Emas Bertahan di Atas US$3.970, Keputusan The Fed Jadi Penentu Arah

oleh -123 Dilihat
oleh
Emas Bertahan di Atas US$3.970, Keputusan The Fed Jadi Penentu Arah

Jakarta | Harga emas dunia kembali menguat tipis pada Senin, 26 Oktober 2026, mencapai US.999,16 per troy ons atau naik 0,1%, menurut data Refinitiv. Kenaikan terbatas ini menjadi jeda setelah tekanan jual yang kuat pada pekan sebelumnya. Meski bergerak naik, harga masih berada sedikit di bawah ambang psikologis US.000 per troy ons, level yang kini menjadi perhatian pelaku pasar. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa minat beli mulai muncul, tetapi belum cukup kuat untuk menghapus kerugian yang baru terjadi. Investor masih menilai apakah penguatan harian itu menandai awal pemulihan atau sekadar pantulan sementara di tengah ketidakpastian pasar global.

Pada Jumat, 23 Oktober, harga emas turun 0,7% menjadi US$3.995,52 per troy ons. Posisi tersebut merupakan tingkat terendah sejak 16 Juli 2026. Dalam hitungan mingguan, logam mulia ini merosot 4,1%, mencerminkan koreksi tajam setelah periode perdagangan sebelumnya. Penurunan itu membawa harga ke bawah US$4.000 dan mengubah fokus pasar dari reli menuju ketahanan harga. Tekanan tersebut juga membuat sebagian investor lebih berhati-hati dalam menambah eksposur, sembari menunggu petunjuk baru mengenai arah suku bunga dan kondisi ekonomi. Dengan latar tersebut, kenaikan tipis pada awal pekan belum dapat dipandang sebagai pembalikan tren yang pasti.

Level US$4.000 kini berfungsi sebagai batas penting dalam membaca arah jangka pendek. Jika emas mampu bertahan dan kembali diperdagangkan di atasnya, pasar dapat menilai bahwa tekanan jual mulai mereda. Sebaliknya, kegagalan menembus atau mempertahankan level itu berpotensi menjaga sentimen tetap rapuh dan membuka ruang bagi pelemahan lanjutan. Perhatian investor tertuju pada keputusan The Fed, karena kebijakan bank sentral Amerika Serikat dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga, nilai dolar, serta daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil. Karena itu, pelaku pasar kemungkinan akan mencermati sinyal kebijakan dan data ekonomi sebelum mengambil posisi lebih tegas. Untuk saat ini, pemulihan harga masih terbatas, sementara penurunan pekan lalu menjadi pengingat bahwa volatilitas tetap tinggi.

Keputusan kebijakan Federal Reserve (The Fed) menjadi salah satu perhatian utama pasar pada pekan ini karena dapat memengaruhi arah dolar AS dan harga emas. Bank sentral Amerika Serikat dijadwalkan mengumumkan keputusan pada Rabu waktu setempat, atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Selain keputusan suku bunga, investor akan mencermati pernyataan pejabat dan petunjuk mengenai langkah kebijakan berikutnya untuk menilai apakah kondisi moneter akan tetap ketat atau mulai lebih longgar.

Sinyal kebijakan yang lebih ketat berpotensi menopang dolar AS, terutama jika pasar menilai suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. Kondisi tersebut dapat membebani emas, yang tidak memberikan bunga atau imbal hasil rutin, karena aset berbasis dolar menjadi relatif lebih menarik. Penguatan dolar juga dapat membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan berisiko melemah. Sebaliknya, sinyal pelonggaran dapat mengurangi daya tarik dolar dan menurunkan biaya peluang memegang emas. Perubahan ekspektasi itu dapat membuka ruang bagi pemulihan harga, meskipun respons pasar tetap bergantung pada isi keputusan dan pernyataan The Fed.

Perhatian investor tidak hanya tertuju pada bank sentral AS. Pasar juga menanti keputusan Bank of Japan, European Central Bank, Bank of Canada, dan Reserve Bank of New Zealand. Perbedaan arah kebijakan di bank-bank tersebut dapat mengubah pergerakan mata uang utama dan memengaruhi permintaan terhadap aset lindung nilai. Karena itu, pelaku pasar akan membandingkan sinyal masing-masing bank sentral, bukan hanya melihat keputusan secara terpisah.

