KOTA JAMBI, JAMBI — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Pemerintah Kota Jambi telah mendistribusikan sebanyak 1.935.404 liter air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan akibat kemarau ekstrem. Penyaluran tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga di sejumlah wilayah kota yang mengalami kesulitan memperoleh air layak pakai. Kondisi kemarau berkepanjangan menyebabkan sumber air warga berkurang, sementara kebutuhan untuk konsumsi, memasak, dan sanitasi tetap tinggi.
Distribusi air bersih dilaksanakan secara bertahap dengan menyesuaikan laporan dan kebutuhan di lapangan. Pemerintah kota mengerahkan perangkat daerah serta berkoordinasi dengan berbagai pihak agar bantuan dapat menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan. Langkah ini menjadi bagian dari penanganan dampak kekeringan sekaligus upaya menjaga pelayanan dasar selama kondisi cuaca ekstrem berlangsung.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Jambi, Saleh Ridha, menyampaikan bahwa penanganan kekeringan tidak hanya berfokus pada penyaluran air. Pemerintah juga mengambil sejumlah langkah pendukung untuk melindungi kesehatan dan ketahanan masyarakat. Di antaranya adalah pembagian masker, terutama untuk membantu mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat debu dan kondisi udara kering.
Selain itu, pemantauan terhadap kondisi kesehatan masyarakat terus dilakukan untuk mengantisipasi munculnya penyakit yang berkaitan dengan kekurangan air maupun dampak kemarau. Pemerintah juga memberikan bantuan pangan kepada warga yang terdampak sebagai bentuk dukungan terhadap kebutuhan sehari-hari. Menurut Saleh, koordinasi lintas instansi dan keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar penanganan berlangsung cepat, terarah, dan sesuai kondisi masyarakat di setiap wilayah.
Penyaluran air bersih dan bantuan pendukung tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga selama kemarau ekstrem. Pemerintah Kota Jambi tetap memantau perkembangan situasi serta kebutuhan masyarakat, sehingga respons lanjutan dapat disiapkan apabila kekeringan berlanjut atau cakupan wilayah terdampak semakin luas.
Pemerintah menyalurkan sekitar 12.000 liter air bersih kepada warga Kelurahan Simpang Tiga Sipin, Kecamatan Kota Baru, pada 6 Oktober 2026. Bantuan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan harian masyarakat yang terdampak kekeringan dan mengalami keterbatasan pasokan air. Proses distribusi berlangsung dengan melibatkan perangkat pemerintah serta unsur terkait di wilayah setempat, sehingga penyaluran dapat dilakukan secara langsung kepada warga yang membutuhkan.
Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha turut turun langsung dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya menunjukkan perhatian pemerintah daerah terhadap kondisi warga sekaligus memastikan bantuan air bersih disalurkan sesuai kebutuhan lapangan. Selain membantu proses distribusi, pemantauan langsung juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperoleh gambaran mengenai dampak kekeringan di sejumlah kawasan Kota Jambi.
Berdasarkan pemantauan resmi Pemerintah Kota Jambi per 9 Oktober 2026, tercatat 435 permintaan atau kegiatan penyaluran air bersih sepanjang Agustus hingga Oktober 2026. Dari jumlah itu, sebanyak 336 kegiatan telah selesai dilaksanakan, sedangkan 99 kegiatan lainnya masih dalam proses. Data tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan air bersih selama periode kekeringan, sekaligus menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengatur prioritas distribusi dan mempercepat respons.
Pemenuhan kebutuhan warga terdampak dilakukan melalui kerja sama Pemerintah Kota Jambi dengan Perumda Air Minum Tirta Mayang dan sejumlah pihak lainnya. Kolaborasi ini mencakup pengadaan, pengangkutan, serta penyaluran air ke lokasi yang mengajukan permintaan. Dengan koordinasi antarlembaga, pemerintah berupaya menjaga kesinambungan bantuan, terutama bagi permukiman yang belum memperoleh akses air memadai. Masyarakat juga diharapkan menyampaikan kebutuhan melalui saluran resmi agar pendataan, penjadwalan, dan distribusi dapat berlangsung lebih terarah.
Pemerintah Kota Jambi memperkuat penanganan dampak kabut asap sebagai bagian dari upaya mengantisipasi gangguan kesehatan selama periode kekeringan. Salah satu langkah yang dilakukan ialah membagikan masker kepada masyarakat, terutama kelompok yang beraktivitas di luar ruangan serta warga yang tinggal di wilayah dengan paparan asap lebih tinggi. Penggunaan masker diharapkan dapat mengurangi risiko masuknya partikel debu dan asap ke saluran pernapasan, termasuk risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Hingga Oktober 2026, sebanyak 3.765 kotak masker telah disalurkan dari total bantuan yang tersedia sebanyak 5.070 kotak. Penyaluran tersebut dilakukan sebanyak 72 kali dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari perangkat daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), hingga organisasi kemasyarakatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut mendukung distribusi, bersama pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.
Selain pembagian masker, pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan. Fasilitas kesehatan diarahkan untuk memantau potensi peningkatan keluhan pernapasan, memastikan kesiapan tenaga medis, serta menyediakan layanan yang dapat merespons masyarakat secara cepat apabila terjadi gangguan kesehatan akibat kabut asap. Edukasi mengenai pembatasan aktivitas di luar ruangan, penggunaan masker yang tepat, dan pemeriksaan ketika muncul gejala ISPA juga menjadi bagian penting dari langkah pencegahan.
Dukungan terhadap masyarakat terdampak turut diberikan melalui bantuan pangan dari Forum CSR. Bantuan tersebut berupa dua dus pangan yang disalurkan untuk mendukung kebutuhan warga selama kondisi kekeringan berlangsung. Kolaborasi pemerintah, lembaga kebencanaan, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan layanan kesehatan menunjukkan bahwa penanganan dampak kekeringan tidak hanya berfokus pada pemenuhan air bersih, tetapi juga perlindungan kesehatan dan penguatan ketahanan masyarakat.
Saleh Ridha mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara hemat selama kondisi kekeringan masih berlangsung. Penghematan perlu dilakukan dalam kegiatan sehari-hari dengan mendahulukan kebutuhan yang penting dan menghindari penggunaan air secara berlebihan. Masyarakat juga diharapkan menggunakan persediaan air dengan bijak agar kebutuhan rumah tangga dapat tetap dipenuhi secara teratur.
Imbauan tersebut ditujukan kepada seluruh masyarakat agar penggunaan air bersih dapat dikendalikan sesuai kebutuhan. Setiap orang dapat berperan dengan memperhatikan jumlah air yang digunakan dan tidak membuang air yang masih dapat dimanfaatkan. Sikap hemat ini perlu diterapkan dalam aktivitas sehari-hari, terutama ketika persediaan air harus digunakan secara cermat.
Selain menghemat air, masyarakat diminta memakai masker apabila diperlukan. Penggunaan masker dapat dilakukan ketika kondisi lingkungan atau aktivitas tertentu membuat perlindungan tersebut dibutuhkan. Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing dan tidak mengabaikan gangguan kesehatan yang dirasakan.
Apabila mengalami gangguan kesehatan yang membutuhkan penanganan medis, masyarakat diimbau segera mendatangi layanan kesehatan. Pemeriksaan dan penanganan oleh tenaga kesehatan perlu dilakukan sesuai kebutuhan, khususnya ketika keluhan tidak dapat ditangani secara mandiri. Dengan mengikuti imbauan tersebut, masyarakat dapat lebih berhati-hati dalam menggunakan air, menjaga perlindungan diri, serta memperoleh layanan kesehatan ketika diperlukan.

