Ruben Onsu Unggah Rekaman CCTV soal Penyerahan Amplop oleh Asisten Sarwendah

oleh -252 Dilihat
oleh
Ruben Onsu Unggah Rekaman CCTV soal Penyerahan Amplop oleh Asisten Sarwendah

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Ruben Onsu mengunggah sebuah rekaman kamera pengawas yang memperlihatkan rangkaian peristiwa terkait sebuah amplop putih. Dalam tayangan tersebut, tampak seorang perempuan yang disebut sebagai Manda, asisten Sarwendah, berada di sebuah ruangan dengan sofa. Di atas sofa itu terlihat sebuah tas berwarna merah. Manda kemudian mengambil amplop putih dari dalam tas tersebut.

Rekaman berjalan tanpa memperlihatkan secara jelas percakapan yang berlangsung atau alasan pengambilan amplop. Berdasarkan keterangan yang menyertai unggahan, amplop tersebut diduga berisi uang dengan nilai mencapai puluhan juta rupiah. Namun, isi amplop tidak terlihat dalam rekaman, sehingga informasi mengenai jumlah maupun benda yang berada di dalamnya belum dapat dipastikan hanya dari visual kamera pengawas.

Setelah mengambil amplop, Manda tampak membawa benda tersebut dan menyerahkannya kepada seseorang yang berada di area lain. Sosok penerima tidak terlihat secara jelas, sehingga identitasnya belum diketahui berdasarkan tayangan yang beredar. Rekaman juga tidak secara langsung menjelaskan kapan peristiwa itu terjadi maupun dalam konteks apa penyerahan tersebut dilakukan.

Urutan gambar dalam video hanya menunjukkan pengambilan amplop dari tas merah, perpindahan Manda, dan penyerahan kepada orang lain. Karena itu, tayangan tersebut sebaiknya dipahami sebagai dokumentasi visual atas gerakan yang terekam, bukan sebagai bukti pasti mengenai isi amplop, nilai uang, tujuan pemberian, atau identitas penerimanya. Keterangan lebih lanjut dari pihak-pihak yang berkaitan masih diperlukan untuk menjelaskan peristiwa tersebut secara utuh.

Ruben Onsu memberikan respons terhadap rekaman kamera pengawas yang memperlihatkan penyerahan sebuah amplop oleh Manda, asisten Sarwendah. Melalui unggahannya, Ruben mempertanyakan alasan tindakan tersebut serta konteks di balik peristiwa yang terekam. Ia menyoroti isi amplop, siapa saja yang berada di lokasi ketika penyerahan berlangsung, dan pihak yang akhirnya menerima amplop tersebut. Pertanyaan itu disampaikan Ruben untuk meminta kejelasan mengenai kejadian, bukan sebagai penjelasan yang telah terverifikasi mengenai isi maupun tujuan pemberian.

Dalam unggahan yang sama, Ruben turut menyinggung sikap Manda yang disebut kerap menyerukan perdamaian. Menurut penilaian Ruben, seruan tersebut tidak sejalan dengan tindakan yang ia lihat atau dampak yang dirasakannya. Ia menilai ada upaya untuk merendahkan dan menjatuhkan dirinya sebagai ayah melalui pihak lain. Pernyataan itu menjadi bagian dari respons Ruben terhadap dinamika yang berkembang, sementara maksud sebenarnya di balik tindakan Manda dan pihak-pihak terkait masih menjadi persoalan yang dipertanyakan.

Ruben juga menyebut perkiraan nilai uang yang mungkin berada di dalam amplop tersebut. Ia mempertanyakan apakah jumlahnya sekitar Rp30 juta atau Rp35 juta. Angka itu disampaikan sebagai dugaan dan pertanyaan Ruben berdasarkan penilaiannya, bukan sebagai fakta yang telah dibuktikan. Karena itu, nilai maupun isi amplop masih memerlukan klarifikasi dari pihak yang menyerahkan, menerima, atau mengetahui langsung peristiwa tersebut. Respons Ruben menunjukkan bahwa rekaman CCTV tersebut tidak hanya dipandang sebagai dokumentasi penyerahan, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai tujuan, pihak yang terlibat, dan alasan peristiwa itu dilakukan. Hingga terdapat penjelasan yang lebih lengkap, berbagai tudingan serta perkiraan nominal tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari pernyataan Ruben, bukan kesimpulan final.

