Samarinda | Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan Aski, ajudan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, berada di tengah kerumunan saat terjadi ketegangan di Samarinda. Dalam video tersebut, ponsel yang dipegang seseorang tampak tersenggol hingga terjatuh. Setelah itu, Aski terlihat terlibat kontak fisik dengan seorang pemuda. Cuplikan tersebut kemudian menyebar luas dan memicu perhatian publik, terutama karena peristiwa berlangsung dalam situasi yang melibatkan demonstran dan aparat maupun pihak yang mendampingi gubernur.
Orang yang terdampak dalam insiden itu disebut sebagai demonstran dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda. Namun, video yang beredar hanya memperlihatkan sebagian rangkaian kejadian, sehingga konteks sebelum dan sesudah kontak fisik belum sepenuhnya dapat diketahui dari rekaman tersebut. Sejumlah warganet menyoroti tindakan yang tampak dalam cuplikan, termasuk ponsel yang jatuh dan interaksi fisik dengan pemuda itu. Reaksi di media sosial berkembang menjadi kritik terhadap cara menghadapi peserta aksi serta tuntutan agar peristiwa tersebut dijelaskan secara terbuka.
Perhatian terhadap video itu juga muncul karena Aski merupakan bagian dari lingkungan kerja Gubernur Kaltim. Dalam situasi seperti ini, tindakan seorang pendamping pejabat dapat menjadi sorotan, terlebih ketika terjadi di tengah demonstrasi dan terekam oleh warga. Meski demikian, rekaman singkat tidak dengan sendirinya memastikan maksud di balik gerakan yang terlihat. Senggolan terhadap ponsel disebut sebagai dugaan dalam pembahasan insiden, sehingga belum tepat menyatakan bahwa tindakan tersebut dilakukan dengan sengaja. Penilaian yang lebih menyeluruh memerlukan keterangan dari pihak-pihak yang terlibat serta pemeriksaan atas urutan kejadian secara lengkap.
Insiden tersebut menunjukkan bagaimana rekaman singkat dari sebuah aksi dapat cepat membentuk perhatian dan perdebatan publik. Video menjadi titik awal bagi banyak orang untuk mempertanyakan kronologi, respons terhadap demonstran, dan tanggung jawab pihak yang terlibat. Karena informasi yang beredar belum tentu mencakup seluruh kejadian, klarifikasi dan penjelasan berbasis fakta diperlukan agar publik dapat memahami konteks tanpa mengandalkan asumsi. Sorotan warganet pun menegaskan pentingnya sikap profesional dalam situasi lapangan, khususnya ketika pejabat dan pendampingnya berhadapan langsung dengan warga yang menyampaikan aspirasi.
Tim Ahli Gubernur Kalimantan Timur bidang Informasi dan Komunikasi Publik, Sudarno, menjelaskan konteks peristiwa yang melibatkan ajudan gubernur dan demonstran di Samarinda. Kejadian itu berlangsung pada Senin (19/10/2026), menjelang waktu magrib, di Masjid Nurul Mukminin yang berada di kawasan Kantor Gubernur Kaltim. Menurut penjelasannya, insiden tersebut terjadi setelah rangkaian aksi unjuk rasa yang digelar mahasiswa pada sore hari.
Massa yang berunjuk rasa berasal dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda. Mereka menyampaikan aspirasi mengenai kebakaran hutan dan lahan, isu yang menjadi perhatian di Kalimantan Timur. Para peserta aksi berharap dapat bertemu langsung dengan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud untuk menyampaikan tuntutan. Namun, pertemuan itu belum terlaksana karena gubernur memiliki agenda yang padat pada hari tersebut.
Setelah demonstrasi berlangsung, massa berada di kawasan masjid. Tempat itu disebut menjadi titik berkumpul sekaligus lokasi pembubaran aksi. Pada waktu yang berdekatan, Rudy hendak menunaikan salat di Masjid Nurul Mukminin. Dengan demikian, demonstran dan rombongan gubernur berada di sekitar lokasi yang sama ketika terjadi insiden. Keterangan tersebut membantu menjelaskan urutan situasi, mulai dari aksi terkait karhutla hingga pertemuan di lingkungan masjid.
Sudarno menyampaikan konteks ini sebagai bagian dari penjelasan Tim Ahli Gubernur mengenai kejadian tersebut. Ia juga mengakui bahwa tindakan ajudan dalam insiden itu keliru. Pengakuan tersebut penting untuk dicatat dalam memahami respons pihak pemerintah terhadap peristiwa yang menjadi perhatian publik. Meski demikian, penjelasan mengenai latar kejadian tidak mengubah pokok persoalan, yaitu tindakan yang terjadi ketika massa berada di kawasan masjid dan gubernur hendak beribadah.