Pada saat bersamaan, laporan keuangan perusahaan teknologi besar turut menjadi faktor yang dapat memengaruhi sentimen. Hasil atau prospek bisnis yang mengecewakan berpotensi memicu gejolak di pasar saham dan mendorong sebagian investor mencari perlindungan melalui emas. Namun, peningkatan ketidakpastian tidak selalu mengangkat harga logam mulia. Jika tekanan pasar menimbulkan kebutuhan likuiditas, investor dapat menjual emas untuk menutup kerugian atau memenuhi kewajiban lainnya. Dengan demikian, arah emas pekan ini akan dipengaruhi oleh gabungan sinyal bank sentral, pergerakan dolar, dan kebutuhan likuiditas pasar.

Ole Hansen dari Saxo Bank melihat pasar emas berada dalam tarik-menarik spekulan jangka pendek yang melepas posisi dan investor jangka panjang yang tetap mempertahankan kepemilikan. Perbedaan horizon tersebut membantu menjelaskan mengapa harga dapat tertekan tanpa serta-merta menghapus dukungan struktural. Hansen menyoroti US$3.970 per troy ons sebagai area support berikutnya yang perlu diperhatikan. Jika harga bertahan di sekitar level itu, tekanan jual mungkin mereda, meski pergerakan berikutnya tetap bergantung pada kondisi pasar dan respons pelaku investasi.

Hansen juga mencermati bahwa posisi jual spekulatif telah mendekati tingkat ekstrem. Kondisi tersebut dapat membuka ruang bagi pemulihan apabila indikator teknikal mulai membaik, karena sebagian tekanan dari penjualan mungkin sudah tercermin dalam harga. Namun, potensi rebound belum menjadi kepastian. Menurut ambang yang ia pantau, emas perlu kembali menembus US$4.230 untuk memperkuat sinyal bahwa fase koreksi telah berakhir. Karena itu, investor perlu membedakan pantulan sementara dari perubahan arah yang lebih meyakinkan, dengan menilai pergerakan harga bersama indikator teknikal dan dinamika posisi.

Neil Welsh dari Britannia Global Markets menilai pelemahan saat ini lebih mencerminkan perubahan momentum daripada hilangnya seluruh fondasi fundamental jangka panjang emas. Pandangan ini menunjukkan bahwa tekanan dalam jangka pendek tidak otomatis meniadakan alasan investor menyimpan logam mulia. Sementara itu, Simon-Peter Massabni dari XS.com menekankan pentingnya stabilitas di Timur Tengah agar tekanan dapat mereda secara berkelanjutan. Ketegangan yang berkepanjangan berisiko memicu lonjakan harga energi dan mengganggu pasokan, sehingga turut memengaruhi sentimen pasar. Hansen memperkirakan pemulihan yang lebih berkelanjutan mungkin menunggu berakhirnya kontrak berjangka emas Desember pada akhir November. Setelah masa tersebut, tekanan akibat penyesuaian posisi dan kondisi likuiditas diperkirakan mereda, meski arah harga tetap dipengaruhi perkembangan teknikal dan geopolitik.

Menjelang akhir tahun, emas masih memiliki sejumlah penopang struktural meskipun pergerakan jangka pendeknya rentan terhadap perubahan ekspektasi suku bunga. Hansen menilai logam mulia tetap relevan sebagai instrumen diversifikasi portofolio dan perlindungan terhadap risiko fiskal maupun geopolitik. Ketidakpastian mengenai kondisi keuangan pemerintah dan dinamika global dapat mendorong investor mempertahankan aset yang tidak bergantung pada kewajiban penerbit tertentu. Namun, alasan tersebut lebih menggambarkan daya tarik emas dalam jangka panjang, bukan kepastian bahwa harga akan segera berbalik naik.

Pembelian bank sentral menjadi salah satu cerminan permintaan tersebut. Hingga Agustus, Polandia menambah 97,8 ton emas, sehingga total cadangannya mencapai 647,98 ton. Pada periode yang sama, China menambah 80,2 ton dan kepemilikannya tercatat sebesar 2.386,55 ton. Akumulasi oleh otoritas moneter dapat memperkuat dukungan terhadap permintaan emas, terutama ketika negara berupaya mendiversifikasi cadangan devisa. Meski demikian, angka pembelian itu tidak menjamin harga langsung pulih. Arus transaksi jangka pendek, kebijakan moneter, serta perubahan nilai dolar tetap dapat mengalahkan dukungan fundamental untuk sementara.

Penguatan dolar AS membuat emas yang dihargakan dalam mata uang tersebut lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Pada saat bersamaan, kenaikan imbal hasil riil meningkatkan daya tarik aset berbunga dan berpotensi memicu tekanan jual pada emas. Karena itu, level teknikal tetap penting untuk memantau perubahan keseimbangan pasar.

Baca juga: Ramalan Asmara Zodiak Scorpio Sabtu, 5 September 2026: Jangan Terburu Ambil Keputusan