Aksi Greenpeace di Bundaran HI Soroti Beban Krisis Iklim bagi Warga

oleh -51 Dilihat
oleh
Aksi Greenpeace di Bundaran HI Soroti Krisis Iklim dan Beban Hidup

Jakarta | Greenpeace Indonesia menggelar aksi di Patung Selamat Datang, kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa pagi, 20 Oktober 2026. Dalam aksi tersebut, para aktivis membentangkan dua spanduk berukuran besar yang membawa pesan mengenai krisis iklim dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Pemilihan Bundaran HI menempatkan pesan itu di salah satu ruang publik utama ibu kota, tempat aktivitas warga dan arus kendaraan berlangsung sejak pagi.

Salah satu spanduk bertuliskan “Tangani krisis iklim, turunkan biaya hidup”. Spanduk ini diarahkan menghadap ke utara, menuju Istana Merdeka. Pesannya menghubungkan penanganan krisis iklim dengan persoalan biaya hidup yang dirasakan masyarakat. Seruan tersebut menekankan bahwa dampak perubahan iklim bukan hanya perkara lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kondisi sehari-hari warga dan kebutuhan agar pemerintah mengambil langkah nyata.

Spanduk lainnya memuat kalimat, “Bencana makin parah, hidup makin susah, apa kerja pemerintah?” Arah spanduk ini menghadap ke selatan Bundaran HI. Pertanyaan tersebut menyampaikan kritik terhadap respons pemerintah di tengah meningkatnya ancaman bencana dan kesulitan hidup. Kedua pesan itu, dengan arah yang berbeda, sama-sama menyoroti hubungan krisis iklim, bencana, dan beban ekonomi yang dapat ditanggung masyarakat.

Sekitar pukul 08.30 WIB, petugas gabungan terlihat berjaga di sekitar lokasi. Pada waktu itu, kedua spanduk telah terlipat, sementara lalu lintas di kawasan Bundaran HI terpantau padat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aksi berlangsung di tengah aktivitas pagi yang ramai, dengan pengamanan di area sekitar Patung Selamat Datang. Pesan Greenpeace Indonesia pun hadir di ruang yang dilalui banyak pengguna jalan, meski spanduk tidak lagi terbentang saat kondisi tersebut diamati. Isi aksi mengajak perhatian publik tertuju pada tuntutan penanganan krisis iklim sekaligus perlindungan warga dari dampaknya.Aksi Greenpeace di Bundaran HI menyoroti perlunya pemerintah menangani krisis iklim dengan lebih serius dan segera. Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa perubahan iklim bukan sekadar persoalan lingkungan dalam jangka panjang, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan dan kesejahteraan warga. Dampaknya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, sementara kemampuan masyarakat untuk menghadapi risiko tersebut tidak sama. Karena itu, kebijakan iklim perlu mempertimbangkan siapa yang paling terpapar bahaya dan siapa yang memiliki sumber daya paling terbatas untuk melindungi diri. Seruan ini juga menegaskan bahwa langkah pemerintah harus berorientasi pada perlindungan warga, bukan hanya pada target atau pernyataan kebijakan.

Jeanny Sirait, juru kampanye keadilan iklim Greenpeace Indonesia, menyampaikan bahwa dampak krisis iklim memperburuk kualitas hidup masyarakat, terutama kelompok pekerja yang rentan secara ekonomi. Bagi mereka, gangguan terhadap kondisi lingkungan dapat berpengaruh langsung pada pekerjaan, pendapatan, kesehatan, serta kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika ancaman iklim meningkat, pekerja dengan penghasilan tidak tetap atau perlindungan yang terbatas kerap memiliki pilihan lebih sedikit untuk menghindari risiko. Mereka juga mungkin kesulitan menanggung biaya pemulihan setelah terdampak. Dengan demikian, krisis iklim tidak hanya menyangkut perubahan kondisi alam, tetapi turut memperbesar tekanan ekonomi dan sosial yang sudah dihadapi kelompok tersebut.

Pernyataan itu menggarisbawahi bahwa pekerja rentan menanggung dampak paling berat, meskipun mereka sering kali memiliki kemampuan paling kecil untuk beradaptasi. Situasi tersebut menjadikan keadilan iklim bagian penting dari upaya penanganan krisis. Pemerintah perlu memastikan kebijakan dan perlindungan yang disusun dapat menjangkau masyarakat yang paling berisiko, serta tidak membebankan biaya penanganan kepada mereka yang sudah berada dalam kondisi sulit. Aksi di Bundaran HI, dengan demikian, menyampaikan tuntutan agar keselamatan dan kesejahteraan warga menjadi prioritas dalam keputusan terkait iklim. Keseriusan pemerintah dapat tercermin melalui tindakan yang melindungi pekerja, mengurangi risiko, dan memperhatikan ketimpangan dampak secara nyata.

