Bisakah Jenis Kelamin Anak Dipilih? Ini Penjelasan Dokter tentang Pembuahan dan IVF

oleh -601 Dilihat
oleh
Bisakah Jenis Kelamin Anak Dipilih? Ini Penjelasan Dokter tentang Pembuahan dan IVF

Jakarta | Menurut dokter spesialis obstetri dan ginekologi Muhammad Fadli, sampai saat ini belum ada metode yang terbukti secara ilmiah untuk mengatur jenis kelamin anak sesuai keinginan orang tua. Jenis kelamin biologis ditentukan ketika sel sperma membuahi sel telur, melalui kombinasi kromosom yang dibawa masing-masing. Karena proses tersebut berlangsung secara alami dan tidak dapat diarahkan dengan cara sederhana, berbagai saran yang beredar tentang waktu berhubungan, posisi tertentu, atau pengaturan makanan tidak bisa dianggap sebagai cara yang terbukti untuk memperoleh anak laki-laki atau perempuan.

Sikap keluarga terhadap jenis kelamin anak dapat berbeda-beda. Sebagian pasangan menerima apa pun jenis kelamin anak yang lahir dan tidak memiliki preferensi khusus. Sebagian lainnya mungkin menyimpan harapan tertentu, misalnya menginginkan anak laki-laki setelah anak pertama mereka perempuan, atau sebaliknya. Harapan semacam itu dapat dipengaruhi pengalaman pribadi, rencana membesarkan keluarga, dan lingkungan sosial. Keinginan tersebut sendiri tidak menentukan hasil pembuahan, serta tidak menjadi bukti bahwa suatu metode tertentu dapat mengubah peluang secara pasti.

Di sejumlah budaya, anak laki-laki diharapkan meneruskan garis keturunan keluarga. Namun, pandangan ini tidak berlaku bagi semua keluarga dan tidak seharusnya digunakan untuk menyamaratakan alasan setiap orang tua memiliki preferensi. Ada pula keluarga yang tidak membedakan harapan berdasarkan jenis kelamin, atau lebih memusatkan perhatian pada kesehatan ibu dan bayi. Apa pun latar belakangnya, penting untuk memahami perbedaan harapan pribadi dan bukti medis. Beragam cara yang kerap dibagikan sebagai kiat memilih jenis kelamin belum terbukti berhasil secara ilmiah. Pasangan sebaiknya berhati-hati terhadap klaim yang menjanjikan hasil tertentu, terutama bila disertai biaya, suplemen, atau tindakan tanpa dasar yang jelas. Untuk pertanyaan tentang kesuburan dan pilihan reproduksi, konsultasi dengan dokter dapat membantu memperoleh informasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing, tanpa menjanjikan hasil yang tidak dapat dipastikan.Menurut penjelasan Fadli, jenis kelamin kromosomal anak ditentukan melalui proses pembuahan, yaitu ketika satu sel sperma berhasil membuahi sel telur. Anak mewarisi sebagian kromosom dari ibu dan sebagian lainnya dari ayah. Dalam proses ini, sel telur selalu membawa kromosom X. Sementara itu, sel sperma dapat membawa kromosom X atau kromosom Y. Perbedaan kromosom yang dibawa sperma inilah yang berperan dalam menentukan jenis kelamin kromosomal anak.

Dalam satu ejakulasi, sekitar 15 juta sel sperma berlomba untuk mencapai sel telur. Namun, dari jumlah tersebut, hanya satu sel sperma yang akhirnya membuahi sel telur. Karena setiap sperma dapat membawa kromosom X atau Y, hasil pembuahan bergantung pada kromosom yang dibawa oleh sperma yang berhasil mencapai dan membuahi sel telur tersebut. Sel telur menyumbangkan kromosom X, sedangkan sperma menyumbangkan kromosom X atau Y.

Dengan demikian, penentuannya bukan karena sel telur membawa pilihan kromosom yang berbeda-beda. Sel telur selalu membawa X; kromosom dari sperma yang membuahi menjadi bagian yang membedakan hasilnya. Jika sperma yang berhasil membawa X, kombinasi kromosomnya berbeda dari jika sperma yang berhasil membawa Y. Penjelasan sederhana ini menggambarkan mengapa jenis kelamin kromosomal anak berkaitan dengan sperma yang membuahi, bukan dengan pilihan yang dapat ditentukan secara alami oleh orang tua pada saat pembuahan.

Meski jutaan sperma ikut berlomba, tidak semua akan membuahi sel telur. Hanya satu yang berhasil, dan kromosom yang dibawanya berperan dalam hasil tersebut. Karena itu, proses ini merupakan bagian dari pembuahan yang berlangsung ketika sperma bertemu dengan sel telur. Memahami peran kromosom X dan Y membantu menjelaskan dasar biologis penentuan jenis kelamin tanpa menganggap bahwa orang tua dapat memilih kromosom sperma mana yang akan berhasil membuahi sel telur.

