Samudra Pasifik Membiru saat El Niño Menguat, Data Satelit NASA Ungkap Perubahannya

oleh -114 Dilihat
oleh
Samudra Pasifik Membiru saat El Niño Menguat, Data Satelit NASA Ungkap Perubahannya

Jakarta | Citra satelit terbaru NASA memperlihatkan perubahan rona di Samudra Pasifik bagian khatulistiwa. Area yang pada pengamatan sebelumnya tampak kehijauan kini terlihat lebih biru, terutama pada jalur luas di sekitar garis khatulistiwa. Perbandingan ini menonjolkan pergeseran warna permukaan laut seiring kondisi El Niño yang menguat. Data satelit sepanjang 2025 masih menunjukkan rona hijau khas di kawasan tersebut, dan warna itu terlihat bertahan selama tahun itu. Namun, pengamatan paling baru hingga bulan ini memperlihatkan bahwa sebagian besar kawasan yang sama telah membiru. Perbedaan tersebut menjadi petunjuk visual tentang perubahan kondisi laut, bukan bukti bahwa air laut berubah warna secara harfiah.

Warna yang terekam satelit dikenal sebagai warna laut dan dapat dipengaruhi oleh jumlah serta jenis organisme mikroskopis, partikel, dan bahan terlarut di permukaan. Fitoplankton, misalnya, mengandung klorofil yang dapat memberi kesan kehijauan pada air. Ketika kandungan klorofil atau karakteristik optik lain berubah, pantulan cahaya yang ditangkap sensor juga dapat bergeser ke arah biru. Karena itu, citra warna membantu ilmuwan mengamati perubahan ekosistem dan kondisi permukaan, tetapi tidak berdiri sendiri sebagai pengukuran langsung terhadap setiap faktor penyebabnya. Penafsiran memerlukan data tambahan dan perbandingan dari waktu ke waktu. Perubahan yang terlihat pada citra terbaru konsisten dengan pergeseran kondisi di Pasifik, meski warna saja tidak menjelaskan seluruh mekanisme di baliknya.

Penting pula membedakan lokasi perubahan tersebut. Area yang membiru berada di Samudra Pasifik khatulistiwa, bukan di perairan Indonesia. Citra itu tidak menunjukkan laut di sekitar kepulauan Indonesia berubah menjadi biru, dan pengamatan tersebut tidak boleh disalahartikan sebagai perubahan warna seragam di seluruh kawasan tropis. Lautan sangat luas, sementara pola suhu, arus, kedalaman, dan kehidupan plankton berbeda menurut wilayah. Perbandingan citra 2025 dengan pengamatan terkini memberi gambaran bahwa rona hijau yang bertahan sebelumnya telah berganti di jalur Pasifik dekat khatulistiwa. Dengan menempatkan temuan pada lokasi yang tepat, publik dapat memahami perubahan yang dipantau NASA tanpa mengaitkannya secara keliru dengan perairan Indonesia.

Perubahan warna laut yang terlihat dari satelit berkaitan dengan perubahan kondisi fisik dan biologis di dalam air. Pada keadaan normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat melintasi kawasan tropis Pasifik. Dorongan ini menumpuk air permukaan yang hangat di sisi barat, dekat Indonesia dan Australia, sementara air yang lebih dingin dari lapisan laut dalam naik ke permukaan di bagian timur. Proses naiknya air tersebut dikenal sebagai upwelling dan membawa nutrisi penting ke zona yang mendapat cukup cahaya matahari.

Ketika El Niño menguat, angin pasat biasanya melemah, bahkan dapat berubah arah. Air hangat kemudian bergerak kembali ke arah tengah dan timur Pasifik, sehingga perbedaan suhu permukaan laut kedua sisi samudra berkurang. Pada saat yang sama, upwelling di kawasan timur Pasifik melemah. Akibatnya, lebih sedikit nutrisi seperti nitrat dan fosfat yang mencapai lapisan permukaan tempat organisme kecil dapat memanfaatkannya.

Nutrisi tersebut menopang fitoplankton, organisme mikroskopis yang melakukan fotosintesis dan menjadi dasar penting rantai makanan laut. Fitoplankton mengandung pigmen hijau, sehingga konsentrasinya dapat memengaruhi warna air yang terukur satelit. Jika pasokan nutrisi menurun, jumlah alga dan fitoplankton di permukaan berpotensi berkurang. Air dengan lebih sedikit pigmen hijau dapat tampak lebih biru, meskipun warna yang teramati juga dipengaruhi kedalaman, partikel, serta kondisi atmosfer. Karena itu, perubahan rona bukan sekadar perubahan visual, melainkan petunjuk mengenai proses yang berlangsung di laut.

