Kemenkop dan Pinsar Dorong Koperasi Merah Putih Perkuat Rantai Usaha Peternak

oleh -11 Dilihat
oleh
Kemenkop dan Pinsar Dorong Koperasi Merah Putih Perkuat Rantai Usaha Peternak

Yogyakarta | Kementerian Koperasi menyatakan dukungannya kepada Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia dalam memperkuat ekosistem bisnis peternak. Upaya tersebut diarahkan melalui integrasi kegiatan usaha peternakan dengan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Keterhubungan ini diharapkan membantu koperasi berperan sebagai bagian dari pengembangan usaha yang lebih terorganisasi, sekaligus membuka ruang kolaborasi kelembagaan koperasi dan pelaku perunggasan rakyat. Dukungan itu disampaikan staf ahli Menteri Koperasi bidang kebijakan publik, Koko Haryono, di sela kegiatan Chicken and Egg Run 2026 yang digelar Pinsar Indonesia di Yogyakarta pada Minggu. Pernyataan tersebut menempatkan penguatan koperasi sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung keberlanjutan usaha peternak.

Menurut Koko, koperasi dapat membantu menghubungkan berbagai mata rantai usaha peternakan, mulai dari hulu hingga hilir. Peran tersebut mencakup upaya memperkuat hubungan kebutuhan produksi, kegiatan budidaya, dan proses pemasaran hasil. Dengan hubungan usaha yang lebih terkoordinasi, peternak berpeluang memperoleh dukungan kelembagaan untuk menjalankan kegiatan secara lebih terarah. Keterlibatan KDKMP juga dapat menjadi jalur bagi pelaku usaha di tingkat desa atau kelurahan untuk membangun kerja sama dengan jaringan perunggasan. Integrasi ini tidak sekadar menyatukan pihak-pihak yang terlibat, tetapi juga mendorong pola kerja yang memperhatikan kebutuhan peternak pada setiap tahap usaha. Koko menyampaikan bahwa penguatan hubungan tersebut perlu disertai tata kelola yang mendukung kegiatan koperasi dan anggotanya.

Selain menghubungkan rantai usaha dan mendukung tata kelola, koperasi juga dapat mendorong akses pembiayaan bagi peternak. Akses tersebut penting untuk membantu pelaku usaha memenuhi kebutuhan kegiatan produksi dan mengembangkan kapasitas usahanya, meskipun pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing peternak. Melalui penguatan kelembagaan, koperasi diharapkan dapat menjadi penghubung peternak dan dukungan yang diperlukan untuk menjalankan usaha. Kemenkop mendorong agar potensi KDKMP dimanfaatkan sebagai bagian dari ekosistem tersebut, dengan Pinsar Indonesia sebagai organisasi yang mewadahi insan perunggasan rakyat. Kolaborasi keduanya diharapkan dapat memperkuat usaha peternak secara menyeluruh, bukan hanya pada satu tahap produksi, tetapi juga dalam pengelolaan dan akses terhadap sumber daya pendukung.

Koko berharap pembangunan fisik Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di berbagai daerah kelak membuka peluang kerja sama yang lebih erat dengan peternak lokal. Ketika kegiatan usaha koperasi mulai berjalan, keberadaan unit usaha tersebut diharapkan dapat menjadi jalur pemasaran bagi produk peternakan dari lingkungan sekitar. Harapan ini menempatkan koperasi sebagai calon mitra yang dapat menghubungkan produksi peternak dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Produk yang berpeluang dipasarkan melalui KDKMP mencakup ayam dan telur. Peternak diharapkan dapat bergabung, kemudian menawarkan hasil ternaknya secara langsung kepada koperasi Merah Putih yang berada di wilayah terdekat. Dengan jalur yang lebih dekat, hubungan produsen dan saluran penjualan berpotensi menjadi lebih sederhana. Namun, hal tersebut masih merupakan peluang yang diharapkan, bukan mekanisme yang telah dipastikan berjalan di seluruh koperasi.

Sinergi semacam ini dapat memberi manfaat bagi kedua pihak apabila dirancang sesuai kebutuhan dan kapasitas masing-masing. Peternak berpotensi memperoleh akses pasar lokal yang lebih terarah, sementara koperasi dapat menjajaki penyediaan produk pangan dari pelaku usaha di sekitarnya. Ayam dan telur juga merupakan komoditas yang dekat dengan kebutuhan rumah tangga, sehingga pemasaran melalui koperasi dapat menjadi salah satu opsi untuk mendekatkan pasokan kepada konsumen.

Untuk mewujudkan peluang tersebut, koperasi dan peternak perlu membangun komunikasi mengenai jenis produk, jumlah pasokan, mutu, harga, serta jadwal penyerahan. Kesiapan fasilitas dan tata kelola usaha koperasi juga akan menjadi pertimbangan ketika kegiatan mulai dijalankan. Pembicaraan awal dapat membantu kedua pihak memahami kemampuan produksi peternak sekaligus kebutuhan koperasi, tanpa mengasumsikan adanya kesepakatan yang telah terbentuk.

