Kabupaten Kuningan | Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Ciremai meninggalkan dampak nyata pada hamparan edelweis yang tumbuh di lereng gunung. Sebagian bunga yang sebelumnya menjadi bagian dari lanskap alam kini tampak hangus dan menghitam, tersapu api bersama tumbuhan lain di sekitarnya. Kerusakan ini memperlihatkan bahwa kobaran api tidak hanya membakar vegetasi liar, tetapi juga mengubah kondisi habitat tempat edelweis tumbuh. Hamparan yang terdampak menjadi gambaran langsung besarnya tekanan kebakaran terhadap ekosistem setempat.
Rekaman video yang dibagikan relawan menunjukkan bunga-bunga edelweis dalam keadaan terbakar. Batang dan bagian bunganya tampak gelap, sementara ilalang di sekelilingnya juga terlihat hangus. Pada beberapa titik, tanaman yang tidak sepenuhnya terbakar masih berdiri, tetapi kondisinya tampak layu. Paparan asap diduga membuat edelweis yang tersisa terlihat lesu, meski belum seluruhnya dilalap api. Pemandangan tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran dapat menjangkau vegetasi di luar area yang terbakar langsung, karena asap dan panas turut memengaruhi tanaman di sekitarnya.
Video relawan itu memperlihatkan kondisi di Gunung Dulang, kawasan Benteng Ciremai. Dokumentasi tersebut menjadi catatan visual tentang perubahan yang terjadi setelah kebakaran melanda area itu. Bunga-bunga yang menghitam dan ilalang yang hangus memperlihatkan luasnya kerusakan pada tutupan vegetasi, sedangkan edelweis yang masih bertahan tampak rapuh dan layu. Bagi kawasan pegunungan, kondisi semacam ini penting diperhatikan karena pemulihan tanaman dan habitat dapat berlangsung tidak seketika. Kerusakan pada hamparan edelweis juga menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan dan lahan berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan, bukan sekadar meninggalkan bekas terbakar. Rekaman tersebut menyajikan gambaran awal mengenai dampak api di Gunung Dulang, sekaligus menegaskan perlunya perhatian terhadap kondisi vegetasi setelah kobaran berhasil dikendalikan. Tanaman yang tersisa perlu dipantau untuk melihat apakah dapat pulih atau justru mengalami kerusakan lanjutan akibat panas dan asap.Darsa, ketua tim penyapu Masyarakat Peduli Api (MPA) Padabeunghar, Siliwangi Majakuning, membenarkan bahwa kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Ciremai membakar banyak tanaman edelweis. Ia menyampaikan keterangan tersebut pada Rabu, 28 Oktober. Menurut Darsa, dampak kebakaran terlihat pada hamparan edelweis yang berada di lereng utara gunung. Tanaman yang sebelumnya tumbuh di kawasan itu dilaporkan mati setelah dilalap api. Keterangan ini menggambarkan besarnya kerusakan pada vegetasi di area yang terbakar, sekaligus menunjukkan bahwa kobaran api tidak hanya mengenai semak atau tutupan lahan lain.
Darsa memperkirakan sekitar 10 hektare hamparan edelweis di lereng utara Ciremai terdampak. Luas tersebut mencakup kawasan tempat tanaman edelweis tumbuh pada ketinggian sekitar 1.200 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut. Pada rentang elevasi itu, hamparan edelweis menjadi bagian dari vegetasi khas pegunungan yang terlihat di jalur lereng. Namun, akibat kebakaran, tanaman di area terdampak mengalami kematian. Perkiraan luas yang disampaikan Darsa memberi gambaran mengenai skala kerusakan, meskipun kondisi setiap bagian kawasan dapat berbeda sesuai jalur rambatan api dan tingkat paparan panas.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kebakaran di Ciremai turut mengancam tumbuhan yang menjadi ciri lanskap pegunungan, bukan semata-mata menghanguskan permukaan lahan. Informasi dari tim penyapu MPA menjadi salah satu keterangan mengenai kondisi lapangan setelah kebakaran, khususnya pada wilayah lereng utara. Hamparan yang terdampak perlu diperhatikan dalam pemantauan kawasan, termasuk untuk mengetahui sebaran kerusakan dan kondisi vegetasi setelah api padam. Darsa menyebut tanaman edelweis di sekitar 10 hektare itu mati; karena itu, pemulihan kawasan akan berkaitan dengan tingkat kerusakan yang terjadi dan proses alami tumbuhnya kembali vegetasi di habitat tersebut. Keterangan pada Rabu, 28 Oktober itu menyoroti dampak nyata kebakaran terhadap edelweis Ciremai.
