Pramono Perkuat Penanganan Mampang dan Krukut untuk Hadapi Musim Hujan

oleh -61 Dilihat
oleh
Pramono Perkuat Penanganan Mampang dan Krukut untuk Hadapi Musim Hujan

Jakarta | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau pekerjaan normalisasi Kali Mampang di Segmen Poncol, Kuningan Barat, Jakarta Selatan, pada Kamis (29/10). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung pelaksanaan pekerjaan di lapangan sekaligus memastikan upaya penanganan sungai berlangsung sesuai rencana. Pemeriksaan mencakup pengerukan sedimentasi dan pemeliharaan turap, dua pekerjaan yang penting untuk mendukung fungsi aliran sungai. Peninjauan juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi musim hujan, ketika debit air dapat meningkat dan berpotensi menimbulkan genangan di kawasan sekitar.

Dalam kegiatan itu, perhatian diarahkan pada pengerukan endapan yang dapat mengurangi kapasitas sungai. Sedimentasi yang menumpuk membuat ruang aliran air menyempit, sehingga pemeliharaan perlu dilakukan agar sungai dapat mengalirkan air dengan lebih baik. Selain pengerukan, kondisi turap turut diperiksa sebagai bagian dari pemeliharaan kawasan. Turap yang terawat membantu menjaga tepi sungai dan mendukung penataan aliran. Pramono menyampaikan bahwa pekerjaan harus berjalan sesuai rencana, sehingga persiapan menghadapi hujan dilakukan melalui penanganan fisik yang terukur, bukan hanya setelah banjir terjadi.

Pramono menjelaskan, Mampang dan wilayah sekitarnya termasuk kawasan yang rawan banjir karena berada di daerah cekungan. Kondisi tersebut membuat air berpotensi berkumpul ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Ia menyebut curah hujan sekitar 100 milimeter per hari dapat memicu genangan, bahkan banjir, di sejumlah titik. Karena itu, normalisasi Kali Mampang dan pemeliharaan infrastruktur sungai menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko saat musim hujan. Peninjauan di Segmen Poncol memberi kesempatan untuk memastikan pekerjaan berlangsung, sekaligus menegaskan pentingnya kesiapan kawasan menghadapi curah hujan yang dapat berubah. Langkah tersebut diharapkan mendukung pengendalian aliran air, meskipun karakter geografis setempat tetap perlu diperhitungkan dalam penanganan banjir.Penanganan banjir di kawasan Mampang dan Krukut dilakukan sebagai satu rangkaian, bukan melalui pekerjaan yang berdiri sendiri pada masing-masing sungai. Pemprov DKI Jakarta menggabungkan pembangunan embung dengan pembenahan saluran dan pengerukan sedimentasi di Kali Mampang serta Kali Krukut. Pendekatan terintegrasi ini ditujukan untuk memperbaiki kapasitas tampung dan kelancaran aliran air, sehingga risiko genangan dapat ditekan ketika curah hujan meningkat pada musim hujan.

Keterhubungan kedua sungai menjadi pertimbangan penting dalam pengaturan pekerjaan. Aliran Kali Mampang bertemu dengan Kali Krukut, sementara jalur air dari kawasan tersebut selanjutnya terhubung menuju Kanal Banjir Barat. Karena itu, perubahan kondisi pada satu titik dapat memengaruhi aliran di bagian lain. Pembenahan perlu memperhatikan kesinambungan saluran, termasuk area pertemuan sungai, agar air dapat bergerak menuju jalur berikutnya tanpa terhambat oleh penyempitan atau endapan yang menumpuk.

Pramono menjelaskan arah penanganan yang berangkat dari bagian hulu dan mengikuti sistem aliran hingga ke hilir. Upaya tersebut mencakup embung yang telah dibangun untuk membantu menampung air, serta penataan di titik pertemuan Kali Mampang dan Kali Krukut. Dengan demikian, pekerjaan tidak hanya berfokus pada pengerukan badan sungai, tetapi juga melihat bagaimana air dikumpulkan, dialirkan, dan diteruskan. Pengelolaan dari hulu diharapkan mendukung kerja saluran di bagian bawah dan mengurangi tekanan aliran saat hujan deras.

Progres pengerukan menunjukkan pekerjaan masih berlanjut. Di Kali Mampang, sekitar 4.393 meter kubik sedimentasi telah diangkat, sedangkan sekitar 14.727 meter kubik masih tersisa. Sementara itu, di Kali Krukut, volume yang telah dikeruk mencapai sekitar 8.507,3 meter kubik dan sisa sedimentasinya diperkirakan sekitar 142.692,7 meter kubik. Angka tersebut menggambarkan besarnya pekerjaan yang perlu dituntaskan, terutama di Krukut. Pengerukan yang berkesinambungan, disertai pemantauan embung dan titik pertemuan sungai, menjadi bagian penting dari kesiapan menghadapi musim hujan. Koordinasi antarpekerjaan juga diperlukan agar penanganan di Mampang dan Krukut memberi manfaat pada keseluruhan jalur aliran menuju Kanal Banjir Barat.

