Overthinking yang Mengganggu Aktivitas Perlu Mendapat Penanganan Profesional

oleh -272 Dilihat
oleh
Overthinking yang Mengganggu Aktivitas Perlu Mendapat Penanganan Profesional

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Psikolog klinis dewasa Miki Amrilya Wardati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menyarankan masyarakat yang mengalami overthinking hingga mengganggu aktivitas sehari-hari untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional. Menurutnya, konsultasi diperlukan ketika intensitas pikiran berlebihan sudah benar-benar meningkat dan mulai memengaruhi keberfungsian hidup sehari-hari.

Anjuran tersebut disampaikan Miki, yang merupakan mitra psikolog Halodoc, dalam acara temu media di Jakarta pada Kamis. Ia menekankan bahwa overthinking tidak lagi dapat dianggap sebagai persoalan ringan apabila membuat seseorang kesulitan menjalankan rutinitas, menyelesaikan tanggung jawab, atau mempertahankan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.

Kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa seseorang membutuhkan dukungan yang lebih terarah. Konsultasi dengan psikolog memungkinkan individu membicarakan berbagai pikiran dan kekhawatiran yang dirasakan dalam ruang yang aman serta memperoleh bantuan sesuai kebutuhannya. Penanganan profesional juga dapat membantu mengenali pola berpikir yang berulang dan memahami dampaknya terhadap aktivitas maupun keberfungsian sehari-hari.

Keputusan untuk mencari bantuan sebaiknya tidak menunggu hingga gangguan yang dirasakan semakin berat. Ketika pikiran yang terus berulang mulai menyita perhatian, menghambat pekerjaan, mengganggu hubungan dengan orang lain, atau membuat rutinitas sulit dijalankan, konsultasi dapat menjadi langkah yang tepat. Dengan demikian, seseorang dapat memperoleh pendampingan untuk menghadapi kondisi tersebut secara lebih terarah, berdasarkan penilaian tenaga profesional.

Miki menjelaskan bahwa mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan pada dasarnya dapat menjadi pengalaman yang wajar. Setiap orang dapat memikirkan kemungkinan buruk, mempertimbangkan berbagai pilihan, atau merasa cemas ketika menghadapi situasi yang belum pasti. Respons tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa seseorang mengalami gangguan kesehatan mental. Dalam kadar tertentu, kekhawatiran bahkan dapat mendorong seseorang untuk lebih berhati-hati, menyiapkan diri, dan mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan.

Namun, overthinking perlu dipahami sebagai gejala yang patut diamati, terutama ketika intensitasnya meningkat dan mulai memengaruhi kondisi maupun aktivitas sehari-hari. Istilah tersebut tidak secara otomatis merujuk pada diagnosis tertentu. Penilaian mengenai kondisi kesehatan mental memerlukan pemahaman yang menyeluruh, termasuk durasi keluhan, tingkat keparahan, situasi yang memicu, serta dampaknya terhadap fungsi seseorang. Karena itu, tanda-tanda yang muncul sebaiknya tidak langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami gangguan tertentu.

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah kesulitan berkonsentrasi. Pikiran yang terus berputar dapat membuat seseorang sulit memusatkan perhatian pada pekerjaan, pembelajaran, percakapan, atau tugas sederhana. Selain itu, seseorang mungkin merasa takut melakukan sesuatu karena terus membayangkan kegagalan, penilaian orang lain, atau kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Rasa takut tersebut dapat membuat aktivitas tertunda atau dihindari.

Gangguan tidur juga dapat menyertai kekhawatiran yang berlebihan. Seseorang mungkin sulit memulai tidur, sering terbangun, atau tetap memikirkan persoalan tertentu saat tubuh seharusnya beristirahat. Tanda lainnya adalah munculnya rasa tidak nyaman ketika beraktivitas, baik berupa kegelisahan, ketegangan, maupun perasaan terbebani. Meski demikian, tanda-tanda tersebut dapat dipengaruhi banyak faktor dan tidak selalu berarti gangguan mental. Apabila keluhan berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau menghambat kehidupan sehari-hari, konsultasi dengan tenaga profesional dapat dipertimbangkan untuk memperoleh penilaian dan bantuan yang sesuai.

