Perilaku Hewan Menjelang Gempa: Petunjuk yang Belum Bisa Memastikan Waktu Kejadian

oleh -51 Dilihat
Perilaku Hewan Menjelang Gempa: Petunjuk yang Belum Bisa Memastikan Waktu Kejadian

Jakarta | Hingga kini, belum ada cara yang dapat memastikan kapan gempa bumi akan terjadi. Para ahli belum mampu menentukan secara tepat waktu, lokasi, dan kekuatan gempa sebelum peristiwa itu berlangsung. Karena itu, perubahan perilaku hewan yang terlihat menjelang gempa tidak dapat diperlakukan sebagai alat peringatan yang pasti. Sejumlah kisah dari berbagai wilayah memang mencatat hewan bertingkah tidak seperti biasanya sebelum guncangan dirasakan. Namun, catatan tersebut merupakan pengamatan terhadap kejadian tertentu, bukan bukti bahwa perilaku itu selalu mendahului gempa atau dapat menunjukkan kapan gempa akan terjadi.

Dalam berbagai laporan, hewan peliharaan disebut gelisah, menggonggong, mengeong, bersembunyi, atau berusaha keluar dari suatu tempat. Ada pula cerita tentang ternak yang bergerak berkelompok, burung yang mendadak meninggalkan sarang, serta hewan liar yang tampak berpindah dari habitatnya. Kisah-kisah semacam ini sering muncul setelah sebuah gempa, ketika orang mengingat kembali kejadian sebelum guncangan dan menemukan perilaku yang terasa berbeda. Pengamatan tersebut dapat menjadi bahan penelitian, tetapi umumnya tidak dicatat dengan cara yang seragam. Waktu, kondisi lingkungan, jenis hewan, dan perilaku yang dianggap tidak biasa juga dapat berbeda satu laporan dan laporan lainnya.

Hewan memiliki indra yang peka terhadap perubahan lingkungan, sehingga kemungkinan mereka merespons rangsangan tertentu layak diteliti. Akan tetapi, kegelisahan atau perubahan aktivitas dapat dipicu banyak hal, seperti suara, cuaca, gangguan habitat, penyakit, maupun perubahan rutinitas. Tanpa pengukuran terkontrol dan pengamatan berulang, sulit memisahkan kemungkinan respons terhadap gejala alam dari perilaku yang terjadi secara kebetulan. Oleh sebab itu, kisah tentang hewan sebelum gempa perlu dipahami sebagai petunjuk awal untuk penelitian, bukan ramalan. Masyarakat sebaiknya tidak mengandalkannya untuk menentukan waktu evakuasi atau mengabaikan informasi resmi. Kesiapsiagaan, pemahaman risiko, dan mengikuti arahan lembaga terkait tetap menjadi langkah yang lebih dapat diandalkan saat menghadapi ancaman gempa bumi.

Pada Februari 1975, menjelang gempa besar di Haicheng, Provinsi Liaoning, China, warga melaporkan serangkaian perilaku hewan yang tidak biasa. Ular ditemukan mati di luar tempat persembunyian musim dinginnya, sementara hewan ternak menolak masuk ke kandang. Ayam terlihat berlarian, anjing menggonggong tanpa terkendali, dan kucing enggan memasuki rumah. Kisah-kisah tersebut kemudian kerap dikutip sebagai contoh kemungkinan perubahan perilaku hewan sebelum gempa. Namun, laporan itu berasal dari pengamatan yang beragam dan tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab perilaku tersebut. Peristiwa ini juga berlangsung dalam konteks meningkatnya kewaspadaan terhadap aktivitas seismik di kawasan itu, bukan sebagai satu-satunya dasar keputusan pemerintah.

Pejabat setempat akhirnya memerintahkan evakuasi seluruh kota. Tak lama kemudian, gempa berkekuatan M7,3 mengguncang wilayah Haicheng dan merusak sekitar 90 persen bangunan. Evakuasi tersebut sering disebut sebagai keberhasilan yang mengurangi risiko korban jiwa, meskipun besarnya dampak gempa tidak berarti setiap tanda perilaku hewan dapat diandalkan sebagai peringatan. Keputusan pemerintah juga dikaitkan dengan pemantauan geologi dan penilaian risiko yang dilakukan pada saat itu. Karena itu, kisah Haicheng perlu dipahami secara hati-hati: perubahan perilaku hewan merupakan salah satu unsur dalam cerita, tetapi tidak membuktikan bahwa hewan mampu meramalkan waktu dan lokasi gempa secara tepat. Penilaian ilmiah memerlukan data yang konsisten, terukur, dan dapat diuji.

Contoh lain yang sering diceritakan berasal dari San Diego Zoo Safari Park. Menurut naskah sumber, sekawanan gajah membentuk lingkaran untuk mengelilingi dua anak gajah sebelum gempa M5,2 terjadi di sana pada tahun sebelumnya. Formasi itu ditafsirkan sebagai kemungkinan respons perlindungan terhadap sesuatu yang mereka rasakan. Meski menarik, pengamatan tunggal tidak dapat memastikan bahwa gajah mendeteksi gempa yang akan datang; perilaku berkelompok juga dapat muncul karena sebab lain, termasuk interaksi sosial atau rangsangan lingkungan. Kedua kisah tersebut menunjukkan mengapa perilaku hewan terus menarik perhatian ketika gempa dibahas. Akan tetapi, sampai tersedia bukti yang kuat dan dapat direplikasi, tanda-tanda semacam ini sebaiknya diperlakukan sebagai pengamatan, bukan sistem peringatan yang mampu menentukan kapan gempa akan terjadi.

