El Nino Menguat, Rekor Suhu Laut dan Ancaman Cuaca Ekstrem Dunia

oleh -362 Dilihat
oleh
El Nino Menguat, Rekor Suhu Laut dan Ancaman Cuaca Ekstrem Dunia

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa El Nino kini menguat dengan cepat dan berpotensi membawa dampak luas terhadap kondisi iklim dunia. Penguatan fenomena ini dapat mendorong suhu permukaan laut di Samudra Pasifik menuju tingkat yang belum pernah tercatat, sekaligus memperbesar kemungkinan terjadinya anomali cuaca di berbagai benua. Perkembangan tersebut berlangsung ketika suhu global secara keseluruhan terus meningkat akibat perubahan iklim, sehingga risiko yang ditimbulkan menjadi semakin serius.

Dalam laporan Global Seasonal Climate Update, WMO memperkirakan El Nino hampir pasti bertahan hingga Februari 2027, dengan probabilitas yang mendekati 100 persen. Organisasi tersebut juga memproyeksikan bahwa puncak fenomena akan berlangsung sekitar Desember 2026. Perkiraan itu menjadi perhatian karena periode penguatan El Nino berpotensi bertepatan dengan catatan suhu laut dan suhu udara yang lebih tinggi di banyak wilayah. WMO menekankan bahwa prediksi tersebut bukan sekadar gambaran perubahan di Pasifik, melainkan peringatan mengenai konsekuensi yang dapat dirasakan secara global.

El Nino yang lebih kuat berpeluang meningkatkan frekuensi dan intensitas panas ekstrem, terutama di kawasan yang sudah menghadapi tren pemanasan. Sejumlah wilayah dapat mengalami kekeringan berkepanjangan yang mengganggu ketersediaan air, pertanian, serta ketahanan pangan. Di sisi lain, perubahan pola atmosfer dan distribusi curah hujan juga dapat memicu hujan deras, banjir, dan badai di kawasan lain. Dampaknya tidak selalu seragam, tetapi kombinasi suhu laut yang sangat tinggi dan pemanasan global dapat mempersempit ruang untuk pemulihan ekosistem serta masyarakat yang rentan. Karena itu, WMO mendorong pemerintah dan lembaga terkait memperkuat pemantauan, sistem peringatan dini, serta kesiapan menghadapi cuaca ekstrem sepanjang periode tersebut.

Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Celeste Saulo, menyatakan pada Jumat, 9 Oktober 2026, bahwa El Nino telah terbentuk dengan kuat dan sedang menguat secara cepat. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa fenomena pemanasan berkala di Samudra Pasifik khatulistiwa kini berkembang lebih intens dibandingkan perkiraan awal. Penguatan yang berlangsung cepat menjadi perhatian karena perubahan kondisi laut dan atmosfer dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai kawasan dunia.

Menurut Saulo, perkembangan terbaru itu membuka kemungkinan bahwa El Nino kali ini dapat menjadi salah satu episode terkuat setidaknya sejak pencatatan modern dimulai pada 1950. Pernyataan tersebut tidak berarti bahwa rekor baru telah dipastikan, melainkan menegaskan adanya potensi yang perlu dipantau secara cermat. Kekuatan fenomena akan terus dinilai berdasarkan suhu permukaan laut, perubahan angin, tekanan atmosfer, serta respons sistem iklim dalam beberapa waktu mendatang.

El Nino yang kuat biasanya meningkatkan peluang terjadinya anomali cuaca, meskipun dampaknya tidak sama di setiap wilayah. Sejumlah daerah dapat menghadapi suhu yang lebih tinggi dan kekeringan, sementara wilayah lain berisiko mengalami hujan lebat serta banjir akibat perubahan sirkulasi atmosfer. Karena itu, pernyataan WMO menjadi peringatan bagi pemerintah, lembaga kebencanaan, sektor pertanian, kesehatan, dan masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan. Pemantauan berkelanjutan diperlukan agar pembaruan prakiraan dan peringatan dini dapat segera disampaikan ketika intensitas El Nino berubah.

