Dari Pabrik Es ke Kekayaan Besar: Kisah Tasripin dan Para Pengusaha Es Era Kolonial

oleh -51 Dilihat
oleh
Dari Pabrik Es ke Kekayaan Besar: Kisah Tasripin dan Para Pengusaha Es Era Kolonial

Semarang | Tasripin dikenal sebagai pengusaha asal Semarang yang meniti usaha pada masa kolonial Belanda. Ia lahir pada 1834 dan kemudian menjadi salah satu tokoh pribumi yang namanya dikaitkan dengan kekayaan besar pada zamannya. Kisahnya memperlihatkan bagaimana peluang ekonomi dapat muncul dari kebutuhan sehari-hari yang belum mudah dipenuhi. Di tengah perubahan kota dan berkembangnya kegiatan perdagangan, Tasripin membangun usaha yang berpusat pada produksi es, komoditas yang kini terasa biasa, tetapi dahulu bernilai tinggi.

Sebelum kulkas rumah tangga dan mesin pendingin tersedia luas, es sulit diperoleh dan penyimpanannya menjadi tantangan. Karena itu, pabrik es memiliki peran penting bagi masyarakat perkotaan, pelaku perdagangan, serta berbagai kegiatan yang memerlukan bahan tetap dingin. Pasokan es yang teratur dapat menjadi keunggulan usaha, sekaligus membuka peluang keuntungan bagi pemilik pabrik. Kondisi inilah yang membantu menjelaskan mengapa bisnis es dapat menjadi sumber kekayaan besar pada masa tersebut. Nilai usaha itu bukan semata terletak pada produknya, melainkan juga pada kemampuan memproduksi dan menyalurkannya ketika akses terhadap pendinginan masih terbatas.

Tasripin mengelola pabrik es dan membangun usaha di Ungaran serta Petelan, Semarang. Pabrik di Ungaran berdiri lebih dahulu; delapan tahun kemudian, ia mendirikan pabrik di Petelan. Pabrik Petelan disebut sebagai yang terbesar di Semarang pada masa itu dan dioperasikan langsung oleh Tasripin. Kehadiran dua lokasi tersebut menunjukkan jangkauan usaha yang melampaui satu tempat, dengan Semarang sebagai pusat kegiatan penting. Pengelolaan langsung di Petelan juga menandai keterlibatan Tasripin dalam operasional bisnisnya, bukan sekadar kepemilikan dari kejauhan. Dari usaha yang berhubungan dengan kebutuhan praktis ini, ia membangun reputasi sebagai pengusaha pribumi yang berhasil menanggapi permintaan pasar. Perjalanan Tasripin memberi gambaran tentang hubungan teknologi, keterbatasan fasilitas, dan peluang bisnis pada era kolonial.

Besarnya kekayaan Tasripin saat wafat pada 1919 dapat ditelusuri melalui pemberitaan surat kabar De Nieuwe Vorstenlanden tertanggal 8 September tahun itu. Laporan tersebut menyebut hartanya mencapai 45 juta gulden, angka yang menggambarkan skala usaha dan aset yang telah ia bangun. Nilai itu tampak sangat besar, tetapi perbandingan dengan harga kebutuhan sehari-hari pada masa kolonial membantu memberi gambaran yang lebih konkret tentang daya belinya.

Pada masa tersebut, satu liter beras diberitakan berharga sekitar 6 sen. Dengan menggunakan patokan harga itu, 45 juta gulden setara dengan daya beli sekitar 750 juta liter beras. Perhitungan ini bukan konversi langsung gulden ke rupiah, melainkan perbandingan berdasarkan barang pokok yang harganya tercatat pada periode tersebut. Karena itu, hasilnya sebaiknya dipahami sebagai perkiraan ilustratif, bukan nilai pasti menurut kurs atau ukuran ekonomi modern.

Jika jumlah beras itu dinilai memakai patokan harga sekitar Rp13 ribu per liter saat ini, nilai ekuivalennya mencapai kurang lebih Rp9,75 triliun. Angka tersebut kerap dibulatkan menjadi hampir Rp10 triliun. Perbandingan lintas zaman seperti ini tentu memiliki keterbatasan: harga beras, upah, daya beli, dan struktur ekonomi telah berubah. Meski demikian, pendekatan tersebut menunjukkan betapa luar biasanya kekayaan yang dikaitkan dengan Tasripin dalam laporan sezamannya.

Pemberitaan itu juga menyebut pendapatan Tasripin berkisar 30–40 ribu gulden per bulan. Kekayaannya tidak hanya bertumpu pada satu sumber. Selain usaha pabrik es, ia disebut memiliki rumah penjagalan dan menjalankan jual-beli kulit hewan, sektor yang memberi tambahan pendapatan dari kegiatan perdagangan dan pengolahan. Kepemilikan rumah serta tanah di Semarang turut memperkuat basis asetnya. Kombinasi usaha yang menghasilkan pemasukan dan properti yang bernilai membuat gambaran kekayaannya lebih mudah dipahami: angka 45 juta gulden mencerminkan akumulasi dari beragam kegiatan ekonomi, bukan semata keuntungan dari penjualan es.