Menurut Fadli, belum ada bukti ilmiah yang mendukung anggapan bahwa makanan tertentu dapat menentukan jenis kelamin anak. Klaim seperti mengonsumsi makanan dengan kandungan tertentu, mengatur pola makan sebelum pembuahan, atau menghindari jenis makanan lain kerap beredar, tetapi tidak dapat dijadikan cara untuk memastikan bayi laki-laki atau perempuan. Ia menyampaikan penjelasan tersebut saat dihubungi pada Kamis, 29 Oktober. Karena itu, pasangan sebaiknya tidak mengandalkan pantangan maupun anjuran diet khusus dengan harapan dapat memilih jenis kelamin calon anak. Pola makan sehat tetap penting bagi kesehatan secara umum, tetapi berbeda dari metode yang terbukti mengendalikan hasil pembuahan.

Fadli juga menyebut waktu berhubungan badan bukan penentu yang dapat diandalkan. Ada teori populer yang mengaitkan waktu hubungan seksual dengan masa ovulasi dengan peluang memperoleh jenis kelamin tertentu. Namun, menurut penjelasannya, klaim tersebut tidak memiliki bukti yang cukup untuk memastikan hasil seperti yang dijanjikan. Demikian pula, urutan ejakulasi tidak terbukti menentukan apakah anak yang lahir berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Faktor-faktor itu tidak memberi kendali pasti atas jenis sperma yang membuahi sel telur. Dengan demikian, pasangan perlu membedakan informasi medis yang teruji dari saran yang beredar tanpa dukungan bukti. Mengikuti hitungan hari atau mengubah cara berhubungan bukan jaminan bahwa jenis kelamin anak dapat dipilih.

Dalam pembahasan mengenai teknologi reproduksi, metode inseminasi swim up pernah diteliti untuk membantu memilih sperma berkualitas dalam proses pembuahan. Metode ini digunakan untuk memisahkan sperma berdasarkan kemampuan bergeraknya, sehingga sperma yang dinilai lebih baik dapat dipilih untuk proses berikutnya. Penelitian terhadap metode tersebut tidak berarti bahwa hasilnya dapat digunakan untuk mengatur jenis kelamin anak. Sesuai penjelasan Fadli, pemilihan sperma melalui swim up tidak terbukti dapat memastikan bayi lahir dengan jenis kelamin yang diinginkan. Pasangan yang mempertimbangkan prosedur kesuburan sebaiknya membahas tujuan, manfaat, dan keterbatasannya bersama dokter. Informasi itu membantu menghindari anggapan bahwa teknik pemilihan sperma merupakan cara pasti untuk menentukan jenis kelamin, sekaligus menempatkan keputusan medis pada pertimbangan kesehatan dan bukti yang tersedia.

Dalam program bayi tabung atau IVF, proses pembuahan berlangsung di luar rahim. Fadli menjelaskan bahwa dokter terlebih dahulu mengambil sel telur dari pasien dan menyiapkan sperma yang dinilai berkualitas baik. Sebagai ilustrasi, dokter dapat memperoleh lima sel telur dan memilih lima sel sperma yang memenuhi penilaian. Sel telur dan sperma tersebut kemudian dipertemukan di laboratorium agar terjadi pembuahan. Jika prosesnya berhasil, sel telur yang telah dibuahi berkembang menjadi embrio. Jumlah embrio yang terbentuk dapat berbeda-beda, bergantung pada hasil pembuahan dan perkembangan setiap embrio.

Sebelum embrio ditanamkan ke rahim, pemeriksaan genetik praimplantasi, atau preimplantation genetic testing (PGT), dapat digunakan untuk memeriksa susunan kromosom embrio. Pemeriksaan ini dapat membantu mengenali kromosom yang dimiliki masing-masing embrio, termasuk kromosom yang berkaitan dengan jenis kelamin. Namun, kemampuan untuk mengetahui susunan kromosom tidak berarti dokter dapat mengubahnya. Kromosom embrio bukan sesuatu yang bisa dimodifikasi begitu saja agar jenis kelaminnya sesuai dengan keinginan orang tua. Hasil dari lima embrio, misalnya, mungkin semuanya perempuan, semuanya laki-laki, atau terdiri atas campuran keduanya.

Informasi hasil pemeriksaan perlu dibahas bersama dokter sebelum menentukan embrio yang akan ditanamkan. Dokter dapat menjelaskan kondisi dan perkembangan embrio, hasil pemeriksaan yang relevan, serta pertimbangan mengenai kelayakannya untuk transfer. Konsultasi juga menjadi kesempatan bagi calon orang tua untuk memahami konsekuensi apabila embrio berkembang lebih lanjut menjadi janin, sehingga keputusan tidak hanya didasarkan pada jenis kelamin.

Baca juga: Akta Notaris Tanpa Kehadiran Penghadap: Apa Akibat Hukumnya? Ini Penjelasan Dedy Luqman Hakim