Banjir di Padang Belum Reda, Ratusan Warga Mengungsi dan Akses Kuranji Terputus

oleh -112 Dilihat
oleh
Banjir Melanda Dua Kawasan Padang, Lebih dari 50 Warga Dievakuasi Tim Gabungan

Padang | Banjir masih melanda sejumlah wilayah di Kota Padang, Sumatera Barat, hingga Minggu, 11 Oktober 2026. Genangan yang belum surut tersebut berdampak pada aktivitas warga dan memaksa ratusan orang meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mengungsi. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan dampak banjir masih berlangsung di sejumlah kawasan terdampak.

Berdasarkan data yang telah dilaporkan, sebanyak 672 jiwa mengungsi akibat banjir tersebut. Selain itu, sekitar 120 rumah terdampak oleh genangan air. Warga yang terdampak membutuhkan penanganan dan pendataan lebih lanjut seiring dengan kondisi banjir yang masih berlangsung di beberapa wilayah Kota Padang.

Banjir tercatat melanda tiga kecamatan dan enam kelurahan di Kota Padang. Luasan wilayah yang terdampak menyebabkan proses pemantauan dan penanganan dilakukan pada beberapa lokasi secara bersamaan. Pemerintah dan pihak terkait masih menghimpun informasi mengenai kondisi warga serta dampak yang ditimbulkan oleh bencana tersebut.

Di kawasan Kuranji, akses jalan dilaporkan terputus akibat banjir. Terputusnya akses ini menjadi salah satu dampak utama yang menghambat mobilitas masyarakat di wilayah tersebut. Jalur yang tidak dapat dilalui juga menjadi bagian penting dalam pembaruan informasi mengenai kondisi lapangan dan kebutuhan warga terdampak.

Jumlah pengungsi, rumah terdampak, serta cakupan wilayah banjir masih dapat berubah karena proses pendataan belum selesai. Data korban dan dampak bencana hingga kini masih dalam tahap pembaruan. Informasi lebih lanjut akan mengikuti perkembangan kondisi banjir dan hasil pendataan di tiga kecamatan serta enam kelurahan yang terdampak.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa banjir di Padang dipicu hujan berintensitas tinggi. Hujan tersebut terjadi pada Sabtu, 10 Oktober 2026, dan menyebabkan peningkatan genangan di sejumlah wilayah. Keterangan ini menjadi dasar informasi awal mengenai faktor pemicu bencana, tanpa mengaitkannya dengan penyebab lain yang belum disampaikan secara resmi.

Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumatera Barat pada Minggu pukul 03.34 WIB, sebanyak 120 rumah terdampak banjir. Data tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana telah dirasakan oleh banyak keluarga, sehingga sebagian warga harus mengungsi untuk mendapatkan tempat yang lebih aman. Pemutakhiran data masih diperlukan karena kondisi di lapangan dapat berubah seiring perkembangan cuaca dan proses penanganan darurat.

Dari keseluruhan rumah yang terdampak, satu rumah dilaporkan mengalami rusak berat, sedangkan empat rumah lainnya mengalami rusak sedang. Informasi tersebut merupakan rincian tingkat kerusakan yang telah dicatat dalam laporan BPBD Sumatera Barat. Adapun kondisi rumah terdampak lainnya belum dijelaskan secara terperinci dalam sumber yang tersedia, sehingga tidak dapat disimpulkan apakah rumah-rumah tersebut mengalami kerusakan ringan atau berada dalam kondisi lain. Pendataan lanjutan penting dilakukan untuk memastikan jumlah, lokasi, serta tingkat kerusakan setiap bangunan secara akurat. Hasil verifikasi juga dapat mendukung penyaluran bantuan, penentuan kebutuhan pengungsian, dan perencanaan pemulihan bagi warga yang terdampak banjir.

Sebanyak 672 warga terdampak banjir di Kota Padang saat ini mengungsi di tiga lokasi yang telah digunakan sebagai tempat perlindungan sementara. Sebaran tersebut mencakup tenda pengungsian, rumah warga, mushalla, serta area yang berada di sekitar fasilitas umum. Pemusatan pengungsi di beberapa titik dilakukan untuk memudahkan evakuasi, pemantauan kondisi warga, dan penyaluran bantuan selama banjir belum sepenuhnya surut.

