Jakarta | Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri, Novita W. Anggraini, memaparkan tiga fokus prioritas perusahaan untuk mendorong kinerja pada sisa 2026. Arah strategi tersebut mencakup penyaluran kredit secara selektif dengan memperkuat ekosistem bisnis, penghimpunan dana murah berbasis transaksi, serta pengembangan strategi bisnis melalui digitalisasi. Ketiganya dirancang untuk mendukung pertumbuhan yang terukur sekaligus menjaga kualitas kinerja. Dengan mengarahkan sumber daya pada prioritas tersebut, Bank Mandiri berupaya menyeimbangkan ekspansi usaha dengan pengelolaan risiko dan efisiensi operasional.
Pada sisi kredit, pendekatan selektif berarti pembiayaan diarahkan kepada segmen dan kegiatan usaha yang memiliki prospek serta keterkaitan ekosistem yang kuat. Penguatan ekosistem bisnis membantu bank memahami kebutuhan nasabah secara lebih menyeluruh, termasuk hubungan perusahaan, pemasok, mitra, dan konsumen. Pemahaman tersebut dapat menjadi dasar untuk menilai peluang pembiayaan dengan lebih cermat. Strategi ini juga menekankan pentingnya menjaga kualitas aset, sehingga pertumbuhan kredit tidak semata-mata diukur dari besarnya penyaluran, tetapi turut mempertimbangkan keberlanjutan dan profil risiko debitur.
Fokus berikutnya adalah menghimpun dana murah yang berasal dari aktivitas transaksi. Dana berbasis transaksi dapat tumbuh seiring meningkatnya penggunaan layanan bank untuk pembayaran, penerimaan dana, dan kebutuhan keuangan sehari-hari. Karena itu, penguatan hubungan dengan nasabah dan ekosistem bisnis menjadi relevan untuk mendorong aktivitas yang berlangsung secara rutin. Komposisi pendanaan yang lebih efisien dapat mendukung kegiatan intermediasi dan membantu bank mengelola biaya dana. Upaya ini menempatkan layanan transaksi sebagai bagian penting dari strategi penghimpunan dana, bukan hanya sebagai fasilitas tambahan bagi nasabah.
Digitalisasi menjadi fokus ketiga dalam pengembangan strategi bisnis. Pemanfaatan teknologi ditujukan untuk memperbaiki proses, memperluas kemampuan layanan, dan mendukung cara kerja yang lebih produktif. Bagi Bank Mandiri, sasaran digitalisasi tidak berhenti pada penyediaan kanal digital, tetapi juga mencakup peningkatan produktivitas dan profitabilitas. Proses yang lebih efisien dapat membantu penggunaan sumber daya secara optimal, sementara layanan yang relevan dapat memperkuat interaksi dengan nasabah. Secara keseluruhan, ketiga prioritas tersebut saling melengkapi: kredit selektif menjaga kualitas pertumbuhan, dana transaksi memperkuat pendanaan, dan digitalisasi mendukung kinerja bisnis yang lebih produktif serta menguntungkan pada sisa tahun ini.
Bank Mandiri melanjutkan ekspansi kredit secara selektif dengan memperkuat ekosistem bisnis. Pendekatan ini menempatkan pertumbuhan pembiayaan dalam kaitan dengan hubungan usaha yang saling terhubung, bukan semata-mata mengejar kenaikan volume. Penguatan ekosistem menjadi bagian dari upaya bank menjaga kualitas pertumbuhan sekaligus mendukung kebutuhan aktivitas ekonomi. Dalam pelaksanaannya, ekspansi tetap dilakukan secara terukur, dengan memperhatikan keseimbangan peluang pertumbuhan dan pengelolaan risiko. Strategi tersebut mencerminkan pilihan untuk tetap membuka ruang penyaluran kredit, sambil menjaga kehati-hatian dalam menjalankan fungsi intermediasi.
Hingga September 2026, kinerja kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp1.605,8 triliun. Nilai tersebut tumbuh 16% secara tahunan, menunjukkan bahwa penyaluran kredit tetap berkembang di tengah penerapan pendekatan selektif. Capaian ini memberi gambaran bahwa penguatan ekosistem bisnis berjalan seiring dengan ekspansi pembiayaan. Angka pertumbuhan tersebut juga memperlihatkan kontribusi kredit terhadap aktivitas utama bank, tanpa mengesampingkan pentingnya pengelolaan portofolio secara cermat. Dengan demikian, perhatian tidak hanya tertuju pada besarnya kredit yang disalurkan, tetapi juga pada bagaimana pertumbuhan itu dibangun secara berkelanjutan.
