Meutya Hafid Masuk 10 Besar Menteri dengan Penilaian Kinerja Terbaik versi IPO

oleh -61 Dilihat
oleh
Meutya Hafid Masuk 10 Besar Menteri dengan Penilaian Kinerja Terbaik versi IPO

Jakarta | Survei Indonesia Political Opinion (IPO) bertajuk “Refleksi dan Evaluasi Publik; Dua Tahun Kabinet Merah Putih” menempatkan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid pada urutan kesepuluh dalam daftar menteri yang dinilai bekerja paling baik. Meutya memperoleh 5,9 persen penilaian, capaian yang memasukkannya ke dalam jajaran 10 besar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa namanya termasuk dalam kelompok menteri yang mendapat apresiasi responden atas kinerja selama menjalankan tugas di pemerintahan. Paparan survei disampaikan secara daring di Jakarta pada Sabtu.

Posisi kesepuluh itu menjadi salah satu temuan dalam evaluasi publik terhadap kinerja para menteri Kabinet Merah Putih. Dengan perolehan 5,9 persen, Meutya berada dalam daftar sepuluh nama teratas, meskipun hasil tersebut tidak menempatkannya di posisi teratas. Angka yang dicatat IPO menggambarkan bagian penilaian responden yang memilih Meutya sebagai menteri dengan kinerja terbaik dalam survei tersebut. Karena itu, capaian tersebut dapat dibaca sebagai pengakuan publik terhadap kinerjanya, sesuai dengan indikator penilaian yang digunakan dalam jajak pendapat itu.

Survei ini mengangkat refleksi dan evaluasi publik atas kabinet setelah dua tahun, sebagaimana tercermin dalam judul kajian yang dipaparkan IPO. Penyampaian hasil secara daring memungkinkan temuan tersebut diumumkan kepada publik dari Jakarta pada Sabtu. Dalam pemberitaan mengenai hasil survei, informasi utama terkait Meutya mencakup posisinya di urutan kesepuluh dan perolehan 5,9 persen. Dua hal itu menegaskan bahwa Menteri Komunikasi dan Digital tersebut masuk ke jajaran sepuluh menteri dengan penilaian kinerja terbaik versi IPO. Temuan ini merupakan hasil survei lembaga tersebut, bukan pernyataan resmi mengenai peringkat kinerja dari pemerintah.

Hasil survei IPO mencatat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berada di posisi teratas dalam daftar menteri dengan penilaian kinerja tertinggi, dengan angka 33 persen. Pada urutan berikutnya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono memperoleh 25,2 persen. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menempati posisi selanjutnya dengan 24,5 persen. Ketiga angka tersebut menjadi nilai tertinggi yang disebutkan dalam urutan hasil survei tersebut.

Setelah itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia tercatat memperoleh 21,8 persen. Menteri Kebudayaan Fadli Zon berada di urutan berikutnya dengan 20,5 persen. Pada posisi selanjutnya, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Sugiono meraih 16,1 persen. Urutan kemudian dilanjutkan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, yang memperoleh angka 13,8 persen.

Dalam daftar yang sama, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian tercatat memperoleh 12 persen. Menteri Agama Nasaruddin Umar berada setelahnya dengan penilaian 10,3 persen. Dengan demikian, urutan nama dan angka yang disebutkan dalam hasil survei bergerak dari Andi Amran Sulaiman sebesar 33 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 25,2 persen, Zulkifli Hasan 24,5 persen, Bahlil Lahadalia 21,8 persen, Fadli Zon 20,5 persen, Sugiono 16,1 persen, Erick Thohir 13,8 persen, Tito Karnavian 12 persen, hingga Nasaruddin Umar 10,3 persen. Setiap angka tersebut disampaikan sesuai urutannya, tanpa mengubah nilai yang tercantum.

Menurut Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah, hasil survei menempatkan Meutya Hafid sebagai menteri perempuan dengan penilaian tertinggi dalam kategori menteri yang dianggap bekerja paling baik. Posisi tersebut menunjukkan bahwa, di nama menteri perempuan yang dinilai responden, Meutya memperoleh apresiasi paling tinggi. Penilaian itu disampaikan dalam konteks pemeringkatan kinerja pejabat kabinet berdasarkan opini publik, bukan sebagai ukuran tunggal yang menggambarkan seluruh aspek kinerja pemerintahan. Dalam daftar tersebut, Meutya juga masuk kelompok sepuluh besar menteri dengan penilaian kinerja terbaik versi IPO. Catatan ini menegaskan posisi relatif Meutya pada kelompok menteri perempuan sesuai penjelasan Dedi mengenai hasil survei yang dipublikasikan.