Pengerukan Kali Mampang dan Kali Krukut ditujukan untuk memperlancar aliran air sekaligus menekan potensi banjir saat curah hujan meningkat. Upaya ini menjadi bagian dari penanganan kawasan yang terdampak luapan dan genangan, terutama di wilayah Mampang Prapatan, Pasar Minggu, dan Pancoran. Perbaikan aliran sungai diharapkan membantu air bergerak lebih cepat melalui saluran, sehingga risiko penumpukan air di permukiman dan jalan dapat dikurangi. Penanganan tidak hanya berfokus pada kondisi sungai, tetapi juga pada kesiapan kawasan di sekitarnya menghadapi musim hujan.

Sejumlah lokasi lain turut menjadi perhatian dalam upaya pengendalian banjir tersebut, yakni Pondok Karya, Pondok Jaya, Kemang Utara IX, dan Pejaten Barat. Wilayah-wilayah ini memerlukan penanganan yang saling terhubung karena aliran air dari satu area dapat memengaruhi kondisi area lain. Selain pengerukan, pemeliharaan turap dilakukan untuk menjaga kestabilan tepi sungai dan mendukung fungsi saluran. Di Kali Mampang, pekerjaan turap berada di Jalan Poncol Jaya dengan panjang sekitar 300 meter. Sementara itu, pemeliharaan di Kali Krukut dilakukan di Kompleks Canadiyanti sepanjang 241,7 meter. Perawatan ini membantu mempertahankan struktur tepi sungai agar tetap berfungsi dalam mengendalikan aliran.

Pramono menegaskan bahwa pengerjaan tersebut diarahkan untuk memperkuat pengendalian banjir pada skala kawasan, bukan sekadar menangani satu titik genangan. Karena itu, pengerukan dan pemeliharaan infrastruktur perlu dilakukan secara berkelanjutan, disertai perhatian terhadap titik-titik yang berpotensi menghambat aliran. Penanganan yang konsisten di Kali Mampang dan Kali Krukut diharapkan mengurangi hambatan perjalanan air dari kawasan hulu menuju saluran berikutnya. Kelancaran aliran menuju Kanal Banjir Barat juga menjadi bagian penting dari tujuan pekerjaan. Dengan demikian, upaya di beberapa lokasi ini berperan sebagai satu rangkaian mitigasi, bukan pekerjaan terpisah yang hanya memberi dampak sesaat. Pemeliharaan berkala, pemantauan kondisi sungai, dan koordinasi antarwilayah diperlukan agar manfaatnya dapat dijaga sepanjang musim hujan.Normalisasi sungai menjadi salah satu langkah persiapan Jakarta menghadapi peningkatan curah hujan dan risiko banjir setelah periode El NiƱo. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak hanya membenahi Kali Mampang dan Krukut, tetapi juga melanjutkan penanganan di sejumlah aliran lain, termasuk Ciliwung, Cakung Lama, dan Angke. Pengerukan serta pembenahan saluran air di berbagai wilayah turut dilakukan untuk membantu menjaga kapasitas aliran, mengurangi sumbatan, dan memperlancar pembuangan air ketika hujan deras. Upaya tersebut dipandang perlu karena dampak cuaca ekstrem dapat muncul di banyak kawasan, sehingga penanganan tidak cukup dilakukan pada satu sungai atau satu titik saja.

Pramono menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang mendukung pekerjaan penanganan sungai dan lingkungan. Menurutnya, dukungan warga berperan penting agar kegiatan di lapangan berjalan tertib dan manfaatnya dapat dirasakan bersama. Ia juga menekankan bahwa pembenahan kawasan tidak terbatas pada pengerukan sungai. Penataan lingkungan, perbaikan kondisi perumahan, dan peningkatan infrastruktur jalan merupakan bagian dari upaya yang saling berkaitan. Dengan melihat persoalan kawasan secara menyeluruh, pemerintah dapat menyelaraskan pengendalian banjir dengan kebutuhan sehari-hari warga, termasuk akses yang lebih baik dan lingkungan permukiman yang lebih tertata.

Pemprov DKI akan terus berkoordinasi dengan DPRD DKI Jakarta dalam menentukan pelaksanaan program secara bertahap dan sesuai kebutuhan masyarakat. Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, mendukung percepatan pengendalian banjir melalui pengerukan sungai serta pembenahan infrastruktur. Dukungan tersebut mencakup pentingnya memastikan pekerjaan dilakukan secara terarah, bukan hanya sebagai respons sementara ketika genangan terjadi. Yuke menilai koordinasi antarpihak dan perencanaan yang matang diperlukan agar penanganan dapat menjawab persoalan banjir secara lebih efektif.

Baca juga: Komandan Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla Kalsel dalam Rapat Evaluasi | Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan | TNI Perkuat Penanganan Karhutla di Melawi, Salurkan Peralatan Pemadam kepada Masyarakat