Hujan Lebat Picu Banjir dan Longsor di Tujuh Desa Aceh Tenggara

oleh -61 Dilihat
oleh
Hujan Lebat Picu Banjir dan Longsor di Tujuh Desa Aceh Tenggara

Kabupaten Aceh Tenggara | Banjir dan tanah longsor melanda empat kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara pada Minggu, 11 Oktober, sejak dini hari. Peristiwa tersebut terjadi setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah Aceh Tenggara sejak Jumat, 9 Oktober. Curah hujan yang berlangsung dalam beberapa hari menyebabkan aliran air meningkat dan memicu longsor di sejumlah lokasi permukiman.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara, Mohd. Asbi, menyampaikan bahwa bencana itu berdampak pada tujuh desa. Keterangan tersebut disampaikan Asbi pada Minggu siang ketika petugas melakukan pendataan terhadap wilayah yang terdampak banjir dan tanah longsor.

Desa Kati Maju di Kecamatan Ketambe menjadi salah satu wilayah yang dilaporkan terdampak. Banjir juga melanda Desa Pulo Nas Baru di Kecamatan Lawe Bulan serta Desa Pulo Lateng di Kecamatan Babussalam. Sementara itu, empat desa lainnya berada di Kecamatan Bambel, yakni Desa Lawe Kihing, Desa Bambel Gabungan, Desa Terutung Seperai, dan Desa Terutung Megara Asli.

Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan luasnya dampak hujan deras yang mengguyur kawasan Aceh Tenggara. Empat kecamatan dengan karakter wilayah yang berbeda menghadapi ancaman genangan dan longsor dalam waktu berdekatan. BPBD Aceh Tenggara menyampaikan informasi mengenai lokasi terdampak sebagai bagian dari pemantauan awal, sementara kondisi di setiap desa masih menjadi perhatian petugas terkait.

Hujan lebat yang berlangsung dalam durasi panjang meningkatkan debit Sungai Lawe Bulan. Volume air yang terus bertambah membuat tekanan arus sungai semakin kuat, hingga akhirnya tanggul di Desa Pulo Mas Baru jebol. Kerusakan tanggul tersebut menyebabkan air meluap dan mengalir ke permukiman warga. Luapan itu menjadi salah satu dampak utama bencana karena mengganggu lingkungan tempat tinggal masyarakat serta meningkatkan risiko terhadap aktivitas sehari-hari di kawasan terdampak.

Dalam waktu yang sama, kondisi hujan juga memengaruhi kestabilan lereng di ruas jalan nasional Kutacane–Blangkejeren, tepatnya di Desa Kati Maju. Lereng yang menjadi labil kemudian memicu terjadinya longsor. Material tanah dan lumpur dari longsoran menutup badan jalan, sehingga arus kendaraan tidak dapat berjalan normal. Penutupan jalur tersebut menimbulkan kemacetan panjang dan menghambat pergerakan pengguna jalan yang melintas di ruas nasional itu.

Gangguan akses juga terjadi di jalan nasional Kutacane–Medan, khususnya pada wilayah Desa Bambel Gabungan hingga Terutung Megara Asli. Ruas jalan tersebut tergenang air dengan ketinggian sekitar 30–50 sentimeter. Genangan ini mempersempit ruang gerak kendaraan dan membuat perjalanan melalui jalur tersebut terganggu. Rangkaian kejadian itu menunjukkan bahwa hujan berdurasi panjang tidak hanya menyebabkan peningkatan debit sungai dan jebolnya tanggul, tetapi juga memicu longsor serta genangan di sejumlah akses penting. Dampaknya dirasakan secara bersamaan, baik oleh warga yang tinggal di sekitar aliran Sungai Lawe Bulan maupun oleh masyarakat yang menggunakan jalan nasional sebagai jalur perjalanan.

Hujan lebat yang memicu banjir di Aceh Tenggara berdampak pada sejumlah fasilitas umum, bangunan, dan area warga. Salah satu kerusakan tercatat pada sistem penyediaan air bersih. Intake sumber air bersih Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Lawe Harum milik PDAM Tirta Agara hanyut setelah tergerus arus banjir. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur pengambilan air turut berada dalam wilayah yang terdampak aliran deras.

Kerusakan juga terjadi pada tanggul penahan tebing Sungai Lawe Bulan atau Lawe Kisam di Desa Lawe Kihing. Tanggul tersebut jebol sepanjang 50 meter. Jebolnya bagian tanggul berpotensi memperluas aliran air ke kawasan sekitar, terutama ketika hujan kembali turun dan debit sungai meningkat. Area di sekitar sungai perlu mendapat perhatian dalam pemantauan lanjutan untuk melihat perubahan kondisi tanggul dan tebing.

Genangan banjir turut merendam lahan pertanian seluas 15 hektare. Lahan yang terdampak tersebar di Desa Lawe Kihing, Bambel Gabungan, dan Terutung Seperai. Genangan pada area pertanian dapat menghambat aktivitas pengolahan lahan serta mengganggu tanaman yang berada di lokasi tersebut. Data mengenai jenis tanaman dan dampak terhadap hasil panen tidak tercantum dalam bahan sumber.

Selain infrastruktur air dan lahan pertanian, air juga menggenangi gudang logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Fasilitas SMPIT Al Khansa turut terdampak genangan. Terendamnya kedua bangunan tersebut menunjukkan bahwa banjir menjangkau fasilitas penyimpanan kebutuhan penanganan bencana dan lingkungan pendidikan.

Rangkaian dampak itu meliputi hanyutnya intake SPAM, jebolnya tanggul sungai, genangan pada lahan pertanian, serta masuknya air ke sejumlah bangunan. Informasi yang tersedia belum memuat rincian mengenai jumlah korban maupun tingkat kerugian, sehingga penilaian terhadap kedua hal tersebut belum dapat disimpulkan.

BPBD Aceh Tenggara mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk melakukan pendataan di sejumlah lokasi yang terdampak banjir dan longsor. Tim tersebut ditugaskan memeriksa kondisi lapangan, mengidentifikasi dampak bencana, serta menghimpun informasi mengenai kebutuhan penanganan darurat di desa-desa yang terdampak. Pendataan menjadi langkah awal untuk memastikan setiap lokasi memperoleh penanganan sesuai kondisi di lapangan.

Selain mengirimkan personel, BPBD Aceh Tenggara menurunkan satu unit ekskavator untuk membantu proses pembersihan material longsor di Desa Kati Maju. Alat berat digunakan untuk menyingkirkan timbunan tanah dan material lain yang menghambat akses maupun aktivitas masyarakat di kawasan tersebut.

Penanganan juga dilakukan di Jembatan Bailey Pulo Latong. Ekskavator dikerahkan untuk mengeruk kayu gelondongan yang menghambat aliran air di sekitar jembatan. Pembersihan itu dilakukan agar material yang terbawa arus tidak terus mengganggu aliran dan kondisi infrastruktur penghubung tersebut.

Personel pemadam kebakaran BPBD turut diterjunkan untuk membersihkan endapan lumpur di ruas jalan Pulo Nas Baru–Lawe Rutung. Tim juga melakukan penutupan tanggul dan normalisasi sungai di Desa Lawe Kihing sebagai bagian dari upaya penanganan di wilayah yang terdampak genangan serta gangguan aliran air.

Koordinator lapangan, Asbi, menyampaikan bahwa air masih tergenang di sejumlah lokasi. Keterangan tersebut menjadi gambaran kondisi terakhir yang disampaikan terkait penanganan bencana di wilayah Aceh Tenggara.