Di Semarang pada penghujung abad ke-19, Kwa Wan Hong menjadi salah satu pengusaha yang menonjol dalam usaha produksi es. Ia hidup sezaman dengan Tasripin dan dikenal sebagai “raja es”, sebutan yang mencerminkan besarnya peran dalam menyediakan es bagi masyarakat. Pada 1895, Kwa mendirikan pabrik es bernama Hoo Hien. Kehadiran usaha tersebut menandai perkembangan penting dalam pemanfaatan teknologi pendinginan di kota pelabuhan itu. Es tidak lagi semata-mata barang langka yang harus didatangkan atau disimpan dengan cara terbatas, melainkan mulai diproduksi secara lokal untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

Proses pembuatan es pada masa itu dijelaskan oleh sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya. Air diubah menjadi es melalui reaksi kimia yang melibatkan campuran garam dan amonia. Teknologi tersebut memungkinkan pabrik menghasilkan es tanpa bergantung pada sumber es alami. Meski prosesnya berbeda dari teknologi rumah tangga modern, prinsip produksi mekanis ini memperluas ketersediaan es dan membuka peluang bagi kegiatan usaha baru. Pabrik Hoo Hien pun menjadi bagian dari perubahan cara masyarakat kota memperoleh dan menggunakan bahan pendingin.

Laporan De Nieuwe Vorstenlanden tertanggal 17 Juli 1901 menyebut bahwa pabrik Kwa membuat es yang sebelumnya mahal dan sulit diperoleh menjadi lebih terjangkau. Dampaknya terasa dalam kehidupan sehari-hari: warga dapat menikmati minuman dingin, sesuatu yang dahulu tidak mudah dijangkau oleh banyak orang. Ketersediaan es juga mendukung kebiasaan konsumsi baru dan usaha yang membutuhkan pendinginan. Kwa turut dikaitkan dengan lahirnya industri es krim pertama pada masa kolonial, meskipun rincian mengenai skala dan bentuk awal kegiatan tersebut tidak selalu diketahui dengan pasti.

Besarnya kekayaan Kwa tidak tercatat secara pasti. Namun, berbagai catatan menyebut kepemilikannya atas banyak tanah, rumah, serta pabrik es di sejumlah daerah. Aset-aset itu menunjukkan bahwa kegiatan bisnisnya tidak terbatas pada satu pabrik di Semarang. Kisah Kwa memperlihatkan bagaimana produksi es dapat berkembang menjadi usaha besar sekaligus mengubah pola konsumsi perkotaan. Bersama pengusaha sezamannya, ia menjadi bagian dari sejarah tumbuhnya industri es di Hindia Belanda, ketika teknologi, perdagangan, dan kebutuhan masyarakat bertemu dalam sebuah sektor usaha baru.Robert Chevalier dikenal sebagai penjual es di Magelang yang mengelola usaha di bawah nama NV. Magelangsche Ijs en Mineralwater Fabriek sejak 1920. Keterangan mengenai dirinya memperlihatkan bahwa perdagangan es di masa kolonial tidak hanya berlangsung sebagai kegiatan penjualan dalam skala kecil. Usahanya tercatat memiliki tiga pabrik es, sebuah jumlah yang menunjukkan bahwa bisnis tersebut berkembang menjadi kegiatan produksi dan usaha yang cukup besar. Catatan ini menempatkan Chevalier sebagai salah satu pengusaha es yang jejaknya dapat diketahui dalam kisah industri es pada masa itu.

Perjalanan Chevalier juga mengingatkan bahwa perkembangan usaha tidak menjamin keberlangsungannya dalam segala keadaan. Ia berhasil mengumpulkan kekayaan melalui usaha esnya, tetapi bisnis tersebut bangkrut ketika Jepang datang pada 1942. Keterangan yang tersedia menghubungkan akhir usaha itu dengan masa kedatangan Jepang, tanpa memberikan rincian lebih jauh mengenai proses kebangkrutan atau keadaan Chevalier sesudahnya. Karena itu, kisahnya dapat disampaikan secara terbatas: ia membangun usaha dengan tiga pabrik, memperoleh kekayaan, lalu menghadapi berakhirnya bisnis pada masa perubahan kekuasaan tersebut.

Jejak Tasripin menunjukkan bentuk kelanjutan yang berbeda. Setelah ia meninggal pada 1919, usaha yang dirintisnya diteruskan oleh keluarganya. Namun, informasi yang tersedia tidak menjelaskan lebih jauh bagaimana kelanjutan usaha keluarga itu atau sejauh mana bisnis tersebut bertahan.

Baca juga: Hidup Berubah Makmur, Ini 6 Shio yang Disebut Mendapat Berkah Kekayaan