Osteoporosis dan Risiko Patah Tulang: Hal yang Perlu Dipahami setelah Usia 50 Tahun

oleh -21 Dilihat
oleh
Osteoporosis dan Risiko Patah Tulang: Hal yang Perlu Dipahami setelah Usia 50 Tahun

Tangerang | Osteoporosis adalah kondisi ketika kepadatan dan kualitas tulang menurun. Perubahan tersebut membuat tulang kehilangan sebagian kekuatannya, menjadi lebih rapuh, dan lebih mudah patah. Karena prosesnya dapat berlangsung perlahan, seseorang mungkin tidak menyadari bahwa tulangnya telah melemah. Kondisi ini berbeda dari cedera yang langsung menimbulkan rasa sakit: penurunan kekuatan tulang sering tidak terasa, dan tidak selalu mengubah kemampuan bergerak atau kegiatan sehari-hari pada tahap awal. Itulah sebabnya osteoporosis kerap disebut sebagai penyakit yang berkembang secara senyap.

Pada banyak orang, tanda pertama yang terlihat justru terjadi ketika tulang mengalami fraktur atau patah. Fraktur dapat muncul setelah kejadian yang tampak ringan, atau akibat benturan yang tidak biasanya menyebabkan tulang sehat patah. Sebelum kejadian itu, seseorang mungkin tidak mengalami keluhan yang jelas untuk dijadikan peringatan. Tidak adanya gejala bukan berarti kepadatan tulang pasti normal; karena itu, mengandalkan rasa sakit atau perubahan yang terasa saja dapat membuat kondisi terlambat dikenali. Kewaspadaan dan penilaian faktor risiko menjadi penting, terutama setelah usia 50 tahun.

Perhatian terhadap osteoporosis juga berkaitan dengan perubahan demografi. Jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia terus bertambah, sehingga kebutuhan untuk memahami dan menangani kondisi yang berkaitan dengan kesehatan tulang menjadi semakin relevan. Seiring bertambahnya kelompok usia tersebut, beban osteoporosis dan fraktur yang menyertainya berpotensi menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Proyeksi yang menyebut angka osteoporosis dapat meningkat hingga 135 persen pada 2050 memperkuat alasan untuk memberi perhatian sejak dini. Angka itu menggambarkan pentingnya kesiapsiagaan, bukan kepastian bahwa setiap orang akan mengalami osteoporosis. Memahami bahwa penyakit ini dapat tidak bergejala membantu masyarakat dan tenaga kesehatan mempertimbangkan penilaian yang sesuai, alih-alih menunggu sampai patah tulang terjadi. Dengan mengenali sifat senyapnya, orang berusia di atas 50 tahun dapat lebih tanggap terhadap perlunya membahas kesehatan tulang dan risiko fraktur dalam layanan kesehatan.Menurut dokter spesialis ortopedi dan traumatologi dr. Wijaya Johanes Chendra, patah tulang yang berkaitan dengan osteoporosis paling sering terjadi pada tiga area: panggul atau paha atas, tulang belakang, dan pergelangan tangan. Risiko ini meningkat ketika kepadatan dan kekuatan tulang berkurang, sehingga benturan ringan atau jatuh yang tampak tidak berat pun dapat menyebabkan fraktur. Lokasi cedera dan dampaknya berbeda-beda, bergantung pada kondisi tulang serta kesehatan umum seseorang.

Fraktur panggul, termasuk bagian paha atas, dapat menjadi cedera serius pada lansia. Nyeri dan keterbatasan bergerak mungkin menyulitkan seseorang untuk berdiri, berjalan, atau melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Pemulihan dapat memerlukan perawatan dan rehabilitasi, dan pada sebagian pasien, kemandirian menurun atau kecacatan berlangsung dalam jangka panjang. Fraktur panggul juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian pada kelompok lanjut usia, terutama ketika kondisi kesehatan lain turut memengaruhi pemulihan. Namun, hasil setiap pasien tidak sama; usia, tingkat kebugaran, penyakit penyerta, penanganan, serta dukungan setelah cedera ikut berperan. Karena itu, perubahan kemampuan bergerak setelah jatuh sebaiknya dinilai tenaga kesehatan.

Fraktur tulang belakang akibat osteoporosis kadang tidak segera dikenali. Cedera dapat muncul setelah aktivitas sederhana dan gejalanya mungkin dianggap sebagai nyeri punggung biasa, sehingga pemeriksaan tertunda. Meski demikian, fraktur semacam ini dapat menimbulkan nyeri kronis, terutama bila tulang mengalami perubahan bentuk atau fraktur berulang. Beberapa orang juga mengalami perubahan postur, seperti kifosis atau punggung yang makin membungkuk, serta penurunan tinggi badan. Tanda-tanda tersebut tidak selalu dialami semua orang dan dapat berkembang secara bertahap. Fraktur pergelangan tangan juga termasuk lokasi yang umum, sering kali terjadi ketika seseorang menahan tubuh saat jatuh. Cedera ini dapat membatasi penggunaan tangan selama masa pemulihan. Mengenali kemungkinan fraktur dan berkonsultasi setelah cedera membantu menentukan pemeriksaan serta perawatan yang sesuai, sekaligus membuka kesempatan untuk menilai kesehatan tulang dan mengurangi risiko patah berikutnya.Penanganan patah tulang pada orang dengan osteoporosis tidak selalu sama. Lokasi fraktur, tingkat pergeseran atau kestabilan tulang, serta kondisi pasien menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah yang sesuai. Karena itu, pilihan tindakan tidak dapat disamaratakan hanya berdasarkan usia atau diagnosis osteoporosis. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan membantu menilai keadaan tulang dan pasien sebelum keputusan penanganan dibuat.

Pada fraktur panggul, operasi umumnya diperlukan untuk memperbaiki atau mengganti bagian tulang yang patah. Tindakan ini biasanya dipertimbangkan sedini mungkin setelah kondisi pasien dinilai memungkinkan untuk menjalani operasi. Penilaian tersebut penting karena keadaan kesehatan secara keseluruhan ikut menentukan waktu dan pendekatan tindakan. Tujuan penanganan adalah mengatasi fraktur dengan mempertimbangkan kebutuhan serta kondisi masing-masing pasien.

Fraktur pergelangan tangan dapat ditangani dengan cara yang berbeda, bergantung pada bentuk dan kestabilan patahannya. Operasi dapat dipertimbangkan apabila tulang bergeser atau posisinya tidak stabil. Dengan demikian, tidak setiap patah tulang pergelangan tangan otomatis memerlukan operasi. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah posisi tulang dapat dipertahankan tanpa tindakan bedah atau membutuhkan penanganan lain.

Sementara itu, fraktur tulang belakang umumnya terlebih dahulu ditangani tanpa operasi. Namun, tindakan tertentu dapat diperlukan apabila nyeri berat tetap berlangsung atau muncul gangguan saraf. Keadaan tersebut perlu dinilai secara menyeluruh, termasuk perkembangan keluhan dan temuan pemeriksaan. Penanganan tanpa operasi maupun tindakan bedah memiliki pertimbangan yang berbeda, sehingga keputusan bergantung pada situasi klinis pasien.

Perbedaan pilihan penanganan ini menunjukkan bahwa jenis fraktur saja belum cukup untuk menentukan tindakan. Dua pasien dengan patah tulang di lokasi yang sama pun dapat memiliki kebutuhan berbeda, misalnya karena kestabilan tulang atau kondisi kesehatannya tidak serupa. Karena itu, pemeriksaan dan keputusan penanganan perlu dilakukan berdasarkan keadaan individual, bukan dengan menganggap semua kasus osteoporosis dan fraktur memiliki pola yang sama. Informasi mengenai pilihan tindakan dapat membantu pasien memahami bahwa operasi mungkin dibutuhkan pada situasi tertentu, sementara penanganan tanpa operasi dapat menjadi langkah awal pada kondisi lain. Penilaian tenaga kesehatan menjadi bagian penting untuk menentukan pendekatan yang sesuai bagi pasien.Menurut dr. Bernadette Laura, dokter spesialis kedokteran olahraga, aktivitas fisik yang memberi beban pada tulang dapat merangsang proses pembentukan dan pembaruan tulang. Rangsangan ini menjadi salah satu alasan olahraga penting untuk menjaga kesehatan tulang, terutama setelah usia 50 tahun, ketika risiko osteoporosis dan patah tulang perlu mendapat perhatian. Namun, manfaat aktivitas fisik tidak terbatas pada tulang. Olahraga juga membantu memperkuat otot yang menopang tubuh, menjaga keseimbangan, serta mendukung koordinasi gerak. Ketiga hal tersebut berperan dalam mengurangi kemungkinan jatuh, yang dapat berujung pada patah tulang pada orang dengan tulang rapuh.

Latihan menumpu berat badan merupakan salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan. Contohnya adalah berjalan dan naik tangga, yang membuat tulang menopang beban tubuh saat bergerak. Latihan beban juga dapat menjadi bagian dari program untuk membantu memperkuat otot dan mendukung kesehatan tulang. Selain itu, latihan fleksibilitas perlu dipadukan agar tubuh lebih leluasa bergerak dan keseimbangan dapat terjaga. Dengan demikian, program aktivitas fisik sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu jenis latihan, tetapi mempertimbangkan kekuatan, kemampuan bergerak, dan keamanan. Pemilihan gerakan perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, bukan semata-mata mengikuti aktivitas yang dilakukan orang lain.

Diagnosis osteoporosis tidak serta-merta berarti seseorang harus berhenti bergerak. Aktivitas tetap dapat dilakukan, tetapi jenis latihan, intensitas, dan cara pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan serta kemampuan tubuh.

Baca juga: 8 Hal yang Paling Diingat Anak Sudah Dewasa tentang Orang Tua yang Membuat Mereka Merasa Dipahami