Dwi Putri Wulandari dan Tekad Menjaga Napas Tari Tradisional Banyuwangi

oleh -31 Dilihat
oleh
Dwi Putri Wulandari dan Tekad Menjaga Napas Tari Tradisional Banyuwangi

Banyuwangi | Di bawah sorot lampu panggung, Dwi Putri Wulandari bergerak mengikuti iringan musik tradisional yang mengalun. Setiap gerak tangan, langkah kaki, dan perubahan ekspresi menunjukkan penghayatan yang kuat terhadap tarian yang dibawakannya. Bagi siswi kelas 11 IPS 4 SMAN 1 Genteng berusia 17 tahun itu, menari bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Tari menjadi ruang untuk mengekspresikan perasaan, membangun kepercayaan diri, sekaligus merawat warisan budaya Banyuwangi.

Kecintaan Dwi terhadap seni tari tumbuh sejak ia berusia enam tahun. Pada usia tersebut, ia mulai mengenal gerak dan irama melalui lingkungan di sekitarnya. Pengalaman awal itu perlahan membentuk ketertarikan yang lebih mendalam terhadap kesenian tradisional. Namun, perjalanan Dwi tidak selalu berjalan tanpa jeda. Ia sempat berhenti menari ketika harus pindah kota. Perubahan lingkungan dan rutinitas membuat aktivitas tersebut terhenti untuk sementara waktu.

Kerinduan terhadap dunia tari kembali muncul ketika Dwi memasuki kelas 1 SMP. Pada masa itu, ia mulai menekuni tari dengan kesadaran yang lebih matang. Ia tidak hanya belajar menghafal rangkaian gerak, tetapi juga berusaha memahami makna yang terkandung di balik setiap penampilan. Proses tersebut membuat tari semakin dekat dengan kehidupan sehari-harinya dan mendorongnya untuk terus berlatih.

Menurut Dwi, tarian tradisional Banyuwangi memiliki tempat khusus karena menyimpan nilai budaya dan filosofi yang kuat. Kesenian tersebut merekam pandangan hidup, identitas masyarakat, serta hubungan antargenerasi yang terus diwariskan. Selain itu, karakter geraknya yang khas memberikan keunikan tersendiri. Ketegasan, keluwesan, dan ekspresi dalam tari Banyuwangi menuntut penari untuk menguasai teknik sekaligus memahami jiwa tarian. Karena itu, setiap kali tampil, Dwi merasa tidak hanya sedang menunjukkan kemampuan pribadi, tetapi juga ikut menjaga agar warisan budaya daerahnya tetap dikenal dan hidup di tengah perubahan zaman.

Bagi Dwi Putri Wulandari, menjadi pelajar sekaligus penari berprestasi menuntut kedisiplinan dalam mengatur waktu. Ia tetap mengikuti kegiatan sekolah, menyelesaikan tugas, dan memenuhi kewajiban akademik tanpa mengesampingkan latihan tari. Secara konsisten, Dwi menyediakan waktu untuk berlatih setiap Selasa, Kamis, dan Minggu di Sanggar Gandrung Arum. Jadwal tersebut menjadi bagian penting dalam kesehariannya, meskipun terkadang tugas sekolah menumpuk atau tubuh membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Latihan tari bukan kegiatan yang dapat dilakukan secara terburu-buru. Dwi menghadapi tantangan ketika mempelajari tarian bertempo cepat dengan karakter gerak yang tegas. Setiap rangkaian harus dilakukan dengan tenaga, keberanian, dan kendali yang seimbang. Kecepatan musik menuntut konsentrasi tinggi, sedangkan karakter tegas mengharuskan penari mampu menampilkan sikap yang kuat tanpa kehilangan keindahan. Kesalahan kecil dapat memengaruhi kesinambungan gerak dan mengurangi kekuatan penampilan secara keseluruhan.

Ketepatan menjadi unsur yang terus diasah dalam latihan. Posisi kaki harus sesuai agar tubuh tetap kokoh dan perpindahan gerak terlihat jelas. Ayunan jemari perlu mengikuti bentuk serta arah yang telah ditentukan, sementara gerakan kepala harus selaras dengan perubahan tempo dan ekspresi. Dwi mempelajari setiap unsur secara berulang agar koordinasi tubuhnya semakin baik. Proses ini membutuhkan kesabaran, sebab kemampuan tidak hanya dibentuk oleh bakat, tetapi juga oleh kebiasaan berlatih secara teratur.

Dalam mendalami tari, Dwi berpegang pada tiga pilar seni tari Jawa, yakni wiraga, wirasa, dan wirama. Wiraga berkaitan dengan kemampuan fisik dalam menguasai teknik serta kekuatan tubuh. Wirasa merujuk pada penghayatan, ekspresi, dan kemampuan menyampaikan makna tarian kepada penonton. Sementara itu, wirama adalah kesesuaian gerak dengan irama. Ketiganya harus berjalan seimbang agar tarian tidak sekadar tepat secara teknis, tetapi juga hidup, berkarakter, dan mampu menyampaikan nilai budaya Banyuwangi.

