Yogyakarta | Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat aktivitas Gunung Merapi pada periode 9–15 Oktober 2026 masih cukup tinggi. Dalam pemantauan tersebut, aktivitas erupsi yang berlangsung di gunung api itu dilaporkan berupa erupsi efusif. Catatan ini menggambarkan kondisi Merapi selama rentang waktu pemantauan, tanpa mengubah informasi mengenai status yang berlaku.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, mengonfirmasi bahwa status Gunung Merapi tetap berada pada Level III atau Siaga. Dengan demikian, selama periode laporan tersebut, status resmi gunung api itu tidak berubah dari Level III. Keterangan mengenai status disampaikan bersama informasi bahwa aktivitas Merapi masih cukup tinggi dan erupsinya bersifat efusif.
Erupsi efusif merupakan istilah yang digunakan dalam laporan untuk menjelaskan bentuk aktivitas erupsi Merapi pada periode tersebut. Namun, berdasarkan keterangan yang tersedia, tidak disampaikan rincian tambahan mengenai perubahan aktivitas dari hari ke hari ataupun ukuran perubahan pada berbagai bagian gunung. Karena itu, informasi yang dapat dipastikan dari laporan ini terbatas pada catatan aktivitas yang masih cukup tinggi, jenis erupsi efusif, serta status Level III atau Siaga.
Konfirmasi Agus Budi Santoso memastikan bahwa status Merapi pada periode 9–15 Oktober 2026 tetap tercatat Siaga. Informasi ini perlu dibaca sesuai ruang lingkup laporan BPPTKG dan tidak ditafsirkan sebagai keterangan mengenai alasan penetapan atau pemertahanan status. Sumber yang dirujuk tidak menguraikan alasan tersebut, sehingga tidak ada dasar untuk menyimpulkan faktor tertentu di balik keputusan itu.
Dengan demikian, pokok perkembangan yang disampaikan BPPTKG pada periode pemantauan ini adalah aktivitas Gunung Merapi yang masih cukup tinggi dalam bentuk erupsi efusif, sementara statusnya tetap Level III atau Siaga. Rangkuman tersebut memisahkan dua informasi utama—kondisi aktivitas dan status resmi—tanpa menambahkan penjelasan yang tidak tercantum dalam keterangan yang tersedia.
Survei menggunakan drone pada 8 Oktober 2026 menjadi dasar terbaru untuk menilai perubahan bentuk dan ukuran kubah lava di sisi barat daya Merapi. Foto udara yang dikumpulkan dalam kegiatan tersebut dianalisis untuk memperkirakan volume kubah. Hasilnya menunjukkan bahwa volumenya berkurang sekitar 4.700 meter kubik dibandingkan pengukuran sebelumnya, sehingga tercatat menjadi 4.178.000 meter kubik.
Keterangan mengenai hasil pengukuran itu disampaikan Agus pada Minggu (18/10). Analisis foto udara memungkinkan perubahan permukaan kubah diamati dari cakupan yang luas, lalu digunakan untuk memperoleh perkiraan volume. Angka yang dilaporkan menggambarkan kondisi berdasarkan pemotretan dan pengolahan data pada tanggal survei, bukan pengukuran langsung yang dilakukan secara terus-menerus.
Penyusutan sekitar 4.700 meter kubik perlu dibaca dalam konteks keseluruhan ukuran kubah. Dengan volume yang masih tercatat lebih dari 4,1 juta meter kubik, perubahan tersebut merupakan selisih perkiraan volume pada pengamatan yang dibandingkan. Data itu memberi gambaran kuantitatif tentang dinamika kubah, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab berkurangnya volume ataupun memastikan bagaimana bentuknya akan berubah berikutnya.
Pengukuran berkala melalui drone bermanfaat untuk mendokumentasikan kondisi kubah dari waktu ke waktu, terutama ketika perubahan perlu dipantau pada area yang sulit dijangkau. Perbandingan hasil survei dapat membantu menunjukkan apakah volume bertambah, berkurang, atau relatif tetap. Meski demikian, hasilnya tetap merupakan estimasi yang bergantung pada kualitas foto, cakupan pengamatan, dan metode analisis yang digunakan.
Angka terbaru ini menjadi salah satu bagian dari pemantauan aktivitas Merapi. Penyusutan kubah barat daya tidak boleh dipahami sebagai tanda bahwa aktivitas gunung api telah menurun, sebab volume kubah hanya satu parameter yang diamati. Penilaian kondisi Merapi perlu mempertimbangkan data pemantauan lain dan keterangan resmi yang tersedia. Karena itu, informasi survei sebaiknya dipahami secara proporsional: volume kubah terukur menyusut sekitar 4.700 meter kubik, sementara pemantauan berkelanjutan tetap diperlukan untuk mengikuti perkembangan aktivitas.