Konsultasi dengan tenaga profesional membantu seseorang memahami apakah overthinking berdiri sendiri atau disertai gejala lain yang memengaruhi kesehatan mental. Dalam sesi pemeriksaan, profesional akan menggali pola pikiran, durasi keluhan, intensitas kecemasan, perubahan suasana hati, kualitas tidur, tingkat energi, serta dampaknya terhadap pekerjaan, hubungan sosial, dan aktivitas sehari-hari. Informasi tersebut memberikan gambaran yang lebih menyeluruh daripada sekadar menilai seberapa sering seseorang memikirkan sesuatu secara berlebihan.

Pemeriksaan juga dapat mencakup pertanyaan mengenai pengalaman emosional, perilaku, kondisi fisik, penggunaan obat atau zat tertentu, serta riwayat kesehatan pribadi dan keluarga. Setiap informasi dinilai secara hati-hati untuk mengetahui apakah terdapat pola gejala yang konsisten dengan kondisi tertentu. Dengan demikian, tenaga profesional dapat menentukan langkah penanganan yang sesuai, baik berupa pemantauan, konseling, perubahan kebiasaan, maupun intervensi lain yang diperlukan.

Miki menjelaskan bahwa diagnosis tidak seharusnya ditegakkan berdasarkan dugaan pribadi semata. Seseorang mungkin membaca informasi mengenai gangguan mental, lalu menghubungkannya dengan pengalaman overthinking yang sedang dialami. Namun, kesamaan beberapa gejala belum cukup untuk memastikan adanya diagnosis tertentu. Penetapan diagnosis memerlukan pemeriksaan menyeluruh, pertimbangan konteks kehidupan, serta penilaian profesional yang kompeten.

Dalam proses tersebut, profesional dapat menilai kemungkinan adanya gangguan lain yang gejalanya perlu dibedakan dari overthinking, termasuk depresi atau bipolar. Penyebutan kondisi tersebut bukan berarti setiap orang yang mengalami overthinking mengidapnya. Depresi, bipolar, dan kondisi psikologis lainnya memiliki pola gejala, durasi, serta kriteria penilaian yang perlu diperiksa secara khusus. Karena itu, konsultasi menjadi langkah penting untuk memperoleh pemahaman yang akurat dan menghindari pelabelan diri yang dapat menimbulkan kekhawatiran tambahan. Hasil evaluasi juga dapat membantu menentukan dukungan yang paling sesuai dengan kebutuhan individu.

Mengenali diri sendiri merupakan langkah awal untuk memahami perubahan yang terjadi, baik pada pikiran, perasaan, maupun perilaku sehari-hari. Pemahaman ini membantu seseorang menyadari ketika muncul sesuatu yang berbeda dari biasanya. Perubahan tersebut tidak selalu menunjukkan adanya gangguan tertentu, tetapi tetap penting untuk diperhatikan, terutama apabila berlangsung berulang, semakin kuat, atau mulai memengaruhi aktivitas. Dengan memahami kondisi diri, seseorang dapat lebih peka terhadap tanda-tanda yang mungkin sebelumnya diabaikan.

Miki menganjurkan agar seseorang segera berkonsultasi apabila menemukan perubahan yang terasa tidak biasa, terlebih jika perubahan itu sudah mengganggu kehidupan sehari-hari. Gangguan dapat terlihat dari kesulitan berkonsentrasi, pekerjaan yang terbengkalai, hubungan yang terganggu, atau munculnya rasa tidak nyaman yang sulit dikendalikan. Tidak perlu menunggu sampai kondisi menjadi semakin berat untuk mencari bantuan. Konsultasi dapat menjadi kesempatan untuk membicarakan pengalaman yang dirasakan secara terbuka dan memperoleh penilaian yang sesuai.

Sinyal dari tubuh dan pikiran perlu dikenali, tetapi tidak sebaiknya ditafsirkan sendiri sebagai diagnosis. Keluhan, perubahan kebiasaan, atau perasaan yang mengganggu dapat memiliki penyebab yang beragam. Karena itu, Miki menekankan pentingnya mengonsultasikan perubahan tersebut kepada profesional agar kondisi dapat dipahami secara menyeluruh dan diagnosis dapat ditegakkan dengan tepat. Tenaga profesional juga dapat menilai apakah gejala yang dirasakan berkaitan dengan masalah tertentu atau memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Kesadaran terhadap perubahan diri, disertai langkah untuk mencari penilaian profesional, membantu seseorang menyampaikan kondisi yang dialami secara lebih jelas.