Bulog Catat Pengadaan Beras Tertinggi, Tembus 4,1 Juta Ton hingga Oktober 2026

oleh -352 Dilihat
oleh
Bulog Catat Pengadaan Beras Tertinggi, Tembus 4,1 Juta Ton hingga Oktober 2026

AMBON, MALUKU — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Perum Bulog mencatat realisasi pengadaan gabah dan beras dalam negeri yang melampaui target pemerintah. Hingga 8 Oktober 2026, pengadaan public service obligation (PSO) mencapai 4.115.014 ton setara beras. Capaian tersebut setara dengan 102,88 persen dari target pemerintah yang ditetapkan sebesar 4 juta ton.

Realisasi itu menunjukkan bahwa Bulog telah memenuhi, sekaligus melewati, sasaran pengadaan beras yang ditetapkan untuk periode berjalan. Selisih realisasi dan target mencapai 115.014 ton setara beras. Angka tersebut menjadi penanda penting dalam pelaksanaan pengadaan pangan nasional karena diraih sebelum periode tahun berjalan berakhir.

Perolehan 4.115.014 ton setara beras disebut sebagai capaian pengadaan tertinggi sepanjang sejarah Bulog. Pencapaian ini menegaskan besarnya realisasi pengadaan dalam negeri yang dilakukan melalui skema PSO. Dalam kerangka kebijakan pangan, pengadaan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional, terutama melalui penguatan ketersediaan beras yang dikelola pemerintah.

Dengan capaian yang telah menembus lebih dari 100 persen target, pengadaan Bulog pada 2026 mencatat tonggak baru dalam sejarah lembaga tersebut. Data hingga 8 Oktober memperlihatkan bahwa target 4 juta ton tidak hanya dapat dicapai, tetapi juga dilampaui secara signifikan. Rekor ini menempatkan realisasi pengadaan gabah dan beras dalam negeri sebagai salah satu capaian utama Bulog dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Pencapaian pengadaan beras Perum Bulog yang mencapai 4,1 juta ton hingga Oktober 2026 disyukuri melalui kegiatan tasyakuran di kompleks pergudangan Bulog Nusaniwe, Ambon, Provinsi Maluku. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengapresiasi capaian pengadaan beras sekaligus mempererat koordinasi Bulog, lembaga pemerintah, dan para pemangku kepentingan yang berkaitan dengan pengelolaan pangan nasional.

Tasyakuran berlangsung bersamaan dengan kunjungan kerja reses Komisi IV DPR RI pada masa persidangan I tahun sidang 2026–2027. Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto hadir bersama jajaran anggota komisi. Turut hadir Wakil Direktur Utama Perum Bulog Mayor Jenderal TNI (Purn.) Dr. Marga Taufiq, S.H., M.H., Direktur Operasi Perum Bulog Andi Afdal Abdullah, serta perwakilan Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional.

Sejumlah mitra kerja Komisi IV DPR RI juga menghadiri kegiatan tersebut. Kehadiran berbagai unsur ini mencerminkan sinergi dalam mendukung pelaksanaan tugas pengelolaan cadangan pangan, termasuk melalui koordinasi dan pengawasan terhadap upaya pengadaan beras. Pertemuan di kompleks pergudangan Bulog Nusaniwe tersebut juga menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi lembaga legislatif, pemerintah, Bulog, dan para mitra kerja dalam menjalankan agenda pangan.

Melalui kegiatan tasyakuran dan kunjungan kerja itu, capaian pengadaan beras hingga Oktober 2026 ditempatkan sebagai bagian dari kerja bersama dalam memperkuat pengelolaan cadangan pangan. Sinergi antarlembaga tersebut mendukung upaya menjaga ketahanan pangan nasional sesuai peran dan tanggung jawab masing-masing pihak.

Rangkaian kegiatan diawali dengan peninjauan kondisi stok beras di kompleks pergudangan Bulog Nusaniwe. Dalam kunjungan tersebut, rombongan Komisi IV DPR RI melihat secara langsung kesiapan pengelolaan cadangan beras yang disimpan untuk mendukung kebutuhan pangan masyarakat. Peninjauan mencakup kondisi ruang penyimpanan, penataan komoditas, serta kesiapan persediaan dalam menghadapi kebutuhan pangan di wilayah kepulauan. Kegiatan lapangan ini menjadi bagian penting untuk memastikan bahwa cadangan beras dikelola secara baik dan tetap berada dalam kondisi yang layak.

