Pertamina EP Rantau Mengebor Lima Sumur Baru Saat Pemulihan Banjir Aceh Tamiang

oleh -71 Dilihat
oleh
PEP Rantau Mengebor Lima Sumur Baru Sambil Memulihkan Produksi Migas Pascabanjir

Kabupaten Aceh Tamiang | Pertamina EP Rantau Field tetap menjalankan kegiatan pengeboran lima sumur baru di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, meskipun perusahaan masih menyelesaikan pemulihan infrastruktur yang terdampak banjir. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya mencari cadangan minyak dan gas bumi baru, sekaligus menjaga kesinambungan kegiatan produksi di wilayah operasi. Pengeboran dilakukan ketika sejumlah proses pemulihan pascabanjir masih berlangsung, sehingga pelaksanaannya mencerminkan upaya perusahaan untuk mempertahankan kegiatan strategis di tengah kondisi lapangan yang belum sepenuhnya pulih.

Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, menyampaikan bahwa pengeboran tetap dilakukan meski pemulihan akibat banjir belum selesai. Menurut dia, perusahaan terus berupaya memastikan kegiatan operasi berjalan sesuai kebutuhan, dengan tetap memperhatikan kondisi infrastruktur dan situasi di sekitar wilayah kerja. Lima sumur yang ditajak tersebut diharapkan dapat memberikan tambahan informasi mengenai potensi sumber daya bawah permukaan serta membuka peluang ditemukannya cadangan baru untuk mendukung keberlanjutan produksi.

Langkah ini juga berkaitan dengan kebutuhan mempertahankan ketersediaan pasokan energi nasional. Kegiatan eksplorasi dan pengeboran sumur baru dipandang penting untuk memperkuat basis produksi minyak dan gas bumi, terutama ketika kebutuhan energi terus berjalan. Tomi menekankan bahwa tajak sumur baru memiliki arti penting bagi penyediaan energi nasional. Karena itu, kegiatan pengeboran tetap dilaksanakan bersamaan dengan proses pemulihan pascabanjir, sehingga agenda pemulihan infrastruktur dan upaya pengembangan cadangan dapat berlangsung secara beriringan. Pertamina EP Rantau menempatkan pengeboran lima sumur tersebut sebagai bagian dari komitmen untuk mencari sumber energi baru, mempertahankan produksi, dan mendukung pasokan energi bagi kebutuhan nasional.

Rangkaian pengeboran baru Pertamina EP Rantau mencakup lima sumur yang tersebar di dua kampung, yaitu Kampung Tanjung Seumantoh dan Kampung Paya Meta. Perbedaan lokasi tersebut menjadi bagian penting dalam memahami pembagian pekerjaan, penggunaan rig, serta capaian kedalaman masing-masing sumur. Dua sumur berada di Tanjung Seumantoh, sedangkan tiga sumur lainnya dibor di Paya Meta.

Di Kampung Tanjung Seumantoh, kegiatan pengeboran dilakukan pada sumur RNT DZ-51 dan RNT DZ-52. Kedua sumur tersebut menggunakan rig APS-752 dengan kapasitas 550 HP. Peralatan ini mendukung pelaksanaan pengeboran sesuai kebutuhan teknis di lapangan, termasuk pengoperasian rangkaian pipa dan peralatan pemboran hingga mencapai sasaran kedalaman yang telah ditetapkan.

Sumur RNT DZ-51 memiliki kedalaman akhir 1.145 meter. Sementara itu, pengeboran pada RNT DZ-52 dihentikan pada kedalaman akhir 1.037 meter. Data tersebut menunjukkan adanya perbedaan target atau kondisi geologi kedua titik pengeboran, meskipun keduanya berada di lokasi yang sama dan ditangani menggunakan jenis rig serta kapasitas peralatan yang serupa.

Tiga sumur lain berlokasi di Kampung Paya Meta, yakni RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33. Seluruhnya didukung rig TMMJ-12 berkapasitas 550 HP. Dengan demikian, kedua lokasi pengeboran memakai rig berkapasitas sama, tetapi dengan unit berbeda: APS-752 di Tanjung Seumantoh dan TMMJ-12 di Paya Meta. Rincian kedalaman akhir untuk ketiga sumur di Paya Meta tidak disebutkan dalam data yang tersedia, sehingga informasi teknis yang dapat dipastikan mencakup nama sumur, lokasi, serta rig dan kapasitas yang digunakan.

