Borobudur Jadi Panggung Konser Bocelli sekaligus Aksi Penolakan

oleh -51 Dilihat
Borobudur Jadi Panggung Konser Bocelli sekaligus Aksi Penolakan

Kabupaten Magelang | Konser Andrea Bocelli di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, pada Sabtu malam, 31 Oktober 2026, berlangsung bersamaan dengan aksi penolakan di luar area konser. Dua agenda tersebut terjadi dalam satu kawasan, tetapi berada di ruang yang berbeda: pertunjukan berlangsung di area penyelenggaraan konser, sementara aksi penolakan disampaikan dari luar area tersebut. Karena itu, keberadaan demonstrasi tidak berarti aksi berlangsung di dalam lokasi konser.

Polda Jawa Tengah menyatakan keseluruhan kegiatan berjalan kondusif. Pernyataan itu mencakup situasi di sekitar acara dan aksi penolakan yang berlangsung pada waktu berdekatan. Dengan demikian, konser dan penyampaian aspirasi masyarakat sama-sama menjadi bagian dari peristiwa malam itu, tanpa mengaburkan perbedaan lokasi maupun bentuk kegiatannya. Pihak kepolisian menilai situasi tetap terkendali, sementara masing-masing agenda berlangsung di tempatnya.

Peristiwa ini menunjukkan bagaimana sebuah acara seni berskala besar dapat berlangsung bersamaan dengan perbedaan pandangan di ruang publik. Kehadiran aksi penolakan di luar area konser memperlihatkan adanya pihak yang memilih menyampaikan sikapnya, sedangkan pertunjukan Andrea Bocelli tetap digelar di dalam area acara. Kedua hal itu berlangsung pada waktu yang sama di kawasan Borobudur, namun tidak seharusnya disamakan sebagai satu kegiatan atau dianggap terjadi di lokasi yang sama.

Polda Jateng memandang situasi tersebut sebagai cerminan kedewasaan masyarakat dalam menghadapi perbedaan. Menurut penilaian kepolisian, masyarakat dapat menghormati pandangan yang tidak sama, menjaga toleransi, serta memberi ruang bagi hak setiap pihak. Prinsip itu mencakup hak untuk mengikuti kegiatan yang telah diselenggarakan maupun hak untuk menyampaikan aspirasi secara tertib. Pernyataan tersebut menempatkan suasana kondusif bukan hanya sebagai ukuran keamanan, tetapi juga sebagai gambaran bahwa perbedaan dapat hadir tanpa harus menghalangi pihak lain menjalankan kegiatannya.

Dengan berlangsungnya konser dan aksi penolakan secara bersamaan, kawasan Candi Borobudur menjadi ruang bagi dua agenda yang berbeda pada malam itu. Keterangan Polda Jawa Tengah menegaskan bahwa secara keseluruhan situasi tetap kondusif, sekaligus menekankan pentingnya sikap saling menghormati di tengah beragam pandangan masyarakat.

Ribuan penonton memadati kawasan Candi Borobudur untuk menyaksikan konser Andrea Bocelli – Romanza 30th Anniversary World Tour. Di tengah latar kompleks candi yang bersejarah, panggung megah dan permainan cahaya berwarna-warni membingkai penampilan sang tenor. Suasana pertunjukan memadukan kemegahan tata panggung dengan siluet Borobudur, menciptakan pengalaman yang berbeda dari konser di arena tertutup. Penonton menyimak dari area pertunjukan sambil menikmati pemandangan candi yang diterangi cahaya. Bagi banyak orang, kehadiran Bocelli di lokasi tersebut menjadi daya tarik tersendiri: musiknya terdengar dalam suasana terbuka, sementara bangunan bersejarah menjadi bagian penting dari visual pertunjukan. Perpaduan itu memberi malam konser nuansa istimewa.

Bocelli membawakan sejumlah lagu dari album Romanza serta karya-karya populer yang membuat namanya dikenal luas. Suara khas penyanyi tenor berusia 68 tahun itu berpadu dengan iringan musik dan tata panggung, menghadirkan penampilan yang berkesan bagi para penonton. Repertoar tersebut membawa pendengar menyusuri lagu-lagu yang menandai perjalanan kariernya sekaligus memperlihatkan daya tarik musik klasik dan opera kepada khalayak yang lebih luas. Penonton datang dari Magelang dan daerah sekitarnya, berbagai wilayah di luar Pulau Jawa, hingga mancanegara. Arifin, misalnya, terbang dari Medan dan menginap di Yogyakarta sehari sebelum pertunjukan. Kisah perjalanan para penggemar itu menunjukkan besarnya minat untuk menyaksikan langsung konser di Borobudur.