Dampaknya dapat menjalar ke berbagai tingkat ekosistem. Fitoplankton menjadi makanan bagi zooplankton dan banyak organisme kecil, yang selanjutnya dimakan ikan serta hewan laut lain. Penurunan produktivitas dapat mengurangi ketersediaan makanan dan mengubah lokasi berkumpulnya mangsa. Sebagian hewan mungkin berpindah mengikuti sumber makanan, sementara spesies yang bergantung pada kondisi tertentu dapat menghadapi tekanan lebih besar. Perubahan sebaran makanan dan suhu juga berpotensi memengaruhi lokasi mencari makan maupun tempat pembiakan, sehingga beberapa populasi dapat bergeser ke wilayah baru selama kondisi El Niño berlangsung.

El Niño bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan salah satu fase El Niño–Southern Oscillation (ENSO), siklus iklim alami yang berulang setiap dua hingga tujuh tahun. ENSO melibatkan perubahan suhu permukaan laut dan kondisi atmosfer di Samudra Pasifik tropis. Siklus ini memiliki fase hangat, El Niño, dan fase dingin, La Niña, yang diselingi kondisi netral. Meski berulang secara alami, kekuatan dan durasi setiap fase berbeda-beda. Perubahan tersebut dapat memengaruhi sistem cuaca jauh di luar wilayah Pasifik, sehingga perkembangan ENSO dipantau oleh ilmuwan dan lembaga meteorologi di berbagai negara.

Pada fase El Niño, angin pasat yang biasanya mendorong air hangat ke arah barat Pasifik melemah. Akibatnya, air hangat berkumpul di wilayah Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur, termasuk di lepas pantai Amerika Selatan. Pergeseran ini menaikkan suhu permukaan laut rata-rata di kawasan tersebut dan mengubah sirkulasi atmosfer. Dampaknya dapat menggeser pola hujan, suhu, dan badai di berbagai belahan dunia. Sejumlah daerah berisiko mengalami kekeringan, sementara wilayah lain dapat menghadapi hujan lebat dan banjir. Besarnya dampak setempat bergantung pada intensitas El Niño serta faktor iklim dan geografis lainnya.

Para ilmuwan menilai bumi kini berada pada tahap awal siklus El Niño yang berpotensi sangat kuat. Jika penguatan berlanjut, dampak yang luas bahkan katastrofal dapat muncul dalam beberapa bulan mendatang dan berlanjut hingga sepanjang 2027. Namun, perkiraan dampak tetap mengandung ketidakpastian karena kondisi laut dan atmosfer dapat berubah. Menurut prediksi NOAA, hingga Oktober terdapat probabilitas 83 persen bahwa El Niño ini akan menjadi yang terkuat sejak pencatatan dimulai pada 1950. Angka tersebut merupakan prakiraan, bukan kepastian, sehingga pemantauan data satelit dan pengukuran laut terus diperlukan. Informasi terbaru membantu pemerintah dan masyarakat menyiapkan langkah menghadapi risiko cuaca ekstrem, sekaligus membedakan sinyal jangka panjang dari variasi cuaca harian.

Peristiwa El Niño yang sedang menguat memberi kesempatan pertama untuk mengamati fenomena tersebut dengan satelit PACE sejak NASA meluncurkannya pada 2024. PACE merupakan singkatan dari Plankton, Aerosol, Cloud, Ocean Ecosystem, sebuah misi yang dirancang untuk membantu peneliti memahami hubungan kehidupan laut, atmosfer, dan ekosistem samudra. Pengamatan selama tahun El Niño ini menghadirkan cara baru untuk menelusuri perubahan laut, termasuk variasi warna yang tidak selalu dapat terlihat dengan mata telanjang. Data satelit memungkinkan perubahan itu dipantau secara luas dan berulang, sehingga kondisi samudra dapat dibandingkan sepanjang waktu.

Instrumen Ocean Colour pada PACE mengamati samudra melalui spektrum hiperspektral. Artinya, instrumen tersebut menangkap informasi pada banyak panjang gelombang, mencakup cahaya tampak, ultraviolet, dan inframerah. Rentang pengamatan yang luas membantu mengungkap ciri-ciri perairan dan perubahan yang terjadi di permukaannya dengan tingkat perincian yang lebih tinggi. Dalam konteks El Niño, warna laut menjadi salah satu petunjuk untuk melihat bagaimana kondisi samudra berkembang saat air hangat menyebar di Pasifik. Pengamatan hiperspektral ini juga membantu ilmuwan membedakan variasi di laut yang mungkin tampak serupa pada citra biasa, tetapi memiliki karakteristik berbeda.

Pengukuran yang tersedia menunjukkan suhu permukaan laut di Pasifik timur mencapai 1,7°C (3°F) di atas rata-rata jangka panjang.

Baca juga: Wakili Panglima TNI, Kaster TNI Tegaskan Komitmen Indonesia Bagi Perdamaian Indo-Pasifik