Tujuh Kota dengan Skor Kelayakhunian Terendah dalam Indeks EIU 2026

oleh -61 Dilihat
oleh
Tujuh Kota dengan Skor Kelayakhunian Terendah dalam Indeks EIU 2026

Kota Paling Tidak Layak Huni | Global Liveability Index 2026 yang dirilis Economist Intelligence Unit (EIU) menempatkan tujuh kota pada posisi terbawah dalam penilaian kelayakhunian. Laporan ini membandingkan kondisi kehidupan di 173 kota di berbagai negara, dengan menilai sejumlah aspek yang memengaruhi keseharian penduduk. Posisi di bagian bawah indeks menunjukkan bahwa kota-kota tersebut menghadapi tantangan besar dalam menyediakan lingkungan yang aman, sehat, dan berfungsi baik bagi warganya. Namun, skor rendah tidak selalu mencerminkan satu persoalan yang sama: kondisi lokal dan jenis tekanan yang dialami setiap kota dapat berbeda.

Penilaian EIU menggunakan lima indikator utama, yaitu stabilitas, layanan kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan, serta infrastruktur. Stabilitas mencakup risiko yang dapat mengganggu keamanan dan kehidupan sosial. Aspek kesehatan dan pendidikan menilai ketersediaan serta mutu layanan, sedangkan budaya dan lingkungan memperhitungkan kondisi sosial, rekreasi, dan lingkungan hidup. Infrastruktur mencakup fasilitas dan jaringan penting yang mendukung aktivitas sehari-hari. Dengan menggabungkan indikator-indikator tersebut, indeks menyajikan gambaran yang lebih luas daripada sekadar ukuran ekonomi atau tingkat pembangunan suatu kota.

Beragam persoalan dapat menekan hasil penilaian. Konflik dan ketidakstabilan politik berpotensi mengganggu keamanan, membatasi akses terhadap layanan, serta menyulitkan kegiatan ekonomi. Di kota lain, kemacetan dan keterbatasan infrastruktur dapat memperpanjang perjalanan, menghambat mobilitas, dan mengurangi keandalan fasilitas dasar. Tekanan terhadap layanan publik juga menjadi tantangan, terutama ketika kapasitas kesehatan, pendidikan, atau sistem perkotaan tidak sebanding dengan kebutuhan penduduk. Faktor-faktor tersebut dapat saling berkaitan, sehingga dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari menjadi lebih kompleks.

Indeks ini merupakan perbandingan lintas negara berdasarkan kerangka penilaian yang sama, bukan penilaian khusus terhadap kota-kota di Indonesia. Karena itu, posisi terbawah perlu dibaca dalam konteks indikator dan cakupan yang digunakan EIU. Hasilnya dapat membantu pembaca memahami tantangan yang dihadapi berbagai pusat perkotaan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh pengalaman penduduk atau perbedaan kondisi di setiap kawasan dalam satu kota. Rincian skor dan kondisi lokal diperlukan untuk melihat alasan di balik posisi masing-masing kota secara lebih tepat.

Damaskus, ibu kota Suriah, berada di posisi terbawah dalam Indeks Kelayakhunian EIU 2026, menjadikannya kota dengan tingkat kelayakhunian terendah dalam pemeringkatan tersebut. Posisi ini mencerminkan tekanan besar yang dihadapi penduduk setelah konflik berkepanjangan mengganggu kehidupan kota selama bertahun-tahun. Ketidakpastian keamanan membatasi aktivitas sehari-hari dan menyulitkan warga untuk menjalani kehidupan secara aman dan teratur. Situasi ini juga memengaruhi kemampuan pemerintah dan lembaga setempat dalam menjaga layanan dasar tetap tersedia dan berfungsi.

Dampak konflik di Damaskus terlihat pada berbagai aspek yang menjadi pertimbangan dalam penilaian kelayakhunian, termasuk layanan kesehatan, infrastruktur, dan pelayanan publik. Kerusakan fasilitas serta keterbatasan sumber daya dapat menghambat akses terhadap perawatan medis, transportasi, dan kebutuhan penting lainnya. Ketika layanan tidak berjalan konsisten, kegiatan ekonomi dan rutinitas masyarakat ikut terganggu. Kombinasi risiko keamanan dan tantangan layanan tersebut membuat sulit terciptanya lingkungan perkotaan yang stabil, aman, serta mendukung kebutuhan penduduk dari hari ke hari. Kondisi ini menjelaskan mengapa Damaskus menghadapi tantangan mendasar dalam membangun kembali kualitas hidup perkotaan.

Tripoli, ibu kota Libya, menempati urutan kedua dari bawah dalam indeks tersebut. Selama bertahun-tahun, ketidakstabilan politik dan persoalan keamanan telah membentuk kondisi perkotaan yang penuh tekanan. Perubahan situasi politik dan kekhawatiran terhadap keamanan dapat menghambat perencanaan jangka panjang, investasi, serta koordinasi antarlembaga. Pada saat yang sama, tekanan terhadap infrastruktur dan pelayanan publik memengaruhi akses warga terhadap layanan yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Gangguan pada fasilitas dan layanan penting juga dapat meningkatkan beban rumah tangga serta mempersempit pilihan masyarakat.

