya aliran air membuat kondisi di lokasi berbahaya serta menyulitkan upaya untuk memeriksa kerusakan secara menyeluruh. Menurut laporan BBS, dua jembatan Bailey yang berada di kawasan tersebut diduga ikut terseret banjir. Jembatan Bailey merupakan jembatan modular yang dirakit dari komponen portabel, sehingga dapat digunakan untuk menyediakan lintasan di wilayah yang membutuhkan akses penghubung.

Namun, status kedua jembatan itu belum dapat dipastikan. Banjir terjadi dalam kondisi gelap, sementara arus air sangat deras. Situasi tersebut membatasi jarak pandang dan membuat penilaian langsung terhadap keadaan infrastruktur sulit dilakukan. Karena itu, dugaan bahwa jembatan Bailey telah hanyut belum dapat diperlakukan sebagai kepastian, dan skala keseluruhan kerusakan masih belum diketahui. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan setelah kondisi memungkinkan, termasuk untuk mengetahui bagian infrastruktur yang rusak, hilang, atau masih dapat digunakan.

Dampak terhadap akses darat juga signifikan. Jalan menuju Desa Laya, tempat pemandian air panas itu berada, dilaporkan sebagian hanyut dan tidak dapat dilalui. Kerusakan pada ruas jalan tersebut memutus akses lalu lintas menuju desa, sehingga perjalanan ke kawasan terdampak tidak dapat dilakukan melalui jalur itu. Kuensel melaporkan bahwa akses lalu lintas ditutup hingga waktu yang belum ditentukan. Penutupan ini diberlakukan ketika kondisi jalan belum memungkinkan untuk dilewati dan keamanan pengguna belum dapat dipastikan.

Terputusnya jalur menuju Laya dapat menghambat mobilitas warga maupun pihak yang perlu mencapai kawasan pemandian air panas, termasuk untuk memantau dampak banjir. Meski rincian kerusakan masih terbatas, laporan tentang infrastruktur yang hanyut, jembatan yang diduga terseret, serta jalan yang tidak bisa dilalui menunjukkan bahwa banjir berdampak langsung pada konektivitas setempat. Sampai informasi mengenai pemeriksaan dan pemulihan tersedia, penutupan akses tetap menjadi langkah penting untuk menghindari perjalanan ke ruas yang terdampak. Belum ada kepastian mengenai kapan jalan dapat dibuka kembali atau bagaimana kondisi akhir jembatan yang dilaporkan.Gasa Tshachu berada di wilayah utara Bhutan dan dikenal sebagai salah satu tujuan wisata utama di kawasan tersebut. Bhutan sendiri merupakan negara pegunungan di Himalaya, terletak di India dan China. Dalam konteks wilayah yang dibentuk oleh bentang alam pegunungan dan aliran sungai, lokasi pemandian air panas ini memiliki hubungan erat dengan lingkungan alam di sekitarnya. Karena itu, peristiwa banjir yang memengaruhi kawasan tersebut menjadi bagian penting dari catatan mengenai kerentanan destinasi wisata terhadap perubahan kondisi sungai.

Kawasan pemandian air panas Gasa Tshachu pernah diterjang banjir bandang pada 2021. Saat itu, aliran Sungai Mochhu berubah arah dan membanjiri area pemandian. Informasi yang tersedia mengenai kejadian tersebut menegaskan kaitan langsung perubahan arah aliran sungai dan genangan yang mencapai kawasan wisata. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa banjir bukan hal yang sama sekali baru bagi Gasa Tshachu, meskipun catatan ini tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang dampak yang ditimbulkannya.

Riwayat banjir pada 2021 memberi latar bagi perhatian terhadap ancaman banjir yang kembali dikaitkan dengan danau glasial di Bhutan. Namun, kejadian terdahulu itu perlu dibedakan dari peristiwa yang sedang diberitakan: informasi tentang banjir 2021 secara khusus menyebut Sungai Mochhu yang berubah arah, bukan rincian penyebab lain. Tanpa keterangan tambahan, tidak tepat untuk menyimpulkan besarnya kerusakan atau adanya korban dalam kejadian tersebut. Yang dapat dipastikan dari catatan yang ada ialah bahwa area pemandian Gasa Tshachu pernah terendam setelah aliran sungai berubah, sehingga lokasi ini memiliki riwayat terdampak banjir. Konteks geografis tersebut membantu pembaca memahami mengapa kawasan wisata di utara Bhutan dapat menjadi perhatian ketika risiko banjir dibahas.

Banjir akibat jebolnya danau glasial, yang dikenal sebagai glacial lake outburst flood (GLOF), terjadi ketika air yang tertahan di sebuah danau lepas secara mendadak. Danau semacam ini terbentuk dari air lelehan gletser, dan dapat terbendung oleh endapan batuan maupun material es yang tidak selalu stabil. Jika bendungan alami tersebut runtuh atau terkikis, air dan sedimen dapat meluncur ke lembah dalam waktu singkat. Peristiwa ini berbeda dari banjir yang berkembang perlahan, sebab arusnya dapat datang tiba-tiba dan menyisakan sangat sedikit waktu untuk evakuasi.

Aliran GLOF biasanya membawa lumpur, batu, serta bongkahan material lain dari lereng. Gabungan volume air dan puing tersebut dapat memiliki daya rusak besar, terutama saat melewati lembah sempit atau kawasan yang berada di sepanjang sungai. Jalan dan jembatan dapat terputus, sementara rumah, fasilitas umum, serta lahan di wilayah hilir terendam atau tersapu. Dampak terhadap akses transportasi juga dapat menghambat upaya penyelamatan dan pengiriman bantuan setelah banjir terjadi.

Risiko ini menjadi perhatian di kawasan Himalaya, tempat gletser dan danau glasial berada di daerah pegunungan yang curam. Perubahan pada gletser dapat memengaruhi ukuran dan kestabilan danau, meskipun tidak setiap danau yang membesar akan langsung jebol. Pemantauan kondisi danau, sistem peringatan dini, pemetaan wilayah berisiko, serta rencana evakuasi merupakan bagian penting dari pengurangan bahaya. Langkah-langkah tersebut membantu masyarakat dan pemerintah setempat mengenali ancaman serta menyiapkan respons sebelum arus mencapai permukiman.

Sebagai konteks ancaman banjir bandang di kawasan Himalaya laporan mengenai Nepal pada Agustus lalu menyebut lebih dari 1 500 orang tewas dan lebih dari 5.

Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Kerahkan Tangki Portable dan Gambut Injection di Kawasan Ring I Bandara Sjamsudin Noor Atasi Titik Api Karhutla | Siang Hingga Dini Hari, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Terus Bergerak, Terjang Padamkan Api di Lahan Gambut | TNI Perkuat Penanganan Karhutla di Kawasan IKN Melalui Darat dan Udara