Kabupaten Banyuwangi | Kebakaran hebat melanda sebuah peternakan ayam milik Wibi Yogasta, 33 tahun, di Dusun Jatirejo, Desa Glagahagung, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, pada Minggu, 11 Oktober 2026. Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi sekitar pukul 03.30 WIB dan dengan cepat menghanguskan bangunan peternakan yang menjadi lokasi pemeliharaan puluhan ribu ayam.
Bangunan berukuran sekitar 45 x 25 meter itu terbakar hingga rata dengan tanah. Kobaran api menyebabkan sebagian besar bagian bangunan, termasuk fasilitas peternakan dan kandang, tidak dapat diselamatkan. Kondisi tersebut juga membuat sekitar 28 ribu ekor ayam mati terpanggang dalam kejadian itu.
Besarnya dampak kebakaran membuat pemilik mengalami kerugian material yang diperkirakan mencapai Rp2,5 miliar. Nilai tersebut mencakup kerusakan bangunan peternakan, berbagai perlengkapan operasional, serta puluhan ribu ayam yang mati akibat kebakaran. Kerugian itu menjadi pukulan berat bagi usaha peternakan milik Wibi Yogasta.
Peristiwa yang terjadi saat dini hari tersebut mengejutkan warga di sekitar lokasi. Api yang melanda area peternakan menyebabkan bangunan berukuran luas itu musnah sebelum dapat digunakan kembali. Hingga tahap awal penanganan, perhatian utama tertuju pada pengamanan lokasi, pendataan dampak, dan penelusuran mengenai penyebab kebakaran.
Kebakaran di peternakan Purwoharjo ini menjadi salah satu peristiwa dengan dampak besar bagi sektor peternakan di Banyuwangi. Selain menimbulkan kerusakan fisik, kejadian tersebut mengakibatkan hilangnya aset ternak dalam jumlah sangat besar. Taksiran kerugian sekitar Rp2,5 miliar menggambarkan besarnya dampak yang harus ditanggung pemilik setelah seluruh bangunan dan puluhan ribu ayam di dalamnya hangus terbakar.
Kebakaran yang melanda peternakan ayam di Banyuwangi pertama kali diketahui oleh tiga pekerja yang berada di lokasi. Saat menjalankan aktivitas di area peternakan, mereka melihat api mulai membakar bagian bangunan kandang. Kobaran tersebut pada awalnya terlihat di salah satu bagian bangunan, namun dalam waktu singkat api menyebar dan mengancam area kandang lainnya.
Kasi Evakuasi dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Banyuwangi, Salam Bikwanto, menjelaskan bahwa para pekerja sempat berupaya melakukan penanganan awal. Mereka mencoba mengendalikan api dengan peralatan yang tersedia di sekitar lokasi. Akan tetapi, upaya tersebut tidak mampu menghentikan laju kobaran karena api dengan cepat membesar dan mengeluarkan asap tebal.
Situasi yang semakin sulit dikendalikan membuat para pekerja panik. Mereka kemudian segera meminta bantuan untuk menangani kebakaran tersebut. Informasi mengenai kejadian itu juga diteruskan kepada pemilik kandang agar dapat mengambil langkah lebih lanjut dan menghubungi pihak terkait. Kecepatan penyampaian informasi menjadi hal penting karena api telah menjalar di bangunan yang digunakan untuk menampung ribuan ayam.
Warga sekitar turut berdatangan setelah mengetahui adanya kebakaran. Mereka membantu upaya awal untuk mencegah api meluas ke bagian peternakan lain maupun bangunan di sekitarnya. Dengan peralatan seadanya, warga berusaha menyiram dan menghambat pergerakan api sambil menunggu bantuan penanganan yang lebih memadai. Namun, kondisi kobaran yang cepat membesar membuat penanganan awal oleh pekerja dan warga menghadapi banyak kendala. Peristiwa tersebut kemudian ditangani oleh petugas pemadam kebakaran yang datang ke lokasi setelah menerima laporan.
