Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Capaian Investasi dan Sebarannya

oleh -51 Dilihat
oleh
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Capaian Investasi dan Sebarannya

Jakarta | Realisasi investasi selama periode penghitungan yang dicantumkan dalam bahan tayang mencapai Rp3.923,2 triliun. Angka tersebut merujuk pada rentang triwulan IV 2024 hingga triwulan III 2026, sehingga memberikan gambaran mengenai akumulasi investasi pada bagian akhir 2024, sepanjang 2025, dan tiga triwulan pertama 2026. Penyebutan rentang waktu ini penting untuk membaca angka secara tepat, terutama karena istilah dua tahun pemerintahan dapat dipahami dengan titik awal yang berbeda. Dalam hal ini, periode yang digunakan bukan dua tahun kalender penuh.

Jika dibandingkan dengan target investasi 2025–2029 sebesar Rp13.032,8 triliun, realisasi Rp3.923,2 triliun setara dengan 30,1 persen dari keseluruhan target tersebut. Perbandingan ini menempatkan capaian pada periode penghitungan dalam konteks sasaran investasi lima tahunan. Persentase itu menunjukkan porsi target yang telah terealisasi berdasarkan angka yang disampaikan, bukan capaian untuk satu tahun tertentu saja. Karena target mencakup rentang 2025 hingga 2029, sementara realisasi yang dilaporkan dimulai pada triwulan IV 2024 dan berakhir pada triwulan III 2026, kedua rentang tersebut perlu dibedakan saat menafsirkan perbandingan.

Hitungan dua tahun dalam paparan tersebut dimulai pada triwulan IV 2024, bukan sejak awal tahun 2024. Dengan demikian, periode itu mencakup triwulan IV 2024, seluruh triwulan pada 2025, lalu triwulan I, II, dan III 2026. Artinya, angka Rp3.923,2 triliun tidak mewakili akumulasi sejak Januari 2024 ataupun mencakup triwulan IV 2026. Penjelasan batas waktu ini membantu menghindari kekeliruan dalam membandingkan data dengan periode kalender lain. Dengan membaca nilai, persentase, serta rentang waktu secara bersamaan, capaian investasi dapat dipahami sesuai cakupan yang dinyatakan dalam bahan tayang.

Dalam paparan mengenai dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, realisasi investasi tercatat menyerap 5.485.944 tenaga kerja Indonesia. Angka tersebut disampaikan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani di Istana Negara pada Selasa, 20 Oktober 2026. Dengan demikian, keterangan itu menempatkan penyerapan tenaga kerja sebagai salah satu ukuran yang menyertai capaian realisasi investasi pada periode yang dibahas.

Jumlah 5.485.944 merupakan angka agregat yang disebutkan dalam keterangan tersebut. Penyebutan ini memberi gambaran mengenai skala tenaga kerja Indonesia yang terserap seiring realisasi investasi selama periode pemerintahan dua tahun. Namun, angka agregat itu tidak dengan sendirinya menjelaskan rincian lebih lanjut mengenai komposisi atau distribusinya. Informasi yang tersedia dalam keterangan Rosan, sebagaimana disampaikan di Istana Negara, berfokus pada jumlah keseluruhan dan kaitannya dengan realisasi investasi.

Karena itu, angka penyerapan tersebut perlu disampaikan sesuai cakupan informasi yang diumumkan: realisasi investasi pada periode itu menyerap 5.485.944 tenaga kerja Indonesia. Keterangan ini tidak merinci jenis pekerjaan, sektor yang menyerap tenaga kerja, maupun pembagian angka menurut wilayah. Tanpa rincian semacam itu, angka tersebut lebih tepat dipahami sebagai total penyerapan yang disampaikan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, bukan sebagai uraian tentang karakteristik pekerjaan atau persebaran tenaga kerja.

Penyampaian angka oleh Rosan pada Selasa, 20 Oktober 2026, menjadi rujukan untuk mencatat keterkaitan realisasi investasi dan penyerapan tenaga kerja dalam pembahasan capaian dua tahun pemerintahan. Angka 5.485.944 menunjukkan besaran yang secara resmi disebutkan dalam keterangan tersebut, sementara konteks yang dapat ditarik tetap terbatas pada periode dan hubungan yang dinyatakan. Dengan menjaga batas informasi itu, capaian penyerapan kerja dapat dicantumkan secara jelas tanpa menambahkan rincian yang tidak disertakan dalam pengumuman.

