Kabupaten Intan Jaya | Pesawat Caravan PK-LTF milik Asian One Air tergelincir saat mendarat di Bandara Bilorai, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, pada Sabtu (24/10) pagi. Insiden tersebut menyebabkan dua personel TNI yang berada di dalam pesawat mengalami luka-luka. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, sementara pesawat dilaporkan mengalami kerusakan.
Kejadian berlangsung ketika pesawat menyelesaikan proses pendaratan di bandara yang berada di wilayah Kabupaten Intan Jaya tersebut. Setelah keluar dari landasan, pesawat mengalami kerusakan akibat insiden. Informasi awal mengenai peristiwa ini menyebutkan adanya dua anggota TNI yang terluka, tetapi tidak menyatakan adanya korban meninggal dunia.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena melibatkan pesawat yang beroperasi di kawasan Papua Tengah dan terjadi di Bandara Bilorai, salah satu akses transportasi udara bagi wilayah Sugapa. Pesawat jenis Caravan itu diketahui memiliki nomor registrasi PK-LTF dan dioperasikan oleh Asian One Air. Hingga informasi mengenai insiden ini disampaikan, rincian lebih lanjut mengenai kondisi pesawat maupun penyebab pesawat tergelincir belum dijelaskan.
Fokus awal penanganan mencakup kondisi dua personel TNI yang terluka serta dampak kerusakan pada pesawat. Belum ada keterangan dalam informasi awal yang merinci tingkat luka, identitas para personel, atau apakah mereka memerlukan perawatan lanjutan. Demikian pula, belum tersedia penjelasan mengenai kondisi landasan saat kejadian dan langkah pemeriksaan yang akan dilakukan terhadap pesawat.
Insiden pendaratan ini menegaskan pentingnya memperoleh informasi terverifikasi sebelum menarik kesimpulan tentang penyebab kejadian. Pesawat yang keluar dari landasan dapat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, tetapi penyebab spesifiknya tidak dapat dipastikan hanya dari laporan awal. Perkembangan mengenai kondisi korban, tingkat kerusakan, dan hasil pemeriksaan diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kejadian di Bandara Bilorai tersebut.
Pesawat Asian One Air yang keluar landasan di Intan Jaya membawa sepuluh orang, terdiri atas dua awak penerbang dan delapan penumpang. Pesawat dipiloti Captain Riza, dengan Captain Andi bertugas sebagai kopilot. Delapan penumpang tersebut berasal dari unsur TNI, kepolisian, dan masyarakat sipil. Rincian ini menunjukkan bahwa sebagian besar orang di dalam pesawat merupakan penumpang, sementara dua orang lainnya bertanggung jawab mengoperasikan penerbangan. Informasi mengenai jumlah dan komposisi orang di dalam pesawat penting untuk memahami cakupan insiden serta mengetahui kondisi setiap penumpang setelah pesawat keluar dari landasan.
Dari delapan penumpang, tiga orang merupakan anggota Koramil 1718/Sugapa dan satu orang adalah anggota Polres Intan Jaya. Empat penumpang lainnya merupakan warga sipil. Dua anggota TNI dilaporkan mengalami luka, yakni Serka Matheus dan Koptu Johar. Serka Matheus mengalami luka di bagian pinggang, sedangkan Koptu Johar terluka di bagian kepala. Keterangan mengenai lokasi luka tersebut membedakan kondisi kedua korban, tanpa mengubah fakta bahwa keduanya merupakan personel TNI yang berada dalam pesawat sebagai penumpang. Tidak ada laporan dalam informasi yang disampaikan mengenai korban luka lain di penumpang.
Enam penumpang lainnya dilaporkan selamat. Dengan demikian, dari total delapan penumpang, dua orang mengalami luka dan enam orang tidak mengalami luka yang dilaporkan. Jumlah tersebut tidak termasuk Captain Riza dan Captain Andi, yang merupakan awak pesawat. Rincian keselamatan awak penerbang tidak disebutkan dalam keterangan mengenai kondisi penumpang, sehingga tidak dapat disamakan dengan informasi bahwa enam penumpang selamat. Data yang tersedia secara khusus mengidentifikasi dua korban, menyebut bagian tubuh yang terluka, serta mencatat bahwa penumpang lain selamat. Penyebutan komposisi penumpang juga memperjelas bahwa mereka berasal dari satuan TNI, kepolisian, dan kalangan sipil, tanpa memberikan keterangan tambahan mengenai identitas empat warga sipil tersebut.
Pesawat Asian One Air dilaporkan mendarat di Intan Jaya sekitar pukul 08.30 WIT. Informasi mengenai kejadian setelah pesawat menyentuh landasan masih berupa keterangan awal yang dihimpun dari pihak-pihak terkait. Karena itu, urutan peristiwa tersebut perlu dipahami sebagai gambaran sementara, bukan kesimpulan akhir mengenai penyebab pesawat keluar dari jalur pendaratan.