Salah satu teori yang kerap dibahas untuk menjelaskan perubahan perilaku hewan menjelang gempa berkaitan dengan tekanan ekstrem pada batuan jauh di bawah permukaan bumi. Ketika tekanan meningkat dan batuan mengalami perubahan sebelum akhirnya patah, kondisi fisik di sekitarnya dapat berubah. Sejumlah peneliti mengajukan kemungkinan bahwa proses tersebut memicu perubahan elektromagnetik, yang kemudian dapat terdeteksi oleh hewan tertentu. Kepekaan terhadap medan atau rangsangan lingkungan mungkin berbeda antarspesies, sehingga respons yang muncul pun tidak selalu sama. Namun, gagasan ini masih berupa hipotesis dan belum membuktikan bahwa sinyal elektromagnetik menjadi penyebab perilaku yang diamati sebelum gempa.

Penjelasan lain berfokus pada getaran dan suara berfrekuensi rendah. Pergerakan, tekanan, atau patahan batuan mungkin menghasilkan getaran kecil maupun gemuruh yang tidak mudah didengar manusia, tetapi berpotensi ditangkap oleh sebagian hewan. Hewan dengan pendengaran atau kepekaan terhadap getaran tertentu dapat bereaksi terhadap perubahan semacam itu, misalnya menjadi gelisah, menjauh, atau mengubah pola aktivitas. Meski demikian, suara dan getaran tersebut belum tentu selalu muncul sebelum gempa, dan belum diketahui apakah intensitasnya cukup konsisten untuk menjelaskan laporan perilaku hewan di berbagai lokasi.

Kedua teori itu menawarkan kemungkinan mekanisme, bukan penjelasan yang telah dipastikan. Perilaku hewan juga dapat berubah karena faktor lain, seperti cuaca, suara sehari-hari, perubahan habitat, gangguan manusia, atau kondisi kesehatan. Untuk menilai kaitannya dengan aktivitas seismik, pengamatan perlu dilakukan secara teratur dan dicatat sebelum serta sesudah kejadian, dengan pembanding yang memadai. Peneliti juga perlu mengukur sinyal elektromagnetik, getaran, dan suara secara langsung, lalu membandingkannya dengan respons hewan dari waktu ke waktu. Hingga bukti yang dapat diuji dan diulang tersedia, teori-teori tersebut sebaiknya dipahami sebagai dugaan yang masih diteliti, bukan sebagai dasar untuk memastikan bahwa gempa akan terjadi.

Salah satu penjelasan yang masih diteliti adalah bahwa perubahan geologi menjelang gempa dapat mengubah kondisi kimia di lingkungan. Tekanan pada batuan dan pergerakan fluida bawah tanah mungkin melepaskan gas atau memengaruhi komposisi air dan udara. Dalam sejumlah hipotesis, hidrogen yang terlarut dalam air atau ozon yang terbentuk di dekat permukaan tanah dapat menjadi petunjuk yang terdeteksi oleh indra hewan. Namun, hubungan sebab-akibatnya belum dipastikan. Konsentrasi gas juga berubah karena proses alam lain maupun kegiatan manusia, sehingga kemunculannya tidak otomatis menandakan gempa akan terjadi.

Catatan dari Gujarat, India, pada 2021 turut menarik perhatian peneliti: terdapat laporan lonjakan karbon monoksida beberapa hari sebelum gempa. Temuan semacam ini dapat membantu menyusun pertanyaan penelitian, misalnya apakah perubahan gas berkaitan dengan aktivitas bawah tanah dan apakah hewan meresponsnya secara konsisten. Akan tetapi, satu pengamatan atau laporan lokal belum cukup untuk membuktikan bahwa karbon monoksida merupakan sinyal pendahulu gempa. Pengukuran perlu dilakukan berulang, dengan alat yang terkalibrasi dan pembanding dari lokasi tanpa gempa. Peneliti juga perlu memisahkan pengaruh cuaca, polusi, perubahan tekanan udara, serta sumber emisi lain. Tanpa kendali tersebut, kebetulan dapat keliru ditafsirkan sebagai pola yang dapat diandalkan.

Kepekaan indra hewan pun berbeda-beda, sesuai kebutuhan biologis masing-masing. Gajah, misalnya, berkomunikasi dan menangkap getaran melalui gelombang suara berfrekuensi sangat rendah, termasuk yang dapat merambat jauh melalui tanah maupun udara. Kura-kura memiliki kepekaan terhadap medan magnet, kemampuan yang berperan dalam orientasi dan navigasi.

Baca juga: Sinergi Babinsa dan PPL Pertanian dalam Pengubinan Menjelang Panen Padi