Perjalanan Dwi Putri Wulandari dalam mendalami tari tradisional Banyuwangi tidak selalu berlangsung mudah. Dalam proses latihan, ia pernah merasakan lelah, jenuh, bahkan keputusasaan. Perasaan tersebut muncul ketika Dwi belum mampu menemukan ruh cerita dalam tarian baru yang sedang dipelajarinya. Baginya, gerakan tari tidak cukup hanya dilakukan dengan tepat, tetapi juga harus menyampaikan makna dan emosi yang terkandung di dalamnya. Kegelisahan itu sempat membuat latihan terasa berat, terutama ketika hasil yang diharapkan belum kunjung terlihat.

Meski demikian, Dwi terus memegang prinsip bahwa keberhasilan membutuhkan proses yang tidak mudah. Ia menyadari bahwa kemampuan tidak terbentuk dalam waktu singkat, melainkan melalui latihan berulang, kesabaran, dan kemauan untuk memperbaiki kekurangan. Dengan keyakinan tersebut, ia kembali berlatih dengan tekad yang lebih kuat. Setiap kesulitan dijadikannya sebagai bagian dari pembelajaran untuk memahami karakter tarian secara lebih mendalam. Ketekunan itu perlahan membantunya mengatasi keraguan sekaligus membangun kepercayaan diri.

Rasa pesimis kembali muncul ketika Dwi mengikuti kompetisi dan melihat ratusan peserta dari berbagai daerah. Banyaknya peserta membuatnya sempat merasa takut dan meragukan kemampuan kelompoknya. Namun, perasaan itu berangsur hilang setelah ia berada di atas panggung. Dwi memusatkan perhatian kepada juri, lalu menampilkan tarian dengan keyakinan. Ia berusaha menghidupkan setiap gerakan dan menyampaikan cerita melalui penampilannya. Kelompok tari yang diikutinya akhirnya dinyatakan sebagai pemenang utama.

Prestasi tersebut tercermin dalam sejumlah capaian penting. Dwi meraih juara 1 tingkat kabupaten bersama Sanggar Gandrung Arum, juara 3 se-Jawa-Bali di Gesibu Blambangan, juara 1 tingkat Provinsi Jawa Timur, serta juara 1 tingkat nasional di Gedung Pemuda Surabaya. Rangkaian penghargaan itu menunjukkan bahwa ketekunan dan kecintaannya terhadap budaya mampu menghasilkan pencapaian nyata. Keberhasilannya turut mengharumkan nama sekolah dan daerah, sekaligus menegaskan bahwa kesungguhan menjaga tradisi dapat berjalan seiring dengan prestasi.

Penghargaan yang telah diraih Dwi Putri Wulandari tidak menjadi alasan untuk berhenti belajar. Bagi Dwi, setiap pencapaian justru merupakan pengingat bahwa perjalanan sebagai penari masih panjang. Ia ingin terus memperkaya pengalaman dengan mempelajari berbagai tarian baru, termasuk tari-tari yang memiliki teknik, struktur gerak, serta karakter yang lebih kompleks. Proses tersebut dipandang penting agar kemampuannya tidak hanya bertumpu pada penguasaan gerakan, tetapi juga pada pemahaman terhadap makna, suasana, dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap karya.

Dwi juga memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Kampus seni tersebut menjadi tujuan yang ingin dicapainya karena dapat membuka kesempatan untuk belajar secara lebih terarah dan mendalam. Melalui pendidikan formal, ia berharap dapat memperluas wawasan kebudayaan, mengenal beragam tradisi seni dari berbagai daerah, serta memahami perkembangan seni pertunjukan dalam lingkungan akademik. Pengetahuan itu diharapkan mampu memperkuat cara pandangnya ketika mendalami tari tradisional Banyuwangi.

Selain memperluas wawasan, pendidikan di ISI Yogyakarta diharapkan menjadi ruang bagi Dwi untuk mengembangkan bakat hingga tingkat profesional. Ia ingin memperoleh pembelajaran, pengalaman, dan bimbingan yang dapat membentuk kedisiplinan serta kematangan sebagai seniman. Bekal tersebut nantinya ingin ia gunakan untuk mendedikasikan hidupnya pada pelestarian tari tradisional Banyuwangi, baik melalui pertunjukan, pembelajaran, maupun berbagai kegiatan yang dapat mendekatkan kesenian tersebut kepada generasi muda.

Dwi menyimpan harapan agar seni tari Banyuwangi tetap bergema di panggung nasional maupun internasional. Ia ingin kekayaan gerak, karakter, dan nilai budaya Banyuwangi terus dikenal melalui penampilan para penari yang mampu menjaganya sekaligus mengembangkannya secara bertanggung jawab. Dengan semangat belajar yang terus terpelihara, Dwi menempatkan dirinya sebagai bagian dari generasi yang berusaha merawat keberadaan tari tradisional tersebut.