Urutan Kericuhan di Malioboro Setelah Aksi Sumpah Pemuda

oleh -605 Dilihat
oleh
Urutan Kericuhan di Malioboro Setelah Aksi Sumpah Pemuda

Serang | Kericuhan di kawasan Malioboro terjadi setelah demonstrasi mahasiswa dan pemuda untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda pada Rabu, 28 Oktober 2026. Peristiwa tersebut perlu dibedakan dari jalannya aksi penyampaian aspirasi di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Menurut keterangan Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan, demonstrasi di lokasi itu berlangsung tertib dan damai. Dengan demikian, kericuhan bukan bagian dari situasi saat massa menyampaikan aspirasi, melainkan muncul sesudah kegiatan tersebut dinyatakan selesai. Urutan waktu ini menjadi pokok penting untuk memahami hubungan aksi peringatan dan peristiwa yang kemudian terjadi di Malioboro.

Ihsan menjelaskan bahwa massa aksi telah membubarkan diri sekitar pukul 17.30 WIB. Keterangan tersebut menandai berakhirnya demonstrasi di Titik Nol Kilometer, sekaligus memberikan konteks waktu sebelum kericuhan dilaporkan. Sepanjang berlangsungnya aksi, situasi disebut tetap tertib dan damai. Tidak ada keterangan dalam pernyataan itu yang menggambarkan kericuhan terjadi ketika demonstrasi masih berjalan. Karena itu, pembubaran massa menjadi batas peristiwa yang jelas: kegiatan menyampaikan aspirasi selesai terlebih dahulu, baru kemudian muncul insiden di kawasan Malioboro. Penjelasan ini membantu pembaca mengikuti rangkaian kejadian secara kronologis tanpa mencampuradukkan dua keadaan yang berbeda.

Pernyataan kepolisian tersebut juga menegaskan bahwa aksi mahasiswa dan pemuda pada Hari Sumpah Pemuda tidak serta-merta berlangsung ricuh. Demonstrasi di Titik Nol Kilometer disebut damai, sedangkan kericuhan muncul setelah para peserta membubarkan diri. Pemisahan waktu ini penting agar informasi mengenai peristiwa tidak memberi kesan bahwa kekacauan terjadi selama penyampaian aspirasi. Berdasarkan keterangan Ihsan, urutannya adalah massa menggelar aksi, kegiatan berjalan tertib, peserta membubarkan diri sekitar pukul 17.30 WIB, lalu kericuhan terjadi di Malioboro setelahnya. Dengan demikian, laporan tentang insiden perlu tetap merujuk pada urutan tersebut dan mengatribusikan penjelasan kepada Kabid Humas Polda DIY. Kronologi ini menjadi landasan untuk memahami perkembangan kejadian berikutnya secara lebih akurat.

Situasi di kawasan Malioboro berubah setelah sekelompok orang yang identitasnya belum diketahui datang dari arah barat. Pergerakan kelompok tersebut berlangsung setelah aksi Sumpah Pemuda, tetapi informasi yang tersedia belum memastikan siapa mereka maupun apakah mereka memiliki hubungan dengan demonstrasi mahasiswa sebelumnya. Karena itu, kedatangan mereka perlu dipisahkan dari kegiatan para peserta aksi yang lebih dahulu berada di kawasan tersebut. Penjelasan ini penting agar kronologi tidak mencampuradukkan dua kelompok yang belum terbukti berkaitan.

Menurut Ihsan, kelompok itu bergerak menuju Gedung DPRD DIY dan Jalan Perwakilan. Ia menyebut mereka langsung menuju gedung DPRD tanpa terlebih dahulu menyampaikan orasi. Keterangan tersebut menggambarkan perubahan suasana di sekitar Malioboro: setelah kedatangan kelompok itu, perhatian tertuju pada pergerakan mereka ke arah gedung pemerintahan dan ruas jalan di sekitarnya. Namun, berdasarkan informasi yang disampaikan, belum ada keterangan yang cukup untuk memastikan tujuan kedatangan mereka atau menjelaskan alasan mereka memilih rute tersebut.

