Kabut Asap Menekan Dagangan Pempek, BNPB Perkuat Pemantauan Karhutla

oleh -51 Dilihat
oleh
Kabut Asap Menekan Dagangan Pempek, BNPB Perkuat Pemantauan Karhutla

Palembang | Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah berbulan-bulan menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan. Di Palembang, Sumatera Selatan, asap yang mengganggu aktivitas sehari-hari turut menurunkan kualitas udara. Kondisi ini bukan hanya membuat warga lebih rentan mengalami gangguan kesehatan, tetapi juga mengubah kebiasaan mereka di ruang publik. Sebagian orang membatasi waktu di luar rumah, sementara kegiatan belajar, bekerja, dan berjualan ikut terdampak.

Dampak tersebut terasa di kantin kampus UIN Raden Fatah Palembang, tempat Yana, 51 tahun, menjajakan pempek. Ia telah berjualan di sana selama belasan tahun dan mengandalkan pembeli yang datang ke lingkungan kampus. Namun, ketika kabut asap menyelimuti kota dan suasana kampus semakin sepi, jumlah pelanggan yang mampir untuk membeli dagangannya ikut berkurang. Bagi pedagang kecil seperti Yana, berkurangnya kunjungan berarti lebih sedikit transaksi dalam sehari.

Sebelum kantin sepi, Yana biasanya memperoleh omzet setidaknya Rp1 juta per hari. Pendapatan itu menjadi penopang usahanya, termasuk untuk membeli bahan dan menutup biaya operasional. Belakangan, omzetnya merosot tajam hingga tidak cukup untuk menutup modal. Situasi ini menunjukkan bagaimana gangguan lingkungan dapat merambat langsung ke penghasilan warga, terutama mereka yang menggantungkan hidup pada kegiatan jual beli harian.

Penurunan pendapatan tidak hanya berkaitan dengan daya beli, tetapi juga dengan berkurangnya aktivitas masyarakat di sekitar tempat usaha. Ketika kualitas udara memburuk, warga cenderung mengurangi kegiatan di luar ruangan demi menjaga kesehatan. Kampus yang lebih lengang pun membuat peluang pedagang memperoleh pembeli semakin kecil. Bagi Yana, keadaan tersebut berarti usaha yang telah dijalankan bertahun-tahun kini menghadapi tekanan berat. Sementara kabut asap belum teratasi, ia harus berupaya mempertahankan dagangan dengan pemasukan yang tidak menentu. Pengalaman ini menggambarkan beban ekonomi yang dirasakan pelaku usaha kecil di tengah karhutla, selain risiko kesehatan yang dihadapi masyarakat luas.Kabut asap yang menyelimuti Palembang tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga mengubah suasana kantin kampus. Ketika kualitas udara memburuk, pihak kampus memberlakukan kuliah daring agar mahasiswa dapat mengikuti pembelajaran tanpa harus datang ke lingkungan kampus. Kebijakan tersebut membantu kegiatan akademik tetap berjalan, tetapi berdampak langsung pada para pedagang yang mengandalkan kunjungan mahasiswa sebagai pembeli utama.

Yana mengatakan mahasiswa telah menjalani kuliah daring hampir sebulan. Selama masa itu, jumlah mahasiswa yang datang ke kampus menurun tajam, sehingga kantin yang biasanya ramai menjadi sunyi. Meja-meja yang umumnya dipenuhi mahasiswa kini lebih sering kosong, sementara kegiatan berjualan tetap harus dijalankan di tengah minimnya pembeli. Tidak adanya keramaian membuat suasana kantin terasa berbeda dari hari-hari perkuliahan normal.

Bagi Yana, perubahan tersebut bukan sekadar soal berkurangnya aktivitas di kantin. Ia telah berjualan selama 15 tahun dan menggantungkan hidup pada usaha di tempat itu. Selama bertahun-tahun, keberlangsungan dagangannya berkaitan erat dengan kegiatan kampus dan kehadiran mahasiswa. Ketika pembelajaran berpindah ke rumah, sumber pembeli yang biasanya datang setiap hari ikut menghilang. Kondisi ini membuat penghasilan dari berjualan menjadi tidak menentu, sementara kantin tetap menjadi tempat ia mencari nafkah.