Pemulihan operasi Pertamina EP Rantau berlangsung setelah banjir besar melanda wilayah kerja pada akhir November 2025. Bencana tersebut membawa ketinggian air sekitar 4 hingga 4,5 meter, sehingga melumpuhkan berbagai fasilitas penting, termasuk area produksi, perkantoran, serta permukiman pekerja. Akses menuju sejumlah lokasi operasi juga terganggu, sementara peralatan dan infrastruktur terdampak genangan. Kondisi ini membuat kegiatan operasional tidak dapat berjalan normal dan memerlukan penanganan terpadu agar fasilitas dapat kembali digunakan secara aman.

Salah satu kerusakan paling serius terjadi pada stasiun kompresor gas atau High Pressure Gas Compressor Station (HPCS). Fasilitas tersebut berperan penting dalam mendukung pasokan energi untuk pembangkit listrik di area operasi. Kerusakan HPCS menyebabkan aliran listrik terhenti dan membuat produksi minyak sempat berhenti total. Gangguan itu tidak hanya berdampak pada kegiatan pengeboran dan pengolahan, tetapi juga menghambat fungsi pendukung yang bergantung pada ketersediaan listrik serta sistem utilitas.

Untuk mempercepat pemulihan, tim teknik melakukan modifikasi pada Stasiun Pengumpul (SP) 5 dan SP-1. Kedua fasilitas tersebut disiapkan agar dapat berfungsi sebagai sumber alternatif pasokan gas bagi pembangkit listrik. Rekayasa ini memungkinkan sistem energi di lapangan memperoleh dukungan sementara ketika HPCS belum dapat dioperasikan sepenuhnya. Pekerjaan dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan, kesiapan peralatan, dan kestabilan aliran gas, sehingga proses pengaktifan fasilitas dapat berlangsung secara bertahap.

Pemulihan tidak dilakukan oleh satu tim saja. Pertamina mengerahkan personel dengan keahlian teknis dari berbagai wilayah operasi lainnya untuk membantu tim di Rantau. Kolaborasi tersebut mencakup pemeriksaan fasilitas, perbaikan peralatan, pengujian sistem, serta pemulihan jaringan kelistrikan dan utilitas. Dengan dukungan lintas wilayah, setiap tahapan dapat dikoordinasikan lebih cepat sesuai tingkat kerusakan. Pendekatan bertahap ini menjadi dasar untuk mengembalikan keandalan operasi sebelum kegiatan produksi dan pengeboran dilanjutkan secara penuh.

Setelah proses pemulihan fasilitas produksi berlangsung, produksi minyak Pertamina EP Rantau Field kembali stabil pada angka 1.700 barel per hari. Tingkat produksi tersebut menunjukkan kondisi operasi yang telah berangsur pulih setelah sebelumnya mencapai 2.000 barel per hari pada Mei dan Agustus 2026. Pemulihan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan fasilitas, kesinambungan kegiatan produksi, serta kondisi operasional di wilayah kerja Rantau.

Percepatan pemulihan fasilitas produksi turut mendapat perhatian dari Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas. Atas upaya tersebut, SKK Migas memberikan penghargaan kepada Pertamina EP Rantau Field. Penghargaan ini berkaitan dengan percepatan pemulihan fasilitas produksi setelah kegiatan operasional terdampak kondisi banjir di Aceh Tamiang.

Pengembalian produksi ke tingkat stabil menjadi bagian dari perkembangan kegiatan Pertamina EP Rantau Field setelah penanganan dampak banjir dan pelaksanaan aktivitas pengeboran. Operasi lapangan tetap diarahkan untuk mendukung keberlanjutan produksi minyak melalui pemulihan fasilitas dan pengelolaan kegiatan sesuai ketentuan yang berlaku.

Seluruh kegiatan operasional pengeboran dipastikan memenuhi standar keselamatan kerja dan prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Pelaksanaan kegiatan tersebut juga mencakup aspek environmental, social, and governance atau ESG, sebagai bagian dari penerapan ketentuan dalam menjalankan operasi hulu minyak dan gas bumi di wilayah kerja Rantau.