Berdasarkan keterangan awal, pilot mengaku tidak menyangka ban pesawat terlepas ketika pesawat menyentuh landasan. Pada saat yang hampir bersamaan, sejumlah penumpang disebut merasakan bunyi serta hentakan yang berasal dari bagian bawah pesawat. Pengalaman para penumpang itu menjadi bagian dari informasi awal tentang situasi di dalam kabin saat pendaratan berlangsung. Namun, belum ada keterangan yang memastikan secara teknis kapan ban terlepas atau apa yang menyebabkan peristiwa tersebut.
Setelah merasakan adanya kondisi yang tidak biasa, pilot kemudian membelokkan pesawat ke arah kiri. Pesawat tidak tetap berada pada jalur pendaratan, melainkan bergerak keluar dari jalur tersebut dan masuk ke area rawa-rawa di sisi landasan. Rangkaian ini menggambarkan bagaimana pesawat berakhir di luar area pendaratan setelah mendarat pada pagi hari. Meski begitu, keterangan awal yang tersedia belum cukup untuk menetapkan apakah bunyi, hentakan, atau kondisi ban secara langsung menjadi pemicu manuver tersebut.
Kronologi sementara ini perlu dibedakan dari hasil pemeriksaan resmi. Keterangan pilot dan penumpang dapat membantu menjelaskan apa yang mereka amati atau rasakan, tetapi penentuan penyebab kecelakaan membutuhkan verifikasi lebih lanjut. Pemeriksaan terhadap kondisi pesawat, ban, landasan, serta data penerbangan dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai kejadian. Sampai proses itu menghasilkan kesimpulan, tidak tepat untuk menyatakan satu faktor tertentu sebagai penyebab yang telah dipastikan.
Dengan demikian, informasi yang dapat disampaikan pada tahap awal adalah waktu pendaratan sekitar pukul 08.30 WIT, adanya pengakuan pilot mengenai ban yang terlepas saat menyentuh landasan, bunyi dan hentakan yang dirasakan sejumlah penumpang, serta pesawat yang dibelokkan ke kiri hingga keluar jalur dan masuk ke rawa di sisi landasan. Rincian tersebut masih menunggu pencocokan dengan hasil pemeriksaan dan keterangan lanjutan dari pihak berwenang.
Usai pesawat Asian One Air keluar landasan di Intan Jaya, Polres Intan Jaya melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan area di sekitar lokasi. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kondisi tempat kejadian tetap terkendali sekaligus mendukung proses pengumpulan informasi. Polisi juga membatasi aktivitas yang berpotensi mengganggu pemeriksaan, sehingga petugas dapat mencatat keadaan lapangan dan menelusuri berbagai petunjuk yang relevan. Pengamanan lokasi menjadi bagian awal penanganan sebelum penyebab kejadian dapat ditentukan melalui pemeriksaan lebih lanjut.
Kapolres Intan Jaya Kompol Sofian Corneles A. Samakori menyampaikan bahwa penyelidikan masih berjalan. Polisi mendalami keterangan saksi dan menghimpun informasi awal mengenai kondisi pesawat sebelum maupun setelah keluar landasan. Keterangan dari orang-orang yang mengetahui kejadian diperlukan untuk menyusun kronologi, sedangkan pemeriksaan lokasi diharapkan membantu memberikan gambaran mengenai situasi saat insiden terjadi. Informasi yang terkumpul akan ditelaah dan dicocokkan agar kesimpulan penyelidikan didasarkan pada data yang dapat diverifikasi, bukan dugaan awal semata.
Salah satu informasi yang turut diperiksa adalah kabar mengenai ban pesawat yang disebut terlepas. Namun, kabar tersebut masih menjadi bagian dari bahan penyelidikan dan belum dapat dianggap sebagai penjelasan pasti atas insiden. Polisi perlu memastikan kondisi pesawat serta menilai keterangan dan petunjuk yang tersedia sebelum menyimpulkan rangkaian peristiwa. Hingga penyelidikan selesai, penyebab pesawat tergelincir belum dipastikan. Kepolisian masih mengumpulkan dan memeriksa informasi terkait, sementara lokasi telah diamankan untuk mendukung kepentingan pemeriksaan. Dengan demikian, dugaan mengenai faktor teknis maupun kondisi lain belum dapat ditegaskan dan tetap menunggu hasil pendalaman petugas.
Baca juga: Jamin Keselamatan Personel, Tim Kesehatan Latgabma SGS 2026 Gelar Medical Exchange Method | Sinergi Bersama Hadapi Potensi Bencana, Personel Kodim Bojonegoro Segarkan Kemampuan Jinakkan Api | Perkuat Kesiapsiagaan Dalam Menangani Karhutla, Personel Lanud Sjamsudin Noor Asah Kemampuan Operasikan Kendaraan Pemadam Kebakaran