Fokus pada ekosistem bisnis dapat membantu menghubungkan kebutuhan pembiayaan dengan kegiatan usaha yang lebih luas. Bagi Bank Mandiri, penguatan hubungan tersebut menjadi landasan untuk mengembangkan kredit secara selektif, sekaligus menjaga agar ekspansi selaras dengan dinamika bisnis. Pendekatan ini juga menegaskan bahwa pertumbuhan kredit bukan sasaran yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari strategi yang mempertimbangkan kesinambungan hubungan usaha dan kesehatan kinerja. Ke depan, kemampuan mempertahankan momentum pertumbuhan akan bergantung pada konsistensi dalam menerapkan prinsip selektivitas serta mengelola risiko. Kinerja hingga September 2026 menjadi salah satu indikator bahwa strategi tersebut mendukung ekspansi yang tetap terarah, dengan nilai kredit mencapai Rp1.605,8 triliun dan pertumbuhan tahunan sebesar 16% secara bank only.
Fokus kedua Bank Mandiri adalah memperkuat penghimpunan dana murah yang bertumpu pada aktivitas transaksi nasabah. Dana murah, terutama tabungan dan giro, menjadi bagian penting dari komposisi pendanaan bank. Pendekatan berbasis transaksi menempatkan rekening dan layanan keuangan sebagai sarana yang digunakan nasabah dalam kegiatan sehari-hari, baik untuk menerima maupun melakukan pembayaran. Dengan demikian, upaya menghimpun dana tidak hanya terkait dengan penawaran produk simpanan, tetapi juga dengan kemudahan dan relevansi layanan yang digunakan secara rutin.
Dalam kinerja yang dilaporkan, dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri meningkat 17,7% secara tahunan menjadi Rp1.750,2 triliun. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan total dana yang dihimpun dari nasabah pada periode terkait. DPK mencakup beragam bentuk simpanan, sehingga angka pertumbuhan itu tidak dengan sendirinya menjelaskan komposisi dana murah atau kontribusi transaksi tertentu. Karena itu, data tersebut dapat dibaca sebagai gambaran penghimpunan dana secara keseluruhan, tanpa mengaitkannya secara langsung dengan satu strategi tertentu apabila hubungan tersebut tidak dinyatakan.
Fokus berikutnya adalah digitalisasi yang ditempatkan sebagai strategi bisnis. Pemanfaatan kanal dan proses digital dapat mendukung cara bank melayani nasabah serta menjalankan kegiatan operasional. Dalam konteks strategi perusahaan, digitalisasi diarahkan untuk mendorong produktivitas dan profitabilitas. Arah ini mencakup peningkatan kemampuan layanan digital dan pengembangan proses yang sesuai dengan kebutuhan transaksi, sambil menjaga agar pengalaman nasabah tetap menjadi perhatian. Perubahan tersebut juga menuntut pengelolaan teknologi, keamanan, dan operasional secara berkelanjutan.
Penghimpunan dana transaksional dan digitalisasi merupakan dua fokus yang disampaikan dalam strategi Bank Mandiri, dengan peran masing-masing yang perlu dipahami secara terukur. Pertumbuhan DPK memberi informasi tentang perkembangan dana yang dihimpun, sementara tujuan digitalisasi menggambarkan arah bisnis yang hendak didorong. Keduanya dapat dibahas berdampingan sebagai bagian dari pendekatan perusahaan, tetapi tidak perlu diasumsikan bahwa digitalisasi secara langsung menghasilkan angka pertumbuhan DPK tersebut. Pembacaan yang cermat membedakan data kinerja yang tercatat dari sasaran strategis, sehingga konteksnya tetap jelas bagi nasabah maupun pemangku kepentingan.
Dalam paparan kinerja kuartal III 2026 yang disampaikan pada Jumat, 23 Oktober 2026, Bank Mandiri menjelaskan bahwa target pertumbuhan terus dievaluasi mengikuti perkembangan bisnis dan perekonomian. Peninjauan tersebut mempertimbangkan realisasi kinerja, kondisi pasar, serta prospek ke depan, sehingga arah ekspansi dapat diselaraskan dengan kemampuan bank dan kebutuhan nasabah. Pendekatan ini memberi ruang untuk menyesuaikan prioritas apabila terjadi perubahan pada permintaan kredit, biaya pendanaan, maupun dinamika industri. Dengan demikian, target tidak diperlakukan sebagai angka yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari pengelolaan kinerja yang memerlukan pemantauan berkelanjutan. Evaluasi berkala juga membantu manajemen mengukur apakah capaian berjalan sejalan dengan asumsi dan rencana yang telah ditetapkan.
Dalam menetapkan langkah selanjutnya, bank berupaya menjaga keseimbangan pertumbuhan bisnis, kecukupan likuiditas, dan kualitas aset. Pertumbuhan kredit tetap perlu didukung penilaian risiko yang cermat, sementara ketersediaan dana harus memadai untuk memenuhi kebutuhan transaksi dan kewajiban kepada nasabah. Di saat yang sama, pengawasan kualitas aset menjadi penting agar ekspansi tidak mengurangi ketahanan portofolio. Ketiga aspek tersebut saling terkait: perubahan pasar dapat memengaruhi kebutuhan likuiditas, profil risiko debitur, dan peluang penyaluran pembiayaan. Karena itu, penyesuaian target dilakukan dengan memperhatikan keseluruhan kondisi, bukan hanya mengejar volume pertumbuhan.