Uraian kronologi ini menunjukkan bahwa peristiwa itu berlangsung dalam suasana yang melibatkan beberapa kepentingan sekaligus: penyampaian aspirasi mahasiswa, padatnya agenda gubernur, serta kegiatan ibadah menjelang magrib. Informasi dari Sudarno memberikan gambaran mengenai posisi massa dan gubernur sebelum insiden, sekaligus menempatkan kejadian dalam rangkaian aksi GMNI Samarinda. Rincian tersebut menjadi konteks awal untuk memahami peristiwa tanpa mengabaikan pengakuan bahwa tindakan ajudan tidak tepat.
Sudarno menjelaskan bahwa sebelum terjadi kontak fisik, Rudy lebih dahulu dihadang ketika hendak memasuki lokasi. Di tengah situasi itu, seorang demonstran melontarkan celetukan kecil. Menurut Sudarno, suasana yang sudah tegang dan interaksi tersebut mungkin memengaruhi reaksi ajudan. Namun, ia menyampaikan hal itu sebagai dugaan mengenai pemicu, bukan kepastian tentang penyebab tindakan yang kemudian terjadi. Keterangan tersebut juga tidak menghapus tanggung jawab atas tindakan fisik, yang telah diakui sebagai kekeliruan oleh tim ahli. Urutan kejadian sebelum insiden menjadi bagian penting untuk memahami konteks, tetapi tidak dengan sendirinya dapat digunakan untuk membenarkan respons terhadap demonstran.
Rekaman yang beredar memperlihatkan seorang demonstran perempuan mengalami kontak fisik, lalu ponsel yang dibawanya terjatuh. Gambaran dalam video itu perlu dibedakan dari penjelasan Sudarno mengenai peristiwa tersebut. Sudarno menyebut demonstran perempuan mengalami kontak fisik, sementara video menggambarkan Aski beradu fisik dengan seorang pemuda. Kedua rincian ini tidak sebaiknya dilebur menjadi satu uraian seolah-olah menunjuk pada orang dan momen yang sama. Perbedaan tayangan rekaman dan keterangan narasumber perlu disampaikan secara terbuka agar pembaca dapat memahami apa yang tampak dalam video serta apa yang dinyatakan oleh Sudarno.
Dengan demikian, informasi yang tersedia menunjukkan adanya ketegangan saat Rudy hendak masuk, disertai celetukan dari demonstran, kemudian kontak fisik yang terekam. Dugaan Sudarno bahwa keadaan awal itu mungkin memicu reaksi ajudan tetap merupakan penjelasan mengenai latar situasi, bukan penetapan sebab yang sudah terverifikasi. Rekaman juga memberi petunjuk visual tentang ponsel yang jatuh setelah seorang perempuan mengalami kontak fisik, sedangkan adegan Aski dengan seorang pemuda merupakan rincian lain yang terlihat dalam video. Memisahkan setiap keterangan membantu menjaga akurasi pelaporan dan menghindari kesimpulan berlebihan. Penilaian atas insiden tetap perlu bertumpu pada pemeriksaan menyeluruh terhadap rekaman, kesaksian, serta kronologi yang dapat dikonfirmasi.
Tim ahli Gubernur Kalimantan Timur, Sudarno, mengakui tindakan fisik yang dilakukan ajudan gubernur, Aski, terhadap demonstran merupakan tindakan keliru. Menurutnya, apa pun keadaan yang terjadi saat itu, kontak fisik terhadap orang yang menyampaikan aspirasi tidak dapat dibenarkan. Pengakuan tersebut disampaikan setelah ia mengonfirmasi kejadian itu kepada Aski. Sudarno menegaskan bahwa situasi yang memanas sekalipun bukan alasan untuk membenarkan tindakan tersebut.
Sudarno menyebut ada kekeliruan dari kedua pihak dalam peristiwa tersebut. Ia menilai tindakan Aski yang melakukan kontak fisik tidak tepat dan semestinya tidak terjadi. Pada saat yang sama, ia juga menyoroti cara penyampaian protes serta celetukan yang muncul di lingkungan masjid. Menurut Sudarno, penyampaian aspirasi perlu memperhatikan tempat dan suasana, termasuk fungsi masjid sebagai tempat ibadah.
Penilaian itu, kata Sudarno, tidak menghapus kesalahan ajudan ataupun menjadi pembenaran atas tindakannya. Ia menekankan bahwa setiap pihak perlu menjaga sikap, terlebih ketika berada di lingkungan yang memiliki fungsi khusus bagi masyarakat. Namun, dalam kondisi apa pun, respons terhadap demonstran seharusnya tidak berupa tindakan fisik. Perbedaan pandangan atau situasi yang berlangsung tegang perlu dihadapi tanpa kontak fisik.
Setelah dikonfirmasi oleh Sudarno, Aski mengakui kekeliruannya dan menyampaikan permintaan maaf. Ia juga berharap kejadian serupa tidak terulang.
