Penyelaman Awal KM Virgo Transport 8 Dimulai, Fokus pada Pemetaan Pengangkatan dan Pemulihan Minyak

oleh -51 Dilihat
oleh
Penyelaman Awal KM Virgo Transport 8 Dimulai, Fokus pada Pemetaan Pengangkatan dan Pemulihan Minyak

Jakarta | Manajemen KM Virgo Transport 8 melalui PT Virgo Karya Shipping memulai penyelaman ke bangkai kapal di Laut Jawa pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal dalam penanganan kapal yang tenggelam sekaligus bagian penting dari persiapan operasi salvage. Penyelaman perdana dilakukan untuk memperoleh gambaran yang diperlukan sebelum rencana pengangkatan kapal disusun lebih lanjut.

Operasi salvage merupakan proses pengangkatan kapal yang tenggelam ke permukaan. Dalam tahap awal ini, kegiatan penyelaman difokuskan pada pemetaan rencana operasi tersebut. Hasil pemetaan akan menjadi dasar bagi manajemen dan pihak terkait untuk menentukan langkah penanganan berikutnya terhadap bangkai KM Virgo Transport 8. Dengan demikian, penyelaman tidak hanya menjadi kegiatan pemeriksaan awal, tetapi juga menjadi bagian dari proses perencanaan pemulihan kapal.

Dwi, Kepala Cabang PT Virgo Karya Shipping Banjarmasin, menyampaikan bahwa penyelaman direncanakan berlangsung selama dua hari, yakni Sabtu dan Minggu. Rentang waktu tersebut menjadi periode awal bagi tim untuk menjalankan kegiatan pemetaan sesuai kebutuhan operasi. Pelaksanaan selama dua hari juga menandai dimulainya tahapan persiapan yang lebih terarah dalam upaya mengangkat kapal dari lokasi tenggelamnya.

Informasi mengenai penyelaman ini menunjukkan bahwa manajemen KM Virgo Transport 8 mulai mengambil langkah konkret setelah kapal berada di dasar laut. Fokus utama kegiatan adalah menyiapkan gambaran operasi salvage melalui pemetaan yang dilakukan pada tahap awal. Rencana tersebut akan menjadi acuan dalam menentukan proses pengangkatan dan pemulihan kapal pada tahapan selanjutnya, sesuai hasil kegiatan penyelaman yang berlangsung pada Sabtu dan Minggu.

Setelah penyelaman awal KM Virgo Transport 8 dimulai, manajemen kapal mengambil langkah komunikasi dengan meminta otoritas maritim menerbitkan marine notice atau pemberitahuan maritim resmi. Langkah ini menjadi bagian dari pengelolaan kegiatan di sekitar lokasi tenggelamnya kapal, terutama karena pekerjaan bawah air dapat berlangsung dalam area yang juga dilalui kapal lain. Penerbitan informasi secara resmi membantu memastikan bahwa keberadaan aktivitas penyelaman diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Marine notice tersebut ditujukan kepada kapal-kapal yang berlayar di sekitar lokasi bangkai kapal. Isi pemberitahuan berfungsi menyampaikan bahwa terdapat aktivitas terkait penyelaman dan penanganan KM Virgo Transport 8 di area tersebut. Dengan demikian, kapal yang melintas memperoleh informasi mengenai kegiatan yang sedang berlangsung tanpa menjadikan pemberitahuan itu sebagai uraian mengenai hasil penyelaman atau perkembangan pemetaan dan pemulihan minyak.

Pemberitahuan maritim juga menciptakan saluran informasi yang lebih tertib manajemen kapal, otoritas terkait, dan pengguna jalur pelayaran. Informasi yang diterbitkan dapat membantu kapal yang melintas memahami konteks adanya pekerjaan di bawah permukaan laut. Penyampaian ini penting selama rangkaian kegiatan berlangsung, karena proses penyelaman awal merupakan bagian dari upaya untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi bangkai kapal serta menyiapkan tahap pekerjaan berikutnya.

Dalam konteks tersebut, marine notice diposisikan semata-mata sebagai pemberitahuan resmi mengenai aktivitas di sekitar lokasi tenggelamnya KM Virgo Transport 8. Pengumuman ini tidak menggantikan laporan teknis penyelaman dan tidak memuat kesimpulan tentang kondisi kapal. Keberadaannya menegaskan bahwa manajemen telah mengupayakan penyampaian informasi kepada kapal-kapal yang melintas, sehingga aktivitas pemetaan, pengangkatan, dan pemulihan minyak dapat berlangsung dengan komunikasi yang lebih jelas kepada pihak di sekitar lokasi.

Penyelaman awal KM Virgo Transport 8 diarahkan untuk menangani risiko pencemaran yang mungkin berasal dari sisa minyak dan limbah bahan bakar di dalam bangkai kapal. Pada tahap ini, penyelam melakukan oil recovery atau pemulihan minyak dengan menguras minyak serta limbah bahan bakar dari bagian kapal yang masih menyimpannya. Langkah tersebut menjadi prioritas karena material yang tertinggal dapat keluar ke lingkungan laut dan menimbulkan pencemaran, terutama ketika bangkai kapal mulai dipindahkan atau mengalami perubahan posisi.

Dwi menjelaskan bahwa setelah minyak dan limbah bahan bakar dikuras, dilakukan penyemprotan bahan kimia untuk menetralisir bahan bakar yang masih tersisa. Tahapan ini dimaksudkan untuk mengurangi potensi bahaya pencemaran dari residu yang belum sepenuhnya terangkat. Penanganan dilakukan secara berurutan, sehingga kegiatan pemulihan minyak dan pembersihan sisa bahan bakar dapat berlangsung sebelum persiapan pengangkatan bangkai kapal dilanjutkan. Dengan demikian, kondisi di sekitar bangkai kapal dapat dipetakan dan dipersiapkan secara lebih aman bagi tahap berikutnya.

Selain menangani sumber pencemaran, penyelam bertugas mengidentifikasi titik-titik yang akan digunakan untuk memasang dudukan. Dudukan tersebut dibuat dari cincin logam dan menjadi bagian dari persiapan pengangkatan bangkai kapal. Penentuan lokasi pemasangan perlu dilakukan secara langsung di bawah air agar posisi dudukan sesuai dengan struktur bangkai kapal dan rencana kerja yang telah disiapkan. Hasil pemetaan ini memberikan dasar bagi tim untuk menentukan bagian yang dapat digunakan sebagai titik tumpu dalam proses selanjutnya.

Rangkaian tugas tersebut menunjukkan bahwa penyelaman awal tidak hanya berkaitan dengan pemeriksaan kondisi bangkai kapal. Kegiatan ini juga mencakup pengendalian potensi pencemaran melalui pemulihan minyak, penetralan sisa bahan bakar, serta penyiapan titik pemasangan dudukan. Seluruh tahapan menjadi dasar penting sebelum proses pengangkatan bangkai kapal dilakukan.

Dwi berharap penyelaman awal terhadap bangkai KM Virgo Transport 8 tidak hanya membantu pemetaan lokasi pengangkatan dan pemulihan minyak, tetapi juga membuka kemungkinan ditemukannya korban yang masih terjebak di dalam kapal. Harapan tersebut disampaikan karena sebagian korban hingga kini belum diketahui keberadaannya setelah kapal tenggelam di Laut Jawa pada 13 September 2026. Tim penyelam diharapkan dapat memeriksa bagian-bagian kapal secara hati-hati, terutama ruang yang berpotensi menjadi lokasi korban, dengan tetap memperhatikan keselamatan personel dan kondisi bangkai kapal.

Sebelumnya, Basarnas menghentikan operasi penyelaman ke bangkai kapal. Setelah penghentian tersebut, fokus pencarian dialihkan pada upaya menemukan sisa korban di permukaan. Penyisiran dilakukan di sejumlah wilayah perairan yang mencakup Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Barat. Langkah ini menjadi bagian dari pencarian lanjutan untuk menelusuri kemungkinan lokasi korban yang terbawa arus atau berada di area perairan yang lebih luas dari titik tenggelamnya kapal.

Berdasarkan data pencarian yang disampaikan, sebanyak 53 korban KM Virgo masih belum ditemukan. Angka tersebut berasal dari total 243 penumpang dan awak kapal yang berada di dalam kapal ketika insiden terjadi. Hingga data tersebut dicatat, 190 orang telah ditemukan, dengan rincian 108 orang dalam keadaan selamat dan 82 orang meninggal dunia.

Data itu menjadi dasar bagi tim terkait untuk terus melakukan pencarian, baik melalui penyisiran permukaan maupun kegiatan penyelaman yang diperlukan untuk mendukung pemeriksaan bangkai kapal. Harapan keluarga dan pihak-pihak yang terlibat tetap tertuju pada upaya menemukan seluruh korban secara bertahap. Setiap informasi dari lokasi penyelaman maupun wilayah penyisiran akan menjadi bagian penting dalam proses pencarian yang masih berlangsung.