Kota Yogyakarta | Sejumlah aktivis dan tokoh masyarakat yang tergabung dalam Forum Kebangsaan DIY menurunkan foto Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di ruang Badan Anggaran (Banggar) kantor DPRD DIY, Kota Yogyakarta. Aksi tersebut berlangsung pada Rabu, 4 November 2026, ketika forum menggelar audiensi dengan jajaran pimpinan DPRD DIY. Peristiwa itu kemudian ramai diperbincangkan di media sosial, dengan beragam tanggapan dari pengguna yang mengunggah maupun membagikan rekaman dan informasi mengenai kejadian tersebut.
Penurunan foto terjadi di tengah pertemuan yang menjadi ruang bagi Forum Kebangsaan DIY untuk menyampaikan aspirasi kepada pimpinan dewan. Ruang Banggar menjadi lokasi audiensi, sementara kehadiran foto wakil presiden di ruangan itu menjadi bagian dari peristiwa yang menarik perhatian. Aksi tersebut tidak berlangsung sebagai kegiatan terpisah dari agenda pertemuan, melainkan terjadi saat para peserta berada di kantor legislatif daerah. Informasi mengenai kejadian ini menyebar setelah audiensi berlangsung dan mendorong perhatian publik, terutama karena tindakan terhadap foto pejabat negara kerap memunculkan pembahasan mengenai ekspresi politik dan etika di ruang institusi pemerintahan.
Sejauh informasi yang disampaikan, kelompok yang melakukan aksi terdiri atas aktivis serta tokoh masyarakat yang membawa nama Forum Kebangsaan DIY. Mereka hadir untuk bertemu dengan jajaran pimpinan DPRD DIY, sedangkan penurunan foto menjadi sorotan tersendiri di tengah agenda audiensi. Ramainya percakapan di media sosial memperluas jangkauan peristiwa di luar ruang pertemuan dan memunculkan berbagai penilaian. Sebagian perhatian tertuju pada alasan di balik tindakan tersebut, sementara pembahasan lain menyoroti konteks audiensi dan penggunaan ruang Banggar. Namun, peristiwa itu perlu dipahami berdasarkan keterangan yang terverifikasi, termasuk tujuan forum dan tanggapan pihak-pihak yang terlibat. Dengan demikian, perhatian publik tidak hanya bertumpu pada potongan gambar atau unggahan yang beredar, tetapi juga pada rangkaian kejadian serta konteks pertemuan. Audiensi tersebut mempertemukan kelompok masyarakat dengan unsur pimpinan DPRD DIY, dan aksi penurunan foto berlangsung dalam kerangka pertemuan itu. Informasi lebih lanjut mengenai sikap resmi para pihak dapat membantu memberi gambaran utuh atas kejadian yang menjadi perhatian tersebut.
Aksi penurunan foto Gibran saat audiensi di DPRD DIY diikuti sejumlah tokoh lokal yang hadir bersama Forum Kebangsaan DIY. Kehadiran mereka menjadi bagian dari rombongan forum dalam kegiatan tersebut. Di tokoh yang disebut hadir ialah Syukri Fadholi dan Muhammad Chirzin. Keterangan mengenai keduanya mencakup peran mereka di Forum Kebangsaan DIY, tanpa perlu menambahkan jabatan atau keterlibatan lain yang tidak disebutkan.
Syukri Fadholi disebut sebagai mantan Wakil Wali Kota Yogyakarta sekaligus pelindung Forum Kebangsaan DIY. Sementara itu, Muhammad Chirzin disebut sebagai pembina forum tersebut. Penyebutan kedua nama ini memberi gambaran mengenai sejumlah tokoh yang hadir bersama forum, serta posisi mereka dalam organisasi itu. Informasi tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan pandangan pribadi masing-masing terhadap aksi, sehingga kehadiran mereka sebaiknya dicatat sesuai keterangan yang tersedia.
Forum Kebangsaan DIY hadir dalam audiensi di DPRD DIY dengan sejumlah tokoh lokal di dalam rombongannya. Dalam konteks pemberitaan mengenai foto Gibran yang diturunkan, fakta kehadiran mereka dapat disampaikan secara terpisah dari uraian mengenai tindakan tersebut. Dengan demikian, pembaca dapat membedakan informasi tentang siapa yang hadir dari penjelasan mengenai aksi yang berlangsung. Keterangan yang ada menyebut nama Syukri Fadholi dan Muhammad Chirzin, tetapi tidak merinci jumlah keseluruhan tokoh yang ikut hadir ataupun nama-nama lainnya.