Lokasi dengan jumlah pengungsi terbesar berada di kawasan Lapau Munggu dan rumah-rumah warga di sekitarnya. Tercatat sebanyak 367 jiwa menempati tenda pengungsian Lapau Munggu serta rumah warga. Mereka berasal dari lingkungan yang terdampak genangan dan membutuhkan tempat aman karena akses menuju rumah masih terbatas atau kondisi tempat tinggal belum memungkinkan untuk dihuni.

Sementara itu, sebanyak 250 jiwa mengungsi di Mushalla Ar Ridwan, Kampung Tangah. Mushalla tersebut menjadi salah satu titik penampungan penting bagi warga di kawasan sekitar. Selain menyediakan ruang berlindung, lokasi ini juga menjadi tempat koordinasi sementara untuk memenuhi kebutuhan dasar pengungsi, termasuk makanan, air bersih, dan pemantauan kesehatan.

Adapun 55 jiwa lainnya berada di Warung Jembatan Guo. Jumlah ini merupakan bagian dari warga yang memilih atau diarahkan untuk bertahan di lokasi tersebut karena kedekatan dengan wilayah tempat tinggal maupun pertimbangan akses evakuasi. Penempatan di tiga lokasi itu menunjukkan bahwa pengungsi tersebar mengikuti kondisi lingkungan dan jalur yang masih dapat dilalui.

Data sebanyak 672 jiwa tersebut masih terus diperbarui oleh petugas dan pihak terkait seiring berlangsungnya pendataan di lapangan. Karena itu, angka dan sebaran pengungsi belum dapat dianggap sebagai data final. Jumlah warga di setiap lokasi berpotensi berubah apabila ada evakuasi lanjutan, warga kembali ke rumah, atau penduduk lain membutuhkan tempat pengungsian.

Akses jalan di sekitar PDAM Daerah Guo, Kecamatan Kuranji, masih terputus akibat genangan banjir. Kondisi tersebut menyulitkan petugas untuk menjangkau sejumlah wilayah yang terdampak, terutama kawasan yang berada di balik ruas jalan terendam. Arus air dan lumpur juga membuat mobilitas kendaraan bantuan menjadi terbatas, sehingga proses pemantauan, evakuasi, serta distribusi logistik harus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan keselamatan petugas dan warga.

Di tengah gangguan akses itu, bantuan darurat terus disalurkan kepada para pengungsi. Bantuan tersebut mencakup makanan siap santap, selimut, mi instan, makanan anak, serta paket kebutuhan keluarga. Sejumlah warga juga menerima pakaian anak dan kasur untuk memenuhi kebutuhan dasar selama berada di lokasi pengungsian. Penyaluran dilakukan dengan memprioritaskan keluarga yang memiliki balita, anak-anak, lanjut usia, serta warga yang rumahnya masih terendam atau belum dapat kembali untuk beraktivitas secara normal.

Berton menjelaskan bahwa penanganan banjir menghadapi beberapa kendala. Wilayah terdampak cukup luas, sementara sejumlah akses menuju permukiman masih terendam sehingga petugas tidak dapat bergerak leluasa. Situasi ini menyebabkan pendataan kebutuhan dan pengiriman bantuan memerlukan waktu lebih panjang. Koordinasi petugas, relawan, dan masyarakat terus diperkuat agar bantuan dapat menjangkau pengungsi secara merata, termasuk mereka yang berada di lokasi dengan akses paling sulit.

Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan selama hujan berintensitas tinggi berlangsung dalam waktu lama. Selain banjir, kondisi tanah yang jenuh air juga dapat memicu tanah longsor, khususnya di kawasan dengan kontur miring atau dekat aliran sungai. Warga sebaiknya memantau informasi resmi, menghindari ruas jalan yang tergenang deras, mengamankan dokumen penting, dan segera berpindah ke tempat yang lebih tinggi apabila permukaan air kembali meningkat.

Baca juga: Hercules TNI AU Kembali Tiba di Lanud Sjamsudin Noor, Bawa Ratusan APD Bantuan Kemhan RI dan Masker Dari Puskes TNI AU Untuk Perkuat Penanganan Karhutla Kalsel