Operasional Penyeberangan Merak Berjalan Normal Usai KMP Batumandi Tenggelam

oleh -62 Dilihat
oleh
Operasional Penyeberangan Merak Berjalan Normal Usai KMP Batumandi Tenggelam

Jakarta | Kementerian Perhubungan bersama PT ASDP Indonesia Ferry memastikan kegiatan penyeberangan di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, tetap berjalan normal setelah KMP Batumandi tenggelam. Insiden tersebut tidak menghentikan pelayanan kepada pengguna jasa. Seluruh dermaga di pelabuhan beroperasi seperti biasa, sementara aktivitas kapal pada alur masuk pelabuhan juga berlangsung normal. Dengan demikian, arus penyeberangan di Merak tetap dilayani sesuai operasional yang berlaku.

Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Lollan Panjaitan, menyampaikan kepastian itu dalam keterangan terkonfirmasi di Jakarta pada Kamis. Ia menjelaskan bahwa pengaturan alur pelayaran tetap dilakukan agar kapal yang akan masuk maupun bergerak di kawasan pelabuhan dapat mengakses jalur dengan aman dan tertib. Pengaturan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kelancaran lalu lintas kapal, sekaligus mengurangi potensi gangguan terhadap layanan penyeberangan.

Selain pengaturan jalur, pemantauan terhadap kapal yang beraktivitas di sekitar pelabuhan terus dilakukan. Langkah ini diperlukan untuk memastikan pergerakan kapal berlangsung sesuai ketentuan keselamatan dan kondisi operasional di lapangan. Pengawasan juga membantu petugas mengetahui situasi alur masuk secara berkelanjutan, sehingga apabila diperlukan, langkah pengaturan dapat dilakukan dengan cepat. Kemenhub dan ASDP mengoordinasikan pelaksanaan layanan agar kegiatan di dermaga dan alur pelayaran tetap terkendali.

Beroperasinya seluruh dermaga seperti biasa menunjukkan bahwa fasilitas pelayanan penyeberangan tetap dapat digunakan setelah kejadian tersebut. Pengguna jasa yang hendak menyeberang dapat mengikuti informasi resmi dari pengelola pelabuhan dan petugas di lokasi, terutama mengenai arahan keselamatan maupun pergerakan kapal. Pengaturan akses kapal dan pemantauan operasional menjadi perhatian penting dalam menjaga kelancaran layanan tanpa mengabaikan aspek keselamatan. Kemenhub menegaskan bahwa aktivitas pelayaran di alur masuk Pelabuhan Merak berjalan normal, dan pelayanan penyeberangan tetap berlangsung dengan pengawasan serta koordinasi para pihak terkait. Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa operasional pelabuhan tetap dijaga, sementara penanganan lalu lintas kapal dilakukan secara teratur untuk mendukung keselamatan awak kapal, penumpang, dan pengguna jasa lainnya.Direktorat Jenderal Perhubungan Laut melalui KSOP Kelas I Banten mengatur pergerakan kapal di sekitar Pelabuhan Merak setelah KMP Batumandi tenggelam. Pengaturan ini dilakukan agar lalu lintas pelayaran tetap terkendali dan kegiatan penyeberangan tidak terganggu. Setiap kapal yang melintas perlu diarahkan dengan memperhatikan kondisi alur, posisi kapal di lokasi kejadian, serta keselamatan pengguna jasa dan awak kapal. Dengan pengawasan dan koordinasi yang terarah, kapal dapat tetap bergerak sesuai kebutuhan operasional tanpa menimbulkan kepadatan atau hambatan di area pelabuhan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga layanan penyeberangan Merak tetap berjalan normal selama penanganan insiden berlangsung.

VTS Merak terus memantau pelayaran di sekitar lokasi kejadian. Pemantauan ini membantu petugas memperoleh informasi mengenai pergerakan kapal dan situasi perairan, khususnya di sekitar alur masuk Pelabuhan Merak. Informasi tersebut menjadi dasar untuk mendukung pengaturan lalu lintas dan mengantisipasi potensi gangguan terhadap operasional pelabuhan. KSOP Kelas I Banten juga berkoordinasi dengan Pertamina, VTS Merak, serta Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai Kelas I Tanjung Priok. Koordinasi lintas instansi ini diarahkan untuk mengantisipasi kemungkinan pencemaran minyak, termasuk di perairan alur masuk, serta memastikan langkah penanganan dapat dilakukan secara terkoordinasi.

Salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah memasang oil boom di perairan sekitar lokasi. Peralatan ini berfungsi menahan penyebaran minyak di permukaan air, sehingga membantu membatasi dampak dan mengurangi risiko pencemaran yang lebih luas. Kegiatan pemasangan melibatkan TB Rijaluta, RIB Cilegon, dan RIB Plaju. Keterlibatan kapal tunda dan perahu cepat tersebut mendukung pelaksanaan penanganan di area perairan yang perlu diawasi. Penempatan oil boom menjadi bagian dari respons terhadap potensi tumpahan, sementara pemantauan dan koordinasi terus dilakukan untuk menilai kondisi perairan. Dengan pengaturan kapal yang berjalan bersamaan dengan upaya pencegahan pencemaran, otoritas berupaya menjaga keselamatan pelayaran serta kelancaran operasional Pelabuhan Merak.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah berkoordinasi dengan PT ASDP Indonesia Ferry untuk mempersiapkan pengangkatan KMP Batumandi yang tenggelam. Penanganan kapal tersebut direncanakan melalui operasi salvage, yakni serangkaian upaya untuk mengangkat atau menangani kapal yang berada di bawah permukaan air. Koordinasi dilakukan sebagai bagian dari tindak lanjut pascakejadian, sekaligus untuk memastikan proses penanganan disiapkan secara terukur dan melibatkan pihak yang memiliki kompetensi di bidangnya.

Hingga saat ini, pembahasan mengenai rencana operasi masih berlangsung. Salah satu hal yang dibahas adalah penunjukan perusahaan penyedia jasa salvage atau salvor yang akan melaksanakan pekerjaan pengangkatan. Penentuan salvor menjadi bagian penting dalam persiapan karena pelaksana operasi perlu memiliki kemampuan dan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan di lokasi. Rencana teknis, tahapan pekerjaan, serta aspek keselamatan juga perlu dipertimbangkan sebelum kegiatan pengangkatan dimulai.

Lollan menjelaskan bahwa seluruh persiapan diarahkan agar pengangkatan kapal dapat segera dilakukan setelah berbagai kebutuhan operasi ditetapkan. Namun, percepatan pekerjaan tetap harus memperhatikan keselamatan dan keamanan, baik bagi personel yang terlibat maupun pihak lain di sekitar lokasi. Kondisi perairan di sekitar kapal juga menjadi pertimbangan dalam menentukan metode dan waktu pelaksanaan. Faktor-faktor tersebut diperlukan agar proses berjalan dengan terkendali dan risiko selama operasi dapat diminimalkan.

Kemenhub akan terus berkoordinasi dengan ASDP serta pihak terkait lainnya selama tahapan persiapan dan penanganan berlangsung. Koordinasi lanjutan diperlukan untuk menyelaraskan rencana, memastikan pembagian tanggung jawab, dan menjaga agar setiap langkah mengikuti ketentuan yang berlaku. Dengan perencanaan yang matang, penanganan pascakejadian diharapkan dapat berlangsung secara tertib, aman, dan sesuai prosedur. Perkembangan rencana operasi, termasuk penetapan salvor dan kesiapan teknis, menjadi bagian dari upaya untuk memastikan pengangkatan KMP Batumandi dapat dilaksanakan tanpa mengabaikan kondisi di lapangan maupun kepentingan keselamatan pelayaran.

Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menyatakan dukungan perusahaan terhadap langkah Kementerian Perhubungan dalam menangani KMP Batumandi yang tenggelam. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga agar kegiatan penyeberangan di Pelabuhan Merak tetap berjalan normal, sekaligus memastikan penanganan kapal dilakukan secara tertib. ASDP mendukung koordinasi dengan pihak berwenang dalam menyiapkan tahapan yang diperlukan setelah kejadian, termasuk pengamanan area di sekitar lokasi kapal. Dengan demikian, kegiatan penyeberangan dan proses penanganan dapat berjalan dengan memperhatikan kondisi di lapangan serta keselamatan pengguna jasa dan petugas.

Dalam keterangannya, Heru menyebut dukungan ASDP mencakup langkah-langkah pengamanan lokasi kapal. Pemasangan buoy dan oil boom menjadi bagian dari tindakan yang disiapkan untuk mendukung pengelolaan area serta penanganan pascakejadian. Langkah tersebut dilakukan dalam koordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan pihak terkait, sesuai kebutuhan penanganan di lokasi. ASDP juga mendukung persiapan operasi salvage atau pengangkatan kapal. Persiapan ini menjadi salah satu tahapan yang perlu dilakukan secara cermat, dengan mengacu pada arahan dan koordinasi pihak berwenang. Dukungan itu diarahkan agar proses penanganan kapal dapat berlangsung tanpa mengabaikan kelancaran operasional pelabuhan.

Operasi pengangkatan kapal memerlukan persiapan yang terukur, termasuk pengamanan lokasi dan penataan langkah kerja sebelum pelaksanaan. Karena itu, ASDP bekerja bersama pihak berwenang dalam mendukung rangkaian penanganan, mulai dari pengamanan area, pemasangan buoy dan oil boom, hingga persiapan operasi salvage. Setiap tahapan disiapkan dengan mempertimbangkan kondisi lokasi serta kebutuhan keselamatan selama kegiatan berlangsung. Koordinasi tersebut juga menjadi landasan agar aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Merak dapat tetap dikelola dengan baik selama penanganan pascakejadian dilakukan.