Wilayah Nino 3,4 merupakan salah satu kawasan utama yang digunakan untuk memantau perkembangan El Nino. Area ini membentang di Pasifik khatulistiwa bagian tengah hingga timur, tepatnya di sekitar 170 derajat bujur timur dan 120 derajat bujur barat. Perubahan suhu permukaan laut di kawasan tersebut menjadi indikator penting karena dapat memengaruhi pola sirkulasi atmosfer, curah hujan, serta kejadian cuaca di berbagai belahan dunia.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memproyeksikan bahwa anomali suhu permukaan laut rata-rata di wilayah Nino 3,4 dapat mencapai sekitar 3,7 derajat Celsius di atas kondisi normal selama periode Oktober hingga Desember 2026. Besaran tersebut menunjukkan pemanasan laut yang sangat kuat dibandingkan rata-rata klimatologis. Jika proyeksi itu terealisasi, nilainya berpotensi menjadi anomali tertinggi sejak pencatatan pengamatan dimulai.

Perkiraan terbaru tersebut juga melampaui rekor sebelumnya. Pada November 2015 hingga Januari 2016, anomali suhu permukaan laut di kawasan Nino 3,4 tercatat sekitar 2,6 derajat Celsius di atas normal. Periode itu dikenal sebagai salah satu fase El Nino terkuat dalam catatan modern dan beriringan dengan peningkatan suhu rata-rata global serta berbagai gangguan cuaca.

Selisih proyeksi 3,7 derajat Celsius dan rekor 2,6 derajat Celsius tergolong besar dalam konteks pemantauan iklim. Kenaikan lebih dari satu derajat di atas catatan terdahulu dapat menandakan penguatan El Nino yang luar biasa, bukan sekadar variasi musiman biasa. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar perubahan pola hujan, meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah, dan memicu hujan lebat atau banjir di kawasan lain. Namun, proyeksi tetap perlu dipantau melalui pembaruan data laut dan atmosfer karena kondisi ENSO dapat berubah seiring perkembangan musim.

Penguatan El Nino diperkirakan membawa dampak yang lebih luas daripada sekadar kenaikan suhu udara dan permukaan laut. Salah satu perubahan paling penting adalah bergesernya distribusi curah hujan di berbagai kawasan dunia. Fenomena ini dapat mengubah pola musim, waktu turunnya hujan, serta intensitasnya. Akibatnya, wilayah yang biasanya memperoleh pasokan air dalam jumlah tertentu dapat mengalami kondisi yang jauh berbeda dari rata-rata, baik lebih basah maupun lebih kering.

Sejumlah kawasan diprediksi mengalami curah hujan lebih tinggi daripada biasanya. Wilayah tersebut mencakup Tanduk Besar Afrika, sebagian Asia Tengah dan Asia Timur, bagian utara Semenanjung Arab, sebagian Amerika Utara, serta tenggara Amerika Selatan. Hujan yang meningkat dapat membantu mengurangi tekanan akibat kekurangan air di beberapa tempat, tetapi intensitas yang terlalu tinggi atau berlangsung dalam waktu singkat juga berpotensi melampaui kemampuan tanah dan sistem drainase dalam menyerap air.

Di sisi lain, kondisi yang lebih kering diperkirakan terjadi di anak benua India, bagian selatan Amerika Tengah, sebagian kawasan Karibia, serta barat laut Amerika Selatan. Penurunan curah hujan di wilayah-wilayah tersebut dapat memperpanjang periode tanpa hujan dan mengurangi ketersediaan air untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, maupun ekosistem. Jika berlangsung bersamaan dengan suhu yang lebih tinggi, penguapan juga dapat meningkat sehingga tekanan terhadap sumber daya air menjadi semakin besar.

Perbedaan pola cuaca tersebut menunjukkan bahwa El Nino dapat memperbesar ketimpangan risiko hidrometeorologi antarwilayah. Kawasan yang lebih kering menghadapi ancaman kekeringan, penurunan hasil pertanian, dan keterbatasan pasokan air. Sementara itu, daerah yang menerima hujan berlebih berpotensi mengalami banjir, genangan, longsor, serta gangguan terhadap infrastruktur dan aktivitas masyarakat. Karena itu, pemantauan prakiraan cuaca dan kesiapan menghadapi perubahan curah hujan menjadi semakin penting selama episode El Nino berlangsung.