IHSG Menguat 1,14% pada Sesi Pagi, Pasar Pantau Sentimen Domestik dan Global

oleh -71 Dilihat
oleh
Saham Bank BUMN Pulih dari Tekanan, Isu Danantara Mencuat di Pasar

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat pada sesi pertama perdagangan Jumat. Hingga pukul 10.24 WIB, indeks tercatat berada di level 5.449,09, naik 61,18 poin atau 1,14% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Capaian tersebut menandai pembalikan arah setelah IHSG sempat bergerak di zona merah pada awal perdagangan. Dalam sesi pagi ini, pergerakan indeks berlangsung cukup dinamis, dengan perubahan arah dari penguatan tipis, penurunan, hingga kenaikan yang lebih kuat.

Pada pembukaan, IHSG berada di level 5.397,34 dan langsung menguat 0,18%. Namun, penguatan awal itu tidak bertahan lama. Indeks kemudian bergerak turun dan sempat menyentuh level terendah 5.366,29, atau melemah 0,40%. Urutan pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual sempat membawa indeks ke bawah level pembukaan sebelum minat beli kembali mendorong pergerakan pasar. Setelah mencapai titik terendah, IHSG berangsur pulih dan berbalik naik.

Penguatan berlanjut hingga indeks mencapai level tertinggi sesi pagi, yakni 5.451,54, yang setara dengan kenaikan 1,18%. Pada pukul 10.24 WIB, posisi IHSG berada sedikit di bawah puncak tersebut, tetapi masih mencatat kenaikan 1,14%. Dengan demikian, data perdagangan yang tersedia memperlihatkan rentang pergerakan dari level terendah 5.366,29 hingga tertinggi 5.451,54 sebelum posisi indeks tercatat pada waktu tersebut. Perubahan arah dalam waktu singkat menjadi gambaran utama perdagangan sesi pertama Jumat. IHSG memulai hari dengan kenaikan terbatas, mengalami pelemahan, lalu memulihkan kerugian dan memperbesar penguatan. Angka pada pukul 10.24 WIB serta level tertinggi dan terendah memberi konteks mengenai volatilitas perdagangan, tanpa mengubah urutan kejadian yang dilaporkan. Perkembangan selanjutnya masih akan menentukan apakah dorongan beli dapat dipertahankan hingga sesi berikutnya.Hingga pukul 10.23 WIB, aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia mencatat volume transaksi sebesar 161,48 juta lot dengan nilai mencapai Rp5,08 triliun. Data tersebut memberi gambaran mengenai ramainya transaksi pada sesi pagi, ketika IHSG bergerak menguat dan pelaku pasar menilai berbagai perkembangan yang berpotensi memengaruhi arah perdagangan. Selain memantau pergerakan indeks dan saham-saham berkapitalisasi besar, investor juga mencermati likuiditas pasar serta perkembangan ekonomi domestik yang dapat membentuk ekspektasi terhadap kinerja emiten.

Sejumlah isu dalam negeri menjadi perhatian, lain kebijakan pemerintah, kondisi industri perbankan, dan likuiditas perekonomian. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pengelolaan sumber daya alam turut dicermati, bersamaan dengan rencana pemerintah untuk merampingkan badan usaha milik negara (BUMN). Langkah-langkah tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan investor dalam menilai prospek tata kelola, efisiensi, dan kontribusi perusahaan negara terhadap perekonomian. Namun, pelaku pasar masih menunggu kejelasan pelaksanaan kebijakan serta dampaknya terhadap sektor-sektor terkait sebelum mengubah penilaian atas prospek saham.

Perkembangan perbankan juga masuk dalam radar investor. Pertumbuhan kredit perbankan telah mencapai level tertinggi dalam satu dekade, sementara penyaluran kredit baru diperkirakan meningkat pada akhir tahun. Pemerintah juga menjalankan program untuk memperluas akses masyarakat terhadap rekening bank, yang dapat mendukung inklusi keuangan dan memperluas basis layanan perbankan. Di sisi lain, pasar menantikan rilis data uang beredar September 2026 dari Bank Indonesia. Data tersebut penting untuk membantu membaca kondisi likuiditas perekonomian, terutama setelah pertumbuhannya melambat selama dua bulan berturut-turut. Kombinasi perkembangan kebijakan, kredit, dan likuiditas itu menjadi konteks domestik yang terus dipantau di tengah penguatan IHSG pada sesi pagi.