Jika pembangunan dan persiapan usaha berkembang sesuai rencana, KDKMP dapat menjadi ruang kolaborasi ekonomi di tingkat lokal. Koko berharap peternak tidak hanya menjadi pemasok, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam rantai usaha koperasi. Dengan pendekatan yang bertahap dan sesuai kondisi daerah, pemasaran ayam maupun telur melalui koperasi Merah Putih di sekitar peternak dapat dipertimbangkan sebagai peluang untuk memperkuat hubungan koperasi dan usaha peternakan lokal.

Ketua Umum Pinsar Indonesia, Singgih Januratmoko, menyambut baik dukungan pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan yang masih membayangi sektor perunggasan nasional. Menurutnya, kolaborasi pemerintah dan pelaku usaha diperlukan agar persoalan di sepanjang rantai usaha dapat ditangani secara lebih terarah. Dukungan tersebut juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan usaha peternak sekaligus memperkuat peran sektor perunggasan dalam menyediakan pangan bagi masyarakat. Dengan keterlibatan berbagai pihak, upaya pembenahan tidak hanya berfokus pada kegiatan produksi, tetapi juga mencakup penguatan pasar dan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai nilai gizi produk unggas.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Singgih adalah tingkat konsumsi ayam dan telur per kapita di Indonesia yang masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan produk saja belum cukup; masyarakat juga perlu memperoleh informasi yang memadai mengenai manfaat dan kemudahan mengonsumsi sumber protein tersebut. Peningkatan konsumsi diharapkan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi, sekaligus menciptakan permintaan pasar yang lebih kuat bagi hasil usaha peternak. Karena itu, edukasi publik dan kampanye konsumsi menjadi bagian penting dari langkah untuk mengembangkan sektor perunggasan secara berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, Singgih mengapresiasi penyelenggaraan Chicken and Egg Run sebagai salah satu upaya mengampanyekan konsumsi protein hewani. Kegiatan itu dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan ayam dan telur secara lebih dekat kepada masyarakat melalui pendekatan yang mudah dijangkau dan menarik. Ia berharap pesan kampanye tersebut menjangkau berbagai kalangan, terutama generasi mendatang, agar mereka memahami bahwa ayam dan telur merupakan sumber protein yang relatif murah, mudah diperoleh, serta penting bagi pemenuhan gizi. Pemahaman sejak dini mengenai peran protein hewani diharapkan turut mendorong pilihan pangan yang lebih baik dan mendukung kualitas kecerdasan. Dengan demikian, kegiatan olahraga tersebut tidak hanya mengajak masyarakat berpartisipasi, tetapi juga membawa pesan edukasi mengenai pentingnya konsumsi pangan bergizi.

Sorotan Singgih terhadap usaha peternakan menempatkan mahalnya bahan baku pakan sebagai persoalan penting yang membebani peternak. Dalam kegiatan usaha ayam, pakan merupakan kebutuhan utama, sehingga kenaikan biaya bahan penyusunnya dapat memberi tekanan pada pengeluaran produksi. Jagung menjadi salah satu bahan yang turut disorot karena harganya dinilai mahal dan kondisi tersebut menyulitkan peternak menjaga biaya operasional. Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan kegiatan produksi di tingkat peternakan, tetapi juga berhubungan dengan kemampuan usaha untuk bertahan dan memasok produk kepada masyarakat secara berkelanjutan. Karena itu, perhatian terhadap ketersediaan serta keterjangkauan bahan baku pakan menjadi hal yang dianggap perlu dalam memperkuat rantai usaha peternak.

Harapan yang disampaikan Singgih adalah agar pemerintah segera menyelesaikan persoalan jagung yang dirasakan peternak. Penyelesaian atas persoalan tersebut diharapkan dapat membantu menurunkan beban biaya pakan, sehingga kegiatan usaha peternakan tidak terus terbebani oleh mahalnya salah satu bahan baku penting. Harapan ini berangkat dari hubungan langsung biaya pakan dengan pengeluaran usaha peternak. Apabila biaya tersebut dapat menjadi lebih murah, peternak diharapkan memiliki ruang yang lebih baik untuk menjalankan usahanya. Dalam pandangan Singgih, perhatian pemerintah pada persoalan jagung perlu segera hadir sebagai jawaban atas kendala yang dirasakan di lapangan, tanpa mengabaikan kebutuhan menjaga keberlangsungan usaha peternakan yang menjadi bagian dari rantai pasok pangan.

Dampak.

Baca juga: TNI Perkuat Sinergitas Lintas Sektor dalam Pencegahan Karhutla di Sambas | Kekerasan OPM Tewaskan Sopir Angkutan Masyarakat, TNI Perkuat Pengamanan Dan Kejar Pelaku | Sinergi Menuju Indonesia Emas 2045: Kodim Bojonegoro Perkuat Karakter Kebangsaan Komponen Masyarakat