Jakarta | SKK Migas menargetkan proyek LNG Abadi di Blok Masela, Maluku, mulai beroperasi paling lambat pada akhir 2030. Sasaran itu menempatkan proyek strategis tersebut pada jalur produksi sebelum 2031, sekaligus menjadi acuan bagi tahapan persiapan berikutnya. Pencapaian target akan bergantung pada kelanjutan proses pengambilan keputusan, penyelesaian persiapan pembangunan, serta koordinasi berbagai pihak yang terlibat. Rampungnya tahap desain awal menjadi salah satu perkembangan penting dalam menjaga jadwal proyek tetap bergerak sesuai rencana.
Tahap desain awal rekayasa atau front-end engineering design (FEED) untuk proyek tersebut selesai pada Oktober 2026. Penyelesaian ini berlangsung tiga bulan lebih cepat dibandingkan jadwal awal. Percepatan tersebut menandai kemajuan dalam merumuskan rancangan teknis yang diperlukan sebelum pembangunan fasilitas dapat dipersiapkan lebih lanjut. Meski demikian, selesainya FEED bukan berarti fasilitas telah dibangun atau proyek langsung memasuki tahap produksi. Masih terdapat keputusan dan pekerjaan lanjutan yang harus dituntaskan sebelum operasi LNG dimulai.
Secara umum, FEED menetapkan dasar desain, spesifikasi, dan kebutuhan teknis proyek. Dokumen serta hasil kajian pada tahap ini menjadi acuan untuk menyiapkan pembangunan fasilitas, termasuk merinci persyaratan yang harus dipenuhi dalam tahapan berikutnya. Dengan rancangan yang lebih terdefinisi, para pihak dapat menggunakan informasi teknis tersebut dalam proses pengambilan keputusan investasi dan persiapan pekerjaan konstruksi. Karena itu, penyelesaian FEED menjadi pijakan penting untuk menyelaraskan perencanaan, kebutuhan fasilitas, dan langkah-langkah menuju pelaksanaan proyek.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan bahwa keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) diharapkan dapat dicapai segera, atau paling lambat pada akhir Januari 2027. FID menjadi tonggak penting karena keputusan tersebut menentukan kelanjutan proyek menuju fase pembangunan. Jadwal penyelesaian FEED yang lebih awal dapat mendukung kesiapan menuju keputusan itu, tetapi tetap perlu ditindaklanjuti dengan proses evaluasi dan persetujuan. Setelah FID, persiapan pembangunan fasilitas akan menjadi bagian utama untuk mengejar target operasi paling lambat akhir 2030. Perkembangan setiap tahap akan menentukan seberapa realistis sasaran produksi LNG sebelum 2031 dapat dicapai.
Rampungnya Front-End Engineering Design (FEED) menandai kemajuan penting dalam pengembangan proyek gas Lapangan Abadi di Blok Masela. Namun, tahap desain yang telah selesai belum berarti keputusan investasi akhir atau final investment decision (FID) dapat langsung diambil. Dengan nilai proyek yang diperkirakan sekitar 22 miliar dolar AS, masih terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi sebelum pembangunan memasuki tahap berikutnya.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyebut dua pekerjaan yang perlu dituntaskan, yakni penandatanganan perjanjian jual beli gas (PJBG) dan penyelesaian pengadaan barang dan jasa. Menurut Djoko, kedua hal tersebut menjadi bagian penting dari persiapan proyek menuju FID. Karena itu, penyelesaian FEED perlu diikuti kemajuan pada aspek komersial serta pelaksanaan pengadaan, bukan dipandang sebagai tanda bahwa seluruh tahapan investasi telah beres.
PJBG menjadi perhatian utama karena kesepakatan penjualan gas diperlukan untuk memberikan kepastian mengenai pembeli dan penyerapan produksi. Djoko menjelaskan bahwa perjanjian tersebut merupakan syarat utama bagi konsorsium INPEX untuk menyetujui FID. Dengan demikian, proses menuju keputusan investasi masih bergantung pada tercapainya kesepakatan pihak-pihak terkait. Sampai perjanjian ditandatangani dan persyaratan lain dipenuhi, FID belum dapat dianggap sebagai keputusan yang sudah dipastikan.
Di luar kesepakatan gas, pengadaan barang dan jasa juga perlu dituntaskan agar tahapan proyek dapat bergerak sesuai rencana. Djoko berharap proses pengadaan dapat berlangsung cepat, sehingga tidak menambah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai FID. Harapan tersebut merupakan target yang disampaikan olehnya, bukan kepastian bahwa seluruh paket pengadaan telah selesai atau jadwal proyek tidak akan berubah. Kecepatan pelaksanaan tetap akan bergantung pada proses dan pemenuhan ketentuan yang berlaku.
