Integrasi Moda Antartransportasi Angkat Posisi Jakarta ke Peringkat 15 Dunia

oleh -547 Dilihat
oleh
Integrasi Moda Antartransportasi Angkat Posisi Jakarta ke Peringkat 15 Dunia

Jakarta | Posisi transportasi umum Jakarta meningkat dua tingkat dalam penilaian dunia, dari peringkat ke-17 menjadi peringkat ke-15. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan kabar tersebut saat ditemui di Embung Batu Bangkong, Jakarta Timur, pada Senin (19/10/2026). Kenaikan ini menempatkan Jakarta lebih tinggi dibandingkan posisi sebelumnya dalam penilaian yang menjadi perhatian pemerintah daerah dan pengguna layanan transportasi.

Menurut Pramono, penilaian positif itu didasarkan pada survei terhadap 24 ribu warga. Jumlah responden tersebut menjadi dasar informasi yang ia sampaikan mengenai posisi Jakarta. Namun, keterangan yang tersedia tidak menjelaskan rincian metodologi survei, termasuk cara responden dipilih maupun aspek-aspek yang dinilai. Karena itu, angka tersebut dapat disampaikan sebagai hasil penilaian yang dikutip gubernur tanpa menambahkan asumsi mengenai proses pengumpulan data.

Perubahan dari urutan ke-17 ke urutan ke-15 menunjukkan adanya peningkatan posisi Jakarta dalam daftar yang dirujuk. Meski demikian, kabar kenaikan peringkat ini tidak dengan sendirinya menjelaskan besaran perubahan kualitas layanan atau pengalaman setiap penumpang. Peringkat merupakan salah satu bentuk penilaian, sementara kondisi yang dirasakan warga dapat berbeda sesuai kebutuhan perjalanan dan layanan yang mereka gunakan.

Informasi tersebut juga memberi gambaran bahwa performa transportasi publik Jakarta memperoleh penilaian yang lebih baik dibandingkan sebelumnya dalam survei yang disebutkan. Bagi warga, kabar ini relevan karena transportasi umum merupakan bagian penting dari mobilitas sehari-hari di ibu kota. Namun, tanpa keterangan lebih lanjut tentang indikator dan pembanding yang digunakan, hasil itu sebaiknya dibaca sesuai batas informasi yang disampaikan, yakni peningkatan dua posisi berdasarkan survei terhadap 24 ribu warga.

Pernyataan Pramono di Jakarta Timur menjadi pengumuman utama mengenai capaian tersebut. Untuk memahami lebih jauh arti peringkat baru itu, publik masih memerlukan penjelasan tambahan mengenai cakupan penilaian dan faktor yang memengaruhi hasilnya. Pada tahap ini, fakta yang dapat dipastikan dari keterangan gubernur adalah posisi Jakarta naik dari peringkat ke-17 menjadi ke-15, serta penilaian positif itu merujuk pada survei warga dalam jumlah besar.

Pramono menyoroti perbaikan integrasi transportasi publik sebagai salah satu faktor yang ikut mendorong kenaikan posisi Jakarta dalam pemeringkatan kota dunia. Menurut penjelasannya, semakin terhubungnya layanan membuat perjalanan warga dapat berlangsung lebih mudah dengan pilihan moda yang saling melengkapi. Integrasi tersebut membantu membangun jaringan mobilitas yang lebih terpadu, bukan hanya memperbaiki satu layanan secara terpisah. Dengan demikian, perkembangan peringkat Jakarta dapat dibaca sebagai hasil dari sejumlah upaya, termasuk peningkatan konektivitas antarmoda dan penyediaan layanan transportasi publik yang semakin beragam.

Moda yang disebut Pramono mencakup MRT Jakarta, LRT Jakarta, Transjakarta, Transjabodetabek, serta Mikrotrans. Kelima layanan itu memiliki jangkauan dan karakter operasional yang berbeda, tetapi dapat berperan dalam mendukung perjalanan dari berbagai kawasan menuju tujuan pengguna. MRT dan LRT menyediakan layanan berbasis rel, sedangkan Transjakarta dan Transjabodetabek melayani perjalanan dengan bus, termasuk koneksi lintas wilayah. Mikrotrans turut menyediakan layanan penghubung yang menjangkau lingkungan dan kawasan yang lebih dekat dengan permukiman. Kehadiran berbagai pilihan ini penting karena kebutuhan perjalanan masyarakat tidak selalu dapat dipenuhi oleh satu jenis angkutan saja.

Dalam keterangannya, Pramono juga menyampaikan hasil survei yang menunjukkan bahwa 79,2 persen responden memberikan penilaian positif terhadap layanan transportasi di Jakarta. Angka tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden menilai layanan yang tersedia secara baik, sekaligus menjadi salah satu gambaran persepsi publik terhadap perkembangan transportasi kota. Namun, penilaian positif itu tidak berarti seluruh kebutuhan perjalanan telah terpenuhi atau bahwa semua moda memiliki mutu dan jangkauan yang sama. Integrasi tetap perlu ditingkatkan agar perpindahan antarangkutan lebih praktis, waktu perjalanan lebih terukur, dan akses semakin merata. Karena itu, perbaikan koneksi MRT Jakarta, LRT Jakarta, Transjakarta, Transjabodetabek, dan Mikrotrans dapat dipahami sebagai bagian dari kerja berkelanjutan. Pramono mengaitkannya dengan kenaikan posisi Jakarta, tetapi tidak menyatakan integrasi sebagai satu-satunya penyebab. Faktor tersebut berada di berbagai aspek yang turut membentuk penilaian terhadap kota dan layanan mobilitasnya.