Kobaran api yang semula muncul di salah satu bagian peternakan kemudian merambat ke dua bangunan kandang lain yang berada di sisi barat dan timur. Pergerakan api berlangsung cepat karena di dalam area tersebut terdapat material mudah terbakar serta bangunan kandang yang saling berdekatan. Kondisi itu membuat titik kebakaran meluas dan meningkatkan risiko kerusakan pada fasilitas peternakan di sekitarnya.
Api yang semakin membesar menghasilkan kepulan asap tebal. Asap tersebut terlihat dari sejumlah titik di sekitar lokasi dan menarik perhatian warga yang berada tidak jauh dari area peternakan. Selain mengganggu jarak pandang, kepulan asap menimbulkan kekhawatiran karena arah penjalaran api berpotensi berubah, terutama apabila masih terdapat bagian bangunan atau perlengkapan yang belum tersentuh pemadaman.
Laporan mengenai kebakaran diterima Damkarmat Banyuwangi sekitar pukul 04.15 WIB. Setelah memperoleh informasi, petugas segera menuju lokasi dengan membawa peralatan pemadaman. Setibanya di tempat kejadian, petugas melakukan penanganan secara bertahap dengan menyemprotkan air secara terarah ke titik-titik yang masih terbakar. Strategi tersebut dilakukan untuk menekan kobaran utama sekaligus mencegah api kembali menjalar ke bangunan lain.
Proses pemadaman berlangsung hingga sekitar pukul 06.30 WIB. Pada waktu tersebut, api dinyatakan berhasil dikendalikan dan dipadamkan. Petugas kemudian melanjutkan penanganan melalui tahap pendinginan pada bagian-bagian bangunan yang terdampak, termasuk area yang masih menyimpan panas. Langkah ini penting untuk menurunkan suhu material dan mencegah munculnya nyala baru.
Setelah pendinginan, petugas melakukan penyisiran secara menyeluruh di sekitar kandang dan titik kebakaran. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan tidak ada bara tersembunyi, sumber panas, atau bagian yang berpotensi memicu penyalaan kembali. Penanganan berlapis tersebut juga membantu memastikan kondisi lokasi lebih aman sebelum petugas meninggalkan area dan proses pendataan kerusakan dilanjutkan.
Hasil asesmen awal menunjukkan kebakaran diduga bermula dari gangguan pada mesin pemanas DOC (day old chick) yang sedang beroperasi di dalam kandang. Mesin tersebut digunakan untuk menjaga kestabilan suhu anak ayam berusia sekitar satu hingga dua hari, terutama pada masa awal pemeliharaan ketika unggas masih membutuhkan lingkungan hangat. Gangguan itu diduga berkaitan dengan korsleting listrik pada mesin oven atau perangkat pemanas yang dipakai di area kandang.
Arus pendek pada mesin tersebut diperkirakan memicu percikan atau panas berlebih. Api kemudian diduga menyambar material di sekitar perangkat dan berkembang dengan cepat. Kondisi bangunan turut memengaruhi meluasnya kebakaran. Dinding kandang yang terbuat dari bambu menjadi material mudah terbakar, sehingga api dapat menjalar dari satu bagian ke bagian lain dalam waktu singkat.
Perambatan api juga semakin cepat karena di sekitar lokasi terdapat gudang dan rumah singgah yang menggunakan bahan kayu serta bambu. Kedua bangunan tersebut berada dalam lingkungan peternakan dan menyimpan sejumlah perlengkapan operasional, sehingga kobaran api sulit dikendalikan setelah mencapai area sekitarnya. Selain menghanguskan dua bangunan kandang, kebakaran turut merusak berbagai aset dan peralatan penting untuk kegiatan peternakan.
Sejumlah barang yang terbakar meliputi satu unit jenset, mesin DOC, blower, serta sekitar 10 ton pakan ayam. Kerusakan tersebut menambah dampak kebakaran, tidak hanya terhadap populasi ternak, tetapi juga terhadap sarana produksi dan persediaan pakan. Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 28 ribu ayam mati dalam peristiwa itu. Nilai kerugian akibat kehilangan ternak, bangunan, mesin, perlengkapan, dan pakan ditaksir mencapai Rp2,5 miliar.