Selain menilai pergerakan harga saham dan perkembangan ekonomi, investor juga mencermati perubahan aturan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait metode penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kebijakan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar karena dapat memengaruhi komposisi saham yang tercermin dalam indeks. Perubahan ini dijadwalkan mulai berlaku pada 2 November 2026, sehingga pelaku pasar memiliki waktu untuk memahami cakupan serta implikasinya sebelum penerapan. Perhatian terhadap aturan baru itu muncul bersamaan dengan pemantauan sentimen domestik dan global yang memengaruhi perdagangan saham.

Mulai tanggal tersebut, saham yang masuk kategori high shareholding concentration (HSC), atau saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, tidak lagi dimasukkan dalam penghitungan IHSG. Dengan demikian, tidak seluruh saham yang tercatat akan berkontribusi pada indeks melalui metode yang berlaku setelah kebijakan diterapkan. Kategori HSC merujuk pada saham yang kepemilikannya terkonsentrasi pada kelompok pemegang saham tertentu. Pengecualian tersebut merupakan bagian dari penyesuaian metodologi indeks yang diumumkan BEI. Investor dapat mencermati informasi resmi bursa untuk mengetahui rincian pelaksanaan dan daftar saham yang terdampak.

Tujuan kebijakan, sebagaimana tercantum dalam sumber, adalah agar IHSG lebih mencerminkan dinamika pasar. Artinya, bursa ingin indeks memberikan gambaran yang lebih representatif atas perkembangan pasar saham, bukan semata-mata mengikuti perubahan harga saham yang kepemilikannya terkonsentrasi. Indeks kerap digunakan sebagai acuan untuk membaca arah pasar, mengukur kinerja portofolio, dan membandingkan pergerakan investasi. Karena itu, perubahan saham yang diperhitungkan dapat menjadi informasi penting bagi investor, analis, serta pengelola dana. Namun, penerapan aturan baru tidak dengan sendirinya menjamin arah tertentu bagi IHSG ataupun pergerakan harga saham individual.

Sebelum penyesuaian ini, pengecualian dari penghitungan IHSG hanya berlaku bagi saham yang tercatat di papan akselerasi. Aturan yang akan berlaku memperluas cakupan saham yang tidak dimasukkan, yakni dengan turut mengecualikan saham berkategori HSC. Perbedaan ketentuan sebelumnya dan kebijakan baru tersebut menjadi konteks penting dalam membaca perkembangan metodologi indeks. Investor dapat memperhatikan pengumuman lanjutan BEI dan menilai perubahan ini bersama faktor lain, seperti kondisi ekonomi, kinerja emiten, serta arus dana. Dengan memahami tanggal efektif dan kategori yang terdampak, pelaku pasar dapat menafsirkan informasi indeks secara lebih cermat saat mengambil keputusan investasi.

Selain perkembangan domestik, pelaku pasar juga mencermati dua sumber sentimen eksternal pada perdagangan Jumat, yakni pelemahan tajam bursa Amerika Serikat dan rilis data inflasi Jepang. Pergerakan Wall Street yang ambruk menjadi perhatian karena perubahan selera risiko di pasar global dapat memengaruhi keputusan investor di berbagai kawasan, termasuk Indonesia. Ketika bursa utama Amerika melemah, sebagian pelaku pasar biasanya menilai kembali eksposur terhadap aset berisiko dan memperhatikan arah arus dana. Meski demikian, dampaknya terhadap IHSG tidak berdiri sendiri; investor tetap membandingkannya dengan kondisi ekonomi domestik, pergerakan saham berkapitalisasi besar, serta perkembangan harga komoditas dan nilai tukar. Karena itu, sentimen Wall Street menjadi salah satu faktor yang dipantau, bukan penentu tunggal arah perdagangan.

Perhatian lainnya tertuju pada data inflasi Jepang September 2026 yang diumumkan Jumat pagi. Inflasi tahunan negara tersebut naik menjadi 2,1%, dari 1,9% selama dua bulan sebelumnya. Kenaikan itu menempatkan inflasi pada tingkat tertinggi sejak Desember 2025 dan menandai inflasi inti kembali berada di atas target Bank of Japan. Data ini penting bagi investor karena tekanan harga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membaca prospek kebijakan moneter Jepang. Namun, angka inflasi saja belum menggambarkan seluruh arah kebijakan; pasar juga akan menilai keberlanjutan tekanan harga serta perkembangan ekonomi dan upah. Untuk perdagangan saham Indonesia, rilis tersebut menjadi bagian dari gambaran global yang berpotensi membentuk ekspektasi investor, bersama pergerakan bursa Amerika dan sentimen risiko internasional.

Secara lebih terperinci, inflasi inti Jepang, yang tidak memasukkan harga pangan segar tetapi tetap mencakup energi, tercatat 2,1% secara tahunan.