JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Muhammad Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian Republik Indonesia dalam Kabinet Merah Putih pada 1 Oktober 2026. Pelantikan tersebut menandai dimulainya amanah baru bagi Sarmuji untuk memimpin Kementerian Perindustrian dan mengarahkan kebijakan sektor industri sesuai dengan kebutuhan perekonomian nasional.
Sebagai Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji mengemban tanggung jawab untuk memperkuat posisi industri sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Sektor ini memiliki peran penting dalam menciptakan nilai tambah, memperluas kegiatan produksi, serta mendukung keterhubungan berbagai bidang usaha di tingkat nasional. Karena itu, kepemimpinan di Kementerian Perindustrian menjadi bagian penting dalam memastikan potensi industri dapat memberikan kontribusi yang semakin besar bagi perekonomian.
Amanah tersebut juga mencakup upaya mendorong industri agar mampu memperluas penyerapan tenaga kerja. Pertumbuhan sektor industri tidak hanya diukur melalui peningkatan kegiatan usaha, tetapi juga melalui kemampuannya membuka kesempatan kerja bagi masyarakat. Dengan penguatan peran industri, pembangunan ekonomi diharapkan dapat berjalan seiring dengan terciptanya lapangan pekerjaan yang lebih luas.
Dalam posisi barunya, Sarmuji diharapkan memusatkan perhatian pada penguatan kontribusi sektor industri terhadap agenda ekonomi nasional. Arah tersebut menempatkan industri sebagai unsur strategis yang mendukung pertumbuhan sekaligus penyerapan tenaga kerja. Pelantikan pada 1 Oktober 2026 menjadi awal pelaksanaan tanggung jawab tersebut, dengan Kementerian Perindustrian berada di bawah kepemimpinannya untuk menjalankan amanah dalam memperkuat peran sektor industri di Indonesia.
Sektor perindustrian saat ini memberikan kontribusi sekitar 19 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Angka tersebut menunjukkan bahwa industri telah menjadi salah satu penopang penting perekonomian, baik melalui kegiatan produksi, investasi, perdagangan, maupun keterkaitannya dengan berbagai sektor lain. Namun, kontribusi itu masih dipandang perlu didorong lebih tinggi agar peran industri dalam perekonomian nasional semakin kuat dan luas.
Peningkatan kontribusi industri tidak semata-mata berkaitan dengan bertambahnya nilai produksi. Perkembangan sektor ini juga perlu dilihat dari kemampuannya menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan serta memperkuat hubungan industri besar, industri menengah, dan pelaku usaha di berbagai daerah. Dengan ekosistem yang lebih terintegrasi, pertumbuhan industri dapat memberikan dampak yang lebih merata dan mendorong peningkatan nilai tambah di dalam negeri.
Upaya mendorong peran industri tersebut memiliki keterkaitan erat dengan dua fokus utama, yaitu pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Industri yang berkembang dapat memperluas kapasitas produksi, meningkatkan permintaan terhadap bahan baku dan jasa pendukung, serta menciptakan peluang usaha baru. Rangkaian kegiatan tersebut berpotensi memperkuat pertumbuhan ekonomi melalui kontribusi berbagai sektor yang terhubung dengan industri.
Di sisi lain, penguatan sektor perindustrian juga penting untuk memperluas kesempatan kerja. Pertumbuhan industri membutuhkan tenaga kerja dengan beragam keahlian, mulai dari kegiatan produksi hingga pengelolaan, distribusi, dan layanan pendukung. Karena itu, peningkatan kontribusi industri terhadap PDB perlu berjalan seiring dengan pengembangan kualitas sumber daya manusia dan penciptaan lapangan kerja yang produktif. Dengan pendekatan tersebut, industri tidak hanya berperan sebagai penyumbang output nasional, tetapi juga sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dan penyerap tenaga kerja yang semakin signifikan.
Kementerian Perindustrian memberi perhatian pada sejumlah persoalan yang menentukan kemampuan sektor industri dalam menopang ekonomi nasional. Persoalan tersebut mencakup daya saing, produktivitas, dan kedalaman industri. Ketiganya saling berkaitan karena menentukan seberapa kuat industri menghadapi tuntutan perekonomian, seberapa optimal kegiatan produksi berjalan, serta seberapa luas keterhubungan antarbagian dalam struktur industri.
