Winatra dalam Laut Bercerita: Dari Diskusi Buku ke Perlawanan

oleh -103 Dilihat
oleh
Winatra dalam Laut Bercerita: Dari Diskusi Buku ke Perlawanan

Yogyakarta | Winatra dalam Laut Bercerita adalah kelompok mahasiswa yang menjadi ruang berkumpul bagi anak-anak muda dengan kegelisahan serupa. Film ini merupakan adaptasi dari novel karya Leila S. Chudori dan mengikuti perjalanan Biru Laut Wibisana bersama kawan-kawannya. Di tengah kehidupan kampus, mereka tidak hanya bertemu sebagai mahasiswa, tetapi juga mulai membicarakan keadaan di sekitar mereka. Diskusi yang semula berlangsung di teman-teman perlahan berkembang menjadi kesadaran bahwa persoalan sosial dan politik tidak dapat diabaikan.

Kisah Winatra ditempatkan di Yogyakarta, dalam rentang awal hingga akhir 1990-an. Periode itu menjadi latar bagi para tokoh untuk menjalani kehidupan sebagai mahasiswa ketika kebebasan berpendapat dibatasi oleh pemerintahan Orde Baru. Dalam suasana seperti itu, menyampaikan pandangan secara terbuka bukanlah perkara sederhana. Percakapan mengenai keadaan masyarakat membawa risiko dan mendorong para anggota untuk mempertimbangkan dengan cermat apa yang mereka katakan serta bagaimana mereka bertindak.

Bagi Biru Laut dan kawan-kawannya, pertemuan dan diskusi buku menjadi titik awal untuk saling mengenal pemikiran masing-masing. Mereka berbagi bacaan, bertukar pendapat, dan mengajukan pertanyaan tentang kondisi yang mereka saksikan. Kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas akademis. Dari sana, tumbuh kegelisahan bersama terhadap keadaan sosial dan politik serta keinginan untuk tidak tinggal diam. Winatra terbentuk sebagai wadah bagi mereka untuk menyusun pikiran, memperkuat ikatan, dan membicarakan langkah yang dapat ditempuh.

Perjalanan kelompok ini memperlihatkan bagaimana kesadaran politik dapat tumbuh melalui hubungan antarmahasiswa dan percakapan sehari-hari. Para anggota tidak langsung hadir sebagai sosok yang sepenuhnya memahami arah perjuangan; mereka bergerak dari rasa ingin tahu, perbedaan pandangan, dan keresahan yang dibagikan. Dalam lingkungan yang membatasi kebebasan berbicara, keberadaan Winatra memberi mereka ruang untuk menyampaikan gagasan kepada satu sama lain. Dari ruang itulah diskusi mulai bersinggungan dengan perlawanan, sementara persahabatan dan pilihan-pilihan para tokohnya menjadi bagian penting dari kisah.

Winatra menjadi ruang penting bagi para anggotanya untuk bertukar pikiran dan membangun keberanian. Kelompok ini dipimpin Arifin Bramantyo, yang akrab dipanggil Bram, bersama Kasih Kinanti atau Kinan. Markas mereka berada di Seyegan, Yogyakarta, sebuah tempat yang tidak hanya berfungsi sebagai titik berkumpul, tetapi juga sebagai ruang belajar bersama. Di sana, anggota Winatra membaca buku, mendiskusikan gagasan, dan mencoba memahami keadaan di sekitar mereka. Kegiatan tersebut memberi mereka kesempatan untuk menguji pandangan, menyampaikan pertanyaan, serta membentuk cara berpikir yang tidak bergantung pada penjelasan resmi.

Bahan diskusi Winatra beragam, termasuk buku-buku yang dilarang beredar pada masa Orde Baru. Membaca karya-karya semacam itu berarti membuka akses pada sudut pandang yang sengaja disisihkan atau dibatasi oleh penguasa. Diskusi kemudian menjadi lebih dari sekadar membahas isi bacaan: para anggota menghubungkan gagasan di dalam buku dengan situasi politik yang mereka hadapi. Mereka berusaha mengenali bagaimana kekuasaan bekerja, mengapa ketidakadilan terjadi, dan siapa yang menanggung akibatnya. Dengan saling bertukar pemahaman, mereka dapat melihat jarak pengalaman masyarakat dan narasi pemerintah yang disebarkan kepada publik.

Di tengah pembatasan ruang bicara, kegiatan membaca dan berdiskusi juga menjadi cara untuk mencari gagasan di luar narasi resmi. Para anggota tidak menerima begitu saja informasi yang tersedia, melainkan membandingkan sumber, mempertanyakan klaim, dan merumuskan sikap. Namun, Winatra tidak berhenti pada pemahaman yang lahir dari pertemuan di markas Seyegan. Bagi mereka, menyadari adanya ketidakadilan menuntut tanggapan yang nyata. Percakapan tentang buku dan politik mengarahkan mereka untuk mempertimbangkan apa yang dapat dilakukan, lalu membawa pemikiran itu ke dalam tindakan. Dengan demikian, ruang diskusi berperan sebagai landasan bagi perlawanan: dari membaca, memahami keadaan, hingga berupaya mengubahnya.