Menurut Pramono, Jakarta berada di peringkat kedua di Asia Tenggara, setelah Singapura. Posisi tersebut menempatkan ibu kota sebagai salah satu pusat dengan layanan transportasi umum yang menonjol di kawasan. Penilaian ini memberi gambaran tentang capaian Jakarta dalam membangun jaringan perjalanan yang dapat digunakan masyarakat untuk beragam kebutuhan sehari-hari. Peringkat regional itu juga menunjukkan bahwa perkembangan sistem transportasi kota semakin diperhatikan dalam perbandingan antarwilayah. Meski masih berada di bawah Singapura, pencapaian di posisi kedua menjadi penanda bahwa Jakarta telah memperkuat daya saing layanan mobilitas publik di Asia Tenggara. Informasi ini menjadi bagian dari gambaran lebih luas mengenai posisi kota.

Dalam cakupan Asia, Jakarta menempati posisi ketujuh. Urutan tersebut memperlihatkan bahwa kota ini turut diperhitungkan di berbagai kota dengan transportasi umum yang dinilai baik. Selain capaian regional tersebut, Jakarta masuk dalam daftar 20 kota dengan transportasi umum terbaik dunia pada 2026, dengan posisi ke-15. Angka itu menunjukkan bahwa peringkat ibu kota tidak hanya menjadi perhatian di tingkat kawasan, tetapi juga tercatat dalam daftar berskala global. Peringkat tersebut memberi konteks bagi pembahasan mengenai kemajuan mobilitas perkotaan Jakarta, sekaligus menempatkannya di kota-kota dunia yang masuk dalam penilaian transportasi umum. Capaian ini dapat dibaca sebagai tolok ukur, bukan sebagai gambaran bahwa seluruh kebutuhan perjalanan warga telah terpenuhi.

Daftar tersebut merujuk pada survei tahunan yang melibatkan lebih dari 24 ribu warga di berbagai kota dunia. Dengan jumlah responden dan cakupan kota yang luas, hasilnya menyajikan gambaran mengenai bagaimana transportasi umum dipandang oleh masyarakat di sejumlah tempat. Dalam konteks itu, posisi ke-15 Jakarta memberikan informasi pembanding tentang keberadaan sistem transportasi ibu kota di tingkat internasional, sementara posisi ketujuh di Asia dan kedua di Asia Tenggara menjelaskan kedudukannya pada skala regional. Ketiga posisi ini saling melengkapi sebagai ukuran berbeda atas peringkat Jakarta, tanpa mengubah pokok informasi yang disampaikan Pramono. Secara keseluruhan, data tersebut menempatkan Jakarta di kota-kota yang tercatat memiliki transportasi umum terbaik menurut hasil survei tahunan 2026.

Pramono menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan meneruskan upaya menghubungkan rute-rute transportasi yang hingga kini belum terkoneksi. Langkah tersebut menjadi bagian dari pengembangan integrasi antarmoda, agar perjalanan warga dapat tersambung dengan lebih baik dari satu layanan ke layanan lain. Menurut rencana yang disampaikan, perhatian khusus juga akan diberikan kepada layanan Transjabodetabek. Penguatan koneksi ini diharapkan mendukung perjalanan yang melintasi wilayah Jakarta dan kawasan sekitarnya, sekaligus melengkapi keterhubungan dengan moda transportasi lain. Dengan melanjutkan upaya tersebut, Pemprov DKI berfokus pada bagian jaringan yang masih memiliki celah konektivitas, bukan hanya pada rute yang sudah terhubung.

Rencana menghubungkan rute yang belum terkoneksi menunjukkan bahwa integrasi transportasi merupakan pekerjaan berkelanjutan. Ketersediaan beberapa moda saja belum cukup apabila perpindahan antarlayanan dan keterjangkauan rute belum mendukung perjalanan secara menyeluruh. Karena itu, kesinambungan hubungan antarrute menjadi perhatian penting dalam pengembangan sistem transportasi di Jakarta. Layanan Transjabodetabek mendapat perhatian tersendiri dalam rencana tersebut, sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki koneksi perjalanan antarkawasan. Pramono menempatkan langkah ini sebagai upaya yang akan terus dikerjakan oleh pemerintah daerah.

Baca juga: Panglima TNI Kunjungi ITS Giuseppe Garibaldi di Jakarta | Sambut HUT ke-81 TNI, Bhakti Kesehatan TNI Layani Masyarakat di Jakarta | Prediksi Susunan Pemain Borneo FC vs Persija Jakarta: Rizky Ridho Pastikan Kesiapan Macan Kemayoran