Daya saing menjadi perhatian karena industri perlu memiliki kemampuan untuk bertahan dan berkembang dalam lingkungan ekonomi yang terus berubah. Sementara itu, produktivitas berkaitan dengan kemampuan menghasilkan kinerja yang optimal dari kegiatan industri. Apabila produktivitas belum kuat, kontribusi industri terhadap perekonomian nasional juga belum dapat berkembang secara maksimal. Perhatian terhadap kedua aspek ini menunjukkan bahwa penguatan industri tidak hanya berkaitan dengan keberadaan kegiatan produksi, tetapi juga dengan kualitas dan kapasitasnya.
Selain daya saing dan produktivitas, kedalaman industri merupakan persoalan penting yang perlu diperhatikan. Kedalaman industri berkaitan dengan kekuatan struktur serta keterhubungan di dalam ekosistem industri. Struktur yang kuat diperlukan agar peran industri dalam ekonomi nasional dapat dibangun secara lebih kokoh. Karena itu, perhatian Kementerian Perindustrian diarahkan pada kebutuhan memperkuat ekosistem dan struktur industri secara menyeluruh, terutama pada sektor-sektor padat karya.
Sektor padat karya memiliki posisi penting karena mempunyai kemampuan besar dalam menyerap tenaga kerja. Kemampuan tersebut menjadikan sektor ini tidak hanya relevan bagi perkembangan industri, tetapi juga bagi perluasan kesempatan kerja dan penguatan peran industri dalam perekonomian. Dengan demikian, pembahasan mengenai daya saing, produktivitas, dan kedalaman industri tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan untuk menjaga serta memperkuat sektor-sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi.
Perhatian terhadap berbagai tantangan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan industri memerlukan pandangan yang mencakup kinerja, struktur, dan ekosistem secara bersamaan. Daya saing dan produktivitas perlu dipahami dalam kaitannya dengan kedalaman industri, sedangkan penguatan struktur perlu mempertimbangkan arti penting sektor padat karya. Keseluruhan aspek ini menjadi bagian dari perhatian dalam mendorong peran industri yang lebih kuat bagi ekonomi nasional.
Penguatan industri tekstil dan produk tekstil perlu ditempatkan sebagai salah satu prioritas dalam pembangunan ekonomi nasional. Sektor ini memiliki karakter padat karya sehingga keberlangsungannya berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja, pengembangan kegiatan produksi di berbagai daerah, serta kesinambungan rantai pasok industri. Namun, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan perubahan permintaan pasar, melainkan juga persaingan antarnegara, tuntutan efisiensi, dan kebutuhan menghasilkan produk yang memenuhi standar mutu. Karena itu, penguatan fondasi industri tekstil menjadi langkah penting untuk menjaga kontribusinya terhadap perekonomian sekaligus memperluas peluang pertumbuhan.
Kementerian Perindustrian memandang peningkatan produktivitas sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing industri. Produktivitas yang lebih baik dapat membantu perusahaan mengendalikan biaya, meningkatkan kualitas, mempercepat proses produksi, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang. Salah satu langkah yang disebutkan adalah penggunaan teknologi mesin terbaru. Pemanfaatan peralatan yang lebih modern dapat mendukung ketepatan produksi, efisiensi penggunaan bahan dan energi, serta konsistensi hasil. Penerapan teknologi tersebut tetap perlu disertai pengelolaan yang tepat agar investasi memberikan manfaat nyata bagi perusahaan dan pekerja.
Selain pembaruan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia industri juga menjadi unsur yang tidak terpisahkan. Tenaga kerja perlu memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan mesin, proses produksi, standar keselamatan, serta tuntutan kualitas produk. Penguatan kompetensi dapat dilakukan melalui pelatihan, pembelajaran berkelanjutan, dan kerja sama industri, lembaga pendidikan, serta pemerintah. Kombinasi teknologi terbaru dan sumber daya manusia yang kompeten diharapkan membentuk industri tekstil yang lebih tangguh, produktif, dan kompetitif. Pokok-pokok tersebut menjadi materi dialog Maria Katarina bersama Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dalam program Nation Hub pada Jumat, 9 Oktober 2026.