Asap yang menyelimuti kawah Merapi menghalangi pengamatan langsung terhadap kubah lava tengah. Kondisi tersebut membuat petugas belum dapat memperoleh citra yang memadai untuk mengukur perubahan bentuk maupun dimensinya pada periode pemantauan terbaru. Karena pengukuran langsung belum bisa dilakukan, volume kubah tengah untuk sementara diperkirakan masih sama seperti periode sebelumnya, yakni 2.369.600 meter kubik. Angka ini merupakan estimasi berdasarkan data terdahulu, bukan hasil pengukuran baru yang berhasil dilakukan saat asap menutupi kawah.
Meski pengukuran volume kubah tengah terkendala, analisis foto termal tetap memberikan informasi mengenai suhu permukaan kedua kubah. Hasil analisis mencatat suhu maksimal pada kubah barat daya mencapai 308,8 derajat Celsius. Sementara itu, suhu tertinggi yang terekam pada kubah tengah adalah 277 derajat Celsius. Perbedaan angka tersebut menunjukkan adanya variasi suhu pada permukaan kubah yang terpantau, tetapi tidak serta-merta menjelaskan perubahan ukuran atau volume material lava di masing-masing kubah.
Perlu dibedakan bahwa suhu dan volume merupakan dua parameter yang diperoleh melalui pengamatan serta metode analisis yang berbeda. Suhu dinyatakan dalam derajat Celsius dan dapat dianalisis dari foto termal, sedangkan volume kubah dinyatakan dalam meter kubik dan memerlukan pengukuran bentuk atau dimensi kubah. Karena itu, catatan suhu kubah tengah sebesar 277 derajat Celsius tidak berarti volumenya telah diukur ulang. Hingga pengamatan visual memungkinkan, volumenya tetap dicantumkan sebagai perkiraan 2.369.600 meter kubik, sesuai data periode sebelumnya. Pemantauan lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah kondisi asap berubah dan pengukuran volume dapat diperbarui.
Selama periode pengamatan sepekan terakhir, aktivitas efusif Gunung Merapi masih tercatat melalui kemunculan asap putih serta guguran lava. Asap terlihat dengan ketebalan yang bervariasi, mulai dari tipis hingga tebal. Ketinggian asap yang teramati berkisar 10 hingga 200 meter di atas puncak. Rentang tersebut menggambarkan variasi tinggi kepulan yang tercatat selama pengamatan, bukan satu ketinggian tetap untuk seluruh periode.
Perbedaan ketebalan asap putih juga menjadi bagian dari catatan visual pekan ini. Pengamatan mencakup tampilan yang tipis maupun tebal, sementara ketinggiannya berubah dalam rentang yang dilaporkan. Informasi yang tersedia tidak merinci waktu setiap kemunculan, durasi, ataupun kondisi pada masing-masing pengamatan. Karena itu, catatan ini menggambarkan rentang temuan secara umum selama sepekan, tanpa menambahkan rincian yang tidak disebutkan dalam laporan.
Selain asap, guguran lava beberapa kali meluncur ke sejumlah hulu sungai. Catatan tersebut menyebut adanya beberapa kejadian, tetapi tidak memberikan daftar nama sungai. Dengan demikian, uraian ini menyampaikan pergerakan guguran sebagaimana teramati tanpa mengaitkannya dengan lokasi sungai tertentu. Tidak tersedia pula rincian tambahan mengenai waktu kejadian atau panjang luncuran dalam keterangan yang menjadi dasar bagian ini.
Secara keseluruhan, pengamatan selama sepekan mencatat dua jenis gejala yang relevan dengan aktivitas efusif: asap putih dengan ketebalan tipis hingga tebal dan tinggi sekitar 10–200 meter di atas puncak, serta guguran lava yang beberapa kali mencapai sejumlah hulu sungai. Penyajian angka ketinggian dan gambaran kejadian tersebut dimaksudkan untuk merangkum informasi pengamatan. Catatan ini tidak memuat penilaian tentang dampak, perubahan tingkat aktivitas, ataupun tingkat bahaya, sebab keterangan yang tersedia tidak menyediakan dasar untuk menyimpulkan hal-hal tersebut. Rincian lanjutan mengenai lokasi maupun keadaan tiap kejadian juga tidak dicantumkan di sini.
Baca juga: TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda
