Munafri Arifuddin Jadi Calon Tunggal Ketua Demokrat Sulsel, Keputusan Akhir di DPP

oleh -133 Dilihat
oleh
Munafri Arifuddin Jadi Calon Tunggal Ketua Demokrat Sulsel, Keputusan Akhir di DPP

Kota Makassar | Perkembangan utama dalam Musyawarah Daerah (Musda) V Partai Demokrat Sulawesi Selatan mengarah pada peluang Munafri Arifuddin untuk memimpin DPD I Demokrat Sulsel. Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), memberi sinyal positif mengenai peluang tersebut saat menyampaikan sambutan melalui konferensi video. Sambutan itu disampaikan dalam pembukaan Musda di Makassar pada Jumat malam. Meski demikian, sinyal dari AHY belum berarti penetapan ketua telah diputuskan. Keputusan akhir mengenai kepemimpinan partai di tingkat provinsi tetap berada di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat.

Munafri menjadi satu-satunya bakal calon yang mengembalikan formulir pencalonan, meskipun sebelumnya terdapat sejumlah pendaftar. Situasi ini menjadikannya figur yang menonjol dalam proses pemilihan Ketua DPD I Demokrat Sulsel. Dalam sambutannya, AHY menyapa Munafri dengan nama yang lebih akrab, Appi. Ia mengatakan telah mengenal Munafri cukup lama dan menyinggung bahwa kini warna baju Munafri adalah biru, warna yang identik dengan Partai Demokrat. Sapaan itu memperlihatkan kedekatan personal yang disampaikan AHY di hadapan peserta Musda, sekaligus menjadi bagian dari pesan politik dalam pembukaan forum.

Pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai dukungan atau isyarat atas peluang Munafri, tetapi proses organisasi belum berakhir. Musda menjadi forum penting bagi kader Demokrat Sulsel untuk membahas kepemimpinan dan arah organisasi, sementara penentuan resmi masih menunggu keputusan DPP. Karena itu, status Munafri sebagai calon tunggal yang mengembalikan formulir tidak dengan sendirinya menjadikannya ketua terpilih. Sinyal yang disampaikan AHY memberi gambaran mengenai perkembangan pencalonan, namun belum menggantikan mekanisme dan kewenangan partai dalam menetapkan hasil akhir. Perhatian kini tertuju pada tahapan setelah Musda dan keputusan DPP mengenai siapa yang akan memimpin Demokrat Sulawesi Selatan.Mekanisme Musyawarah Daerah (Musda) Demokrat Sulawesi Selatan kali ini berbeda dari pelaksanaan sebelumnya. Forum tidak memilih ketua secara langsung melalui pemungutan suara untuk menentukan pemenang. Sebaliknya, para pemilik suara hanya mengusulkan nama bakal calon yang dinilai memenuhi persyaratan untuk memimpin partai di tingkat provinsi. Karena itu, dukungan aklamasi dalam forum belum dengan sendirinya menetapkan seseorang sebagai ketua definitif. Proses Musda menjadi tahap pengajuan dan penetapan calon, sementara keputusan akhir mengikuti tahapan lanjutan yang menjadi kewenangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP).

Terdapat 27 pemilik suara dalam proses tersebut. Mereka berasal dari 24 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) kabupaten dan kota, unsur sayap partai, serta perwakilan DPP. Setiap bakal calon harus memperoleh dukungan sedikitnya tujuh suara, atau sekitar 20 persen dari keseluruhan suara, agar dapat memenuhi ambang syarat pencalonan. Nama yang mencapai ketentuan dukungan kemudian ditetapkan sebagai calon dalam Musda. Setelah itu, calon yang diusulkan diserahkan kepada DPP untuk mengikuti uji kelayakan dan kepatutan sebelum penetapan kepemimpinan dilakukan.

Dalam forum ini, para pemilik suara secara bulat menyatakan dukungan kepada Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, secara aklamasi. Meski demikian, hasil tersebut tidak mengubah kewenangan penetapan yang berada pada DPP. Pada saat berita disusun, sidang pleno Musda masih berlangsung untuk membahas dan memutuskan pengiriman nama Munafri ke pengurus pusat. Dengan demikian, dukungan penuh dari peserta menjadi dasar pengusulan, bukan pengumuman bahwa ketua definitif telah ditetapkan. Hasil Musda selanjutnya diserahkan kepada pengurus pusat yang hadir dalam kegiatan tersebut. DPP akan menindaklanjuti hasil itu melalui tahapan yang berlaku, termasuk uji kelayakan dan kepatutan, sebelum mengambil keputusan serta menetapkan ketua Demokrat Sulsel secara definitif. Tahapan ini menempatkan Musda sebagai forum pengusulan calon, sedangkan pengesahan akhir berada di tingkat pusat.

