Jakarta | BNN bersama Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri menemukan 13 orang positif menggunakan narkotika dalam operasi gabungan di empat tempat hiburan malam di Jakarta Utara dan Jakarta Timur. Operasi tersebut berlangsung pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026. Dalam kegiatan itu, petugas memeriksa urine sebanyak 328 pengunjung dari empat klub yang menjadi sasaran razia.
Hasil pemeriksaan menunjukkan temuan dengan tiga jenis zat berbeda. Sebanyak delapan orang terindikasi menggunakan etomidate, empat orang positif methamphetamine, dan satu orang positif THC. Dengan demikian, jumlah keseluruhan pengunjung yang dinyatakan positif dalam pemeriksaan tersebut mencapai 13 orang. Rincian ini merupakan hasil tes terhadap pengunjung yang diperiksa selama operasi di lokasi-lokasi tersebut.
Jumlah orang yang diperiksa jauh lebih besar daripada jumlah hasil positif. Dari 328 pengunjung yang menjalani tes urine, 13 orang memperoleh hasil positif, sedangkan pengunjung lainnya tidak termasuk dalam temuan positif yang dilaporkan. Angka tersebut menggambarkan hasil pemeriksaan pada malam pelaksanaan razia dan tidak dengan sendirinya menjelaskan kondisi di luar waktu maupun tempat operasi.
Perbedaan jenis zat yang tercatat juga menjadi bagian penting dari hasil pemeriksaan. Etomidate merupakan temuan terbanyak, dengan delapan orang, disusul methamphetamine pada empat orang. Sementara itu, satu orang dinyatakan positif THC. Jumlah pada setiap kategori tersebut sesuai dengan total 13 orang yang teridentifikasi positif, tanpa mencampurkan temuan antarjenis zat.
Operasi gabungan di empat klub itu melibatkan BNN dan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri. Pemeriksaan urine terhadap ratusan pengunjung menjadi dasar pencatatan hasil positif yang diumumkan dari kegiatan tersebut. Data yang disampaikan mencakup jumlah orang yang diperiksa, jumlah hasil positif, serta rincian zat yang terindikasi atau terdeteksi pada masing-masing kelompok. Informasi itu memberi gambaran mengenai hasil razia pada dua wilayah Jakarta tersebut, sekaligus membedakan temuan menurut jenis zat dan jumlah orang yang terkait. Sebanyak 328 pengunjung menjalani pemeriksaan, sedangkan 13 orang tercatat positif, dengan pembagian delapan etomidate, empat methamphetamine, dan satu THC.
Setelah razia gabungan di empat klub Jakarta, seluruh 13 orang yang terjaring langsung menjalani asesmen oleh Deputi Bidang Rehabilitasi BNN. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui kondisi masing-masing orang dan menentukan tindak lanjut yang sesuai, bukan menerapkan penanganan seragam kepada semua. Dengan asesmen tersebut, rekomendasi dapat disesuaikan dengan tingkat penggunaan serta kebutuhan yang ditemukan pada setiap individu.
Pelaksana Tugas Deputi Pemberantasan BNN RI, Brigjen Pol. Adri Irniadi, menyampaikan bahwa hasil asesmen menempatkan seluruh orang tersebut dalam kategori penggunaan ringan. Temuan itu menjadi dasar bagi petugas dalam menyusun bentuk penanganan. Meski kategorinya sama, rekomendasi yang diberikan tetap terbagi menurut kebutuhan masing-masing, termasuk intervensi singkat, rehabilitasi rawat jalan, dan asesmen tambahan untuk satu orang.
Dari total 13 orang, lima orang direkomendasikan menjalani intervensi singkat. Tujuh orang lainnya mengikuti rehabilitasi rawat jalan. Sementara itu, satu orang belum langsung ditetapkan pada salah satu bentuk penanganan tersebut dan memerlukan asesmen lanjutan. Pemeriksaan tambahan itu ditujukan untuk menetapkan penanganan yang paling sesuai dengan kondisinya. Pembagian tersebut menjelaskan tindak lanjut yang berbeda, meskipun seluruhnya berada dalam kategori penggunaan ringan menurut hasil asesmen.
Asesmen menjadi tahap penting untuk menghubungkan hasil pemeriksaan dengan layanan yang tepat. Intervensi singkat dan rehabilitasi rawat jalan merupakan dua rekomendasi yang diberikan kepada sebagian besar orang yang terjaring, sedangkan asesmen lanjutan diperlukan untuk memastikan pilihan penanganan bagi satu orang lainnya. Dengan demikian, jumlah dan jenis rekomendasi mencerminkan hasil penilaian terhadap kebutuhan, bukan semata-mata jumlah orang yang diamankan dalam razia.
BNN menyampaikan hasil ini sebagai bagian dari penanganan setelah operasi gabungan tersebut. Rincian rekomendasi menunjukkan bahwa tindak lanjut dapat berbeda sesuai hasil asesmen individual: lima orang menjalani intervensi singkat, tujuh orang mengikuti rehabilitasi rawat jalan, dan satu orang menjalani pemeriksaan lanjutan sebelum penanganannya ditetapkan. Seluruh 13 orang memperoleh asesmen, sementara keputusan berikutnya mengikuti hasil dan kebutuhan masing-masing.
