Amran Puncaki Penilaian Kinerja Pejabat Pemerintahan Prabowo dalam Survei PPI

oleh -23 Dilihat
oleh
Amran Puncaki Penilaian Kinerja Pejabat Pemerintahan Prabowo dalam Survei PPI

Jakarta | Survei nasional Parameter Politik Indonesia (PPI) menempatkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebagai pejabat dengan penilaian kinerja terbaik di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Amran memperoleh angka 15,4 persen dalam temuan yang mengukur penilaian responden terhadap kinerja sejumlah pejabat. Hasil ini menempatkannya di urutan pertama, dengan selisih 0,9 poin persentase dari pejabat yang berada di posisi berikutnya.

Di urutan kedua, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya meraih penilaian sebesar 14,5 persen. Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir berada pada posisi berikutnya dengan angka 6 persen. Dengan demikian, hasil survei menunjukkan jarak penilaian tiga pejabat teratas: Amran memimpin, Teddy menyusul dengan selisih tipis, sedangkan angka untuk Erick berada lebih rendah dibandingkan kedua nama tersebut.

Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno memaparkan hasil tersebut dalam peluncuran survei bertajuk “Evaluasi 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran” di Jakarta pada Minggu. Paparan itu menjadi bagian dari evaluasi terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran, termasuk persepsi publik mengenai kinerja pejabat. Angka-angka yang disampaikan menggambarkan posisi masing-masing nama dalam pertanyaan penilaian kinerja yang dihimpun melalui survei nasional tersebut.

Posisi Amran di peringkat pertama memperlihatkan bahwa, di pejabat yang disebut dalam hasil ini, ia memperoleh proporsi penilaian tertinggi dari responden. Meski demikian, angka survei perlu dibaca sebagai gambaran pendapat publik pada saat pengumpulan data, bukan sebagai ukuran tunggal yang menjelaskan seluruh aspek kinerja kementerian. Penilaian responden dapat mencerminkan tingkat pengenalan terhadap pejabat, perhatian pada isu tertentu, maupun pengalaman masyarakat terhadap kebijakan. Karena itu, temuan PPI memberi informasi mengenai persepsi yang tercatat dalam survei, sementara pemahaman lebih menyeluruh juga memerlukan perhatian pada metode, periode pelaksanaan, dan cakupan pertanyaan. Dalam pemaparan tersebut, angka 15,4 persen untuk Amran menjadi nilai tertinggi yang diumumkan, diikuti 14,5 persen untuk Teddy dan 6 persen untuk Erick.Penilaian positif terhadap Amran terutama dikaitkan responden dengan isu ketahanan dan ketersediaan pangan. Alasan yang paling banyak disebut adalah swasembada pangan, dengan proporsi 29,6 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa capaian atau upaya menuju kemandirian pangan menjadi pertimbangan utama bagi kelompok responden yang memberikan penilaian baik terhadap kinerjanya. Dalam konteks evaluasi pejabat pemerintahan, isu tersebut dekat dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat, sehingga mudah menjadi ukuran atas hasil kerja yang dirasakan atau diharapkan.

Alasan berikutnya adalah pupuk yang dinilai murah dan berlimpah, disebut oleh 17,6 persen responden dalam kelompok penilaian Amran. Ketersediaan pupuk dan keterjangkauan harganya berkaitan langsung dengan kegiatan pertanian serta biaya produksi. Sementara itu, 9,7 persen menyebut kinerjanya terlihat. Jawaban ini mengisyaratkan bahwa sebagian responden menilai positif karena dapat mengamati aktivitas atau hasil kerja yang dianggap nyata. Ketiga angka tersebut merujuk pada proporsi alasan di responden yang menilai kinerja Amran secara positif, bukan persentase dari seluruh peserta survei.

Untuk Teddy, alasan paling sering dikemukakan adalah kesan bahwa ia sedikit bicara dan banyak bekerja, yang dipilih 19,6 persen responden dalam kelompok penilaian positif terhadap dirinya. Citra tersebut menekankan gaya kerja yang dianggap lebih berorientasi pada tindakan daripada pernyataan. Sebanyak 15,6 persen mengaitkan penilaian baik dengan penampilannya yang dinilai tampan dan gagah. Selain itu, 11,9 persen menyebut kemampuannya mengomunikasikan program pemerintah. Aspek komunikasi dapat membantu responden memahami kebijakan maupun agenda pemerintah, meskipun penilaian terhadapnya tetap bersifat persepsi responden.