Ruben Onsu menegaskan bahwa sikap diam yang selama ini ia pilih tidak dapat diartikan sebagai tanda kelemahan. Ia menyebut dirinya sengaja menahan diri dan berusaha menjaga ketenangan ketika menghadapi berbagai konten serta sindiran yang beredar di dunia maya. Menurut Ruben, sejumlah unggahan tersebut dinilai diarahkan untuk mendiskreditkan dirinya, sementara dampak jangka panjang terhadap pihak-pihak yang terlibat belum tentu dipertimbangkan.

Ruben mengatakan kesabaran memiliki batas, terutama ketika informasi yang beredar berpotensi membentuk persepsi publik secara sepihak. Meski demikian, ia tidak menjelaskan seluruh persoalan melalui ruang publik. Pernyataan tersebut disampaikan bersamaan dengan kemunculan rekaman kamera pengawas atau CCTV yang berkaitan dengan penyerahan sebuah amplop oleh asisten Sarwendah.

Rekaman itu kemudian dikaitkan dengan proses perkara hak asuh anak yang sedang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Ruben menegaskan bahwa CCTV yang dimilikinya merupakan rekaman yang valid dan siap diuji melalui proses hukum. Sikap tersebut menunjukkan bahwa ia memilih menyampaikan materi yang dianggap relevan melalui jalur yang tersedia, bukan semata-mata menanggapi setiap komentar di media sosial.

Dalam konteks perkara tersebut, Ruben juga menekankan pentingnya melihat rangkaian peristiwa secara utuh. Ia tidak ingin rekaman maupun keterangannya dipahami secara terpisah dari persoalan yang sedang diproses. Karena itu, ia menyatakan kesiapan untuk mempertanggungjawabkan keabsahan rekaman tersebut apabila diperlukan dalam tahapan hukum. Hingga keterangan ini disampaikan, fokusnya adalah memastikan informasi dan bukti yang dimiliki dapat diperiksa melalui mekanisme yang berlaku, tanpa memperluas polemik di ruang publik.

Dalam pernyataannya, Ruben Onsu menyampaikan tudingan serius mengenai posisi anak-anaknya dalam konflik yang sedang menjadi perhatian publik. Ia menilai anak-anak tersebut diduga telah dijadikan instrumen eksploitasi untuk memenuhi kepentingan asmara sekaligus mendukung aktivitas bisnis jualan. Menurut Ruben, keterlibatan anak dalam kepentingan orang dewasa bukan sekadar persoalan keluarga, melainkan menyangkut cara anak diperlakukan dan diarahkan ketika mereka belum memiliki kemampuan untuk memahami seluruh situasi. Ia menyoroti dugaan bahwa kedekatan, emosi, serta keberadaan anak dimanfaatkan agar tujuan tertentu dapat berjalan.

Ruben mengaku merasa sedih ketika menyadari adanya dugaan upaya cuci otak terhadap anak-anaknya. Pernyataan itu merujuk pada kekhawatirannya bahwa pemikiran dan pandangan anak dapat dipengaruhi secara terus-menerus melalui informasi, perlakuan, atau narasi tertentu. Ia menilai kondisi tersebut berpotensi membuat anak menjauh dari pemahaman yang utuh mengenai persoalan keluarga. Bagi Ruben, anak seharusnya tidak ditempatkan sebagai pihak yang harus membela kepentingan orang dewasa, terlebih untuk urusan hubungan asmara ataupun kegiatan komersial.

Ia juga menyebut pembunuhan karakter yang disertai manipulasi psikologis terhadap anak sebagai kejahatan moral yang tidak dapat ditoleransi. Menurut Ruben, pembentukan citra buruk terhadap dirinya dengan melibatkan atau memengaruhi anak dapat meninggalkan dampak emosional yang serius. Ia menegaskan bahwa anak memiliki hak untuk tumbuh tanpa tekanan, pengarahan yang menyesatkan, maupun beban konflik yang bukan tanggung jawab mereka.

Di tengah tudingan tersebut, Ruben meminta pihak-pihak yang berkepentingan untuk mencari kesalahan dirinya secara langsung. Ia mempersilakan setiap orang menilai atau memeriksa dirinya, tetapi meminta agar anak-anak tidak dijadikan sarana untuk mencapai kepentingan tertentu. Permintaan itu disampaikannya bersamaan dengan penegasan bahwa persoalan yang ia soroti berkaitan dengan perlindungan anak dan dugaan manipulasi psikologis.