Biru Laut adalah mahasiswa Sastra Inggris yang menjadi bagian dari Winatra, kelompok mahasiswa yang hadir dalam novel Laut Bercerita. Keterlibatannya mempertemukan dunia perkuliahan dengan ruang diskusi dan gerakan yang melampaui kegiatan akademik. Winatra tidak digambarkan sebagai kelompok dengan satu suara atau satu watak. Para anggotanya datang dari latar belakang dan memiliki karakter berbeda, sehingga kehidupan bersama mereka memuat beragam cara berpikir, sikap, serta peran. Melalui lingkaran ini, pembaca mengenal persahabatan yang bertumbuh di tengah percakapan mengenai keadaan sosial dan politik.

Di anggota Winatra terdapat Sunu Dyantoro, Alex Perazon, Daniel Tumbuan, Gusti, Naratama, Ratih Anjani, dan Julius. Ada pula Gala Prayana, yang dikenal sebagai sang penyair. Nama-nama tersebut membentuk gambaran kelompok yang terdiri atas individu-individu, bukan sekadar kerumunan tanpa wajah. Masing-masing membawa keberadaan dan sumbangannya sendiri dalam dinamika Winatra. Namun, informasi tentang mereka tidak perlu diperluas dengan dugaan mengenai sifat, hubungan pribadi, atau pembagian tugas yang tidak dinyatakan. Yang tampak adalah sebuah kelompok mahasiswa dengan pengalaman dan karakter yang beragam, bertemu dalam ruang diskusi dan menghadapi persoalan bersama.

Keberadaan Winatra juga penting karena menunjukkan bahwa percakapan dan kebersamaan dapat berhadapan dengan risiko. Ketika tekanan aparat meningkat, para anggota tidak hanya berhadapan dengan gagasan, tetapi juga dengan keputusan sulit mengenai langkah yang akan diambil. Situasi itu memberi bobot pada pilihan mereka: setiap sikap berlangsung dalam keadaan yang kian menekan, sementara konsekuensi bagi kelompok tidak dapat diabaikan. Kisah Biru Laut dan rekan-rekannya dengan demikian menyoroti dinamika sebuah komunitas yang harus merespons perubahan keadaan. Perbedaan latar belakang tidak menghapus tantangan yang mereka hadapi bersama, tetapi membuat Winatra terasa sebagai kelompok yang terdiri atas banyak suara dan pertimbangan. Dari diskusi buku hingga perlawanan, perjalanan mereka memperlihatkan bagaimana ruang intelektual dapat bersinggungan dengan tindakan, solidaritas, dan bahaya, tanpa menjadikan pengalaman tiap anggota seragam.

Konflik dalam Laut Bercerita berangkat dari penghilangan paksa aktivis menjelang Reformasi 1998. Melalui kisah para anggota kelompok Winatra, cerita menghadirkan suasana ketika menyampaikan pendapat dan menentang ketidakadilan dapat membawa risiko besar. Penangkapan terhadap para aktivis tidak hanya memutus hubungan mereka dengan dunia luar, tetapi juga menyisakan ketidakpastian yang berkepanjangan bagi orang-orang terdekat. Mereka yang ditahan kemudian menghilang, tanpa kabar yang dapat menjelaskan apa yang terjadi atau di mana keberadaan mereka.

Di tengah ketidakjelasan itu, keluarga dan sahabat para anggota Winatra berusaha mencari informasi serta menuntut kejelasan mengenai nasib orang-orang yang hilang. Pencarian tersebut menjadi bagian penting dari kisah: kehilangan tidak berhenti pada saat seseorang dibawa pergi, melainkan terus dirasakan oleh mereka yang menunggu. Harapan, kecemasan, dan kebutuhan untuk mengetahui kebenaran hidup berdampingan. Dengan demikian, cerita ini menggambarkan dampak penghilangan paksa pada lingkup pribadi sekaligus mengingatkan bahwa peristiwa politik meninggalkan jejak nyata dalam kehidupan keluarga dan komunitas.

Film panjang Laut Bercerita disutradarai Yosep Anggi Noen, yang menulis skenario bersama Leila S. Chudori, penulis novel yang menjadi sumber adaptasinya. Para anggota Winatra diperankan oleh Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama, Dewa Dayana, Ben Nugroho, Kevin Julio, Afrian Arisandy, Natalius Chendana, Nagra Kautsar, dan Aksara Dena. Kehadiran para pemeran tersebut membawa kelompok fiktif dalam cerita ke layar lebar, dengan kisah yang berakar pada pengalaman sejarah Indonesia menjelang perubahan politik 1998. Film ini juga menjadi kesempatan bagi penonton untuk mengikuti konflik melalui medium sinema, sembari memperhatikan relasi antartokoh dan keluarga yang terdampak.

Laut Bercerita pernah diadaptasi menjadi film pendek pada 2017.

Baca juga: Tiga Menko dan Sejumlah Tokoh Hadiri Peluncuran Buku Terbaru Bamsoet ke-38 dan Buku Perjalanan Panjang Bamsoet Karya Wartawan Senior J.Osdar | Bamsoet Kembali Luncurkan Buku Terbaru ke-38 “Politik Hukum Konstitusi” dan Buku J. Osdar “Dari Senayan ke Ruang Kuliah” | Lahan Dikuasai Sejak 1958 Diklaim Diamankan Pemkot, Warga Gubeng Siapkan Posko Perlawanan