Perbandingan alasan ini memperlihatkan bahwa penilaian terhadap kedua pejabat bertumpu pada hal yang berbeda. Jawaban mengenai Amran lebih banyak mengacu pada pangan, pupuk, dan kinerja yang dianggap tampak, sedangkan alasan mengenai Teddy mencakup gaya kerja, penampilan, serta komunikasi program. Angka-angka tersebut harus dibaca sesuai kelompok masing-masing: persentase alasan Amran dihitung dari responden yang memberi penilaian positif kepadanya, sementara persentase alasan Teddy berasal dari kelompok yang menilai kinerjanya positif. Karena itu, angka tersebut tidak langsung menunjukkan tingkat dukungan di seluruh responden atau menjadi perbandingan jumlah pendukung kedua pejabat secara keseluruhan.

Dalam penilaian publik terhadap kinerja pejabat pemerintahan, Erick memperoleh apresiasi yang terutama berkaitan dengan perkembangan tim nasional. Sebanyak 15,6 persen responden yang memberikan penilaian positif mengaitkannya dengan persepsi bahwa kualitas tim nasional semakin bagus. Angka tersebut menjadi alasan yang paling banyak disebut untuk menjelaskan pandangan positif terhadap Erick. Persepsi ini menggambarkan perhatian publik pada perubahan yang dianggap terlihat dalam perkembangan sepak bola nasional, meskipun survei juga mencatat sejumlah alasan lain dengan persentase lebih rendah.

Keberhasilan tim nasional masuk final ASEAN Cup menjadi alasan positif berikutnya, dengan persentase 7,8 persen. Persentase yang sama, yakni 7,8 persen, diberikan untuk alasan bahwa kinerja Erick terlihat. Dengan demikian, selain penilaian mengenai peningkatan kualitas tim, pencapaian di kompetisi regional dan kinerja yang dirasakan publik turut membentuk apresiasi responden. Ketiga alasan itu menunjukkan bahwa tanggapan terhadap Erick dalam survei tersebut banyak berkaitan dengan persepsi atas hasil dan kinerja yang tampak, bukan hanya satu aspek tertentu.

Dalam daftar 10 besar pejabat lain yang memperoleh penilaian positif, Menteri Sosial Saifullah Yusuf berada pada urutan berikutnya dengan 4,5 persen. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mencatat 3,2 persen, disusul Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait dengan 2,1 persen. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian memperoleh 1,5 persen, sementara Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meraih 1,1 persen. Selanjutnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mencatat 0,9 persen dan Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani memperoleh 0,8 persen. Urutan dan angka tersebut menunjukkan variasi tingkat apresiasi responden kepada para pejabat yang tercantum, dengan persentase yang berbeda-beda. Hasil ini merupakan gambaran jawaban dalam survei PPI dan dapat dibaca sebagai persepsi publik terhadap kinerja para pejabat pada saat survei dilakukan.

Persentase dalam daftar pejabat berkinerja terbaik perlu dibaca sesuai dengan cara pertanyaan survei diajukan. Angka tersebut menunjukkan proporsi responden yang menyebut nama seorang pejabat secara spontan ketika diminta menyampaikan penilaian atau pandangan mereka. Dengan kata lain, persentase itu berkaitan dengan seberapa sering nama pejabat muncul dalam jawaban responden, bukan hasil pengukuran menyeluruh terhadap seluruh tugas dan tanggung jawabnya. Penyebutan spontan dapat mencerminkan tingkat pengenalan, perhatian, atau ingatan publik terhadap sosok pejabat pada saat survei dilakukan. Karena itu, angka tersebut memberikan informasi mengenai respons responden dalam konteks pertanyaan tertentu, bukan gambaran lengkap mengenai berbagai dimensi kinerja pemerintahan.

Penting pula membedakan penyebutan nama dari penilaian terperinci atas kinerja kementerian atau lembaga. Persentase dalam daftar ini tidak dengan sendirinya menunjukkan kualitas kebijakan, capaian program, mutu pelayanan, efektivitas penggunaan anggaran, maupun keberhasilan organisasi yang dipimpin pejabat terkait. Survei dapat mengukur hal-hal tersebut melalui pertanyaan dan indikator yang dirancang khusus, tetapi angka penyebutan spontan tidak dapat dianggap mewakili seluruh indikator itu. Seorang pejabat yang memperoleh persentase tinggi belum tentu dinilai unggul oleh setiap responden dalam semua aspek, sebagaimana persentase yang lebih rendah tidak otomatis membuktikan bahwa kinerja institusinya buruk. Membuat kesimpulan semacam itu akan melampaui informasi yang disediakan oleh angka tersebut.

Oleh sebab itu pembaca sebaiknya memahami daftar ini sebagai catatan tentang nama.