Sebaran investasi dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menunjukkan porsi luar Jawa sedikit lebih besar dibandingkan Jawa. Wilayah luar Jawa mencatat investasi sebesar Rp2.031 triliun, setara dengan 51,8% dari total. Sementara itu, Jawa mencatat Rp1.892,2 triliun, dengan porsi 48,2%. Perbandingan ini memperlihatkan bahwa lebih dari separuh nilai investasi tercatat berada di luar Jawa, sedangkan bagian yang tercatat di Jawa berada sedikit di bawah separuh total.

Selisih nilai investasi kedua kelompok wilayah tersebut mencapai Rp138,8 triliun, dengan nilai luar Jawa lebih tinggi. Dari sisi persentase, perbedaannya adalah 3,6 poin persentase, yakni 51,8% dikurangi 48,2%. Kedua angka persentase itu jika dijumlahkan menjadi 100%, sehingga menggambarkan pembagian keseluruhan investasi Jawa dan luar Jawa. Dengan demikian, perbandingan nominal dan persentase menyampaikan arah yang sama: porsi luar Jawa lebih besar, walaupun jaraknya terhadap porsi Jawa tidak terlalu lebar.

Secara keseluruhan, angka yang disajikan menghasilkan total investasi Rp3.923,2 triliun, berdasarkan penjumlahan Rp2.031 triliun di luar Jawa dan Rp1.892,2 triliun di Jawa. Angka total ini juga menjadi dasar untuk membaca kedua porsi dalam konteks yang sama. Perlu diperhatikan bahwa selisih 3,6 poin persentase bukan berarti selisih nilai investasi sebesar 3,6%, melainkan perbedaan di dua bagian dari total. Sementara itu, selisih nominal menunjukkan jarak dalam nilai rupiah investasi luar Jawa dan investasi Jawa.

Perbandingan tersebut memberi gambaran ringkas mengenai distribusi investasi menurut dua kelompok wilayah. Data ini dapat dibaca tanpa menguraikan rincian daerah maupun sektor: yang terlihat dari angka agregat adalah pembagian Jawa dan luar Jawa, beserta jarak di keduanya. Dengan porsi 51,8% berbanding 48,2%, luar Jawa berada di posisi lebih besar dalam pencatatan investasi pada periode yang dibahas. Informasi ini menyajikan komposisi wilayah secara terukur, tanpa dengan sendirinya menjelaskan alasan di balik perbedaan nilai tersebut.

Komposisi investasi selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran memperlihatkan kontribusi yang hampir seimbang penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA). PMDN tercatat sebesar Rp1.998,7 triliun, setara dengan 50,9 persen dari total investasi. Sementara itu, PMA mencapai Rp1.924,5 triliun atau 49,1 persen. Selisih keduanya hanya sekitar Rp74,2 triliun, sehingga sumber modal domestik maupun asing sama-sama menjadi bagian penting dalam keseluruhan realisasi investasi pada periode yang dibahas.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan, menyampaikan bahwa kontribusi PMDN dan PMA berbanding tipis. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa investasi tidak hanya bergantung pada masuknya modal dari luar negeri, tetapi juga ditopang oleh kegiatan penanaman modal oleh pelaku usaha domestik. Besaran kedua komponen itu memberi gambaran bahwa upaya mendorong investasi mencakup sumber pembiayaan yang beragam. Meski persentase PMDN sedikit lebih besar, perbedaannya tidak mengubah gambaran utama bahwa kedua sumber modal berkontribusi hampir setara.

Perbandingan ini juga menjadi konteks untuk membaca sasaran investasi pemerintah pada tahap berikutnya. Untuk periode 2025–2029, Bappenas memberikan target investasi sebesar Rp13.032,8 triliun kepada BKPM. Angka tersebut merupakan sasaran yang harus dikejar selama lima tahun, bukan nilai investasi yang telah terealisasi. Target itu ditetapkan untuk mendukung sasaran pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029. Dengan demikian, capaian PMDN dan PMA yang telah dicatat perlu dibedakan dari target jangka menengah tersebut: angka realisasi menggambarkan investasi yang sudah masuk, sedangkan Rp13.032,8 triliun menunjukkan akumulasi sasaran untuk periode mendatang. Besarnya target menempatkan mobilisasi modal domestik dan asing sebagai agenda penting bagi pemerintah dan BKPM, sekaligus menegaskan perlunya mempertahankan kontribusi kedua sumber modal agar rencana investasi 2025–2029 dapat diarahkan pada sasaran pertumbuhan yang telah ditetapkan.

Baca juga: Hadiri Peringatan 10 Tahun Hubungan Jiangxi–Indonesia, Bamsoet Dorong Peningkatan Kerja Sama Dari Perdagangan ke Investasi dan Basis Produksi | Investasi Rp50 Juta Iming-iming Untung Rp5 Juta dan Umrah, MCI Tuban Diadukan ke Polisi