Pertunjukan tersebut merupakan bagian dari tur dunia yang memperingati 30 tahun album Romanza, rilisan yang berperan dalam memperkenalkan karya Bocelli kepada pendengar di berbagai negara. Kehadiran tur ini juga menjadi kesempatan bagi penonton untuk menikmati musik klasik dan opera melalui konser berskala besar. Pada penghujung acara, ribuan lampion diterbangkan di atas candi, menutup malam dengan pemandangan yang memikat dan meninggalkan kesan bagi mereka yang hadir. Setelah tampil di Magelang, Bocelli dijadwalkan melanjutkan rangkaian tur dengan konser di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 3 November 2026. Bagi para penggemar, pertunjukan di Borobudur menjadi perpaduan musik, suasana situs bersejarah, serta pengalaman menyaksikan penampilan internasional secara langsung.

Penolakan terhadap konser Andrea Bocelli di kawasan Borobudur tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan acara di lokasi bersejarah. Kelompok yang menentang konser juga mengaitkannya dengan isu Palestina. Mereka menyoroti rekam jejak Bocelli yang disebut pernah terlibat dalam kegiatan penggalangan dana untuk militer Israel. Klaim tersebut menjadi salah satu alasan yang disampaikan para penolak untuk menyuarakan keberatan terhadap rencana pertunjukan. Di luar area konser, sejumlah peserta aksi membawa poster dan spanduk penolakan, sekaligus menyampaikan solidaritas bagi masyarakat Palestina. Dengan demikian, protes yang berlangsung di sekitar acara turut mencerminkan sikap politik dan kemanusiaan para pengunjuk rasa.

Rekaman yang beredar di media sosial juga memperlihatkan sekelompok peserta konvoi sepeda motor Yamaha RX-King melintasi sebuah persimpangan di wilayah Salaman, Kabupaten Magelang. Cuplikan itu menjadi bagian dari perhatian publik terhadap aksi penolakan yang muncul di sekitar konser. Namun, konteks keberatan terhadap pertunjukan telah terlihat sebelum hari pelaksanaannya. Pada Rabu, 28 Oktober 2026, sekitar 200 orang yang tergabung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Jawa Tengah Peduli Palestina berunjuk rasa di depan markas Polda Jawa Tengah, Kota Semarang. Mereka mengenakan pakaian putih dan hitam, membawa bendera Palestina serta poster, dan mendesak agar izin konser dicabut.

Reza Subasir, Ketua Aqsa Working Group Biro Jawa Tengah, menjelaskan bahwa aksi tersebut dilakukan karena konser tetap direncanakan meskipun ditolak sejumlah organisasi masyarakat dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Penolakan MUI juga disampaikan secara terbuka. Sudarnoto Abdul Hakim, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, menyebut sikap itu sebagai bagian dari komitmen untuk mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina. Pernyataan dan aksi tersebut menunjukkan bahwa keberatan terhadap konser tidak hanya muncul pada hari pertunjukan, tetapi telah berkembang sebelumnya melalui demonstrasi dan sikap organisasi. Para penolak memandang keterkaitan yang mereka soroti dengan isu Israel-Palestina sebagai alasan penting untuk meminta penyelenggara maupun pihak berwenang mempertimbangkan kembali acara tersebut.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Yuliyanto mengapresiasi masyarakat yang turut menjaga keamanan dan ketertiban di kawasan Candi Borobudur saat konser Andrea Bocelli berlangsung bersamaan dengan penyampaian aspirasi. Ia menilai sikap tertib seluruh pihak membantu kegiatan berjalan kondusif, meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai penyelenggaraan konser. Peserta aksi menyampaikan pendapat dengan tertib, sementara pengunjung dan wisatawan mengikuti arahan petugas di sekitar lokasi.

Yuliyanto mengatakan Polda memahami adanya perbedaan kepentingan dalam situasi tersebut. Kebebasan masyarakat untuk menyampaikan pendapat perlu dihormati, sebagaimana hak pengunjung untuk menikmati kegiatan wisata dan hak warga sekitar untuk beraktivitas dengan aman serta nyaman. Karena itu, pengamanan diarahkan untuk melindungi semua pihak, bukan membatasi penyampaian aspirasi maupun kegiatan masyarakat yang berlangsung di kawasan Borobudur.

Menurut Yuliyanto, menjaga situasi tetap aman tidak hanya bergantung pada kesiapan personel kepolisian. Dukungan TNI, pemerintah daerah, pengelola kawasan Candi Borobudur, penyelenggara konser, dan masyarakat juga diperlukan. Koordinasi antarpihak membantu petugas memahami kebutuhan di lapangan, mengatur aktivitas di sekitar lokasi, serta mencegah gangguan terhadap peserta aksi, penonton, wisatawan, dan warga setempat.

Personel gabungan, lanjutnya, mengutamakan pendekatan humanis dan persuasif dalam menjalankan tugas. Komunikasi dialogis digunakan agar aspirasi dapat disampaikan dengan tertib dan arahan petugas dapat dipahami oleh pengunjung maupun masyarakat.

Baca juga: Dampingi Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Borobudur, Bamsoet Tegaskan Lapas Harus Mampu Membentuk Warga Binaan yang Siap Hidup Taat Hukum