Di bawah Meutya, Widiyanti Putri Wardhana menempati posisi kedua di menteri perempuan dalam kategori tersebut. Urutan ini merujuk pada penilaian responden mengenai siapa yang dianggap bekerja paling baik, sebagaimana dipaparkan Dedi. Dengan demikian, penyebutan Meutya sebagai menteri perempuan dengan penilaian tertinggi menjelaskan perbandingan di dalam kelompok itu, sementara Widiyanti berada setelahnya. Hasil tersebut merupakan gambaran dari jawaban publik pada survei IPO. Penyajiannya perlu dipahami sesuai cakupan pertanyaan dan kategori yang digunakan, yakni persepsi mengenai kinerja menteri, bukan pernyataan bahwa satu hasil survei menilai seluruh kebijakan atau capaian kementerian secara menyeluruh dan pasti.

Dedi juga menjelaskan bahwa penilaian publik terhadap kinerja pejabat kabinet dalam survei opini dapat dipengaruhi oleh tingkat keterkenalan masing-masing pejabat. Menurut penjelasannya, persepsi masyarakat dapat terbentuk melalui intensitas aktivitas dan publikasi yang dilakukan kementerian. Frekuensi kegiatan yang terlihat publik serta informasi yang beredar mengenai kementerian dapat ikut memengaruhi sejauh mana responden mengenal seorang menteri dan menilai pekerjaannya. Penjelasan tersebut memberi konteks tentang faktor yang mungkin berperan dalam jawaban survei, tanpa mengubah hasil peringkat yang disampaikan. Karena itu, posisi Meutya dan Widiyanti perlu dibaca sebagai hasil penilaian responden dalam survei tersebut, sementara keterangan Dedi menjelaskan kemungkinan pengaruh keterkenalan, aktivitas, dan publikasi terhadap persepsi publik.

Dalam klaster pejabat bidang politik dan keamanan, Meutya Hafid menempati posisi kedua dalam tingkat kepuasan publik. Ia memperoleh 4,9 persen, sementara posisi teratas ditempati Tito Karnavian dengan 13,5 persen. Angka tersebut menunjukkan porsi responden yang menyebut atau menilai pejabat dalam kategori ini, sesuai indikator yang disajikan IPO. Selisih keduanya mencapai 8,6 poin persentase, sehingga capaian Meutya berada di bawah Tito, tetapi tetap menempatkannya dalam urutan teratas pada klaster tersebut.

Perlu dibedakan bahwa raihan 4,9 persen itu merupakan angka kepuasan dalam klaster politik dan keamanan, bukan persentase penilaian kinerja umum Meutya. Penilaian di klaster ini membandingkan pejabat yang masuk dalam lingkup bidang politik dan keamanan, sedangkan pemeringkatan menteri secara umum menggunakan cakupan dan hasil pengukuran yang berbeda. Karena itu, angka pada klaster tidak dapat dibaca sebagai skor keseluruhan, nilai kinerja, ataupun persentase dukungan terhadap seluruh kinerja Meutya. Pemisahan konteks tersebut penting agar pembaca tidak mencampuradukkan posisi dalam satu kelompok dengan hasil pemeringkatan lintas bidang.

Temuan itu berasal dari survei nasional IPO yang berlangsung pada 12–20 Oktober 2026. Survei melibatkan 1.200 responden dari berbagai wilayah Indonesia dan menggunakan metode multistage random sampling. IPO menyebut tingkat kepercayaan survei sebesar 95 persen, dengan batas toleransi kesalahan 2,9 persen. Metode bertahap tersebut digunakan untuk memilih responden melalui beberapa tingkat pengambilan sampel, sementara cakupan nasional dimaksudkan untuk menghimpun pandangan dari wilayah yang beragam. Seperti survei opini publik lainnya, hasilnya merupakan gambaran respons responden dalam periode pengumpulan data, bukan penilaian tetap yang berlaku untuk semua waktu. Angka kepuasan pada klaster politik dan keamanan dengan demikian perlu dibaca bersama kategori, periode, serta keterangan metodologinya. Konteks itu membantu menempatkan posisi Meutya secara proporsional dan menjaga perbandingan dengan pejabat lain tetap sesuai ruang lingkup pengukuran IPO.

Baca juga: Ukir Prestasi Tingkat Nasional, Dandim Bojonegoro Raih Juara III Dansatgas Terbaik TMMD 129 | Panglima TNI Hadiri Pelantikan Menteri Keuangan RI