Operasi gabungan di sejumlah klub Jakarta ditujukan untuk mengawasi potensi penyalahgunaan narkotika di ruang publik. Pengawasan ini mencakup kemungkinan penggunaan etomidate, zat yang belakangan disalahgunakan melalui rokok elektrik atau vape. Pemeriksaan di lokasi hiburan menjadi bagian dari upaya mengenali kondisi pengunjung dan menentukan tindak lanjut yang sesuai, bukan semata-mata penindakan. Dengan pengawasan tersebut, petugas berupaya merespons risiko penyalahgunaan zat di lingkungan yang dapat diakses masyarakat.
Penyalahgunaan etomidate perlu mendapat perhatian karena dapat membahayakan kesehatan. Penggunaan melalui vape juga dapat membuat zat tersebut tampak seperti bagian dari kebiasaan merokok elektrik, sehingga risikonya mungkin tidak selalu disadari oleh penggunanya. Karena itu, penanganan terhadap orang yang terindikasi menggunakan zat tersebut perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing. Langkah yang diambil tidak seharusnya disamaratakan, sebab kebutuhan dan situasi setiap individu dapat berbeda.
Pelaksana Tugas Deputi Rehabilitasi BNN RI, dr. Amrita Devi, menjelaskan bahwa penanganan perlu berlandaskan hasil asesmen. Hasil pemeriksaan dan asesmen menjadi dasar untuk menentukan layanan rehabilitasi yang sesuai dengan kondisi serta kebutuhan tiap individu. Pendekatan ini memungkinkan intervensi diberikan secara tepat, alih-alih menerapkan satu bentuk layanan kepada semua orang yang diperiksa. BNN mengedepankan penanganan yang humanis dengan memperhatikan kebutuhan orang yang bersangkutan. Intervensi dan rehabilitasi yang tepat diharapkan dapat mencegah penggunaan zat berlanjut sekaligus mendukung proses pemulihan. Dengan demikian, asesmen bukan hanya tahap administratif, melainkan landasan bagi layanan yang relevan. Arah penanganan tersebut menempatkan pemulihan sebagai bagian penting dari respons terhadap dugaan penyalahgunaan etomidate, dengan tetap mengacu pada hasil asesmen dan kebutuhan individu.Razia gabungan yang melibatkan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan kepolisian di sejumlah tempat hiburan Jakarta merupakan bagian dari upaya penanganan narkotika yang dilakukan melalui kerja lintas lembaga. Kegiatan semacam ini bukan yang pertama. Keterlibatan kedua institusi menunjukkan bahwa penindakan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika membutuhkan koordinasi, baik dalam pelaksanaan operasi maupun dalam tindak lanjut terhadap orang-orang yang ditemukan selama pemeriksaan.
Dalam beberapa pekan terakhir, BNN di tingkat provinsi juga menggelar razia bersama kepolisian daerah di sejumlah kawasan rawan narkoba di Indonesia. Rangkaian kegiatan tersebut memberi konteks lebih luas bagi operasi di Jakarta: langkah gabungan tidak hanya dilakukan dalam satu kegiatan, tetapi menjadi bagian dari kerja yang berlangsung di berbagai wilayah. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci jumlah operasi di daerah, lokasi-lokasi yang didatangi, ataupun hasil selain yang telah disampaikan. Karena itu, konteks ini perlu dipahami secara terbatas dan tidak dijadikan dasar untuk menyimpulkan capaian lain.
Kerja bersama BNN dan Polri memiliki dua sisi yang perlu berjalan beriringan. Di satu sisi, operasi dan penegakan hukum diperlukan untuk merespons penyalahgunaan serta menindak peredaran gelap narkotika. Di sisi lain, orang yang terdampak penyalahgunaan juga memerlukan penanganan yang sesuai, termasuk upaya penyelamatan dan pemulihan. Pembedaan tindak lanjut terhadap pengunjung dalam razia menegaskan pentingnya melihat kondisi setiap orang secara cermat, tanpa menyamakan seluruh temuan atau kebutuhan penanganannya.
Sinergi antarlembaga diharapkan memperkuat penindakan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Harapan tersebut sekaligus menempatkan penegakan hukum dalam kerangka penanganan yang lebih menyeluruh: pemberantasan perlu berjalan bersama upaya menyelamatkan dan memulihkan korban penyalahgunaan narkotika.
Baca juga: Penanganan Karhutla Sektor Selatan Kalbar Diperkuat, TNI Alihkan Perkuatan Pasukan | Respons Cepat Diperkuat, Lanud Sjamsudin Noor Siagakan Tangki Portable Untuk Penanganan di Titik Rawan Karhutla | Penanganan Karhutla di Wilayah Kalbar Terus Membaik, Titik Api Turun