Rincian mengenai jumlah orang, identitas, maupun koordinasi kelompok itu juga tidak dapat dipastikan dari keterangan yang tersedia. Dengan demikian, laporan mengenai gerak mereka sebaiknya disampaikan secara terbatas pada urutan yang diketahui: kelompok datang dari arah barat, bergerak menuju Gedung DPRD DIY serta Jalan Perwakilan, dan menurut Ihsan tidak mengawali kedatangan dengan orasi. Belum ada dasar untuk menyebut mereka sebagai peserta demonstrasi mahasiswa, ataupun menyimpulkan adanya hubungan langsung dengan aksi Sumpah Pemuda. Pembedaan ini menjaga pemberitaan tetap akurat, sekaligus memberi ruang bagi informasi tambahan yang dapat mengklarifikasi situasi di lapangan. Perubahan kondisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian peristiwa setelah aksi, tetapi kronologi yang ada tidak dengan sendirinya menjelaskan siapa yang memulai kericuhan atau bagaimana setiap pihak terlibat. Sampai identitas dan keterkaitan mereka terverifikasi, kelompok itu paling tepat disebut sebagai sekelompok orang yang belum diketahui identitasnya. Penyebutan yang hati-hati membantu pembaca memahami perpindahan arah tanpa menambahkan dugaan yang tidak didukung keterangan.Ketegangan di sekitar gedung DPRD dilaporkan meningkat ketika sekelompok orang diduga mulai memprovokasi suasana dengan melempar petasan, kembang api, dan batu. Lemparan tersebut diarahkan ke petugas parkir serta personel kepolisian yang berjaga di sekitar gedung. Situasi yang semula berlangsung di area sekitar lokasi aksi pun menjadi semakin tidak terkendali. Suara petasan dan kembang api terdengar di tengah kerumunan, sementara batu yang dilempar menambah risiko bagi orang-orang yang berada di dekatnya. Peristiwa itu menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian kericuhan di Malioboro setelah aksi Sumpah Pemuda.

Melihat keributan tersebut, sejumlah personel yang berada di dalam atau dekat gedung sempat keluar untuk berupaya melerai. Kehadiran petugas dimaksudkan untuk menghentikan bentrokan dan meredakan keadaan, termasuk mencegah lemparan meluas ke area lain. Namun, upaya itu tidak serta-merta membuat situasi kembali tenang. Menurut keterangan Ihsan, kelompok tersebut kembali melempar batu, petasan, dan kembang api ke arah petugas. Ia juga menyebut sejumlah barang di sekitar lokasi dibakar, sehingga suasana semakin tegang dan berisiko bagi warga maupun petugas yang berada di sekitar gedung.

Dalam kondisi tersebut, personel kepolisian menghadapi perlawanan saat mencoba menangani keributan. Setelah lemparan kembali terjadi dan keadaan dinilai semakin sulit dikendalikan, polisi kemudian mundur ke dalam gedung. Langkah itu berlangsung setelah para personel sempat keluar untuk melerai, tetapi menghadapi serangan lanjutan dari kelompok tersebut. Rangkaian kejadian ini menunjukkan bagaimana gangguan berupa lemparan benda dan pembakaran barang dapat memperburuk situasi di sekitar lokasi aksi. Keterangan mengenai peristiwa tersebut disampaikan sebagai bagian dari laporan tentang kericuhan, dengan atribusi kepada Ihsan untuk uraian mengenai lemparan berulang dan barang-barang yang dibakar. Pada saat yang sama, keberadaan petugas parkir dan personel yang berjaga menempatkan mereka di tengah situasi yang berkembang cepat.Setelah demonstrasi Sumpah Pemuda berakhir, aparat kepolisian dikerahkan untuk mengendalikan keadaan di sekitar Malioboro. Polisi berupaya mendorong kelompok yang terlibat menjauh dari koridor tersebut. Pergerakan itu berlanjut dari kawasan Malioboro menuju arah Tugu Jogja. Langkah aparat tersebut merupakan respons terhadap situasi yang berkembang setelah aksi demonstrasi selesai, ketika kericuhan terjadi dan kelompok itu bergerak di area pusat kota.

Dalam penanganan di lapangan, polisi berusaha memukul mundur kelompok tersebut agar tidak terus berada di koridor Malioboro. Arah pergerakan yang disampaikan dalam keterangan adalah dari kawasan Malioboro hingga menuju Tugu Jogja. Uraian ini menjelaskan tindakan aparat dan jalur kelompok yang didorong menjauh; uraian tersebut tidak dengan sendirinya memastikan siapa yang memulai kericuhan atau apa motif setiap orang yang berada di lokasi.

Di sisi lain, Polda DIY menyampaikan dugaan bahwa kelompok itu memanfaatkan situasi setelah demonstrasi berakhir untuk memicu kerusuhan. Pernyataan tersebut perlu dipahami sebagai dugaan kepolisian, bukan sebagai fakta yang telah dipastikan. Ihsan juga menyebut kemungkinan adanya pihak yang menyusup di tengah massa mahasiswa. Ia tidak menyatakan bahwa penyusupan tersebut telah terbukti, sehingga kemungkinan itu tetap perlu dibedakan dari peristiwa yang secara langsung dijelaskan.

Ihsan turut menggambarkan bahwa sebagian besar kelompok yang terlibat datang secara tiba-tiba dari arah barat dan langsung menuju Gedung DPRD DIY. Keterangan mengenai kedatangan dari arah barat dan tujuan menuju gedung tersebut merupakan penjelasan Ihsan tentang pergerakan kelompok. Hal itu berbeda dari dugaan Polda DIY mengenai pemanfaatan situasi pascademonstrasi, serta berbeda pula dari kemungkinan penyusupan yang ia sebutkan.