Jeanny menyoroti bahwa cuaca ekstrem dan bencana ekologis bukan sekadar peristiwa yang mengubah kondisi lingkungan. Dampaknya dapat langsung dirasakan warga dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika keselamatan dan kesehatan mereka terancam. Situasi tersebut juga dapat mengganggu sumber penghidupan, sehingga beban yang dihadapi masyarakat tidak berhenti pada risiko saat bencana berlangsung. Ketika aktivitas untuk memperoleh pendapatan terganggu, warga dapat menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. Dengan demikian, krisis iklim membawa konsekuensi yang saling berkaitan bagi kesehatan, pekerjaan, dan kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan.

Gangguan terhadap sumber penghidupan dapat menekan pendapatan warga. Ketidakpastian akibat cuaca ekstrem maupun bencana ekologis membuat kegiatan ekonomi sehari-hari lebih sulit dijalankan, sementara kebutuhan tetap harus dipenuhi. Jeanny juga mengaitkan tekanan tersebut dengan kenaikan harga pangan. Ketika harga kebutuhan pangan meningkat, beban yang dirasakan warga bertambah, khususnya bagi mereka yang pendapatannya telah terdampak. Rangkaian ini menunjukkan bagaimana ancaman lingkungan dapat berimbas pada kondisi ekonomi rumah tangga: kegiatan mencari nafkah terganggu, pendapatan tertekan, dan pengeluaran untuk pangan dapat meningkat. Dampak-dampak tersebut memperlihatkan bahwa krisis iklim menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat.

Kabut asap berkepanjangan menjadi contoh yang menggambarkan dampak berlapis itu. Paparan kabut asap dapat menimbulkan gangguan kesehatan, sementara keberadaannya juga menghambat kegiatan ekonomi sehari-hari. Warga harus menghadapi risiko bagi kesehatan sekaligus kesulitan menjalankan aktivitas yang menjadi sumber penghidupan mereka. Karena berlangsung dalam waktu lama, gangguan tersebut dapat memperpanjang tekanan yang dirasakan masyarakat, baik dalam menjaga kesehatan maupun mempertahankan pendapatan. Contoh ini menegaskan perhatian Jeanny terhadap beban nyata yang ditanggung warga ketika bencana ekologis terjadi. Ancaman terhadap keselamatan dan kesehatan, gangguan penghidupan, tekanan pendapatan, serta kenaikan harga pangan merupakan dampak yang saling berkaitan dan memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di tengah dampak krisis iklim yang semakin terasa, warga tidak hanya menghadapi ancaman terhadap lingkungan dan kesehatan, tetapi juga tekanan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Kenaikan biaya hidup membuat kebutuhan rumah tangga semakin sulit dipenuhi, sementara ketidakpastian pekerjaan menambah kekhawatiran banyak keluarga. Gelombang pemutusan hubungan kerja turut memperbesar rasa tidak aman, terutama bagi mereka yang bergantung pada pendapatan rutin untuk memenuhi kebutuhan dasar. Dalam keadaan seperti ini, kemampuan warga untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan dan gangguan akibat krisis iklim menjadi semakin terbatas.

Jeanny menyoroti jarak situasi yang dihadapi masyarakat dan janji pemerintah. Pemerintah, menurutnya, telah menyampaikan komitmen untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan pangan dan energi, serta meningkatkan kesejahteraan. Namun, berbagai janji tersebut perlu dinilai berdasarkan sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan warga, khususnya ketika biaya hidup meningkat dan pekerjaan kian tidak pasti. Ketahanan pangan dan energi, misalnya, bukan sekadar sasaran kebijakan, melainkan hal yang berhubungan langsung dengan kemampuan rumah tangga memperoleh kebutuhan pokok dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Tekanan ekonomi juga dapat membuat dampak iklim lebih berat bagi warga. Ketika sumber penghasilan terganggu, pilihan untuk menghadapi perubahan kondisi lingkungan menjadi lebih sedikit. Karena itu, pembicaraan mengenai penciptaan kerja dan peningkatan kesejahteraan tidak dapat dipisahkan dari upaya melindungi masyarakat dari risiko iklim. Warga membutuhkan kebijakan yang tanggap terhadap persoalan yang mereka alami, sekaligus mampu memperkuat ketahanan mereka dalam jangka panjang. Janji pemerintah perlu diwujudkan dalam tindakan yang menjawab kebutuhan tersebut, bukan berhenti sebagai sasaran yang disampaikan kepada publik.

Greenpeace berpandangan bahwa temuan riset terbaru organisasinya menunjukkan pemerintah belum menyediakan solusi bagi dampak krisis iklim yang semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Sambut HUT ke-81 TNI, Kodim Bojonegoro Gelar Baksos Kesehatan dan Bagi Sembako untuk Warga | Ringankan Beban Warga Terdampak Kemarau, Kodim Bojonegoro Kembali Pasok 64.000 Liter Air Bersih ke 4 Kecamatan