Situasi itu menunjukkan bagaimana dampak kabut asap dapat merambat hingga ke usaha kecil di sekitar kampus. Kebijakan kuliah daring diperlukan untuk merespons kondisi udara, tetapi bagi pedagang seperti Yana, berkurangnya kehadiran mahasiswa berarti semakin sedikit kesempatan untuk menjual dagangan. Ia berharap kampus tidak lagi menerapkan kuliah daring, sehingga mahasiswa dapat kembali beraktivitas dan kantin kembali didatangi pembeli. Yana juga berharap kabut asap segera hilang dari Palembang agar keadaan membaik, kegiatan kampus dapat berlangsung seperti biasa, dan para pedagang kembali memperoleh pelanggan yang selama ini menopang kehidupan mereka.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian pemerintah di tingkat nasional, terutama dalam meningkatkan ketepatan pemantauan dan penyajian data luas kebakaran. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbaiki metode penghitungan luas area terdampak dengan memanfaatkan citra satelit. Penggunaan data penginderaan jauh tersebut ditujukan untuk membuat pemantauan lebih akurat, sehingga gambaran mengenai perkembangan kebakaran dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah penanganan.

Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi menyampaikan pembaruan metode itu kepada Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10). Dalam kesempatan tersebut, Kristomei juga menyampaikan konteks awal masa tugasnya sebagai kepala BNPB, yakni sejak 15 Oktober 2026. Informasi mengenai metode pemantauan dan kondisi wilayah rawan menjadi bagian dari laporan BNPB kepada pemerintah pusat.

BNPB menetapkan lima provinsi sebagai wilayah prioritas pemantauan karhutla, yaitu Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Penentuan prioritas ini membantu lembaga tersebut memusatkan perhatian pada daerah yang memerlukan pengawasan lebih dekat. Citra satelit menjadi salah satu sarana untuk memperbarui penghitungan luas kebakaran, sementara perkembangan di lapangan tetap menjadi konteks penting dalam membaca kondisi setiap wilayah.

Kristomei menyebut adanya peningkatan kejadian kebakaran yang tercatat di Sumatera Selatan dan Jambi. Namun, ia menilai kenaikan tersebut belum terlalu signifikan. Penyampaian kondisi ini memberi gambaran mengenai perubahan yang terpantau tanpa menyimpulkan bahwa seluruh wilayah prioritas mengalami perkembangan serupa. Dengan data yang lebih akurat, BNPB dapat memperkuat pemantauan serta menyampaikan informasi yang lebih terukur kepada pemerintah. Pembaruan tersebut juga menjadi bagian dari upaya nasional untuk mengikuti perkembangan karhutla secara lebih konsisten, terutama di provinsi-provinsi yang telah ditetapkan sebagai fokus pengawasan. Laporan berkala memungkinkan perubahan luas kebakaran dan kejadian di daerah prioritas diperiksa dari waktu ke waktu, sehingga respons dapat disesuaikan dengan informasi yang tersedia.

Selain memperkuat pemantauan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjalankan operasi modifikasi cuaca di wilayah yang memerlukan penanganan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyemaian es kering untuk membantu memicu terbentuknya hujan. Langkah ini menjadi bagian dari penanganan karhutla, terutama ketika kondisi cuaca dan kualitas udara membutuhkan perhatian.

Kristomei melaporkan bahwa sejak 20 Oktober, total 3.100 kilogram es kering telah disemai melalui lima sorti penerbangan. Di Sumatera Selatan, satu sorti penerbangan menggunakan 800 kilogram es kering. Data tersebut menggambarkan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca yang dilakukan BNPB di wilayah prioritas. Penyemaian dilakukan sebagai upaya untuk membantu memicu hujan, bukan sebagai pernyataan bahwa hujan telah turun atau bahwa karhutla sudah tertangani sepenuhnya.

Kristomei juga mengaitkan upaya tersebut dengan perubahan sejumlah indikator kondisi udara di Palembang. Jarak pandang yang sebelumnya tercatat sekitar 700 meter dilaporkan meningkat menjadi 7.000 meter. Selain itu, ia menyebut adanya penurunan kadar partikulat, termasuk PM2,5. Perubahan jarak pandang dan kadar partikulat itu disampaikan sebagai perkembangan kondisi udara yang berkaitan dengan upaya penanganan, tanpa menguraikan rincian lebih lanjut mengenai besaran penurunannya.

Informasi tersebut menjadi bagian dari laporan mengenai pemantauan dan penanganan karhutla, di tengah perhatian terhadap dampaknya pada aktivitas warga dan lingkungan. BNPB terus melakukan pemantauan serta penanganan di lima provinsi prioritas. Operasi modifikasi cuaca, termasuk penyemaian es kering, dilaksanakan pada wilayah yang memerlukan penanganan, sementara perkembangan kondisi udara dan karhutla tetap dipantau. Keterangan mengenai jumlah bahan yang disemai, sorti penerbangan, jarak pandang, serta PM2,5 merujuk pada data yang disampaikan Kristomei.

Baca juga: TNI Perkuat Sinergitas Lintas Sektor dalam Pencegahan Karhutla di Sambas | Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda