Pemadaman TPA Supit Urang Berlanjut, Bara Masih Tertahan di Tumpukan Sampah

oleh -72 Dilihat
oleh
Pemadaman TPA Supit Urang Berlanjut, Bara Masih Tertahan di Tumpukan Sampah

Kota Malang | Kebakaran di TPA Supit Urang, Kota Malang, masih ditangani pada hari kelima, Minggu (25/10/2026). Meski kobaran api mulai berkurang, proses pemadaman belum dapat dinyatakan tuntas. Bara yang tersimpan di dalam tumpukan sampah menjadi tantangan tersendiri karena titik panas masih berada di bagian yang tidak selalu tampak dari permukaan. Kondisi ini membuat penanganan perlu berlanjut sampai bara benar-benar dapat dikendalikan.

Perbedaan api terbuka dan bara di dalam timbunan penting untuk memahami mengapa kebakaran masih ditangani ketika kobaran terlihat mereda. Api yang tampak dapat berkurang, sementara panas tetap bertahan di sela-sela material sampah. Karena itu, perubahan kondisi di permukaan belum otomatis berarti seluruh area terdampak sudah aman. Bara yang tersisa dapat memerlukan perhatian lanjutan, sehingga proses pemadaman berlangsung lebih lama daripada yang terlihat dari besar kecilnya kobaran.

Pada hari kelima, perkembangan berupa berkurangnya kobaran menunjukkan situasi telah berubah, tetapi belum menandai akhir penanganan. Fokusnya tetap memastikan bara di dalam tumpukan sampah tidak tertinggal. Selama masih terdapat bara, pemadaman belum sepenuhnya selesai dan kondisi perlu terus ditangani. Peristiwa di TPA Supit Urang ini dengan demikian masih berada dalam tahap penanganan, meskipun api yang terlihat mulai mereda. Informasi yang tersedia menegaskan dua hal utama: kobaran berkurang dan bara di dalam tumpukan sampah masih menghambat penyelesaian pemadaman. Belum ada keterangan mengenai penyebab kebakaran, sehingga penyebabnya tidak dapat disimpulkan dari perkembangan penanganan pada hari kelima.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengerahkan helikopter untuk membantu pemadaman kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang, Kota Malang. Armada tersebut menjalankan operasi water bombing, yakni menjatuhkan air dari udara ke area yang masih menyimpan bara. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bahwa helikopter melakukan 30 sorti pada Minggu. Setiap sorti menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pemadaman, khususnya pada titik-titik yang sulit ditangani secara langsung oleh petugas di permukaan.

Pengerahan dukungan udara diperlukan karena bara masih tertahan di dalam tumpukan sampah. Kondisi itu membuat penanganan tidak sederhana: permukaan yang terlihat padam belum tentu menandakan api telah benar-benar hilang. Tumpukan sampah juga berisiko ambles, sehingga petugas dan relawan dapat menghadapi bahaya ketika mendekati atau bekerja di sekitar titik panas. Dengan menjatuhkan air dari udara, operasi diharapkan membantu proses pemadaman sekaligus mengurangi kebutuhan personel untuk menjangkau lokasi yang rawan secara langsung.

Khofifah menjelaskan bahwa pemadaman tidak cukup hanya mengandalkan jalur darat. Air yang disiramkan dari permukaan mungkin belum menjangkau bara yang berada jauh di dalam tumpukan, sementara pergerakan petugas di area tersebut dibatasi oleh risiko ambles dan panas. Karena itu, penanganan dilakukan dengan memadukan upaya di darat dan dukungan dari udara. Helikopter dapat membantu membasahi area yang sulit dijangkau, tetapi operasi tersebut tetap menjadi bagian dari penanganan bersama, bukan pengganti seluruh pekerjaan petugas di lokasi.

Meski demikian, pengerahan helikopter bukan langkah yang mudah dilakukan. Khofifah menyebut fasilitas serupa juga dibutuhkan oleh daerah lain, sehingga ketersediaannya harus dipertimbangkan di tengah berbagai kebutuhan penanganan. Jumlah 30 sorti pada Minggu menunjukkan intensitas dukungan udara yang diberikan untuk TPA Supit Urang, tetapi pemadaman tetap bergantung pada koordinasi dan upaya berkelanjutan. Pemerintah daerah bersama petugas perlu terus memantau titik bara dan kondisi tumpukan agar air dapat diarahkan secara efektif, sementara keselamatan personel tetap menjadi pertimbangan utama selama operasi berlangsung.

Upaya pemadaman kebakaran di TPA Supit Urang dapat dilanjutkan melalui water bombing pada Senin (26/10/2026), dengan catatan kondisi cuaca memungkinkan. Operasi dari udara menjadi salah satu jalur penanganan untuk membantu menjangkau bagian area terdampak yang sulit ditangani secara langsung dari permukaan. Pelaksanaannya tetap bergantung pada penilaian kondisi di lapangan dan kesiapan penerbangan, sehingga belum dapat dipastikan apakah pesawat bisa kembali dikerahkan pada hari tersebut.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkoordinasi dengan Lanud Abdulrachman Saleh terkait izin penerbangan. Koordinasi itu diperlukan agar rencana operasi udara dapat dilaksanakan sesuai ketentuan dan mempertimbangkan keadaan cuaca maupun keselamatan penerbangan. Apabila persyaratan tersebut mendukung, water bombing berpeluang diteruskan sebagai bagian dari upaya pemadaman. Jalur udara ini melengkapi pekerjaan petugas di darat, bukan menggantikan penanganan langsung terhadap titik-titik panas yang masih tersisa di dalam tumpukan sampah.

Secara bersamaan, tim darat terus menangani bara tersembunyi yang tertahan di material sampah. Petugas melakukan injeksi air untuk membantu menjangkau bagian dalam tumpukan, tempat bara dapat bertahan meskipun api tidak selalu terlihat dari permukaan. Selain itu, tumpukan sampah di area terdampak dibongkar agar titik panas lebih mudah ditemukan dan air dapat diarahkan ke bagian yang memerlukan penanganan. Langkah ini dilakukan dengan bekerja pada material yang terbakar maupun area di sekitarnya, sembari memantau kondisi lapangan. Dengan demikian, penanganan berlangsung melalui dua jalur yang saling melengkapi: dukungan pemadaman dari udara jika cuaca dan izin memungkinkan, serta pemadaman dan pembongkaran tumpukan oleh petugas di darat. Kedua upaya tersebut berfokus pada pengendalian api dan bara yang masih berada di area TPA Supit Urang.

Penjabat Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyampaikan bahwa hujan membantu upaya pemadaman kebakaran di TPA Supit Urang. Menurutnya, proses penanganan didukung sinergi operasi udara dan operasi modifikasi cuaca yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Operasi modifikasi cuaca tersebut ditujukan untuk memicu turunnya hujan, sementara dukungan dari udara menjadi bagian dari rangkaian upaya pemadaman di lokasi. Kedua langkah itu berjalan bersamaan dengan penanganan kebakaran yang masih berlangsung, ketika bara masih tertahan di tumpukan sampah.

Wahyu juga menyebut hujan deras yang turun pada sore hingga malam sebelumnya sangat membantu proses pemadaman. Turunnya hujan memberikan dukungan dalam penanganan api di area terdampak, terutama saat petugas berupaya mengatasi bara yang tersimpan di timbunan sampah. Pernyataan tersebut menegaskan peran kondisi cuaca dalam mendukung operasi yang dilakukan, tanpa mengubah bahwa pemadaman tetap perlu dilanjutkan di titik-titik yang masih menyimpan bara. Upaya di lapangan turut ditopang oleh langkah yang dilakukan pemerintah provinsi untuk mengupayakan hujan melalui modifikasi cuaca.

Sinergi operasi udara dan modifikasi cuaca menjadi bagian dari penanganan kebakaran di kawasan TPA tersebut. Hujan deras yang turun pada rentang sore hingga malam sebelumnya dinilai sangat membantu, sebagaimana disampaikan Wahyu Hidayat. Luas area kebakaran yang dilaporkan mencapai 15 hektare. Dari keseluruhan cakupan itu, sekitar 7 hektare berada di lahan lama atau old landfill, sedangkan 8 hektare lainnya berada di lahan baru atau new landfill. Pembagian luasan tersebut menggambarkan sebaran area yang terdampak di dua bagian TPA Supit Urang, yakni lahan lama dan lahan baru. Keterangan mengenai luasan itu melengkapi penjelasan tentang dukungan hujan dan operasi yang dikerahkan dalam proses pemadaman. Dengan demikian, area yang ditangani mencakup kedua zona tersebut, dengan total luasan yang dilaporkan sebesar 15 hektare.