Stok beras yang dikelola Bulog kantor wilayah Maluku dan Maluku Utara tercatat mencapai 24.400 ton. Jumlah tersebut menunjukkan adanya persediaan strategis yang dapat menjadi penopang ketahanan pangan di dua provinsi kepulauan tersebut. Ketersediaan cadangan dalam jumlah memadai diperlukan karena karakter geografis Maluku dan Maluku Utara memiliki tantangan tersendiri, termasuk jarak antarwilayah dan ketergantungan pada konektivitas. Dengan pengelolaan stok yang terjaga, kesinambungan pasokan pangan dapat lebih mudah dipertahankan ketika kebutuhan masyarakat meningkat atau terjadi gangguan pada arus pasokan.

Peninjauan Komisi IV DPR RI juga mencerminkan perhatian terhadap pemerataan stok beras dan kesiapan Bulog dalam memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah. Pemeriksaan langsung membantu memberikan gambaran mengenai kapasitas penyimpanan, kondisi cadangan, serta kesiapan pengelola dalam menjaga ketersediaan pangan. Bagi daerah kepulauan, keberadaan stok di tingkat wilayah memiliki arti penting karena mendukung ketahanan pasokan secara lebih dekat dengan masyarakat. Data 24.400 ton tersebut sekaligus menjadi dasar untuk menilai sejauh mana cadangan beras regional mampu memperkuat stabilitas pangan di Maluku dan Maluku Utara.

Siti Hediati Soeharto menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Perum Bulog atas kerja keras yang memungkinkan pengadaan beras melampaui target 4 juta ton setara beras. Capaian hingga 4,1 juta ton tersebut dinilai menunjukkan kesungguhan dan koordinasi berbagai pihak dalam memperkuat cadangan pangan nasional. Menurutnya, hasil itu tidak terlepas dari upaya bersama untuk meningkatkan penyerapan produksi petani dalam negeri, terutama ketika panen berlangsung di sejumlah sentra produksi.

Ia berharap keberhasilan tersebut dapat dipertahankan dan memberikan manfaat yang nyata bagi petani maupun masyarakat Indonesia. Penyerapan yang kuat diharapkan mampu menjaga hasil produksi petani tetap terserap dengan baik, sekaligus mendukung ketersediaan beras bagi masyarakat. Karena itu, capaian pengadaan tidak hanya perlu dilihat dari besarnya volume, tetapi juga dari dampaknya terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan para pelaku produksi.

Siti juga menekankan bahwa besarnya capaian nasional harus diikuti pengelolaan serta pemerataan stok secara cermat hingga seluruh wilayah Indonesia. Ketersediaan beras perlu dipastikan menjangkau daerah-daerah yang memiliki tantangan distribusi, termasuk kawasan kepulauan. Selain tersebar merata, stok tersebut harus dikelola dengan baik agar kualitasnya tetap terjaga dan siap memenuhi kebutuhan masyarakat pada waktunya.

Penegasan itu menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesinambungan cadangan pangan. Pengadaan dalam jumlah besar perlu disertai perencanaan penyimpanan, pengawasan mutu, dan distribusi yang efektif agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas. Dengan demikian, keberhasilan Bulog tidak berhenti pada pencapaian angka pengadaan, tetapi berlanjut menjadi jaminan ketersediaan beras yang dapat diandalkan di berbagai daerah.

Wakil Direktur Utama Bulog Marga Taufiq menyebut keberhasilan menembus 4 juta ton sebagai tonggak bersejarah bagi perusahaan. Capaian itu sekaligus menjadi bukti keseriusan Bulog dalam menjalankan amanah pemerintah untuk memperkuat cadangan pangan nasional. Ia menyampaikan rasa syukur atas pencapaian tersebut serta penghargaan kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan pengadaan hingga melampaui target.