Penilaian terhadap Tripoli menggambarkan bagaimana persoalan keamanan dan tata kelola dapat berkelindan dengan keterbatasan layanan dasar. Ketika infrastruktur memerlukan pemeliharaan dan pelayanan publik menghadapi tekanan, kemampuan kota untuk memenuhi kebutuhan penduduk menjadi terbatas. Kondisi tersebut berdampak pada kenyamanan, keamanan, dan kepastian dalam menjalankan aktivitas harian. Karena itu, posisi rendah Damaskus dan Tripoli menunjukkan tantangan yang berbeda tetapi sama-sama serius: konflik berkepanjangan di Suriah dan ketidakstabilan politik serta keamanan di Libya turut membatasi terbentuknya lingkungan kota yang layak huni dan mendukung kualitas hidup warganya.

Dhaka, ibu kota Bangladesh, menempati urutan ketiga dalam daftar kota dengan skor kelayakhunian terendah. Tantangan utamanya berkaitan dengan tekanan urbanisasi yang berlangsung cepat, pertumbuhan penduduk, serta meningkatnya aktivitas perkotaan. Perkembangan tersebut menambah beban pada infrastruktur dan turut memperparah kemacetan. Ketika jumlah penduduk dan kegiatan kota terus bertambah, kebutuhan terhadap sarana transportasi dan layanan perkotaan juga meningkat. Kombinasi berbagai tekanan ini menjadi faktor yang membayangi kenyamanan hidup warga Dhaka.

Di posisi keempat terdapat Karachi, pusat komersial Pakistan. Aktivitas ekonomi dan kepadatan perkotaan yang tinggi berjalan beriringan dengan sejumlah persoalan yang memengaruhi kelayakhunian. Kota ini menghadapi tantangan terkait stabilitas dan kecukupan infrastruktur, sementara pemenuhan kebutuhan layanan kesehatan juga menjadi perhatian. Dengan banyaknya kegiatan ekonomi dan penduduk yang beraktivitas di kawasan perkotaan, kapasitas layanan serta sarana publik perlu menjawab kebutuhan yang terus berkembang. Faktor-faktor tersebut ikut menjelaskan rendahnya posisi Karachi dalam indeks.

Aljir, ibu kota Aljazair, berada di urutan kelima. Penilaiannya relatif rendah pada sejumlah indikator kelayakhunian, dengan keterbatasan infrastruktur sebagai salah satu faktor yang turut memengaruhi posisinya. Aspek budaya dan lingkungan juga berperan dalam gambaran penilaian kota tersebut. Seperti kota-kota lain dalam kelompok ini, kondisi Aljir menunjukkan bahwa kelayakhunian ditentukan oleh beberapa dimensi, bukan hanya satu persoalan. Kombinasi indikator tersebut membuat posisinya tetap berada di kota-kota dengan skor terendah.

Lagos menempati urutan keenam. Sebagai pusat keuangan Nigeria sekaligus salah satu kota terbesar di Afrika, Lagos menghadapi tekanan perkotaan yang sejalan dengan skala dan perkembangan kotanya. Kemacetan dan keterbatasan infrastruktur menjadi tantangan penting, sementara kebutuhan layanan kesehatan meningkat seiring pertumbuhan aktivitas serta penduduk. Permintaan yang bertambah terhadap sarana dan layanan dapat menambah beban pada kapasitas kota. Dengan demikian, posisi Lagos mencerminkan tantangan dalam mengimbangi perkembangan perkotaan dengan penyediaan infrastruktur dan layanan yang memadai bagi masyarakat.

Kyiv, ibu kota Ukraina, menempati urutan ketujuh dalam daftar kota dengan skor kelayakhunian terendah pada Indeks Kelayakhunian Global EIU 2026. Posisi ini mencerminkan tekanan besar yang masih dihadapi kota tersebut, terutama akibat perang yang terus berlangsung. Konflik memengaruhi penilaian stabilitas, salah satu aspek penting dalam evaluasi kelayakhunian, karena risiko keamanan dan ketidakpastian tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Meski demikian, gambaran kehidupan perkotaan di Kyiv tidak hanya ditentukan oleh konflik. Sejumlah aspek menunjukkan perbaikan, menandakan adanya upaya untuk mempertahankan dan memulihkan fungsi kota di tengah keadaan yang sulit. Layanan dan aktivitas masyarakat terus berjalan, sementara lembaga serta warga beradaptasi terhadap perubahan kondisi. Namun, kemajuan tersebut belum menghapus tantangan mendasar: keamanan masih menjadi perhatian besar, dan dampak perang dapat membatasi kemampuan penduduk untuk menjalani kehidupan yang stabil. Karena itu, perubahan pada beberapa bidang tidak serta-merta menghasilkan penilaian keseluruhan yang tinggi.

Pola dalam daftar kota berperingkat terendah memperlihatkan bahwa penyebab tekanan berbeda-beda, tetapi beberapa persoalan berulang.