Dalam kegiatan penyisiran kawasan terdampak kebakaran, tim Darsa menemukan seekor bayi surili. Temuan tersebut muncul di tengah upaya tim menyisir area yang juga memiliki hamparan edelweis terbakar. Surili merupakan satwa endemik Jawa, sehingga keberadaan bayi satwa ini menjadi salah satu hal yang tercatat dalam kegiatan tersebut. Informasi yang tersedia menyebutkan temuan itu, tanpa menguraikan kondisi bayi surili maupun keterangan lebih lanjut mengenai keadaan satwa saat dijumpai.
Penemuan bayi surili menambah catatan tentang satwa liar yang dijumpai ketika tim menelusuri kawasan pascakebakaran. Namun, temuan itu tidak dengan sendirinya menjelaskan dampak kebakaran terhadap surili atau hubungan satwa tersebut dengan area edelweis yang terbakar. Tidak ada keterangan lebih jauh mengenai lokasi persis penemuan, kondisi lingkungan di sekitarnya, ataupun tindakan yang dilakukan tim setelah menemukan bayi surili. Karena itu, hal-hal tersebut tidak dapat dipastikan dari informasi yang disampaikan.
Kehadiran satwa endemik dalam laporan penyisiran tetap menjadi pengingat bahwa kawasan alam tidak hanya mencakup hamparan tumbuhan, tetapi juga habitat berbagai satwa. Dalam peristiwa ini, yang dapat dipastikan ialah tim Darsa menemukan bayi surili saat melakukan penyisiran dan juga menjumpai hamparan edelweis yang terbakar. Kedua hal itu menjadi bagian dari catatan di kawasan yang terdampak kebakaran, tanpa rincian tambahan mengenai keterkaitan langsung di keduanya. Informasi yang terbatas tersebut penting dipertahankan agar laporan mengenai satwa dan dampak kebakaran tetap akurat, serta tidak melampaui fakta yang telah tersedia.
Meski kebakaran menghanguskan hamparan edelweis di kawasan Gunung Ciremai, tidak seluruh tanaman mati terbakar. Sejumlah edelweis masih terlihat selamat dari kobaran api, tetapi kondisinya tidak sepenuhnya pulih. Paparan asap membuat tanaman tersebut layu, sehingga penampilannya tampak rusak meskipun bagian-bagiannya tidak dilalap api secara langsung. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak kebakaran terhadap edelweis tidak hanya berupa tanaman yang terbakar, tetapi juga gangguan akibat asap dan panas di sekitarnya. Tanaman yang masih bertahan itu tetap memiliki peluang untuk pulih, terutama jika kondisi lingkungan kembali mendukung. Pemulihan tersebut tidak dapat dipastikan berlangsung seketika, sebab edelweis perlu melewati masa terdampak kebakaran sebelum pertumbuhan baru terlihat. Namun, keberadaan tanaman yang belum musnah menjadi tanda bahwa sebagian kawasan masih menyimpan potensi untuk ditumbuhi kembali.
Darsa memperkirakan edelweis berpeluang tumbuh kembali ketika musim hujan tiba. Menurut perkiraannya, biji-biji edelweis masih tersimpan di dalam tanah dan tidak ikut terbakar, sehingga dapat menjadi sumber pertumbuhan tanaman baru. Hujan dapat mendukung proses tumbuhnya biji tersebut setelah lahan mengalami kebakaran. Selain itu, area yang kini terbuka karena vegetasi terbakar bahkan berpotensi memberi ruang bagi edelweis untuk tumbuh lebih banyak. Dengan demikian, kerusakan hamparan saat ini belum tentu berarti keberadaan edelweis di lokasi itu akan hilang untuk selamanya. Meski demikian, pertumbuhan kembali bergantung pada biji yang tetap berada di tanah serta kondisi yang memungkinkan tanaman berkembang. Perkiraan tersebut memberi gambaran tentang kemungkinan pemulihan alami, bukan kepastian bahwa seluruh area akan segera kembali seperti sebelum kebakaran. Pengamatan setelah musim hujan diperlukan untuk mengetahui perkembangan edelweis yang masih hidup maupun kemunculan tanaman baru.
Kebakaran yang berdampak pada hamparan edelweis itu melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Peristiwa tersebut menghanguskan kawasan hingga sekitar 10 hektare, sebagaimana tercermin dalam besarnya area yang terdampak. Setelah penanganan kebakaran, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa tidak ada lagi titik api yang terdeteksi. Informasi ini menandakan bahwa api tidak lagi ditemukan di kawasan yang dipantau, meskipun dampak terhadap vegetasi masih terlihat dan pemulihan alam membutuhkan waktu.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla
