Tarik Tombur Toba Hadirkan Lomba Memancing dan Budaya di Parapat

oleh -785 Dilihat
oleh
Tarik Tombur Toba Hadirkan Lomba Memancing dan Budaya di Parapat

Kabupaten Simalungun. Disebutkan | Anggota Komisi VII DPR RI Bane Raja Manalu menyebut penyelenggaraan Tarik Tombur Toba berangkat dari aspirasi masyarakat yang menginginkan pariwisata Sumatera Utara kembali bergeliat. Kegiatan tersebut dirancang sebagai salah satu upaya merespons harapan warga sekaligus mendorong aktivitas pariwisata di kawasan Danau Toba. Menurut Bane, keinginan masyarakat itu perlu didengar dan ditindaklanjuti melalui kegiatan yang dapat menghadirkan aktivitas bagi pengunjung serta memberi ruang bagi potensi setempat. Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa acara ini tidak semata disiapkan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai tanggapan terhadap harapan masyarakat mengenai perkembangan sektor wisata. Bagi warga, kegiatan yang berlangsung di daerah mereka dapat menjadi kesempatan untuk menyambut pengunjung dan memperkenalkan suasana setempat kepada lebih banyak orang.

Bane mengatakan bahwa ia mendengar aspirasi tersebut ketika berkeliling di kawasan Danau Toba. Dalam perjalanannya, ia menyerap pandangan warga mengenai kondisi pariwisata dan harapan agar kawasan yang selama ini dikenal sebagai tujuan wisata dapat kembali ramai. Aspirasi itu menjadi salah satu pertimbangan dalam menghadirkan Tarik Tombur Toba. Dengan membawa kegiatan ke Parapat, acara ini diharapkan menarik perhatian masyarakat dan wisatawan, sekaligus memberi alasan untuk berkunjung ke kawasan tersebut. Bane menilai penyelenggaraan kegiatan seperti ini dapat membantu menghidupkan pariwisata dengan menghadirkan aktivitas yang mempertemukan pengunjung dengan lingkungan lokal. Dorongan tersebut juga memperlihatkan pentingnya mendengarkan suara warga dalam merancang kegiatan di daerah tujuan wisata, sehingga upaya pengembangan pariwisata dapat sejalan dengan harapan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Tarik Tombur Toba berlangsung pada Sabtu di Pantai Atsari, Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Pemilihan lokasi ini menempatkan kegiatan di salah satu kawasan yang dikenal sebagai bagian dari lingkungan wisata Danau Toba. Bagi Bane, penyelenggaraan acara di Parapat merupakan bentuk respons terhadap aspirasi yang ia dengar, sekaligus langkah untuk menghadirkan aktivitas di kawasan tersebut. Harapannya, kegiatan ini dapat mendorong kembali perhatian terhadap pariwisata Sumatera Utara dan membuka ruang bagi warga maupun pengunjung untuk terlibat. Kehadiran acara di tengah masyarakat menjadi salah satu cara untuk menjaga kawasan wisata tetap memiliki kegiatan yang menarik. Dengan demikian, Tarik Tombur Toba tidak hanya membawa agenda acara ke Pantai Atsari, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa pemulihan pariwisata perlu memperhatikan aspirasi warga dan melibatkan daerah tujuan wisata secara langsung.

Kegiatan Tarik Tombur Toba di Parapat dimulai pada pagi hari dengan pentas tari Tor-tor. Gerak tari tradisional tersebut membuka rangkaian acara sekaligus menghadirkan suasana budaya Batak di tepi Danau Toba. Penampilan ini menjadi pengantar bagi peserta dan pengunjung sebelum kegiatan berlanjut ke perlombaan utama. Setelah pembukaan, perhatian beralih ke lomba memancing yang digelar di danau. Perpaduan pertunjukan seni dan kegiatan luar ruang membuat acara tidak hanya berfokus pada kompetisi, tetapi juga memberi ruang bagi pengunjung untuk mengenal kesenian setempat. Sejak awal, rangkaian kegiatan dirancang agar budaya, kuliner, dan kebersamaan menjadi bagian dari pengalaman di Parapat.

Lomba memancing diikuti ratusan pemancing yang datang dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Mereka mengikuti perlombaan di perairan Danau Toba, dengan hasil tangkapan menjadi bagian penting dari kegiatan berikutnya. Partisipasi dari berbagai daerah menunjukkan luasnya minat terhadap acara ini sekaligus mempertemukan pemancing dalam suasana kompetisi. Seusai perlombaan, ikan hasil tangkapan dimanfaatkan dalam lomba membuat sambal tombur. Dengan begitu, kegiatan memancing terhubung langsung dengan kuliner khas yang menjadi salah satu daya tarik Tarik Tombur Toba. Rangkaian tersebut juga memberi gambaran tentang pemanfaatan hasil danau sebagai bahan sajian, sembari mengangkat tradisi kuliner yang lekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Lomba membuat sambal tombur diikuti 30 kelompok dari berbagai kecamatan di Kabupaten Simalungun. Para peserta mengolah sajian dengan bahan utama ikan hasil tangkapan, sementara suasana perlombaan memberi kesempatan untuk menampilkan cara dan racikan masing-masing. Setelah sambal disajikan, peserta maupun pengunjung dapat mencicipinya bersama-sama. Pengalaman kuliner itu ditemani alunan jazz gondang di tepi danau, yang memadukan unsur musik modern dengan tradisi lokal. Suasana tersebut melengkapi rangkaian acara sejak pagi, dari tari Tor-tor hingga memancing dan memasak. Melalui perpaduan lomba, makanan, dan kesenian, kegiatan ini menghadirkan ruang pertemuan bagi masyarakat dan pengunjung untuk menikmati budaya serta kebersamaan di kawasan Parapat.

Bane Raja Manalu, pemrakarsa Tarik Tombur Toba, menyampaikan harapan agar sambal tombur semakin dikenal, termasuk hingga tingkat nasional. Harapan tersebut menempatkan kuliner ini sebagai salah satu hal yang ingin diperkenalkan melalui kegiatan yang membawa nama Tarik Tombur Toba. Bane berharap masyarakat di berbagai daerah dapat mengenal sambal tombur, bukan hanya orang-orang yang telah akrab dengan sajian tersebut. Pengenalan yang lebih luas menjadi tujuan yang ia sampaikan terkait keberadaan kuliner ini.

Dalam konteks kegiatan Tarik Tombur Toba, sambal tombur hadir sebagai bagian dari unsur budaya yang mendapat perhatian. Nama kegiatan itu merujuk pada tombur, sementara harapan Bane menegaskan bahwa sajian tersebut diharapkan memiliki jangkauan pengenalan yang lebih luas. Meski demikian, pernyataan yang disampaikan berfokus pada harapan agar sambal tombur dikenal secara nasional. Hal itu tidak dengan sendirinya memastikan bagaimana pengenalan tersebut akan berlangsung ataupun apa hasil yang akan dicapai.

Sebagai pemrakarsa, Bane Raja Manalu mengaitkan Tarik Tombur Toba dengan keinginan untuk membawa sambal tombur ke perhatian khalayak yang lebih luas. Ia berharap kuliner ini dapat dikenal di tingkat nasional, sehingga masyarakat di luar lingkungan yang sudah mengenalnya juga memperoleh kesempatan untuk mengetahui keberadaannya. Harapan tersebut menjadi pesan yang disampaikan Bane mengenai sambal tombur dalam kegiatan ini. Tanpa menambahkan klaim mengenai dampak atau rencana lanjutan, inti pesannya sederhana: sambal tombur diharapkan semakin dikenal, dengan cakupan pengenalan hingga tingkat nasional.

Dalam kegiatan Tarik Tombur Toba di Parapat, Bane mengajak seluruh peserta lomba memancing dan masyarakat yang hadir untuk turut menjaga kelestarian alam serta budaya Danau Toba dan Sumatera Utara. Menurutnya, tanggung jawab merawat kawasan ini tidak hanya berada di tangan pemerintah atau penyelenggara, tetapi juga menjadi bagian dari peran setiap orang yang menikmati keindahan dan manfaatnya. Ajakan tersebut menjadi pengingat bahwa kegiatan wisata dan perlombaan dapat berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan, tradisi, serta kehidupan masyarakat setempat.

Bane menyebut Danau Toba sebagai warisan sejarah yang sekaligus menjadi masa depan bagi generasi berikutnya. Karena itu, pemanfaatan sumber daya alam perlu dilakukan secara bijaksana: mengambil secukupnya, lalu memelihara lingkungan agar tetap lestari. Sikap tersebut penting untuk menjaga kualitas danau, kawasan sekitarnya, serta kekayaan budaya yang tumbuh di Sumatera Utara. Kepedulian bersama, mulai dari menjaga kebersihan hingga menghormati adat dan tradisi, dapat membantu memastikan bahwa generasi mendatang tetap memiliki kesempatan untuk mengenal dan menikmati warisan tersebut.

Pelaksanaan kegiatan ini mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata, InJourney, Kementerian Ekonomi Kreatif, Marcopolo, Anker Pilsener, PTPN IV, Cari Kawan, BK Polos, dan Marabit. Kehadiran berbagai pihak menunjukkan adanya ruang kolaborasi untuk mendorong pariwisata dan kegiatan kreatif yang tetap memperhatikan kelestarian alam serta budaya lokal. Sejumlah pegiat pariwisata dan ekonomi kreatif turut hadir bersama kelompok seni budaya Satahi, Happy Tambunan, Pondok Kreatif Parapat, Siou, dan Guido Punxgoaran. Keterlibatan komunitas tersebut turut memperkaya suasana acara sekaligus menegaskan pentingnya memberi ruang bagi pelaku lokal.

Baca juga: Kodim 1710/Mimika Gelar Bazar HUT TNI, Hadirkan Sembako Murah | Bamsoet Apresiasi Nikah Massal Bersama Perkumpulan Bumi Alumni UNPAD, Hadirkan Kepedulian Sosial dan Gerakkan Ekonomi Alumni | TNI Fair 2026, Stand Pusterad Dipadati Ribuan Pengunjung Hadirkan Edukasi dan Beragam Inovasi