Informasi tentang latar organisasi dan peran yang tercatat juga membantu menjaga penyebutan tetap jelas. Syukri Fadholi hadir sebagai salah satu tokoh lokal yang disebut, dengan keterangan bahwa ia merupakan mantan Wakil Wali Kota Yogyakarta dan pelindung Forum Kebangsaan DIY. Muhammad Chirzin juga disebut hadir, dengan keterangan sebagai pembina forum. Tidak ada keterangan tambahan mengenai tugas mereka dalam audiensi atau pernyataan yang disampaikan masing-masing. Karena itu, uraian mengenai kehadiran tokoh lokal dapat dibatasi pada nama, peran yang telah disebut, dan keterkaitan mereka dengan Forum Kebangsaan DIY dalam kegiatan tersebut.
Dalam video yang beredar, perubahan posisi bingkai foto resmi Gibran di ruang sidang DPRD DIY terlihat terjadi tidak lama setelah massa memasuki ruangan. Bingkai yang sebelumnya berada di dinding kemudian diturunkan secara spontan. Urutan tersebut tampak berlangsung setelah kedatangan massa, sebelum audiensi selesai. Rekaman memperlihatkan peristiwa itu sebagai bagian dari suasana di dalam ruang sidang, tanpa menjelaskan secara terperinci alasan tindakan tersebut.
Video itu tidak memberikan dasar yang cukup untuk memastikan siapa yang menurunkan foto. Karena itu, kronologi dapat disampaikan sebatas hal yang tampak: massa memasuki ruang sidang, lalu bingkai foto resmi Gibran diturunkan. Tidak perlu menarik kesimpulan mengenai pelaku tertentu ataupun mengaitkan tindakan tersebut dengan orang yang tidak dapat diidentifikasi dari rekaman. Keterangan yang melampaui apa yang terlihat berisiko mengubah fakta visual menjadi dugaan.
Foto tersebut tidak dibiarkan berada di luar dinding ruangan hingga kegiatan berakhir. Setelah audiensi selesai, bingkai itu dikembalikan dan dipasang lagi di dinding ruang sidang. Rekaman menunjukkan pemulihan posisi foto berlangsung sesudah audiensi, sehingga pemasangan kembali tidak terjadi segera setelah bingkai diturunkan. Dengan demikian, dua momen yang terlihat memiliki urutan jelas: penurunan berlangsung tak lama setelah massa masuk, sedangkan pengembalian dilakukan setelah pertemuan selesai.
Urutan waktu ini penting untuk menjaga pemberitaan tetap akurat dan proporsional. Penurunan bingkai tidak sebaiknya digambarkan sebagai peristiwa yang terjadi setelah audiensi, sebab video memperlihatkan sebaliknya. Begitu pula, pemasangan kembali tidak berlangsung sebelum pertemuan berakhir. Rekaman yang tersedia menunjukkan kapan perubahan posisi foto terjadi, tetapi tidak dengan sendirinya menerangkan siapa yang melakukan tiap tindakan atau apa pertimbangannya. Keterangan mengenai pelaku maupun motif tidak dapat dipastikan hanya dari kronologi visual tersebut. Karena itu, uraian yang paling tepat berfokus pada hal yang dapat diamati: foto resmi Gibran diturunkan tak lama sesudah massa memasuki ruang sidang dan dikembalikan ke dinding setelah audiensi selesai.
Muhammad Chirzin menjelaskan bahwa penurunan foto Gibran dalam audiensi di DPRD DIY dilakukan dengan sengaja. Menurutnya, tindakan tersebut bukan gerakan spontan atau sekadar persoalan penempatan gambar, melainkan bentuk protes keras yang dirancang untuk menyampaikan sikap politik. Dengan mencopot foto itu, para peserta ingin menunjukkan bahwa aspirasi yang mereka bawa memiliki bobot dan tidak sepatutnya diperlakukan sebagai hal sepele. Penjelasan Chirzin menempatkan aksi tersebut sebagai simbol, sehingga maknanya tidak berhenti pada benda yang diturunkan, tetapi mengarah pada pesan yang hendak disampaikan kepada lembaga perwakilan dan publik.
Chirzin menyebut pesan yang dibawa aksi itu sebagai tuntutan agar Gibran diturunkan. Ia menggambarkan tuntutan tersebut dengan pernyataan bahwa penurunan Gibran adalah harga mati. Pernyataan itu menegaskan kuatnya sikap para pengusung aspirasi sekaligus menunjukkan bahwa mereka menghendaki tindak lanjut, bukan hanya pencatatan atau pembahasan tanpa keputusan. Dalam penjelasannya, pencopotan foto berfungsi sebagai lambang penolakan dan penegasan tuntutan. Karena dilakukan di tengah audiensi di DPRD DIY, aksi tersebut juga menjadi cara untuk menarik perhatian terhadap aspirasi masyarakat yang disampaikan kepada wakil rakyat.
Selain menyampaikan tuntutan, Chirzin mengaitkan persoalan itu dengan tanggung jawab DPR RI dalam merespons suara masyarakat. Ia mengatakan DPR RI dianggap mengkhianati amanat rakyat apabila tidak menindaklanjuti aspirasi tersebut.
20 kunjungan