Dengan demikian, penyelesaian FEED menjadi landasan teknis untuk melanjutkan persiapan, sedangkan PJBG dan pengadaan masih menjadi pekerjaan penting sebelum FID. Djoko menempatkan penandatanganan perjanjian gas sebagai prasyarat utama bagi persetujuan konsorsium INPEX, sambil mendorong agar pengadaan diselesaikan dengan cepat. Kedua proses itu akan menentukan kemajuan proyek Masela menuju tahap keputusan investasi.
Presiden Direktur INPEX Masela Ltd., Kenji Hasegawa, menjelaskan bahwa Front-End Engineering Design (FEED) mencakup empat komponen utama yang saling terkait dalam pengembangan proyek Masela. Lingkup tersebut meliputi fasilitas pengolahan LNG di darat, fasilitas terapung FPSO, sistem bawah laut SURF, serta pipa ekspor gas GEP. Rangkaian desain ini menjadi dasar teknis untuk mengintegrasikan produksi, pengolahan, penyimpanan, dan penyaluran gas dari lapangan menuju pasar.
Fasilitas LNG darat dirancang untuk memproses gas menjadi gas alam cair, sedangkan FPSO mendukung kegiatan produksi dan pemrosesan di lepas pantai. SURF menghubungkan sumur dan fasilitas bawah laut dengan sistem produksi, sementara GEP berperan mengalirkan gas untuk kebutuhan ekspor. Dengan cakupan tersebut, FEED memberikan gambaran terperinci mengenai rancangan, persyaratan teknis, serta kebutuhan pelaksanaan berbagai bagian proyek. Keterpaduan antarfasilitas penting agar tahap berikutnya dapat disiapkan berdasarkan rancangan yang konsisten.
Hasil FEED akan menjadi landasan untuk meneruskan persiapan menuju tahap rekayasa, pengadaan, konstruksi, dan instalasi (EPCI). Pada tahap ini, rancangan teknis akan diterjemahkan menjadi rencana pelaksanaan yang lebih rinci, termasuk pengadaan peralatan dan pekerjaan konstruksi serta instalasi. Penyelesaian FEED juga merupakan bagian penting dari proses menuju keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID). Keputusan tersebut menjadi gerbang utama sebelum pengembangan berlanjut ke pelaksanaan proyek secara penuh.
Untuk memastikan proses pengembangan berjalan terarah, INPEX menyatakan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah, mitra usaha patungan, kontraktor, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Koordinasi ini ditujukan untuk mendorong proyek secara aman dan bertanggung jawab, dengan memperhatikan kesiapan teknis serta kepentingan pihak-pihak terkait. Kolaborasi berkelanjutan juga diperlukan ketika proyek bergerak dari tahapan desain ke perencanaan pelaksanaan.
Penelaahan independen atas dokumen FEED melibatkan sekitar 200 profesor dan doktor dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Pattimura. Keterlibatan para akademisi tersebut memberi masukan terhadap dokumen desain dari beragam keahlian. Penelaahan ini melengkapi proses evaluasi teknis dan menjadi salah satu unsur dalam menyiapkan tahapan proyek berikutnya.
Rancangan pengembangan Blok Masela mencakup beberapa jenis produk energi dengan kapasitas yang saling melengkapi. Fasilitasnya dirancang untuk menghasilkan gas alam sebesar 1.380 juta kaki kubik standar per hari, atau MMSCFD. Gas tersebut akan menjadi bahan baku utama bagi produksi gas alam cair (LNG), sekaligus mendukung pasokan gas melalui jaringan pipa. Besaran kapasitas ini menggambarkan kemampuan yang direncanakan untuk proyek ketika beroperasi, bukan volume produksi yang telah tersedia saat ini.
Untuk LNG, kapasitas rancangan mencapai 9,5 juta ton per tahun. Produksi dalam skala tersebut ditujukan untuk mengolah sebagian gas dari lapangan menjadi produk cair yang dapat disimpan dan diangkut menggunakan kapal. Di samping itu, proyek dirancang menyalurkan 100 MMSCFD gas melalui pipa bagi pasar domestik. Jalur pasokan ini menjadi bagian penting dari rencana pemanfaatan gas untuk kebutuhan di dalam negeri, sementara LNG menyediakan bentuk produk yang dapat dikirim ke pasar lebih luas.
Blok Masela juga direncanakan menghasilkan kondensat sebanyak 35.000 barel per hari. Kondensat merupakan produk hidrokarbon cair yang dipisahkan dari aliran gas dalam proses pengolahan. Dengan demikian, rancangan proyek tidak hanya berfokus pada LNG, tetapi juga mencakup pasokan gas pipa dan produksi kondensat.