Dalam kesempatan tersebut, AHY menyampaikan penghargaan kepada jajaran DPD I dan seluruh DPC Demokrat di 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Apresiasi itu ditujukan kepada para pengurus yang dinilai telah menunjukkan dedikasi dalam menjaga kedaulatan partai sekaligus membesarkan organisasi di wilayah masing-masing. Peran mereka, menurut AHY, menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan kekuatan dan keberlangsungan Demokrat di Sulsel. Penghargaan tersebut juga mencerminkan pengakuan atas kerja kolektif para kader, baik di tingkat provinsi maupun daerah, dalam menjalankan tanggung jawab kepartaian. AHY menempatkan kontribusi pengurus sebagai landasan bagi partai untuk terus hadir dan berkembang di tengah masyarakat.

Selain menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus, AHY memberikan penghormatan khusus kepada Ni’matullah Erbe atas pengabdian panjangnya kepada Demokrat. Ia menyoroti masa bakti Ni’matullah selama 22 tahun serta kepemimpinannya selama dua periode sebagai Ketua Demokrat Sulsel. Dalam pandangan AHY, pengalaman dan konsistensi tersebut menunjukkan besarnya perhatian Ni’matullah terhadap partai. Ia merupakan kader senior yang telah mencurahkan hati dan pikirannya untuk membesarkan Demokrat. Penghormatan itu disampaikan sebagai pengakuan atas perjalanan dan kontribusi Ni’matullah, bukan sekadar atas jabatan yang pernah diembannya. Dedikasi seorang kader, sebagaimana tercermin dalam pengabdian tersebut, turut membentuk perjalanan organisasi di Sulawesi Selatan.

AHY juga mengingatkan bahwa pengabdian Ni’matullah berlangsung dalam berbagai situasi, termasuk saat partai menghadapi ujian berat terkait perampasan kedaulatan pimpinan secara inkonstitusional pada masa sebelumnya. Ia menyampaikan penghargaan atas sikap dan kontribusi Ni’matullah dalam melewati masa sulit tersebut, tanpa menguraikan lebih jauh peristiwa yang terjadi. Penyebutan konteks itu menegaskan bahwa perjalanan kepemimpinan di daerah tidak terlepas dari tantangan yang pernah dihadapi organisasi. Secara keseluruhan, AHY menyampaikan apresiasi kepada para pengurus di seluruh Sulsel sekaligus penghormatan kepada Ni’matullah atas pengabdian dan kepemimpinannya. Pesan tersebut menempatkan kerja kolektif dan loyalitas kader sebagai bagian penting dari upaya menjaga serta membesarkan Demokrat.Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menilai Sulawesi Selatan memiliki posisi strategis dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial. Peran provinsi ini tidak hanya penting bagi Pulau Sulawesi, tetapi juga bagi kawasan timur Indonesia. Sulawesi Selatan dipandang sebagai barometer pembangunan di wilayah tersebut, sehingga perkembangan politik dan organisasi partai di daerah ini memiliki arti lebih luas. Dalam konteks itu, Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Sulawesi Selatan menjadi momentum untuk memperkuat kesiapan organisasi sekaligus menyatukan langkah kader menghadapi agenda politik mendatang.

AHY menempatkan Musda sebagai sarana konsolidasi internal, bukan semata forum untuk membahas kepemimpinan. Melalui pertemuan tersebut, jajaran Dewan Pimpinan Daerah (DPD), Dewan Pimpinan Cabang (DPC), dan Pimpinan Anak Cabang (PAC) diharapkan dapat merapatkan barisan, menjaga komunikasi, serta membangun kesepahaman mengenai arah kerja partai. Konsolidasi yang solid dinilai penting agar seluruh tingkatan kepengurusan dapat bergerak selaras dan merespons dinamika politik secara terkoordinasi. Dengan demikian, hasil Musda diharapkan menjadi dasar penguatan organisasi di Sulawesi Selatan, sekaligus mendorong kader menjalankan peran secara konsisten di tengah masyarakat.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Herman Khaeron, yang hadir langsung dalam Musda, juga menekankan pentingnya konsolidasi dan perluasan jaringan hingga tingkat ranting serta anak ranting. Menurutnya, penguatan partai perlu menjangkau struktur paling dekat dengan warga, bukan berhenti di tingkat provinsi atau kabupaten dan kota. Setelah Musda, tahapan organisasi direncanakan berlanjut melalui Musyawarah Cabang (Muscab) di tingkat kabupaten/kota. Proses berikutnya mencakup penguatan kepengurusan hingga tingkat kelurahan dan desa, serta pembentukan jaringan yang menjangkau lingkungan RT dan RW. Langkah bertahap tersebut ditujukan untuk memastikan struktur partai hadir lebih merata, memperkuat hubungan kader dengan masyarakat, dan menopang kerja organisasi dalam menghadapi agenda politik ke depan.

Baca juga: Ramalan Asmara Zodiak Scorpio Sabtu, 5 September 2026: Jangan Terburu Ambil Keputusan